Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 135


__ADS_3

"Mas sadar nggak sih, dengan apa yang barusan Mas bilang?" tanya Veli sebab ia masih tak yakin dengan apa yang barusan ia dengar, musuh bebuyutannya mengatakan itu sungguh tak mungkin.


"Nggak, Mas nggak sadar. Dan itu karena kamu, kamu udah bikin saya gila. Awas kalau kamu pergi dari hidup saya!" kesal Aran sebab Veli tak mau percaya dengan ucapannya.


"Yeeee, ngancem lagi. Tadi baik sekarang begini apaan sih?" ketus Veli, sebab ia benar-benar sulit untuk yakin, "Veli nggak percaya sama Mas, kecuali udah Mas membuktikan sendiri," kata Veli lagi ia mendudukan tubuhnya di sofa.


"Kamu mau bukti?" tanya Aran berjalan mendekati Veli dan duduk di sampingnya.


"Iya lah...." Veli memutar bola matanya dengan jenuh, sebelum ada bukti ia tak akan luluh.


Aran mendekati Veli, namun Veli menjauh. Dengan cepat Aran menarik Veli dan mengungkung sang istri.


"Mas mau apa?" tanya Veli panik.


"Mau ambil hak Mas lah, nanti kamu hamil anak Mas nah....itu dia bukti nya," ucap Aran tersenyum penuh kemenangan.


"Mas bulan puasa Mas," ucap Veli dengan panik, "Veli juga puasa, Mas juga puasa. Dosa Mas?" kata Veli lagi sambil berusaha melepaskan diri.

__ADS_1


Mendengar apa yang di katakan Veli, Aran dengan cepat bangun dari atas tubuh sang istri. Hampir saja ia lupa jika hari masih siang, kalau Veli tak mengatakan itu mungkin ia harus menebus apa yang ia lakukan itu.


"Ck....." Aran masuk ke dalam kamar mandi dan mencuci wajahnya, setelah itu ia kembali keluar dan menatap Veli, "Maaf ya...." kata Aran yang melihat Veli sedikit kesal padanya.


"Mas minum aja lah, Veli ngerasa Mas beda banget tau nggak. Nggak tau kenapa tapi Mas selalu aja mikir negativ," ucap Veli yang mengingat Aran seperti ingin selalu menerjangnya di ranjang, jujur saja Veli belum siap akan hal itu. Ia ingin memberikan sesuatu yang berharga itu pada orang yang mencintainya dan ia pun mencintai orang itu. Bukan sok munafik tapi untuk saat ini belum ada cinta untuk Aran, namun jika Aran dapat meyakinkannya tentang cinta itu memang ada Veli pun akan mulai belajar mencintai Aran.


"Kan udah Mas bilang Mas nggak bisa hidup tanpa kamu, apa lagi?" tanya Aran kesal sebab ia tak dapat menyalurkan hasratnya pada Veli.


Melihat bibir Veli rasanya Aran seperti manusia kehilangan akal. Ia pun bingung dengan dirinya sebab selama ini ia menjalin kasih dengan wanita tak ada yang membuat hasratnya membuncah, bahkan tak jarang wanita-wanita itu menawarkan diri untuk bersenang-senang bersamanya. Namun di situlah kelebihan Veli, ia tak sama seperti wanita yang menawarkan diri padanya, ia ingin wanita yang selalu menjaga diri dan hanya memberikan dirinya pada sang suami saja. Mungkin itu semua ada pada Veli, wanita itu tak pernah menggodanya hingga ia sangat tertantang untuk bisa mendapatkannya.


"Mas tidak pernah menjatuhkan harga diri mu, justru Mas yang menjatuhkan harga diri Mas di hadapan Papa mu. Demi bisa menikah dengan mu walau pun saat itu Mas masih mengelak untuk menginginkan mu, kau tau Mas siapa? Selama ini Papa mu ya di bawah kendali Mas. Tapi di malam itu andai dia meminta Mas mencium kakinya demi bisa menikah dengan mu itu pun akan Mas lakukan," tutur Aran menatap manik mata Veli dengan dalam.


"Tapi Mas bilang jijik sama Veli," bibir cerewet Veli masih saja mengomel pada Aran, namun begitulah wanita yang terus mengingat apa yang orang lain lakukan padanya. Memory seorang wanita memang terlalu berat melupakan ucapan apa yang di lontarkan orang lain padanya.


"Malam itu Mas, sudah berpikir jika kalian melakukan itu apa kau ingat ada tanda merah di leher mu? Suami mana yang tak berpikir seperti yang Mas pikirkan. Mas saja belum pernah menyentuh mu tapi istri Mas sudah terlebih dahulu di sentuh orang lain," Aran ingat betul pada malam itu saat ia masuk Veli dengan cepat mendudukan tubuhnya di ranjang bersama Farhan, matanya langsung tertuju pada tengkuk Veli dengan warna keunguan dan Aran bukan lah lelaki yang bodoh yang tak tau akan hal itu. Dan di malam itu ia benar-nenar seperti orang gila, pulang dalam keadaan emosi dan sepanjang malam ia menyiram tubuhnya di bawah guyuran air shower berharap ia dapat melupakan apa yang dia lihat.


"Iya memang Dia sempat itu, tapi Veli nggak tau sampek berbekas gitu Veli juga nggak ngaca. Terus Veli juga udah nolak dan Veli nggak ada macem-macem," jelas Veli lagi agar Aran tau kalau ia masih tak melakukan itu dengan Farhan, dan ia pun bukan wanita yang mudah memberikan hal berharga itu pada seorang pria, "Ish.....Mas tetep jahat, karena Mas udah nikahin Veli tanpa bertanya Veli setuju atau nggak! Veli sampek pingsan lo Mas....Veli shock," ucap Veli lagi mengingat malam itu.

__ADS_1


"Veli....bisa tidak bibir mungil mu itu tidak lagi mengomel, Mas sudah....." Aran meremas rambutnya kesal karena bibir itu rasanya ingin ia raup habis.


"Iya itukan memang kenyataannya," kata Veli lagi kembali ke mode cerewetnya, Aran memang menyukai Veli yang sedang mengomel tapi tidak untuk saat ini sebab ia sudah dalam mode on.


"Diam," Aran menarik Veli ke dinding dan menatap bibir itu dengan sayu, "Kau bisa diam?" tanya Aran.


Veli mengangguk karena takut, sebab tatapan Aran yang ia tau adalah tatapan memangsa dan ia sungguh belum siap untuk hal itu. Sulit sekali ia meyakinkan hati dalam sekejap saja, ia benar-benar butuh bukti. Farhan sudah membuatnya kecewa dan tidak untuk kedua kalinya, wanita tak sama seperti para lelaki. Jika lelaki meniduri banyak wanita tetap saja pria itu tak ada yang berubah, tapi tidak bagi wanita. Wanita hanya memiliki satu mahkota dan kalau sudah di berikan pada satu pria mahkota itu tidak akan bisa kembali.


"Kau bisa diam?" tanya Aran sambil menutup mata.


"Mas jangan marah, nanti puasanya batal loh," kata Veli dengan suara pelan untuk mengingatkan Aran.


"Sejak tadi pun puasa Mas sudah batal, dan itu karena tak kuat melihat mu!"


***


Jangan lupa, VOTE, bintang lima dan like.

__ADS_1


__ADS_2