
Kini Bilmar sudah berada di rumah bersama dengan Anggia, Bilmar baru saja selesai mandi dan Anggia sedang mengeringkan rambut Bilmar. Dengan terpaksa Anggia mau mengeringkan rambut Bilmar, sebab Bilmar mengatakan semua karena ia menemani Anggia jadi harus ada pertanggung jawaban, dan Anggia mau-mau saja merawat Bilmar seperti perkataan Bilmar. Namun yang membuat Anggia risih adalah Bilmar memeluk perut buncitnya saat ini, karena ia berdiri di hadapan Bilmar yang duduk di sisi ranjang agar Anggia bisa mengeringkan rambut Bilmar dengan handuk.
"Abang nggak usah peluk banget, Anggi sesat," tutur Anggia dengan susah payah, napasnya juga tidak karuan bila berdekatan dengan Bilmar saat ini.
"Abang butuh sandaran Anggi, Abang lemes banget," tutur Bilmar berpura-pura kelelahan padahal ia ingin Anggia besok tidak masuk bekerja dan seharian bersamanya di kamar saja.
"Abang nggak usah modus, Anggi tau Abang pura-pura......apa iya dokter di kibulin," gerutu Anggia.
Bilmar diam dan ia mulai sadar ternyata istrinya seorang dokter bodohnya kenapa bisa melupakan itu, tapi otak Bilmar yang pintar itu masih memikirkan ide yang lain. Tidak ada kata menyerah sebelum berusaha itulah palsapah yang selama ini di pegang Bilmar.
"Tapi badan Abang pegel Anggi," kata Bilmar lagi menunjuk pundaknya, "Pijitin ya," pinta Bilmar penuh harap.
"Anggi panggil tukang urut aja, takut nanti kalau yang urut Anggi malah tambah parah," Anggia memang tak pandai bila mengurut karena keseleo, jadi ia sangat takut Bilmar malah semakin kesakitan.
Tapi sebenarnya Bilmar tak merasakan sakit sedikit pun, ia hanya ingin di pijat oleh sang istri. Selama menikah Bilmar ingin bersama Anggi di rumah saja apa lagi bila Anggia mau di kamar saja Bilmar pasti lebih bahagia.
"Jangan," Bilmar dengan cepat memegang tangan Anggia sebelum Anggia pergi mencari tukang urut.
"Kenapa?" Anggia malah di buat bingung.
"Yang bikin Abang begini siapa?" tanya Bilmar yang masih memegang pergelangan tangan Anggia.
"Anggi," Anggia menunjuk dirinya.
"Jadi Anggi harus tanggung jawab," jelas Bilmar dengan tegas.
"Tanggung jawab apanya, emang Anggi hamilin Abang?" tanya Anggia.
"Ya nggak gitu juga Ngi," Bilmar malah garuk-garuk kepala.
__ADS_1
Anggia masih sanggup menahan tawa melihat wajah Bilmar masih dalam kebingungan yang melanda, Bilmar akhirnya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Selanjutnya Bilmar menatap wajah Anggia ia bisa melihat Anggia menahan tawa, artinya Bilmar sedang di kerjai Anggia agar ia pusing sendiri dengan pertanyaan sang istri.
"Anggi ngerjain Abang ya?" Bilmar berdiri dan mengklitiki Anggia.
"Ampun....Abang......" teriak Anggia karena tak kuasa menahan geli akibat di kelitiki Bilmar.
CLEK.
Pintu terbuka dan ternyata Ratih di sana yang membawa obat urut untuk Bilmar, saat Bilmar masih berada di kamar mandi. Anggia meminta tolong ke pada Art untuk mengantarkan minyak urut ke kamarnya, namun saat Art akan masuk ke kamar Bilmar kebetulan Ratih juga sedang melintas di sana. Jadi tanpa di sengaja Art dan Ratih bertemu. Setelah mendengar penjelasan dari si Art, Ratih memutuskan untuk masuk ke kamar Bilmar dan Anggia. Ratih juga sedikit panik dan ingin bertanya mengapa Bilmar bisa pulang dengan badan di penuhi lumpur, begitulah penjelasan si Art. Ratih masuk tanpa mengetuk pintu, dengan minyak urut yang ia bawa ia langsung saja masuk hingga matanya melihat Anggia dan Bilmar seperti sedang berpelukan.
"Mami..." Anggia malu dan ia dengan cepat menjauh dari Bilmar.
"Maaf, Mami nggak maksud papa, Mami cuman mau anter ini aja," Ratih menunjukan minyak gosok di tangannya dan ia meletakannya di atas nakas.
"Mami mau ke mana?" tanya Anggia yang melihat Ratih berjalan menuju pintu.
"Mami mau keluar," jawab Ratih dengan wajah memerah.
"Iya kamu kenapa?" tanya Ratih dengan bingung sebab otaknya masih berpikir yang lain.
"Bilmar pleset di lumpur pasar, badan Bilmar sakit semua gara-gara Anggia," jelas Bilmar sambil menatap Anggia.
"Ish, nggak iklas nggak usah, besok-besok Anggi nggak akan mau pergi sama Abang," kesal Anggia.
"Wah Mami ini nggak ngadu domba ya Ngi, tapi kalau Papi kamu seperti suami kamu ini udah Mami timpuk pakek sendal, udah selesaikan masalahkalian baik-baik secara jantan dan betina Mami pamit dulu," Ratih pergi meninggalkan Anggia dan Bilmar dengan keduanya masih saling pandang.
"Tadi Abang tanya, Anggi mau makan apa? Pas Anggi bilang mau makan buah tapi belinya di pasar, terus Abang musibah begini kenapa marah-marah sama Anggi. Tadi Abang juga yang nawarin sendiri, dan Abang jatoh bukan karena Anggi tadi Anggi juga bilang lewat sana aja, tapi Abang lebih milih ngambil jalur nekat. Terus Abang kepeleset Anggi yang salah gitu?"
"Di dunia ini dalam rumah tangga hanya ada dua pasal, pasal satu istri tak pernah salah, pasal dua kalau istri salah kembali ke pasal satu," gumam Bilmar yang samar-samar di dengar Anggia.
__ADS_1
"Abang barusan ngomong apa?"
"Badan Abang pegel dan kamu harus urut badan Abang," Bilmar memberikan minyak urut yang di bawa Ratih barusan pada sang istri.
"Ya udah sini," Anggi mengambil minyak urut yang di berikan Bilmar, "Tengkurep," pinta Anggia sambil menuangkan minyak pada wadah.
"Kalau Abang tengkurep gimana masukin ke sananya," kata Bilmar di sela-sela ia akan menelungkupkan badannya di ranjang.
"Katanya mau di urut," Anggia naik keranjang dan mulai mengurut Bilmar dengan sebisanya, Bilmar tersenyum penuh kemenangan karena Anggia yang tak bernah memegang badannya langsung kini terlihat memegang tanpa rasa takut.
"Agak ke bawah Ngi, pegel banget," pinta Bilmar dengan jail.
Setelah memijat bagian belakang kini Bilmar berbalik dan meminta lehernya di urut Bilmar, Anggia tak mau protes ia seorang istri jadi harus mengikuti perkataan suami. Namun karena jarak mereka terlalu dekat dan Bilmar pun menatapnya dengan dalam lama-lama Anggia jadi tidak nyaman.
"Abang udahkan?" tanya Anggia dengan suara pelan, sebab sudah hampir satu jam ia memijat Bilmar tapi belum juga selesai. Jujur saja Anggia sudah mulai lelah dan perutnya terasa keram.
"Sikit lagi.....paha juga belom," kata Bilmar dengan jailnya.
"Yaudah abis ini udah ya, Anggi juga udah laper," Anggia memijat dengan cepat kaki Bilmar.
"Kenapa kaki? Kan Abang bilang paha," Bilmar berpura-pura kesal.
"Iya kan sama aja," jawab Anggia.
"Beda, kaki udah tadi juga, sekarang paha."
Anggia tak mau banyak membantah dengan perlahan tangannya memijat paha Bilmar, namun kejadian tak terduga justru terjadi Bilmat memindahkan tangan Anggia ke atas jarum keramatnya.
"Abang....." teriak Anggia kesal bercampur malu.
__ADS_1
"Ahahahahaa," Bilmar tertawa sepuasnya melihat wajah Anggia, tak ada yang mendengar suara keduanya sebab kamar itu memang kedap suara.