Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 156


__ADS_3

Hari ini Anggia dan Bilmar melakukan fiting baju pengantin di sebuah butiq ternama, lebih tepatnya butiq itu sudah menjadi langganan Ratih dan juga Sinta. Sama halnya seperti hari ini Ratih dan Sinta juga ikut menemani Anggia dan Bilmar.


"Ini bajunya nyonya muda, mari saya bantu untuk memakainya," kata seorang karyawan butik itu, pada Anggia.


"Eh tunggu," Bilmar menghentikan langkah kaki Anggia dan seorang karyawan pria itu, "Kau mau membantu istri ku memakai baju itu?" tanya Bilmar bersiap memberi bogem mentah, namun Anggia dengan cepat memeluk lengan Bilmar.


"Abang, jangan marah-marah," kata Anggia.


Bilmar tak perduli dengan apa yang di katakan Anggia, ia masih menunggu jawaban dari karyawan itu, "Saya hanya melihat bagaimana dressnya di badan nyonya tuan, membantu beberapa bagian yang berlu di jahit ulang," jawab pria itu dengan takut, "Tapi kalau memakai dress nya ada seorang wanita di sana yang akan membantunya," terang pria tapi setengah wanita itu.


Anggia mulai melakukan fiting baju pengantin di temani beberapa karyawan wanita, sementara Aran dan Veli baru saja datang. Mereka juga akan melakukan fiting, tapi bukan baju untuk resepsi pernikahan melainkan untuk baju persatuan mereka. Di mana semua pria dan wanita memakai serba hijau, sesuai dengan warna kesukaan Ratih. Veli mulai mencoba kebaya miliknya lalu ia menunjukannya pada Aran, Ratih, dan Sinta.


"Mi, punya Veli kekecilan?" kata Veli menunjukan kebaya hijau yang kini sudah melekat di tubuhnya, dan sangat membuatnya merasa tidak nyaman.


"Kamu gemukan ya Nak?" tanya Ratih dengan senyuman melihat kebaya yang di pakai Veli menyempit.


"Apa iya Veli gemukan Mi?" tanya Veli ia juga merasa bingung dengan dirinya, lalu ia melihat dirinya di cermin dan benar saja dadanya pun terlihat lebih besar.


"Kamu gemukan Khumairah sayang," kata Aran tersenyum bahkan Aran mencolek hidung Veli.


Veli mengangguk, sambil tersenyum dengan pikirannya sendiri.


"Kucing dan anjing udah akur cuy, Sekarang Khumairah sayang ya," kata Bilmar menggoda Aran, ia ingat seperti apa Aran dan Veli dulunya, namun melihat kini bertapa harmonisnya pasutri itu mungkin tidak akan ada yang percaya tentang pertengkaran keduanya saat dulu.


"Ikut campur aja urusan orang!" kesal Aran.


"Anjing yang tadi jinak, sekarang berubah galak lagi," Bilmar tak mau kalah dengan Aran, ia terus menjawab setiap apa yang di katakan Aran.


"Abang," Anggia mendekati Bilmar sambil tersenyum dan mengelus pundak Bilmar, agar sang suami tak terus terlibat pertengkaran tak jelas dengan Aran, lalu ia menatap Veli, "Veli," Anggia yang sudah selesai dengan fiting dressnya melihat ada Veli juga ternyata di sana, "Vel kamu?" Anggia masih memperhatikan Veli lagi.


"Jangan brisik, belum pasti juga. Tapi kayaknya iya," jawab Veli, Anggia mengangguk saja mengikuti apa yang di katakan Veli.


Sementara Aran tak mengerti apa yang tengah di bicarakan Anggia dan Veli, tak lama berselang Ziva dan Vano juga sampai. Berikutnya Arman dan Seli.

__ADS_1


"Ziva ayo Mami antarkan ke sana, kamu harus coba kebaya rancangan Mami. Ini ide semuanya Mami sama Mama yang punya," kata Ratih dengan bangga, sebab memang ia dan Sinta yang mempersiapkan semuanya.


Semua wanita sibuk dengan mencoba kebaya milik mereka, sementara keempat pria yang menunggu di sofa terlihat terlibat percakapan. Kadang mereka serius, kadang mereka tertawa, kadang mereka marah-marah tak jelas dengan percakapan mereka.


"Lihar bro dia terus lihatin lu dari tadi," kata Aran yang melihat seorang banci terus memperhatikan segala gerak, gerik Bilmar dari tadi.


"Apasih, gw masih waras tau nggak," kesal Bilmar karena memang benar banci itu terus menatapnya dari datang tadi, namun ia tak perduli. Ia pikir Aran tak menyadarinya namun ternya ia pun menyadarinya.


"Gila bro, hebat banget lu. Lu mau jadiin dia bini kedua lu?" tanya Vano yang ikut menimpali pembicaraan mereka, "Kalau lu nikah sama dia, gw yakin bro Anggia setuju," lanjut Vano lagi.


"Heh, banci diem lu!" kesal Bilmar menunjuk wajah Vano.


"Heh...." Vano mengetuk meja, meminta ke tiga pria yang saling berhadapan dengannya melihat kearahnya dengan serius, "Kalau ngomong jangan asal, lu lihat anak ge udah lima. Sekali cetak empat," Vano menunjukan lima jarinya dengan bangga.


"Kalau lu mah lain, orang lu kerjanya ranjang mulu. Kalau nggak bunting juga bini lu dah aneh," jawab Bilmar tak mau kalah.


"Eh.....tunggu gw ya, gw udah nyicil semalam aja ampek pagi, lembur gw," timpal Arman yang juga tak mau kalah, "Target enam, mengalahkan Vanu," lanjut Arman terkekeh.


"Apa aja lah," Arman mengibaskan tangannya.


Aran yang tau keadaan Bilmar yang berpuasa selama beberapa hari mulai mendapatkan ide, "Gw juga semalam, kemarin, kemarin nya lagi. Nggak ada libur. Do'a in gw cepet dapat nambah anggota baru," jelas Aran memberi kode pada Vano dan Arman, untuk memanas-manasi Vano.


"Amin bro, nanti malam juga ya bro. Usaha nggak akan menghianati hasil," Vano menjawab dengan antusias karena ia mengerti dengan kode dari Aran.


"Gw juga, kalau perlu pulang dari sini. Gw gempur abis," lanjut Arman.


"Hajar bro!" kata Aran dengan bahagia melihat wajah kusut Bilmar.


BRAAAKK.......


Bilmar menggebrak meja karena kesal, beberapa orang menatap mereka karena mendengar suara meja itu. Namun mereka tak perduli sama sekali.


"Ck..... kalian bisa diam nggak sih!" kesal Bilmar memijat kepala dengan kesal.

__ADS_1


Vano tersenyum, begitu pun dengan Aran dan Arman. Mereka sangat senang melihat wajah frustasi Bilmar saat ini.


"Lu mau Bil?" tanya Vano lalu ia melihat banci yang masih terus menatap Bilmar, "Kamu kemari!" panggil Vano dengan suara berat dan tertahan hingga terdengar arogan.


"Saya tuan?" tanya banci itu dengan tersenyum.


"Em, buatkan teh lima, empat buat kami satu buat kamu. Dan duduk di sana," Vano menunjuk sofa yang di duduki Bilmar, dan meminta banci itu duduk dengan Bilmar.


"Iya tuan," banci itu tersenyum dan mulai pergi menjalankan apa yang di perintahkan Vano.


"Heh.....ngomong apa lu barusana?" tanya Bilnar dengan kesal.


"Emang gw ngomong apa?" Vano bukan menjawab tapi malah balik bertanya.


"Sialan lu."


Beberapa saat kemudian banci itu kembali dengan napan dan berisi liga cangkir.


"Silahkan di minum tuan," banci itu meletakan cangkirnya di meja, lalu tersenyum.


"Emmm, gemes ya bro," seloroh Aran.


"Hemmmm, pasti kenyel-kenyel gitu deh rasanya," sambung Arman.


Lalu banci itu duduk seperti yang di perintahkan Vano tadi, ia duduk di samping Bilmar.


"Heh....berani kamu duduk di samping saya, abis kamu!" kata Bilmar mengeluarkan kalimat ancama.


"Ahahahahhah......." ketiga pria yang lainnya malah tertawa dengan lebar, melihat wajah kesal Bilmar.


***


Kalau ada yang VOTE, Author lanjut lagi nanti. Kalu nggak ada. Kita jumpa esok hari. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2