Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 136


__ADS_3

TOK.....TOK....TOK.....


CLEK.


Veli membuka pintu dan terlihat Anggia di sana.


"Anggi, lu kapan dateng?" tanya Veli sambil memeluk sahabatnya.


"Udah lama, tadi Mama Laras telpon katanya kita buka puasa bersama di sini. Tapi Mami sama Papi nanti dateng, aku duluan aja sama Abang buat bantu-bantu. Tapi kalian malah mengurung diri di kamar, masih puasa ya....kalau mau berduan itu malam," kesal Anggia sebab sedari tadi ia menunggu namun Veli tak kunjung keluar dari kamar.


"O....gw nggak tau lu juga ikut buka bereng di sini, soalnya Mama nggak bilang papa sama gw," ucap Veli yang memang tak tau menau tentang acara buka puasa bersama dua keluarga itu.


"Keluar yuk, kita ke dapur bantuin Mama," kata Anggia sambil menarik tangan Veli.


"Bentar ya gw bilang sama Mas gw dulu," ucap Veli yang ingin mengatakan pada Aran jika ia ingin keluar.


"Caelah....iya lah lu udah punya Mas," seloroh Anggia yang gemas melihat tingkah Veli.


Veli mendekati Anggia dan berbisik, "Mas imitasi," ucap Veli dengan suara pelan lalu keduanya tertawa. Setelah itu Veli kembali masuk dan menemui Aran.


"Mas, Anggia datang sama tuan Bilmar, Veli keluar ya," pamit Veli pada Aran yang masih menatapnya dengan intens.


"Buatin Mas kopi, buat buka puasa," pinta Aran.


"Iya, tapi Veli nggak bisa buat kopi," Veli terkekeh mengingat kekurangannya dalam hal dapur, "Yaudah nanti Veli belajar sama Anggia, Veli keluar ya Mas. tuan Bilmar di luar juga tuh.." ucap Veli.


"Iya nanti Mas keluar, nggak usah manggil tuan kali Vel," jawab Aran.


Veli keluar dari kamar menemui Anggia, yang masih setia menunggunya.


"Yuk," Veli memegang tangan Anggia sambil keduanya memasuki dapur.


"Kalian udah damai ya?" tanya Anggia.


"Bukan damai tapi males ribut," jawab Veli, ia tak mungkin mengatakan mengenai perjanjiannya dengan Aran berdamai selama satu bulan ini.


"Iya, tapi bagus juga sih," Anggia tersenyum bahagia mendengar apa yang di katakan Veli.

__ADS_1


"Nggi ajarin gw buat kopi bisa nggak?" tanya Veli, sebab ia pernah beberapa kali di minta Satria membuat kopi, namun setelah itu Satria tak mau kopi buatan Veli karena tak enak.


"Gampang," Anggia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "Tinggal tiga puluh menit lagi, kita tata makanan ini di meja makan yuk," kata Anggia dengan bersemangat.


"Kan ada Art, ngapain repot-repot," kata Veli dengan santai, sebab ia memang tak menyukai pekerjaan dapur. Sebab ia terbiasa di bantu dalam mengerjakan berbagai hal, dan Laras pun tak pernah menuntutnya untuk melakukan itu semua.


"Kalau semua di kerjakan Art, nanti Art yang jadi nyonya rumah. Dan kamu jadi janda, karena suami merasa Art lebih perhatian padanya, kamu mau posisi kamu di ganti Art?" tanya Anggia menatap Veli dengan serius.


"Yaudah deh, aku bakalan belajar," Veli mulai mengerjakan apa yang di perintahkan Anggia, sebab ia tak tau harus mengerjakan apa bila Anggia tak memintanya.


"Gini kan keren, kamu makin dewasa aja," tutur Anggia lagi penuh bahagia.


"Emang dari kemarin-kemarin gw kenapa?" tanya Veli yang kini menatap Anggia.


"Dari kemaren-kemaren, lu oon nya pake banget tau Vel," ucap Anggia.


"Sialan lu," kesal Veli.


"Aduh-aduh anak Mama udah mulai rajin ya sekarang," ucap Laras yang baru saja masuk ke dapur.


"O, Kakak kamu tadi pagi berangkat ke luar negeri, ngurusin kerjaan," tutur Laras.


"Em," jawab Veli tersenyum.


"Anggia, Alma nangis," ucap Bilmar pada sang istri.


Alma dan Alif juga ikut namun mereka bersama kedua pengasuhnya, jadi Anggia tak terlalu repot untuk mengurus kedua bayinya apa lagi bila sedang berpergian begini.


"Ya," jawab Anggia, "Vel, kamu lanjut sedikit lagi ya kerjaannya. Aku kasih asi buat Alma dulu," pamit Anggia.


"Mama juga mau main sama Alma dan Alif sambil nunggu jeng Ratih darang," pamit Laras lalu pergi meninggalkan dapur.


"Nggi lu jangan pergi dulu," ucap Veli menghentikan langkah Anggia.


"Ya kenapa?" tanya Anggia sambil berbalik menatap Veli.


"Buat kopi caranya gimana, gulanya takarannya gimana?" tanya Veli.

__ADS_1


"Kalau Abang sukanya gula satu sendok setengah terus kopinya satu sendok, tapi kalau Aran aku nggak tau, kamu buat aja gula dua sendok terus kopinnya satu," jawab Anggia.


"Oh iya udah makasih ya," ucap Veli tersenyum dan Anggia dengan langkah yang cepat pergi meninggalkan dapur, namun dari kejauhan terdengar suara Veli yang kembali berteriak, "Anggia, gula yang di toples merah atau hijau?" tanya Veli.


"Toples merah!" teriak Anggia.


"Ok...." jawab Veli tersenyum.


Tidak lama berselang seorang Art yang baru masuk ke dapur datang.


"Nyonya tadi nanya gula yang mana ya?" tanya Art tersebut.


"Iya, tapi udah tau. Jangan ngejek saya seperti dulu saya udah tau!" ketus Veli, sebab dulu ia membuat kopi dengan garam dan semua Art malah menertawai dirinya sampai terpikal-pikal.


"Tapi itu bu....." ucapan Art itu terhenti karena mendapat tatapan tajam dari Veli.


"Kamu jangan songong ya, saya udah tau!" jawab Veli dengan tegas, "Nanti kamu liat semuanya bakalan muji saya, kamu tenang aja?" kata Veli mengacukan jempol pada pembantunya.


"Ya tapi itu....."


"Iya saya bilang, saya tau. Lu mau gw bilang nyokap kalau lu pacaran sama satpam. Ingat di rumah ini di larang pekerja saling menyukai apalagi berpacaran," tutur Veli dengan nada mengancam, mendengar ancaman Veli Art itu langsung menciut ia takut nanti di pecat karena melanggar aturan.


"Nggak nyonya, ya..udah saya kerjakan yang lain ya," pamit Art tersebut dengan takut.


"Em, pergi sono sebelum gue kucek-kucek lu jadi cucian," kesal Veli.


Tidak lama berselang Anggia datang dan melihat Veli sudah selesai menyiapkan kopi.


"Udah Vel," tanya Anggia menatap kopi buatan Veli.


"Udah nih," Veli tersenyum menatap kopi buatannya.


"Wah, keren perlu gw cobain dulu nggak?" tanya Anggia, "Mana tau ada yang kurang, nanti kalau ada yang kurang kan bisa buat ulang lagi," kata Anggia.


"Nggak usah, ini udah di jamin rasanya, dua sendok gula satu sendok kopi," jawab Veli dengan bangga dan menatanya di meja makan.


Setelah itu Anggi mulai membuat kopi untuk Bilmar, mata Anggia tertuju pada toples yang terbuka dan ia curiga jika Veli menggunakan isi toples itu. Sebab Veli tadi bertanya tapi ia sudah menjawab jadi tidak mungkin salah pikir Anggia.

__ADS_1


__ADS_2