Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 81


__ADS_3

"Heh lu ngapain pegang tangan gw," Ketus Aran saat tangannya masih di pegang oleh Veli, sementara Veli mulai menyadari ke bodohannya dan dengan cepat melepasnya.


"Ah, udah," Veli mengibaskan tangannya dengan kesal dan malu, "Gw udah telat, lu antar gw ya," Veli melihat jam di pergelangan tangannya dan juga ia sangat pusing dengan insiden pagi ini.


"Enak aja emang gw supir lu!" Ketus Aran.


"Please Ran, gw ada pasien pagi ini," Veli memohon agar Aran mengerti.


"Yaudah ayo, demi pasien lu bukan demi lu ya monyet," Kata Aran.


"Sialan lu," Veli ikut naik di mobil Aran tapi ia duduk di belakang.


"Heh, monyet lu pikir gw supir apa, pindah ke depan," Perintah Aran.


"Iya bawel," Veli keluar dan kembali masuk ke dalam mobil duduk bersebelan dengan Aran.


Setelah perjalanan beberapa menit kini keduanya sudah sampai di depan rumah sakit, Veli tersenyum sebab kali ini Aran tak menyuruhnya turun di sebrang jalan. Tak ada kata terima kasih atau yang lainnya Veli turun bagaikan ratu bahkan ia membanting pintu dengan kuat. Lalu berjalan melenggang masuk meninggalkan Aran dengan kesal.


"Sialan tuh cewek, pertama kali gw di gini in sama cewek, biasanya cewek kelpek-kelpek sama gw. Apa lagi gw antar pasti tu cewek meleleh gw jadi penasaran sama cewek pecicilan ini, tunggu ya monyet lu bakal ngemis cinta sama gw. Tunggu aja ya," Aran bergumam tak jelas dengan ide gila untuk membuat Veli mengejar cinta darinya, sebab Aran kesal dengan tingkah Veli yang selalu ketus padanya.


Sementara Veli yang sudah masuk ke ruangannya mulai duduk santai, menenangkan otak yang terasa pusing. Terutama mengenai musuh bebuyutannya Aran tapi setelah itu ia mulai bekerja karena banyak pasien yang harus ia tangani.


SIANG HARINYA.


Veli tau Anggia pasti membawa bekal banyak dan saat ini ia ingin makan bekal ibu hamil itu dari pada makan di kantin.


"Ngi," Veli masih seperti biasanya yang langsung saja masuk tanpa permisi.


"Apa," Anggia sedang sibuk dengan makannya yang ia bawa.


"Wah pas banget ni, gw bantu ya," Veli langsung duduk di sofa dan memakan makanan Anggia, yang terlihat sangat banyak.


"Iya, tadi pagi aku suruh Art ini buat nyiapin, aku soalnya suka laper gitu," Tutur Anggia.


Tidak lama berselang Sasa yang melewati ruangan Anggia melihat pintu ruangan Anggia terbuka dan ia melihat Veli dan Anggia sedang menikmati makan siang, Sasa langsung masuk.


"Boleh masuk nggak?" Tanya Sasa membuat Veli dan Anggia melihat ke arah pintu karena mendengar suara Sasa.


"Eh, Sasa," Kata Veli yang terkejut.

__ADS_1


"Boleh masuk aja," Jawab Anggia.


"Okey, waw banyak banget makanannya," Sasa juga terkejut melihat makanan Anggia yang begitu banyak.


"Ya ni Sa, ayo makan bareng," Kata Anggia dengan ramah.


"Okey," Ketiganya mulai makan makanan milik Anggia hingga tak tersisa sedikit pun lagi, lalu setelah selesai mereka semua bersandar karena merasa sangat kenyang.


"Kalian masih tinggal di rumah tuan Bilmar?" Tanya Sasa penasaran, sebab ia tau Anggia sudah sembuh dan apa mungkin Anggia masih tinggal di sana.


"Iya masih," Jawab Veli dan matanya menatap leher Anggia yang ada bekar keunguan, "Panas banget kayaknya semalam ya Ngi," Tanya Veli pada Anggia.


"Nggak juga, kan ada ac," Jawab Anggia yang tidak mengerti dengan pembahasan Veli.


"Kalian nggak malu apa tinggal di rumah tuan Bilmar terus?" Tanya Sasa.


"Ngapain malu, Anggia kan istri si Ceo somplak itu, Anggia sekarang udah jadi nyoya Bilmar Rianda, gw baru numpang tinggal di sana itu pun karena Mami nggak ngijinin gw pindah, tapi gw juga sayang banget sama Mami dia cantik baik, dan suka ajakin aku belanja di bayarin lagi," Jelas Veli dengan jelas pada Sasa, Veli sangat tidak suka ada yang berani menyinggungnya.


"Kamu udah nikah sama tuan Bilmar Ngi?" Sasa shock mendengar perkataan Veli, hal yang sangat tidak ia sukai.


"Udah," Jawab Anggia sambil mengambil ponselnya sebab berdering, dan ia melihat ada pesan dari Bilmar.


[Jangan lupa makan siang,] Abang.


[Iya,] Anggia.


Tidak lama berselang Bilmar kembali membalas.


[Jangan lupa minum,] Abang.


[Udah,] Anggia.


Sementara Sasa masih menahan diri, ia rasanya ingin mencekik Anggia saat ini, berulang kali ia berusaha mendapatkan hati Bilmar saat bekerja dulu di rumah Bilmar bahkan sering kali ia menyeduhkan kopi namun jangankan berbicara, Bilmar meliriknya saja tidak.


[Abang nanti ke sana sama Mami ya,] Abang.


[Iya, Abang udah makan?] Anggia.


[Udah, ada yang belum tapi,] Abang.

__ADS_1


[Apa,] Anggia.


[Belum dapat kiss dari kamu,] Abang.


Anggia mengusap wajahnya beberapa kali dengan telapak tangan, kata-kata Bilmar seperti hal sudah biasa mereka lakukan, padahal mereka menikah saja baru kemarin.


[Apa sih, Nggak jelas banget,] Anggia.


[Yang jelas cuman Abang cinta kamu,] Abang.


"Waaaaa," Anggia berteriak tidak sadar dengan hati yang gembira tak terhingga.


"Lu napa?" Veli dan Sasa bingung apa yang terjadi pada Anggia, sesaat Anggia menatap ponsel lalu tiba-tiba berteriak kegirangan. Seperti gadis belia yang sedang di mabuk asmara.


"Eh," anggia dengan cepat mendudukan kembali tubuhnya, merasa malu dengan wajah yang memerah.


"Ini orang pasti lagi chat ama lakinya," Tebak Veli.


"Apa sih," ketus Anggia.


"Emang kamu sama tuan Bilmar kapan nikah?" tanya Sasa lagi.


"Kemarin," Jawab Anggia


"Emang beneran ya itu anak tuan Bilmar, secara lu kan waktu itu masih punya suami," Kata Sasa seperti meremehkan Anggia.


"Kok kamu bicara gitu sih?" Anggia sangat tersinggung dengan perkataan Sasa, ia bukan lah wanita yang bisa di tiduri semua pria. Walau pun ia hamil di luar nikah bukan berarti karena kesalahannya itu lalu semua orang menghinannya.


"Mana tau," Ketus Sasa.


"Heh, lu ngomong hati-hati, mau gw kasih bogem lu," Kata Veli yang sangat tidak suka ada yang tidak sopan pada sahabatnya.


"Ye, kok lu yang ngotot, gw kan nanya kan dia bersuami tapi hamilnya sama orang lain, kali aja kan, mana tau," Jawab Sasa.


"Heh, mulut lu di jaga ya lampir," Veli menarik kerah jas putih milik Sasa dengan kuat.


"Udah, udah," Anggia berusaha menengahi, ia sangat tau Veli pasti tidak hanya sekedar menggertak tapi pisa jadi muka Sasa di buat babak belur.


"Minggir," Sasa mendorong tubuh Veli yang menghalangi jalannya lalu pergi dengan kesal.

__ADS_1


"Dasar lampir," Kata Veli tidak kalah kesal.


"Udah ya, biarin aja," Kata Anggia menarik Veli duduk kembali.


__ADS_2