
Pagi harinya Aran, Satria, dan Laras sudah bersiap-siap untuk pergi melakukan solat idul Fitri. Namun Veli masih di bawah selimut, karena rasa lelah yang ia rasakan semalam. Bahkan untuk membuka mata saja ia tak mampu karena Aran hanya mengijinkannya beristirahat dua jam saja. Setelah itu Aran kembali mengerjainya hingga pukul lima subuh dan saat itu Veli baru tertidur, hingga kini Aran sudah pulang kerumah karena sudah selesai solat Idul Fitri bersama Satria dan Laras.
Aran masuk ke kamar namun ia tak tega membangunkan sang istri yang terlihat begitu lelap, wajah lelah Veli sungguh sangat terlihat dengan rambut kusut yang menjadi bingkai wajahnya.
Sementara Laras yang melihat Veli tak kunjung keluar dari kamar merasa bingung, sebab mereka harus berkunjung ke rumah keluarga lainnya. Dan juga sebantar lagi akan banyak tamu di rumahnya, namun Veli sama sekali belum menampakan diri. Laras juga berniat pergi mengunjungi Rianda di kediamannya, sebab kini mereka sudah berbesanan. Mereka ke sana bersama Aran dan Veli tentunya.
TOK.....TOK.....TOK.....
Laras mengetuk pintu dan di buka oleh Aran.
"Ma," kata Aran yang berdiri di depan pintu, karena tak mungkin ia membuka pintu takut Laras melihat Veli yang tidur dengan tubuh yang kusut. Dan sebelum membuka pintu ia sudah memunguti pakaian yang berserakan di latai terlebih dahulu.
"Aran, Veli belum bangun juga Nak?" tanya Laras dengan rasa penasaran, "Apa Dia lagi sakit?" Laras merasa aneh sebab tak biasanya Veli belum bangun sampai jam menunjukan pukul sepuluh pagi.
"Veli masih tidur Ma," jawab Aran dengan sedikit bingung bagaimana mengatakannya pada Laras.
"Kamu sudah bangunkan?"
"Aran nggak tega Ma," jawab Aran sambil mencari ide yang tepat.
"Nggak tega?" tanya Laras bingung, "Yaudah....biar Mama yang bangunin," Laras berusaha masuk tapi Aran menghalaninya lagi.
Kalau gini caranya harus buru-buru punya rumah sendiri, malu banget kalau mertua tau anaknya abis gw pretelin semalemam.
"Ma, biar Aran aja ya...." ucap Aran lagi.
Laras menatap wajah Aran dengan penuh selidik, ia merasa ada yan aneh. Laras mengangguk karena otaknya kini mulai mengerti ada sesuatu hal yang hanya pengantin baru yang mengerti, begitulah tebakan Laras yang ia pun tak yakin dengan tebakannya benar atau salah.
"Yaudah....kamu bangunin ya Nak, soalnya kita mau ke rumah Mami kamu," kata Laras tersenyum pada Aran.
__ADS_1
"Iya Ma."
Aran menutup pintu setelah Laras pergi dan ia kembali berjalan menuju ranjang, ada perasaan tak tega membangunkan sang istri cerewetnya namun mau bagaimana lagi.
"Khumairah," Aran menepuk pipi sang istri dengan tangannya, "Sayang, bangun. Kita mau ke rumah Mami," ucap Aran dengan nada pelan.
"Emmmmm," Veli menggeliat merasakan tidurnya terusik karena Aran yang mengganggunya, "Mas......Veli capek banget, tulang Veli rasanya remuk semua," tutur Veli tanpa membuka mata sedikit pun sebab ia sama sekali belum berniat bangun.
"Sayang, Mama dari tadi nanyain kamu terus. Buat hari ini aja, nggak enak sama Mama kamunya jam segini belum bangun. Ini lebaran lagi," Aran terus berusaha membangunkan Veli, walau pun tak tega namun mau bagaimana lagi.
"Em....." jawab Veli tanpa bergerak sedikit pun di bawah selimut yang menutupi tubuh polosnya, "Mmfffp," Veli tak bisa bernapas karena Aran melahap bibirnya dengan tiba-tba.
"Kalau nggak bangun Mas masih pengen nih," kata Aran yang gemas melihat bibir Veli.
"Ya.....ampun," Veli dengan susah payah membuka matanya dan menatap kesal Aran, "Mas tega banget deh, badan Veli sakit semua tapi Mas gitu sama Veli," kesal Veli.
Aran tersenyum mendengar omelan Veli, yang terlihat menggemaskan di pagi yang cerah ini, "Makanya bangun, Mama nanyain kamu terus. Mas bingun jawab apa sayang...." Aran menarik gemas pipi Veli.
"Yang sekali lagi ya," kata Aran sambil menindih tubuh Veli.
"Mas," Veli menolak dengan mendorong tubuh Aran, "Veli nggak kuat, kalau Mas mau minta lagi Veli beneran nggak bisa bangun," ucap Veli berharap Aran mengasihaninya untuk pagi hari ini.
"Yaudah....." dengan berat hati Aran bangun dari tubuh Veli, "Mas gendong aja ke kamar mandinya," Aran menawarkan diri sebab kasihan pada Veli.
"Yaudah deh......" Veli tak menolak sebab ia sangat kesulitan bangun, karena bagian inti tubuhnya terasa begitu perih.
Aran mengangkat tubuh Veli dan mendudukannya di bathtub, setelah ia mengisi air hingga penuh Aran keluar dari kamar mandi sejenak membiarkan Veli merendam tubuhnya agar lebih segar.
Aran melihat jam di tangannya 20 menit sudah berlalu namun Veli belum juga keluar dari kamar mandi, akhinya Aran masuk dan tenyata sang istri malah tidur dengan lelap.
__ADS_1
"Sayang," Aran kembali membangunkan Veli, ia juga kasihan namun untuk hari ini Veli benar-benar harus bangun.
"Mas, Veli ngantuk banget," ucap Veli sambil berdiri.
Aran tak berkedip menatap Veli tanpa sehelai benang pun, yang berjalan menuju shower.
"Mas keluar," Veli baru menyadari sedari tadi ia tak menggunakan apa-apa di hadapan Aran, dan ia merasa sangat malu.
"Sayang.....sekali lagi ya," kata Aran dengan cepat memeluk Veli di bawah guyuran air shower, hingga koko yang masih melekat di tubuh Aran ikut basah.
"Ssssstttttt......" Veli menggeliat tak kala tangan kekar itu kembali bermain di bagian tubuhnya, bahkan tanpa ada persetujuan darinya.
"Sayang......" Aran merancau tak jelas karena termakan gairah.
"Mas," Veli mendorong tubuh Aran, "Veli nggak kuat," kata Veli dengan wajah melas.
"Mas juga udah nggak kuat yang," kata Aran kembali mendekati Veli, namun dengan cepat Veli mendorong kembali.
"Maksud Veli, kalau Mas mau lagi Veli bisa nggak kuat jalan. Bukannya kita harus bekunjung ke rumah Mami," ucap Veli memperjelas maksudnya, agar Aran tak salah mengartikannya.
"O," Aran menggaruk kepala karena pikirannya tadi adalah yang lain, "Yang Mas beneran nggak kuat, sebentar aja ya...." pinta Aran dengan melas, berharap Veli mau bermurah hati padanya, "Kasihani suami mu ini Khumairah, Mas mohon," pinta Aran menangkup kedua tangannya.
"Mas apasih," Veli terkekeh melihat expresi Aran yang berlebihan, "Sana keluar, Veli juga udah lapar banget," kata Veli sambil menutup bagian rubuhnya yang terus di perhatikan Aran.
"Sayang, udah keras," Aran menujuk kayu yang sudah mengeras di dalam sana pada Veli.
"Mas apa sih," Veli menepuk punggung Aran, ia tak menyangka ternyata Aran sangat mesum dan tak tau kondisi saat ini.
Aran terpaksa keluar dengan wajah cemberut sambil menenangkan kembali hasratnya.
__ADS_1
"Sob, bobo lagi ya. Nggak di kasih soalnya," Aran berbicara pada kayu kerasnya.