Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 124


__ADS_3

Saat Veli sedang menangis bersimpuh di bawah kaki Aran tanpa di sangka Ratih datang, awalnya ia tak berniat naik ke lantai dua namun karena telinganya mendengar ada suara tangisan ia memutuskan untuk melihat. Ratih sangat shock melihat yang menangis adalah Veli dan yang paling membuat Ratih shock Veli menangis sambil berlutut.


"Veli....." kata Ratih.


DEEG.


Jantung Veli berdetak kencang mendengar namanya di sebut, dan suara itu sangat ia kenali sekali. Perlahan Veli memutar leher ke kanan di mana ada Ratih yang berdiri di sana, Veli rasanya sangat susah mendeguk saliva sebab ia sangat takut bila Ratih tau apa yang sedang terjadi antara ia dan Aran.


"Mami......" ucap Veli dengan suara hampir tak terdengar.


"Veli kamu sedang apa Nak?" Ratih melangkah mendekati Veli dan menuntunnya untuk berdiri, "Aran ada apa ini? Kenapa Veli seperti ini, kalian kenapa?" Ratih terus menghujami Aran dengan pertanyaan, namun hal yang di tanyakan Ratih semakin membuat Veli ketakutan.


"Jelaskan pada Mami," Aran menatap Veli dan meminta Veli menjelaskan semuanya, namun ia hanya diam sambil menangis hingga membuat Aran kesal, "Jelaskan!" tutur Aran lagi dengan tegas.


Veli tersentak mendengar Aran yang berbicara dengan nada tinggi, namun tetap saja ia tak bisa menjelaskan apa-apa sebab ia sangat takut Ratih tau apa yang membuat mereka bertengkar.


"Tidak usah menangis, saya tidak akan iba!" tandas Aran lagi.


"Sebentar dulu.......ini ada apa sebenarnya? Coba ceritakan pada Mami, kalian kenapa?" Ratih tau Aran dan Veli selalu berselisih paham, namun pertengkaran kali ini memunculkan banyak tanya. Sebab sepertinya masalah kali ini cukup serus dan rumit, Ratih tidak lupa saat Veli berlutut, memohon dan menangis.


"Baik kalau kau tidak mau mengatakan semuanya pada Mami, biar saya yang mengatakannya!" papar Aran, menatap Veli dengan tajam.

__ADS_1


"Jangan.....hiks....hiks. Aku mohon Mas," pinta Veli, ia takut setelah Ratih tau semua itu ia akan di benci dan Veli benar-benar tidak sanggup.


"Ya....ampun Aran, Veli, kalian sebenarnya kenapa? Mami bisa mati penasaran kalau begini?" Ratih semakin tidak karuan melihat ketegangan pasangan suami istri di depan matanya.


Aran menatap Veli yang menggeleng padanya, seolah memohon agar Aran tak mengatakan hal yang memalukan itu pada Ratih. Namun Aran seperti tak perduli, ia kini menatap Ratih dengang serius. Sementara Ratih masih menantikan apa yang akan di katakan Aran.


"Tadi malam Veli di dalam kamar hotel dengan seorang pria, dan pria itu Farhan mantan kekasihnya," jelas Aran menatap wajah Veli yang kini tertunduk.


"Ho....te...l," Ratih melonggo ia sampai gagap menggucapkan kata itu, bahkan ia juga mendadak kehilangan kalimat yang akan ia tanyakan dengan begitu saja.


"Em," Aran menatap Veli dengan pandangan yang rendah atas apa yang sudah terjadi.


"Maaf Mi...hiks....hiks, Veli nyesel Mi," kata Veli dengan raut wajah melas, bahkan air matanya masih menjadi saksi di antara penyesalan yang kini ia rasakan.


"Maaf? Berarti semua itu benar?" tanya Ratih lagi.


"Hiks....hiks....." Veli mengangguk dan hal itu sangat membuat Ratih kecewa.


"Kamu tau Veli, Mami menyayangi mu sama seperti Mami sayang sama Bilmar, Aran, Anggia dan kamu. Kalian tak ada bedanya di mata Mami, Aran memang bukan lahir dari rahim Mami tapi bagi Mami dia adalah anak kandung Mami yang di lahirkan dari rahim adik kandung Mami. Begitu juga dengan mu yang sangat Mami banggakan, sangat Mami kagumi tapi kamu malah buat Mami terluka. Mami kecewa sama kamu......kecewa," tutur Ratih dengan memundurkan tubuhnya menjauhi Veli, bahkan berulang kali Ratih mengusap air mata yang tak kalah deras dengan air mata Veli yang masih terus mengalir juga.


"Mi....maafin Veli Mi, Veli khilaf Mi," tutur Veli dengan sesegukan.

__ADS_1


"Mami kecewa.....terimakasih Veli kamu sudah membuat Mami sangat terluka, tapi satu hal yang harus kamu tau. Mami tetap sayang sama kamu, masalah rumah tangga kalian Mami tidak akan ikut campur. Apapun keputusan kalian Mami ikut saja, kalian selesaikan baik-baik ya," Ratih berbalik dan mengusap air matanyanya dengan berat hati ia melangkah pergi.


"Mi......hiks...hiks..." Veli mengejar Ratih dan memegang lengan Ratih hingga ia berhenti melangkah, "Maafin Veli Mi....hiks...hiks..." Veli masih berharap Ratih kembali menyayanginya seperti dulu, ia baru sadar ternyata apa yang ia lakukan membuat banyak orang kecewa.


"Kamu nggak salah sama Mami," Ratih mengusap air matanya, lalu berbalik menatap Veli. Ratih menangkup pipi Veli dengan kedua tangannya, "Kamu tidak perlu minta maaf sama Mami, walau pun Mami kecewa tapi kamu tidak salah pada Mami. Mami tetap sayang sama kamu, terima kasih selama ini kamu sudah menjadi salah satu dari kesayangan Mami. Semoga kedepannya kamu bahagia, apa pun pilihan kamu," kata Ratih lalu melepaskan Veli dan pergi dengan perasaan kecewa, ia sudah sangat bahagia dengan kemarin pernikan Veli dan Aran namun ternyata hari ini semua kebahagian itu berubah menjadi luka yang sangat dalam. Semua undangan pengajian yang tadinya ia bawa dan ingin di tunjukan pada Veli dan Aran ia bawa kembali pulang untuk ia bakar.


Ya...tadinya Ratih kesana berencana ingin menunjukan undangan tersebut, untuk acara syukuran keluarga mereka atas pernikahan Veli dan Aran. Hanya acara berbuka puasa bersama lalu sedikit berdoa berharap rumah tangga Aran dan Veli bisa terus di berikan kebahagian. Tapi sayang sekali semua sia-sia sesampainya di sana justru yang ia temui berbeda, yang ia dengar justru sangat membuatnya terluka.


Sementara Aran dan Veli masih di sana, Veli hanya tertunduk menyesal sudah melukai banyak hati yang sangat tulus menyanyanginya.


"Semua orang terluka, kalau ini adalah keinginan mu selamat karena kau sukses, kau membuat orang banyak terluka termasuk aku. Aku tak sanggup lagi bila harus terluka lebih dari ini, sebaiknya pernikahan ini kita sudahi saja," tutur Aran.


"Aku mohon.....jangan, aku minta maaf aku tidak akan mengulanginya lagi Mas," kata Veli masih berharap Aran memberinya kesempatan.


"Tadi semua sudah terjadi bukan? Semua sudah kau berikan pada kekasih tercinta mu itu. Apa lagi?" kata Aran dengan suara bergetar.


"Semua?" tanya Veli yang masih belum mengerti dengan pertanyaan Aran.


***


Jangan lupa Vote, like dan bintang lima ya :).

__ADS_1


__ADS_2