
"Udah jangan nangis lagi," Bilmar malah ingin tertawa melihat Anggia menangis tanpa henti sebab tisu hampir habis karena untuk membersihkan air mata dan ingus Anggia yang keluar.
"Nggak usah deket-deket," Anggia kini malah semakin kesal sebab Bilmar malah semakin menjadikannya bahan tertawa.
"Ahahahah.....udah kasian banget," Bilmar kembali memeluk Anggia dengan erat.
"Abang kasiankan sama Anggi," Anggia melepas pelukan Bilmar dan sedikit penjauh agar bisa melihat wajah sang suami.
"Bukan sama Anggi, tapi Abang kasihan sama tisunya yang kamu buang-buang," seloroh Bilmar.
"Abang.....hiks,hiks," Anggia malah semakin menangis mendengar apa yang di katakan Bilmar.
"Ahahahaha," Bilmar tidak bisa lagi menahan tawa melihat wajah kesal Anggia.
"Nggak usah deket-deket," Anggia menjauhi Bilmar ia sudah malas pada sang suami, padahal ia butuh sedikit perhatian tapi malah Bilmar mengatakan hal yang justru membuatnya merasa malu.
"Loh kenapa?" Bilmar masih terkekeh melihat tingkah Anggi yang unik dan lucu, Bilmar kini lebih senang berdekatan dengan Anggia. Sebab sang istri bisa memberikannya hiburan yang melepaskan penatnya saat kembali lagi bekerja.
Anggia tidak menjawab ia justru cemberut dan semakin menjauh dari Bilmar.
"Abang udah minta maaf, dosa loh....nggak maaf pin suami," Bilmar mencolek dagu Anggia, Anggia masih memeluk tissu ditangannya dengan bibir manyun, yang membuat Bilmar semakin bersemangat menggoda sang istri.
"Iya Anggi tau dosa nggak maaf pin orang apa lagi sama suami, tapi Abang beda..." Anggia menatap kesal Bilmar, tapi justru expresi Anggia membuat Bilmar gemas dan ingin menarik pipi cabi sang istri.
"Abang apa bedanya?" Bilmar seperti bermain teka-teki bila berbicara dengan Anggia, yang kadang sulit di mengerti itu.
"Abang suami durhaka!" kesal Anggia.
"Memang ada suami durhaka?" Bilmar masih terkekeh melihat istrinya yang sangat aneh.
"Ada!"
"Udah, udah uh......sayang....Abang peluk deh," Bilmar memeluk Anggia.
HUUUH.
Anggia membuang ingusnya pada jas Bilmar, Bilmar menelan saliva melihat tingkah istri uniknya.
__ADS_1
"Bini Limited editions," gumam Bilmar di sela-sela mempererat pelukannya.
"Abang bilang apa barusan," samar-samar Anggia mendengar gumamam Bilmar.
"Aku cinta pada mu!" jawab Bilmar.
"Abang.....apa sih," Anggia ternyum malu mendengar perkataan Bilmar.
"Senyum....manis bener minta di itu deh kayaknya," tutur Bilmar.
CLEK.
Pintu terbuka dan ternyata Veli yang masuk.
"Nggak siang nggak malam, di kelon teros," tutur Veli melangkah menuju meja kerja Anggia, ia lupa tadi menggambil berkas miliknya saat keluar dari ruangan Anggia dan kini ia harus kembali lagi dengan malas.
"Abang, Veli jadi nikah nggak sama Aran?" Anggia ingin menggoda Veli yang sedang kesal.
"Abang nggak ngerti yang kalau mereka menikah, Abang harus kasih hadiah ranjang yang super kuat biar nggak hancur satu malam karena mereka berdua," seloroh Bilmar sambil menggulung-gulung rambut Anggia.
"Veli....." teriak Anggia kesal.
"Ahahahahah," Veli tertawa mendengar teriakan kesal Anggia, ia sudah lama sekali tak melihat Anggia seceria ini dan Veli senang sahabatmya sudah tanpa beban seperti dulu yang selalu murun dan menangis.
"Udah sabar..." Bilmar melepas jasnya karena ada lendir, di sana lendir yang sangat jorok bagi Bilmar.
"Abang kok di lepas," Anggia menjauh dan takut kalau Bilmar melakukan itu di sini, Anggia juga menyilangkan dua tangannya di dada dengan menatap Bilmar penuh rasa curiga.
"Ini pikirannya pasti kotor," Bilmar terkekeh dan menarik Anggia untuk duduk di pangkuannya.
DEEG.
Anggia tak tau lagi harus apa yang jelas ia tak bisa bergerak sedikit pun, bukan tak bisa bergerak sebenarnya tapi tak berani bergerak. Pertama kalinya ia duduk di pangku Bilmar, rasanya seperti permen nano-nano yang bercampur menjadi satu, bahkan perlahan keringat Anggia juga mulai membasahi tubuhnya. Sesaat Anggia merasa sulit dalam bernapas sebab perasaan aneh itu kembali datang lagi.
"Aba.....ng, Anggi turun ya," Anggia berusaha turun tapi Bilmar malah memeluk erat bagian perut Anggia dan jangan lupakan tangan Bilmar memegang perutnya.
"Di sini aja," Bilmar menyimpan wajahnya di tengkuk Anggia menghirup seluruh wangi sang istri.
__ADS_1
"Ssstt," tapi yang Anggia rasakan justru berbeda rasanya ia ingin lebih dari itu.
"Kamu kok keringetan sih," tanya Bilmar bingung padahal ac di ruangan itu cukup dingin.
"Abang, Anggia ada pasien bentar," Anggia cepat-cepat turun dari pangkuan Bilmar, Bilmar juga terkejut dan ia melepaskan Anggia.
"Ada pasien? Jam berapa?" tanya Bilmar.
"Jam dua," jawab Anggia asal.
"Ini sudah jam tiga sayang," Bilmar mendekat berniat memeluk Anggia lagi, tapi Anggia tidak mau tangan Anggia seolah meminta Bilmar berhenti.
"Stop, nggak usah panggil sayang," Anggia malah geregetan dengan Bilmar karena tidak sanggup mendengar ucapan manis Bilmar, Anggia seperti orang bodoh yang tak tau apa-apa bila sedang bersama Bilmar, sebab perasaan tak menentu itu datang saat Bilmar berkata manis.
"Kenapa," Bilmar malah semakin aneh melihat tingkah Anggia.
"Nggak usah ganggu Anggi lagi baca data pasien Anggi," Anggia berpura-pura membaca entah apa yang ia baca ia pun tak tau.
"Kamu kenapa sih, ini kamu baca apa? Ini majalah sejak kapan data pasien ada di majalah," Bilmar terkekeh melihat istri yang ia beri gelar Limited editions itu.
"Eh," Anggia menyadari kebodohannya, hingga akhirnya Anggia bingung harus apa, terpaksa ia duduk di kursi kerjanya lama berdiri terasa tidak nyaman pada perut buncitnya.
"Makan rujak yuk," Bilmar hanya ingin membuat istrinya kembali tertawa dan seperti biasa, sebab perasaan Anggia kadang ceria kadang bersedih dalam waktu bersamaan membuat Bilmar bingung tapi mau bagaimana lagi, Bilmar banyak bertanya pada Veli tentang wanita hamil dan tingkahnya. Lalu Veli menjelaskan semuanya hingga Bilmar terus berusaha bisa menjadi seperti keinginan sang istri, Bilmar berharap setelah menikah Anggia tak lagi sulit di tebak. Bila Anggia manja juga jelas bisa di mengerti dan bila Anggia yang cerewet marah-marah Bilmar juga tidak mengapa, asal jangan dalam waktu bersamaan semua itu tiba-tiba muncul.
"Anggi nggak mau makan tujak," jawab Anggia.
"Terus maunya," Bilmar berdiri di samping Anggia, sebelah tangan Bilmar bertumpu pada meja dan sebelah lagi pada bagian sandaran kursi yang Anggia duduki. Hingga tubuh Bilmar condong pada sang istri, Anggia mulai kasak-kusuk tak jelas lagi di buat oleh perasaannya yang tak menentu.
"Abang jauh dikit aja," tutur Anggia penuh harap.
"Suami istri kenapa memangnya kalau deket-deket?"
"Anggi nggak bisa nafas," tutur Anggia dengan wajah memerah.
Kemana cari bini model begini, janda tapi masih waw. Belum lagi tingkahnya yang kocak bikin aku ikut gila juga.
"Yuk, cari rujak Abang suapin loh."
__ADS_1