Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 114


__ADS_3

"Pah, Veli nggak akan hamil Pah, Veli nggak ada berbuat papa sama dia. Lagi pula Veli dokter Pah, Veli nggak akan sebodoh itu," kata Veli masih berusaha membela diri.


Veli berharap Satria percaya padanya dan menarik ucapannya barusan, tapi justru Satria semakin marah atas apa yang di katakan Veli.


"Kamu Papah sekolahkan untuk lebih pintar Veli, bukan untuk menutupi kebodohan mu!" kata Satria dengan tegas, "Kalian berdua harus menikah, Papah tidak mau tau!" ucap Satria lagi.


"Pah.....ampun Pah, Veli nggak mau nikah sama dia," tutur Veli sambil menangis.


"Aran, bawa tuan Rianda dan Nyonya Rianda malam ini ke rumah saya, kalian akan saya nikahkan. Saya tunggu!" Satria menarik tangan Veli keluar dari ruangan itu dan membawanya pulang.


Aran berulang kali mengusap cairan segar yang terus mengalir di sudut bibirnya, Aran tersenyum lalu membetulkan kancing kemejanya yang sempat terbuka. Setelah itu ia mengambil jas yang tadi ia lempar sembarangan di sofa, ia segera melangkah keluar.


"Boss Maaf," kata Marni sambil tertunduk.


Aran tak perduli ia hanya tersenyum miring, dan berlalu begitu saja.


"Huuuuh," Marni menarik nafas lega sesaat Aran sudah tak tampak lagi di pandang matanya.


***


Kediaman Rianda.


Kini semua anggota keluarga Rianda tengah duduk di kursi meja makan, semunya tengah menanti detik-detik menikmati hidangan berbuka puasa. Sedari tadi Ratih bertanya mengenai wajah Aran yang babak belur itu, namun Aran mengatakan akan menjawab setelah ia selesai berbuka puasa. Ratih masih penasaran dan beberapa kali mencoba bertanya, tapi tetap saja Aran ingin makan terlebih dahulu


"Aran, Mami penasaran wajah kamu kenapa lebam begini?" entah sudah berapa kali Ratih bertanya, kini ia selesai mengobati memar yang di beberapa bagian tubuh Aran.


"Mi, tunggu buka puasa dulu ya, setelah itu baru Aran cerita," jawab Aran.


"Tapi Mami penasaran Nak," kata Ratih lagi yang masih memaksa.


"Aran makan dulu Mi, nanti kalau Papi kasih bogem ke Aran. Aran udah kenyang duluan," jawab Aran yang terdengar konyol, namun Aran yakin bogem mentah akan ia terima setelah ini. Maka dari itu ia harus makan untuk menyiapkan tenaga.


"Ada aja kamu," kesal Ratih.


Suara Azan berkumandang, itu artinya waktunya berbuka puasa. Aran langsung mendeguk minuman hingga tandas dan makan dengan lahap.

__ADS_1


"Bego, itu lu makan apa kerasukan?" tanya Bilmar dengan kesal sebab Aran makan dan minum begitu banyak.


"Gw, butuh tenaga buat menghadapi kenyataan setelah ini," jawab Aran sambil mengunyah makanannya.


"Aneh," tutur Bilmar yang masih di dengar Aran tapi, ia tak perduli. Aran hanya ingin makan dan minum itu saja.


"Mi, si Veli kemana?" tanya Rianda, sebab ia tau bila berbuka puasa atau pun makan bersama di rumah Bilmar pasti ada Veli juga.


"Mami tadi udah telpon Pi, tapi nggak di jawab," kata Ratih ia juga sedikit cemas.


"Veli pulang ke rumahnya Mi," jawab Anggia menatap Aran, sebab Veli sudah menghubunginya beberapa menit yang lalu tentang apa yang terjadi antara ia dan Aran.


"O.....begitu," kata Ratih.


"Sayang kopinya mantap," kata Bimar pada sang istri, Anggia tersenyum. Bilmar memajukan wajahnya berniat ingin mengecup Anggia.


"Mami mau yang ini?" tanya Anggia, dengan cepat ia berdiri dan memberi makanan tersebut pada Ratih. Bilmar kesal dan menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.


"Mmffp," Aran menahan tawa melihat wajah kecewa Bilmar, sebab Anggia menghindar saat akan di beri kecupan mesra.


"Kamu apasih yang," kesal Bilmar berbisik di telinga Anggia.


"Ck...." Bilmar hanya bisa berdecak kesal karena istri tercintanya malah menolak saat akan ia kecup.


"Makan dulu biar taraweh," Anggia menambahkan makanan pada piring Bilmar.


"Sayang kebanyakan, Abang udah kenyang banget," kata Bilmar.


"Yaudah, ini minumnya kalau Abang udah kenyang," Anggia tersenyum lembut pada sang suami.


Ratih dan Rianda tersenyum bahagia melihat Bilmar dan Anggia yang terlihat begitu serasi.


"Pi, Aran harus nikah sama Veli," ucap Aran dengan jelas, pada Rianda.


"Uhuk....uhuk...." Bilmar tersedak mendengar perkataan Aran, semua angota keluarga yang ada di sana menatap Aran penuh tanya termasuk Rianda.

__ADS_1


"Aran kamu tadi berbicara apa Nak, coba ulangi Mami mau dengar?" tanya Ratih menatap Aran dengan serius.


"Aran dan Veli harus segera menikah, karena....." Aran menggantung ucapannya dan kini ia menatap Rianda, yang juga menatapnya dingin.


"Karena?" tanya Ratih yang masih menunggu jawaban Aran.


"Veli itu ternyata anak tuan Satria Pi, salah satu rekan bisnis kita, dan......" belum sempat Aran berbicara ponsel Rianda sudah berbunyi.


"Assalamualaikum, tuan Satria," jawab Rianda sambil menatap tajam Aran. Rianda bangun dari duduknya dan berbicara serius dengan Satria mengenai Veli dan Aran, tiga puluh menit berlalu pembicaraan itu pun selesai dengan menemukan keputusan yang paling baik tentunya. Selesai Rianda dan Satria berbicara, kini giliran Rianda mendekati Aran.


"Sejak kapan kau menjadi brengsek!" tanya Rianda.


"Aran minta maaf Pi," Aran tertunduk dan tak berani menatap Rianda.


BUUUK.


BUUUK.


Rianda memukuli Aran tanpa henti.


"Papi udah, semua kita bicarakan baik-baik," kata Ratih memeluk Aran sementara Bilmar berusaha menjauhakan Rianda dari Aran.


"Kenapa Aran? Kau lah selama ini anak yang paling Papi banggakan, tapi kenapa kau mengecewakan Papi? Tidak bisakah kalian menikah dengan cara baik-baik. Apakah kau tak menganggap aku orang tua mu? Apa kau tak ingin kami bahagia saat menyaksikan mu dalam pernikahan yang indah?" tanya Rianda dengan kecewa.


Aran diam dalam menunduk, ia tau kini Rianda pasti sangat kecewa padanya. Sedikit ada rasa penyesalan yang di rasakan Aran setelah melihat kesedihan Rianda, namun mundur pun sudah tidak mungkin, kini ia sudah terlanjur masuk kedalam permainannya sendiri dan ia pun pasrah menerima kemarahan Rianda padanya.


"Jawab Papi!" teriak Rianda.


"Maaf Pi," hanya itu saja yang bisa di katakan Aran.


"Bersiap-siap cepat, kalian akan menikah malam ini juga. Itu sudah keputusan Papi dan tuan Satria."


"Tapi ini masih bulan ramadan Pi," kata Ratih.


"Mau bagaimana lagi Mi, anak ini dan Veli sudah melakukan hal tidak senonoh, keluarga kita bisa tercemar karena perbuatan keduanya. Lagi pula kita akan berdosa Mi....bila membiarkan keduanya terus berbuat zina," kata Rianda pada Ratih.

__ADS_1


Ratih menatap Aran dengan penuh tanya, ia mencerna semua perkataan Rianda. Namun entah mengapa Ratih ragu dengan apa yang kini terjadi, sebab ia sangat tahu seperti apa Aran dan Veli. Rasanya mustahil bila keduanya melakukan itu.


"Ayo siap-siap, tunggu apa lagi!" kata Rianda membentak Aran.


__ADS_2