
Dua hari kemudian.
Kini Veli sedang memasak untuk Aran, semenjak belajar memasak sekarang ia sudah lebih suka masak makanan sendiri. Di bandingkan harus memesan makanan atau pun pergi makan di luar, di tambah lagi Aran sangat suka sekali dengan masakan rumahan. Dan itu membuat Veli semakin bersemangat memasak, karena setiap ia memasak Aran langsung menghabiskannya.
"Assalamualaikum," ucap Aran saat ia baru sampai di rumah.
Veli tersenyum dan ia mulai menatap Aran yang berjalan kearahnya, yang tengah menata makan malam di meja makan.
"Walaikum salam," jawab Veli lalu ia mencium punggung tangan Aran.
"Istri Mas lagi apa?" tanya Aran sambil melihat apa yang tengah di tata sang istri di meja makan.
"Ini Veli lagi siapin makan malam buat kita, Mas mandi dulu. Bajunya udah Veli siapin di kamar, abis itu kita makan malam ya," kata Veli sambil mengambil tas kerja yang di pegang oleh Aran.
"Ok......" Aran mengecup kening Veli, lalu melangkah menuju kamar. Ia mandi kemudian memakai pakaian yang di siapkan oleh Veli, hingga beberapa saat kemudian Aran kembali ke meja makan menemui Veli yang sedang memunggunginya. Aran tersenyum dengan cepat ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Veli, hingga Veli sedikit tersentak. Karena tak menyadari Aran ternyata sudah di dekatnya, itu karena ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, yang tengah menuangkan air pada gelas
"Makan yuk," kata Veli dengan senyum yang terus mengembang di bibir manisnya.
"Ayo," Aran mulai mendudukan dirinya di kursi, sementara Veli mulai mengisi piring Aran dengan nasi dan lauk serta sayur.
"Udah cukup belum?" tanya Veli sambil meletakan piring yang ia pegang ke meja, untuk Aran.
"Udah Khumairah sayang, nanti kalau nambah lagi bolehkan?" seloroh Aran.
"Boleh dong," jawab Veli dengan tersenyum manja, lalu ia mendudukan dirinya di kursi tepat bersebelahan dengan Aran.
"Kamu makin pinter aja masaknya, kalau begini terus Mas bisa cepat gemuk. Dan Mas juga lebih betah di rumah juga, karena ada istri cantik Mas di rumah terus-terusan," Aran sangat bangga pada Veli yang kini mulai menikmati perannya sebagai seorang istri, bahkan di apartement itu sama sekali tak ada pembantu untuk membatu sang istri memasak. Hanya ada dua orang yang datang setiap pagi membersihkan apartemen itu, selebihnya semua Veli mengerjakan sendiri. Aran sangat menghargai apa yang kini di lalukan Veli, bagi Aran walau pun Veli hanya menyajikannya telur ceplok seperti saat pertama mereka menikah dulu, itu tak masalah asal Veli iklas dan terus belajar menjadi lebih baik.
__ADS_1
"Iya dong, kan Mas sukanya masakan rumahan," jawab Veli menunjukan giginya pada Aran.
"Ish......Khumairah sayang nya Mas. Gemes banget sih," Aran menarik kedua pipi Veli, meluapkan bertapa gemas nya ia melihat tinggkah dan senyum manja sang istri cantiknya.
"Mas," Veli menepis tangan Aran, lalu menggosok pipinya yang terasa sakit, "Ish....sakit tau Mas," gerutu Veli, sambil mengerucutkan bibirnya.
"Heheheheee....." Aran terkekeh dan kembali melanjutkan makan malamnya yang sempat terhenti, karena sibuk bercanda dengan Veli.
Saat Veli tengah menyendok makanannya, tiba-tiba Aran malah menarik tangan Veli. Dan membawanya pada dirinya. Hingga akhirnya Veli tak bisa memasukan makanan itu pada mulutnya, melainkan masuk ke mulut Aran yang tengah mengunyah dengan nikmat, tanpa ada rasa bersalah melihat wajah kesal Veli. Selanjutnya Veli kembali menyendok nasi, namun lagi-lagi Aran mengulangi apa yang tadi ia lakukan. Veli semakin kesal di buat Aran.
"Mas!" kesal Veli menatap Aran dengan tajam.
"Iya Khumairah sayang," jawab Aran seolah tak terjadi apa-apa, "Senyum cantik ku sayang....." Aran menarik sudut bibir Veli agar tersenyum.
DEEG!.....
"Ih.....Veli laper banget nih, biarin Veli makan dulu," kesal Veli yang sedari tadi sudah sangat menahan lapar pada perutnya.
"Yaudah, sini Mas suapin," kata Aran.
Veli langsung membuka mulut dengan Aran yang terus menyuapinya, keduanya tertawa dan tersenyum bersama. Karena Aran beberapa kali mengerjai Veli dengan berpura-pura menyuapi Veli, namun ternyata ia memasukannya pada mulutnya.
"Mas, hehehehee.....Veli beneran laper banget. Ahahahahaaaa," kata Veli di iringi suara tawa.
"Yaudah, ayo buka mulutnya."
Beberapa saat kemudian keduanya selesai dengan makan malamnya, kini Veli mulai membereskan piring lalu mencucinya. Saat Veli tengah mencuci piring, tiba-tiba Aran kembali mendekatinya dan menyiramnya dengan sedikit air.
__ADS_1
"Mas......." kesal Veli merasakan wajahnya basah.
"Ahahahahaaaa," Aran malah tertawa lebar melihat wajah kesal Veli.
Karena kesal, Veli akhirnya juga menyiram Aran. Tapi ia membalasnya dengan air yang tercampur dengan sabun, hingga banyak busa yang melempel di wajah Aran.
"Ahahahaaaaa, rasain......." Veli tertawa terpikal-pikal melihat wajah kesal Aran. Dengan busa sabun cukup banyak.
Aran yang kini menatap Veli dengan sedikit kesal, juga tak tinggal diam. Ia pun langsung membalas Veli dengan mengusapkan sabun pencuci piring pada wajah Veli.
"Wahahahahaaa," Aran juga tertawa lepas, sampai sabun habis karena keduanya sibuk saling mebalas.
Karena lantai terlalu licin, akibat sabun yang bertumpahan. Veli malah terpeleset ia merasa tubuhnya melayang.
"Aaaaaaaaaaa" suara teriakan Veli dengan ketakukan.
"Sayang," dengan sigap Aran memeluk Veli, hingga sang istri tak terjatuh di lantai. Sesaat pandangan keduanya bertemu. Jika Aran memandangg Veli dengan pandangan naluri kelelakiannya, namun berbeda dengan Veli. Veli merasa pelukan Aran begitu hangat, serta menenangkan. Rasanya perasaaanya kembali tak karuan karena jantung itu kembali berdetak tanpa bisa di kendalikan, Veli tak dapat memungkiri ada satu nama yang sudah berhasil masuk kedalam relung hatinya. Satu nama yang selalu bisa membuatnya, kesal, benci, tertawa, tersenyum.
"Kamu nggak papa?" Aran panik lalu membantu Veli untuk berdiri.
"Nggak Mas, cuman kaget aja tadi," jawab Veli memegang jantungnya, yang sebenarnya berdetak bukan hanya karena hampir terjatuh saja. Melainkan karena Aran yang mendekapnya, padahal dekapan itu sudah sering di berikan Aran padanya. Namun sebelumnya Veli merasa itu hanya kewajiban seorang istri pada suaminya, bukan karena cinta atau perasaan takut kehilangan terhadap Aran. Sangat berbeda dengan kali ini.
"Ada yang sakit?" Aran tak bisa menyembunyikan perasaan paniknya, ia mulai melihat keadaan Veli dari atas sampai bawah yang memakai daster itu.
"Nggak papa Mas."
***
__ADS_1
Jangan lupa VOTE nya temen-temen, like juha ya. Makasih :).