
Lima hari sudah Bilmar pergi, selama lima hari itu pula Anggia hanya diam. Ia tidak akan bicara kalau tidak ada yang bertanya padanya, seperti pagi ini Anggia merasa nafsu makannya hilang. Yang ada ia selalu muntah dan muntah sampai tubuhnya terasa lemas.
"Huueek, hueek," Anggia terus memuntahkan isi perutnya yang keluar hanya air saja, sebab Anggia kini sangat malas makan.
"Anggia kamu mual terus ya Nak," Ratih yang melihat merasa kasihan pada Anggia, wajah ibu hamil itu terlihat sangat pucat.
"Mami pakek parfum apa?," Anggia kembali muntah merasakan wangi-wangian pada pakaian Ratih, "Hueek, hueek," Anggia benar-benar tidak kuat lagi.
"Mami ganti baju dulu dan nggak pakek parfum lagi," Ratih dengan cepat berlari menuju kamarnya dan mengganti baju tanpa memakai parfum lagi.
"Nggi lu makan sikit aja lah ya," pinta Veli yang membawa sepiring nasi kekamar.
"Aku mual Vel, jauhin dong, hueek, huuek," Anggia kembali berlari ke kamar mandi, di susul Veli.
"Lu minum obat ya, biar mualnya ilang."
Anggia menggangguk dan kembali membaringkan tubuhnya, setelah ia menelan obat pereda rasa mual Anggia mulai terlelap hingga satu jam kemudian ia terbangun dengan perasaan lebih baik. Anggia mengambil ponsel berharap Bilmar menghubunginya tapi tak ada satu pesan pun yang ia terima, hingga ia memberanikan diri menghubungi Bilmar.
Bilmar yang sedang bekerja bersama Aran dan juga Jeni, Jeni juga sahabat Bilmar dan Aran. Tapi Jeni sudah menikah dan saat ini ia sedang hamil muda, ketiganya sangat dekat bahkan sudah seperti saudara.
DREEET.
Bilmar menatap layar ponselnya, melihat nama Anggia tertulis di sana. Perasaan Bilmar menjadi berubah bahagia karena vidio call dari sang pucajaan hati, tanpa banyak pertimbangan Bilmar langsung menjawab panggilan itu.
"Hay Adik manis," kata Bilmar di sebrang sana sambil tersenyum lembut.
"Abang lagi apa?" tanya Anggia dengan bahagia.
"Lagi..." Bilmar tidak dapat melanjutkannperkataannya karena Jeni tiba-tiba datang memeluk tubuh Bilmar dari belakang.
"Baby i love you," tutur Jeni.
__ADS_1
Anggia diam dengan cepat ia mematikan panggilannya sepihak, sesaat setelah itu air mata Anggia menetes entah mengapa perasaan Anggia jadi berubah tak menentu rasanya seperti ada luka.
"Aku kenapa? Dia bukan siapa-siapa," gumam Anggia yang merasa bingung dengan hatinya.
Sementara Bilmar bertanya-tanya tentang Anggia yang mematikan panggilan sepihak.
"Bro panggilannya di matiin ya?" tanya Aran.
"Iya," Bilmar menggaruk kepala yang terasa sangat gatal.
"Itu tandanya dia cemburu," kata Aran lagi.
"Mana mungkin dia cemburu sama gue," Bilmar malah di buat pusing sendiri.
Ya sebelum menjawab panggilan Anggia, Aran melihat Bilmar yang senyum-senyum tidak jelas. Dan Aran memberikan ide untuk mengetes apakah Anggia sudah memiliki perasaan pada Bilmar, Aran meminta Jeni memeluk Bilmar di saat Bilmar sedang melakukan vidio call.
"Ide lu gila Ran, kalau Anggia kenapa-kenapa gimana!" Bilmar malah menyesal dengan ide yang ia setujui bersama Aran barusan.
"Apa iya?" Bilmar ternyum bahagia dan berharap apa yang di katakan Aran memang benar adanya.
Sementara Anggia sudah tak mau lagi memikirkan Bilmar, hatinya berubah kesal dan ia benar-benar tidak berharap lagi. Dengan perasaan tak menentu Anggia berjalan keluar dari kamar, kini Anggia sudah berdiri di depan gerbang ingin keluar.
"Nyonya mau kemana?" tanya seorang satpam.
"Saya mau beli eskrim di sebrang jalan," jawab Anggia.
"Biar saya saja yang belikan nyonya," seorang pengawal menahan Anggia untuk tidak keluar sebab bila Bilmar tau dan terjadi sesuatu pada Anggia maka taruhannya nyawa mereka semua.
"Aku ingin membelinya sendiri, ke minimarket di sebrang jalan, kau bisa mengawasi ku dari jauh kalau kau tidak membolehkan aku pergi, aku akan menghubungi tuan meminta kalian semua di habisi saja," kata Anggia.
"Ya sudah nyonya," dengan berat hati seorang pengawal itu membuka gerbang dan membiarkan Anggia keluar dengan di jaga pengawal dari kejauhan. Hingga saat setelah Anggia keluar dari minimarket ia merasa ada yang menarik tangannya dan memasukannya kedalam mobil.
__ADS_1
"Mas Brian," Anggia shock ternyata Brian yang menarik tangannya dan mobil melaju menuju apartemen yang dulu mereka tinggali.
"Anggia aku hanya ingin bicara, aku tidak akan meminta mu kembali pada ku. Aku hanya ingin kau mau berteman dengan ku dan menerima maaf ku," pinta Brian.
"Mas aku tidak ingin mengenal mu lagi," teriak Anggia.
Perasaan Anggia semakin tak menentu bayangan demi bayangan saat ia hidup dengan Brian kembali lagi menghantuinya, Anggia hanya bisa menangis dan menangis. Dengan sekuat tenaga Anggia menarik rampurnya agar bayangan itu tidak lagi muncul namun sia-sia semua tetap saja masih terasa nyata.
"Aku mohon Anggia, aku sangat ingin kau memaafkan aku," pinta Brian lagi.
"Nggak, hiks, hiks," Anggia menangis berusaha keluar dari apartemen itu namun tidak bisa.
"Buka pintunya," teriak Anggia.
"Aku akan membuka jika kau mau memaafkan aku," Brian mencoba menenangkan Anggia dengan memegang lengannya, tapi dengan cepat Anggia menepis tangan Brian.
"Aku mohon buka pintunya, hiks, hiks," Anggia terus menangis menjerit ketakutan, hingga Brian membuka pintu sebab ia sudah menyerah sepertinya Anggia memang sudah terluka terlalu dalam.
Brian membuka pintu, dengan cepat Anggia berlari, entah apa yang saat ini di pikirkan Anggia yang jelas ia merasa takut bila berhadapan dengan Brian. Hingga ia menaiki taxi dan kembali pulang kerumah dengan selamat hanya saja Anggia terus menangis tanpa henti.
Para pengawal merasa senang Anggia kembali pulang, Anggia yang masuk setengah berlari melewati Ratih dan Veli yang sedang duduk santai.
"Anggi," teriak Veli yang melihat Anggia menangis dengan setengah berlari
"Anggia kenapa ya Vel?" Ratih juga ikut khawatir melihat Anggia yang menangis.
Anggia yang terus berjalan tidak perduli dengan siapa pun kini mulai masuk kedalam kamar, dengan cepat ia mengisi bathtub dengan air penuh. Setelah air itu penuh ia masuk dan membaringkan tubuh ya agar ia tenggelam di dala sana, untuk melupakan ketakutannya.
Anggia ingin bayangan ketakutan dengan Brian hilang dan ia berharap cara ini akan ampuh, hingga tanpa sadar Anggia tidak berniat bangun untuk mengambil udara. Di saat ia sedang berusaha menghilangkan ketakutannya, tiba-tiba bayangan Bilmar yang barusan di peluk seorang wanita muncul di otak Anggia, entah sadar atau tidak Anggia tidak ingin lagi keluar dari dalam bathtub. Ia lebih memilih melupakan segalanya di sana hingga perlahan kesadarannya hilang karena kehabisan udara.
Aku hanya sendiri tidak ada siapa pun.
__ADS_1