Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 47


__ADS_3

"Mmmff," Anggia menahan tawa melihat kelakuan aneh Bilmar.


Itu senyum manis bener neng, bisa diabet abang neng kalau kamu terus senyum begini.


"Tuan," Anggia melambaikan tangannya di depan wajah Bilmar yang sedang memandanginya tanpa berkedip.


"Ck," Bilmar tersadar menyadari kebodohannya, "Yuk kita buat sama-sama," Bilmar bangun dan menarik tangan Anggia.


"Tuan," Anggia berhenti dan Bilmar juga ikut berhenti, menatap Anggia yang berada di sampingnya.


"Kenapa," tanya Bilmar.


"Em," Anggia menunjuk tangan Bilmar yang memegang tangannya, "Nggak usah di tarik," kata Anggia dengan hati-hati sebab ia takut bila Bilmar tersenyum.


"Eh, em," dengan cepat Bilmar melepas tangan Anggia, "Maaf," kata Bilmar sambil kembali berjalan dan Anggia mengikuti Bilmar dari belakang.


Saat Bilmar dan Anggia memasuki dapur ternyata Ratih juga ada di sana sedang makan mie instan kesukaannya.


"Bil, kalian mau ngapain?" tanya Ratih.


"Mau bikin bakso Mi," jawab Bilmar.


"O, Anggia juga ikut bikin?" tanya Ratih lagi.


"Nggak Mi, Anggi duduk di sini ajah nunggu," Anggia menarik kursi meja makan dan duduk bersama dengan Ratih.


"Ok, koki handal mau masak dulu ya," Bilmar membuka jas yang masih melekat di tubuhnya dan melipat lengan kemeja hitam yang di pakainya hinga siku, setelah itu melenggang menuju dapur menemui pak Nan, koki handal yang akan mengajarinya memasak.


Pak Nan bukan bukan merasa lelah mengajari Bilmar memasak bakso bakar, tapi ia justru lelah melihat Bilmar yang menjadi korban kecerobohannya sendiri.


BUUUK.


Bilmar terpeleset karena menjatuhkan telur, lalu ia yang memijaknya sendiri.


"Mmmfffpp," pak Nan menahan tawa saat melihat wajah Bilmar yang di penuhi tepung dan badannya bau amis terkena telur.


Bilmar duduk di lantai dan menatap tajam pak Nan karena sudah mengetawainya.

__ADS_1


"Ketawa lepas aja pak, saya tau dari tadi anda menahan tawa melihat saya. Dan dari pada anda sakit karena menahan tawa lebih baik anda lepaskan saja tawa anda," kata Bilmar sambil berusaha berdiri, ia melepas sendal kesayangannya karena merasa geli dan licin.


"Ahahahahaa," pak Nan benar-benar melepaskan tawanya karena sedari tadi ia memang sudah tidak kuat.


Awalnya Bilmar sudah benar memasukan bahan-bahan dan terakhir ia memasukan tepung, namun karena entah dari mana ada semut kecil yang terjatuh di adonan. Dengan percaya dirinya Bilmar meniup adonan dengan tepung yang berlum di campur, alhasil wajahnya yang di tepungi.


Lalu setelah itu adonan kembali di ulangi lagi, Bilmar memecahkan telor, tapi isi nya yang di buang dan tempurungnya di masukan. Percobaan gagal lagi namun masih bisa di perbaiki. Bilmar sudah benar memasukan telur sudah sangat bangga dengan hasil kejanya, dan saat ia berbalik ia terpeleset karena menginjak telus yang tadi ia buang kelantai, nasip buruk menimpa Bilmar karena saat ia terpeleset dengan reflek ia memegang adonan alhasil adonannya tumpah mengenai kepalanya.


"Bulan ini kau tidak gajian," kata Bilmar.


Pak Nan tidak lagi melanjutkan tawanya, malah ia takut dan merasa horor saat ini.


"Maaf tuan," pak Nan menangkup kedua tangan dan memohon.


"Kau buatkan adonannya ulang, aku mandi dulu. Nanti aku yang bakar kalau sudah selesai di rebus."


Bilmar pergi tanpa mendengar jawaban pak Nan, dengan tubuh yang belepotan ia melewati meja makan dan Ratih merasa aneh dengan penampilan Bilmar, begitu juga dengan Anggia yang mengibas-ngibaskan tangan karena Bilmar sangat bau amis.


"Bil."


Bilmar menghentikan langkahnya dan menatap Ratih dengan malas.


"Kamu kenapa?"


"Mi ini demi permitaan cucu Mami, Bilmar gagal terus dan begini jadinya," Bilmar menyesal mengapa ia tidak ikut kursus memasak saja dari dulu, kalau tau ternyata setiap wanita ngidam pengen di masakin.


"Ahahahahaaa, itu baru Daddy, mantap," Ratih mengacukan dua jempol pada Bilmar.


"Maaf ya tuan," Anggia merasa tidak enak dengan Bilmar, karena permintaannya malah membuat Bilmar acak-acakan.


"Nggak papa, nanti bayaranya pas dah lihat bayi kita," kata Bilmar dengan tersenyum.


"Em," Anggia merasa canggung dengan perkataan Bilmar yang menyebutkan bayi kita, rasanya lucu sebab mereka bukan lah pasangan suami istri.


"Bilmar mandi dulu Mi, abis itu kita makan bakso bakar," Bilmar pergi dan dengan segera memandikan tubuhnya yang sangat bau.


Tidak tanggung-tanggung Bilmar menghabiskan dua botol shampo untuk mandi, bahkan ia menggosok tubuhnya berkali-kali. Terutama bagian kepala yang sangat jelas tercium bau amisnya.

__ADS_1


"Huuuuueeeekk," Bilmar mual dan merasa merinding saat mencium bau rambutnya.


Bilmar sudah merasa kedinginan karena mandi sampai menghabiskan dua botol shampo, akhirnya Bilmar kini memakai kaos oblon dan celana joger kesayangannya, lalu ia turun kemudian berjalan menemui Anggia dan Ratih yang masih berada di meja makan.


"Maaf ya lama," Bilmar merasa tidak enak dan ia ingat Anggia belum makan.


"Emang," ketus Ratih.


"Anggia kamu belum makan juga?"


"Udah tuan tadi sama Mami," Anggia memang tadinya malas makan, tapi saat melihat Ratih dengan lahapnya makan mie instan ia juga ikut makan, tapi tidak makan mie instan sebab Ratih tidak mengijinkannya. Akhirnya pak Nan menghidangkan makanan, sayur-sayuran dan lauk pada Anggia.


"O, ya udah tunggu bentar ya, saya mau bakar baksonya dulu," Bilmar kembali kedapur dan melihat bakso buatan pak Nan sudah tersusun rapi di piring.


"Ini tuan, tinggal di panggang saja," kata pak Nan.


"Kamu mau uang nggak?" tanya Bilmar.


"Mau dong tuan?"


"Ambil," Bilmar mengambil lembaran uang seratus ribu berjumlan sepuluh lembar, lalu memberikannya pada pak Nan.


"Makasih tuan," jawab pak Nan dengan mata berbinar.


"Itu uang tutup mulut, kamu jangan bilang siapa pun kalau ini bakso buatan kamu," Bilmar sudah berusaha tapi gagal terus dan kalau di tunggu buatannya sendiri, ia yakin sampai anaknya lahir pun baksonya tidak akan jadi. Ia kasihan pada Anggia yang sangat ingin makan bakso buatannya, tapi tetap Bilmar lah yang memanggangnya agar tetap ada hasil kerjanya pada bakso itu.


"Suatu hari aku bisa pasti buat bakso ini sendiri," gumam Bilmar.


Setelah beberapa menit kemudian Bilmar berhasil memangganya, dan sudah ia tata di piring juga siap untuk di hidangkan.


Bilmar meletakannya di atas meja makan, mata Anggia berbinar melihat apa yang ia inginkan kini ada di hadapannya.


"Makasih tuan," tutur Anggia dan mulai mengunyah bakso bakar yang di berikan Bilmar padanya.


"Jaman edan ya Bil, Anggi manggil kamu tuan. Tapi tuanya takut sama Anggia, Seharusnya kamu yang panggil Anggia Nyonya." Ratih tertawa terbahak-bahak melihat Anggia dan Bilmar, keduanya sudah melakukan hal yang jauh tapi panggilannya masih, SAYA dan TUAN.


***

__ADS_1


Readers baik hati mohon berikan dukungan VOTE pada karya recehan saya ini, yang like makasih ya.😍


__ADS_2