
"Kita langsung pulang aja ya, soalnya udah sore kita naik motor nggak bagus buat ibu hamil," ucap Bilmar.
Bilmar bukan tidak membolehkan Anggia untuk melihat cafe miliknya yang kini Bilmar menyerahkan pada Putri yang mengelola, tapi karena Bilmar masih mendapat laporan dari orang suruhannya, kalau orang suruhan Brian masih sering kesana untuk mencari tahu keberadaan Anggia.
Brian memang masih berada di penjara, tapi hanya tubuhnya yang di penjara orang suruhannya berkeliaran di mana-mana. Brian juga tidak tinggal diam tentunya mungkin saja ia akan segera bebas dengan cara apapun, bahkan Anggia tidak tau jika orang suruhan Bilmar tetap mengikuti mereka kemana mereka pergi, sebab Bilmar tidak mau ambil resiko kalau terjadi sesuatu pada Anggia dan anaknya.
"Tapi saya kangen sama cafe tuan." Anggia tetap berusaha membujuk Bilmar, bisa di bayangkan saat ini ia tidak memegang uang sepeserpun. Saat ia kabur dari Brian ia hanya membawa tubuhnya saja sementara tas tangan kesayangannya yang berisi dompet, dan ponselnya semua di sembunyikan Brian.
"Anggia apa kita boleh bernegosiasi sedikit saja," tutur Bilmar dengan sedikit memohon, agar Anggia tidak banyak memantah dan mulai mengerti, tanpa harus ia jelaskan yang sebenarnya.
"Apa tuan?" Anggia penasara apa yang akan di katakan Bilmar, sebab ia yakin Bilmar tidak senang dengan kehamilannya.
"Kali ini saja, saya bisa di bunuh Mami kalau terjadi sesuatu sama kamu," Bilmar berdalih, ia tidak mau menyebut alasannya karena Brian, sebab Anggia masih trauma bila mendengar nama Brian.
Sementara Anggia diam dan membenarkan ucapan Bilmar, "Iya sudah, tapi kita beli jagung bakar ya tuan, sambil pulang," pinta Anggia.
"Okey," jawab Bilmar sambil memasangkan helm di kepala Anggia, "Udah naik yuk," kata Bilmar.
"Yuk," Anggia naik dengan tangannya memegang pundak Bilmar.
"Mmmmfff," Bilmar menahan tawa saat merasa tangan Anggia di pundaknya.
"Ada yang salah tuan?" Anggia bingun mengapa Bilmar tertawa.
"Kamu lagi naik kuda atau naik motor," seloroh Bilmar.
"Hehehe," Anggia tertawa renyah ternyata Bilmar menertawai keanehannya.
"Kalau naik motor pegangnya di sini," Bilmar menurunkan tangan Anggia lalu melingkarkan di perutnya, "Kalau naik motoh begini," Bilmar masih terkekeh.
"Ya tuan, hehehe," Anggia merasa tidak nyaman karena jarak mereka yang terlalu dekat.
"Siap?"
"Siap tuan."
"Berangkatttttt," dalam hitungan detih motor Bilmar kembali melaju dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
Gue berasa kok kayak senjata makan tuan ya, gundukannya berasa bener malah nggak pakek jaket lagi aku, oh sial.
"Tuan!"
"Tuannnnnn!" teriak Anggia mendekatkan mulutnya pada telinga Bilmar.
"Apa, nggak usah teriak saya dengar," kesal Bilmar.
"Oh, saya pikir anda tidak dengar karena saya dari tadi manggil tapi anda tidak menjawab," kata Anggia.
"Saya dengar, ada apa?"
"Tuan jagung bakarnya udah kelewatan," kesal Anggia karena Bilmar melupakannya.
Ya ampun maaf ya adk manis mas ganteng lupa.
"Oh iya, maaf saya nggak lihat, kita putar balik ya," kata Bilmar, Bilmar berdalih lupa sebab ia tidak mau Anggia berpikir jika Bilmar tidak perhatian padanya.
"He'um," Anggia tidak jadi mendongkol karena jawaban Bilmar ternyata bukan lupa tapi tidak lihat, jadi Anggia senang itu berarti Bilmar tidak terpaksa.
"Anggia ayo pesan kamu mau berapa?"
"Saya dua ajah tuan."
"Mas jagung bakarnya lima ya," Bilmar tidak mau pesan sedikit karena ia juga sepertinya ingin makan jagung bakar.
Setelah beberapa menit perjalanan kini Bilmar dan Anggia sudah sampai di rumah, Bilmar masih setia melepas helm yang di pakai Anggia, setelah itu keduanya masuk dengan Anggia yang menenteng plastik berisi jagung.
"Tuan tunggu di sini, saya mau ambil piring," kata Anggia setelah mereka sampai di meja makan.
"Okeh," jawab Bilmar sambil menarik kursi meja makan dan mendaratkan pantatnya di sana.
Anggia menata semua jagung yang mereka bawa di piring dan mulai melahapnya tanpa bersuara.
"Anggia kamu makannya kaya tikus ya," seloroh Bilmar.
"Kok tikus tuan?" Anggia bingung.
__ADS_1
"Tuh lihat jagung kamu," tangan Bilmar menunjuk jagung yang di pegang Anggia.
"Ahahahha," Anggia tertawa ternyata benar, ia mengigit jagung itu dengan asal karena sudah tidak sabar untuk mengujahnya. "Tuan temenan sama tikus," seloroh Anggia.
"Bukan temenan tapi cinta," gumam Bilmar.
"Tuan ngomong apa?" Anggia tau Bilmar bergumam tapi entah apa ia pun tidak tau.
"Lupakan kita makan lagi," Bilmar tidak mau mengatkan ia mencintai Anggia, ia takut Anggia merasa tidak nyaman seperti dulu saat bersamanya. Jadi lebih baik ia pendam saja yang penting Anggia tidak pergi darinya, sambil terus berusaha Anggia jatuh cinta padanya juga, jadi Anggia tidak akan pernah berpikir untuk pergi jauh darinya.
"Eeeeee, ups," Anggia tidak sadar ternyata ia bersendawa, tangannya menutup mulut sebab Bilmar tersenyum mendengarnya, "Hehehe, kelepasan tuan," Anggia malu sendiri dengan tingkahnya.
"Hahaha, lupakan kamu sudah kenyang?"
"Udah tuan dan saya mau kekamar dulu, mau mandi," Anggia merasa tubuhnya mulai gerah, sepertinya dengan mandi ia bisa lebih segar.
"Anggia tunggu," Bilmar menghentikan langkah kaki Anggia yang hampir menaiki anak tangga.
Anggia berbalik dan menatap Bilmar, "Iya tuan?" tanya Anggia.
Bilmar melangkah mendekati Anggia dan berdiri cukup dekat, "Ngi saya sangat bahagia sekali pas tau bayinya sehat, terus kembar lagi, saya boleh nggak peluk kamu, eeem....sebenatar saja," kata Bilmar dengan sangat hati-hati sebab ia takut kalau Anggia menolak, sejak tadi Bilmar rasanya ingin loncar-loncat kegirangan namun ia malu di hadapan Anggia.
"Iya," jawab Anggia dengan mengangguk.
Tanpa pikir panjang Bilmar dengan cepat memeluk Anggia dengan rasa bahagia, "Makasih yang Ngi," tutur Bilmar, "Cup," sangking bahagianya Bilmar malah mengecup kening Anggia, "Maaf," Bilmar menarik nafas dan menjauh dari Anggia, ia ingin melihat expresi Anggia apakah marah padanya.
"Heheehe," ya udah saya mandi dulu, Anggia melangkah dengan perasaan canggung. Ia juga shock saat Bilmar malah mencium keningnya, tapi Anggia senang dengan begitu berarti Bilmar juga menginginkan anak itu, sebab Anggia yakin sebenarnya Bilmar bahagia dan ingin mencium pipi anak-anaknya tapi malah Anggia yang di cium karena lupa.
Sementara Bilmar juga mulai menaiki tangga menuju kamarnya, sesekali ia memukul udara merutuki kebodohanya yang justru malah mencium Anggia.
"Bilmar, kenapa bisa kelepasan," Bilmar bergumam saat sudah masuk kedalam kamar, ia tidak tau harus bagaimana nanti saat berhadapan dengan Anggia.
"Ya Allah semoga dia nggak marah," lagi-lagi Bilmar hanya bisa berdoa dan berharap agar ia dan Anggia tetap baik-baik saja, dan Anggia tidak menghindarinya sejak kejadian tadi.
****
JANGAN LUPA VOTE.
__ADS_1