
Kini Anggia dan Bilmar sudah berada di ruangan Brian, keadaan pria itu tidak terlalu parah namun kakinya sedikit pincang dan juga kepala yang di perban. Selebihnya keadaan Brian baik-baik saja.
"Mas, makasih ya....udah nolongin aku," Anggia sedari tadi tak henti-hentinya berucap terima kasih, tak ada kata lain yang ia ucapkan selain kata terima kasih saja.
Brian tersenyum, senyum bahagia sebab kini Anggia sudah lebih dekat dengannya. Namun walau pun demikian tak ada niat jahat Brian pada Anggia, ia iklas menolong mantan istrinya itu.
"Anggia, aku tidak papa dan ini belum seberapa jika di bandikan dengan apa yang sudah aku lakukan pada mu dulu, aku hanya ingin kau benar-benar memaafkan ku, itu saja," jawab Brian tersenyum tulus menatap Anggia.
"Mas, aku udah maafin kamu....dan kamu jangan merasa bersalah lagi ya."
Anggia terharu dengan apa yang sudah di lakukan Brian untuk menyelamatkan nyawanya dan nyawa anaknya, Anggia sangat berterima kasih akan hal itu. Walau pun Brian pernah kasar padanya bahkan seringkali bertingkah semaunya Anggia tetap saja merasa kini Brian sudah menjadi lebih baik, dengan berusaha memperbaiki dirinya.
"Aku tidak yakin kau tidak terlibat dalam kecelakaan ini," tutur Bimar yang berdiri di belakang Anggia.
Entah mengapa hati Bilmar masih saja tidak yakin akan apa yang di lakukan Brian itu tulus, yang jelas Bilmar ragu bahkan sangat ragu apa lagi mengingat seperti apa Brian saat dulu yang hampir menghabisi nyawa anaknya.
"Abang...." Anggia hanya bisa menggelengkan kepala, Bilmar yang bersipat selalu curiga pada setiap orang membuatnya menutup mata akan kebaikan orang padanya.
"Apa benar kau tidak terlibat dengan apa yang terjadi ini?" tanya Bilmar lagi untuk meyakinkan dirinya.
"Kalau aku menjawab tidak apa kau akan percaya?"
__ADS_1
Brian bukan menjawab pertanyaan Bilmar tapi justru ia balik bertanya, Brian tau Bilmar tidak akan percaya sebelum menemukan bukti jika ia memang tak ada sedikit pun terlibat dalam kecelakaan ini. Lalu kalau ini bukan murni kecelakaan siapa yang ingin menghabisi Anggia? Satu pertanyaan yang mengganjal di hati Brian. Setahunya Anggia tak pernah punya musuh dan sekarang tiba-tiba ada yang ingin melenyapkan Anggia.
"Abang udah ya," kata Anggia yang berusaha meredam ketegangan di antara kedua pria itu.
Anggia mengerti dengan sikap Bilmar, bagaimana pun Brian pernah menjadi iblis yang tak memiliki hati dan perasaan. Anggia juga tau Bilmar masih begitu membenci Brian karena sudah berniat membunuh anaknya, namun setiap manusia berhak untuk menjadi lebih baik dengan menyesali segala yang terjadi. Dan di sini Anggia hanya ingin keduanya berdamai bagaimana pun kini Brian sudah menyelamatkan nyawa kandungan Anggia yang artinya anak Bilmar sendiri.
"Kamu mau saja di bodohi sama laki-laki ini," kata Bilmar memasukan tangannya pada saku celananya, sungguh sulit bagi Bilmar mempercayai seseorang yang pernah melakukan kejahatan apa lagi menyangkut nyawa.
"Anda benar, tapi bukan kah setiap manusia berhak untuk menjadi lebih baik lagi? Bukankah setiap orang itu bisa berubah memperbaiki kesalannya."
"Ya semoga saja kau bisa membuktikan jika kau tidak terlibat dalam masalah ini, maka aku akan meminta maaf pada mu dan mengucapkan banyak terima kasih. Namun jika ternyata kau lah di balik semua skenario ini maka kau akan habis di tangan ku," jelas Bilmar dengan raut wajah serius dan tak ada wajah bersahabat yang di tunjukan oleh Bilmar.
"Suami mu benar Anggia, kau tak perlu merasa tak enak pada ku. Mungkin kalau aku pun yang ada di posisinya aku pun akan melakukan hal yang sama seperti apa yang ia lakukan, tidak mudah untuk percaya pada orang yang pernah berniat mencelakai kita," kata Brian dengan suara lemahnya.
Brian tak munafik, ia mengerti dengan Bilmar yang masih menaruh perasaan curiga padanya. Tapi Brian pun akan berusaha untuk menaruh kepercayaan itu pada Bilmar, karena kini ia tulus dan ingin berteman baik dengan Anggia dan Bilmar dengan tak ada niat hati Brian untuk memisahkan Anggia dan Bilmar. Murni hanya ingin menebus semua kesalahannya dulu.
"Baiklah butikan, agar aku bisa percaya pada mu!"
"Kalau aku bisa membuktikan semuanya, bisakah kita menjadi teman baik, aku dan kau kembali melanjutkan proyek yang sama melupakan apa yang sudah terjadi di antara kita. Kita awali semua dengan lebih baik kedepannya tanpa ada saling melukai satu sama lain," Brian memberi tawaran pada Bilmar sebab ia ingin hidup lebih baik.
"Sebaiknya kau buktikan saja dulu!" tutur Bilmar dengan tegas.
__ADS_1
"Tentu saja!" jawab Brian.
Jika Anggia, Bilmar dan Brian kini tengah sibuk membicarakan hal yang lebih baik. Maka berbeda halnya dengan Sasa seorang psikiater yang sudah tega mencelakai Anggia, ini kini tengah duduk di lantai karena sang Papah mengetahui apa yang sudah di lakukan putri tercintanya itu. Berulang kali tangan sang Papah melayang di pipi mulus sang anak, bukan tanpa sebab tapi karena ia tau anaknya selalu di manjakan oleh sang Mamah hingga anaknya tumbuh menjadi wanita pembangkang.
"Ingat, Sasa kau harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kau lakukan," kata sang Papah dengan tegas.
"Pah, kenapa Papah malah belain anak orang sih," kesal Sasa dengan perasaan mengebu dan tak terima atas apa yang sudah sang Papah katakan padanya.
"Lihat Mah, lihat anak mu! Ini hasil didikan mu Mah!" kata sang Papah pada sang istri yang selalu membiarkan anaknya melakukan kejahatan hanya demi mendapat apa yang ingin di dapatkan oleh sang anak.
"Papah apa sih, anak kita tidak salah dia benar, wanita itu sudah menghina anak kita Pah mana mungkin di biarkan begitu saja," kata sang istri yang terus membela sang putri.
"Kau harus bertanggung jawab, ikut Papah!" sang Papah menarik lengan putrinya untuk ikut dengannya kerumah sakit.
Baskara adalah seorang pengusaha hebat, memiliki putri Sasa seorang dokter psikiater dengan selalu bertingkah semaunya, hingga sang Papah membayar orang untuk memata-matai sang putri. Dengan membayar orang untuk melaporkan padanya apa saja yang putri nya lakukan, hingga tanpa di duga putri yang sangat ia cintai itu hampir melenyapkan orang lain.
"Papah, mau mempermalukan Sasa," kata Sasa yang masih tidak terima jika ia harus meminta maaf pada Anggia atau pun orang yang sudah ia celakai.
***
Jangan lupa VOTE.
__ADS_1