Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 132


__ADS_3

"Yaudah, Veli mau coba satu bulan ini ya, tapi kalau soal masak. Veli beneran nggak bisa Mas, maaf ya...." tutur Veli pada Aran.


"Kamu mau Mas ajarin nggak?" tanya Aran.


Aran tidak mau membahas hal yang sebelumnya, sebab ia tau Veli masih sangat kecewa padanya. Namun ia pun tak menyalahkan Veli sepenuhnya karena semua memang karena ulahnya sendiri, jadi sekarang anggap saja ini hukuman yang harus ia jalanin dengan hati yang iklas.


"Ajarin? Emang Mas bisa masak?" Veli sedikit kaget dengan apa yang di katakan Aran, apa ia Aran bisa masak pikir Veli.


"Bisa, masak mie instan," jawab Aran lagi.


"Mmffpp....." Veli menahan tawa mendengar apa yang di katakan oleh Aran, "Kirain beneran jago masak," tutur Veli dengan terkekeh sebab tadinya ia sudah merasa sedikit kagum pada Aran karena bisa masak, ternyata hanya masak mie instan.


"Caelah.....ketawa," kata Aran sambil menarik telinga Veli.


"Au, sakit Mas....." Veli mengelus telinga karena Aran menarik cukup kuat, "Ish.....baru juga baikan udah kasar," gerutu Veli, namun di mata Aran tingkah Veli terlihat menggemaskan.


"Makanya, ini kamu pakek anting apa coba?" Aran kembali memegang telinga Veli yang menggunakan anting anak-anak gaul, tak ada anggung sedikit pun di mata Aran.


"Ini keren tau Mas, ish.....nggak gaul banget deh," omel Veli kesal pada Aran, "Mas Mama kirim pesan nih....katanya buka puasa bareng di rumah, sama Papa juga sama Kak Raka juga," ucap Veli setelah membaca pesan dari Mamanya.


"Yaudah....yuk kerumah Mama," Aran menarik lengan Veli untuk keluar dari apartemen itu.


"Mas, Veli boleh minta di beliin cincin nggak sih, Veli pengen tau Mas. Kayak temen-temen Veli di beliin gitu sama suaminya, lagian Mas juga udah janji loh ganti mobil Veli yang Mas jual waktu itu ingatkan?" telunjuk Veli mengarah pada wajah Aran, untuk mengingatkan janji yang pernah di ucapkan Aran.


"Emang kamu udah anggap Mas suami kamu?" seloroh Aran.


Veli menggaruk kepala mendengar pertanyaan Aran, "Tadi katanya sebulan ini kita coba, Mas gimanasih!" kesal Veli.


"Iya Khumairah nanti Mas beliin," Aran memegang telunjuk Veli yang mengarah pada wajahnya, dan keduanya berjalan beriringan.


"Ish kok Khumairah," ucap Veli sambil berjalan di belakang Aran.


"Terus nama kamu siapa, bukannya Velisya Khumairah?" tanya Aran yang kini menghentikan langkah kakinya dan menatap Veli.

__ADS_1


"Iya sih, tapi orang-orang manggilnya Veli Mas!" kata Veli yang memang sedari ia kecil tak pernah di panggil dengan nama belakangnya.


"Orang-orang begitu, Mas suami kamu jadi beda," ucap Aran menaik turunkan alis matanya.


"Serah lu dah," kata Veli.


"Mulut!" kata Aran dengan tegas.


"Maaf," ucap Veli dengan cepat, ia masih harus banyak belajar dalam berbicara baik pada Aran.


"Yuk," Aran membuka pintu di ikuti Veli yang juga ikut keluar bersama Aran, mamun saat mereka keluar ternyata di sana ada Farhan yang berdiri.


DEG.


Jantung Veli berdetak kencang menatap wajah Farhan, bukan tentang cinta yang masih tertanam. Namun karena apa yang di ketahui Veli mengenai Farhan rasanya cukup menyakitkan, bahkan Veli rasanya ingin memukuli Farhan saat ini.


"Veli, Mas mau bicara," ucap Farhan sambil berusaha memegang lengan bagian atas nya.


"Heh, nggak usah ikut campur!" tutur Farhan dengan tegas, "Dia kekasih saya dan kami saling mencintai!" ucap Farhan lagi dengan nada tinggi.


"Saya suaminya, jadi jangan sentuh istri saya. Anda sama sekali tidak berhak atas istri saya!" tandas Aran.


"Kurang ajar!" Farhan mengepalkan tangannya berniat ingin memberi bogem mentah pada Aran, tapi dengan cepat Veli berdiri di tengah keduanya hingga Farhan mengurungkan niatnya.


"Cukup ya! Kita udah nggak ada hubungan papa. Dan dia suami ku!" kata Veli sambil memeluk Aran, agar menjauhi Farhan.


"Kau tidak dengar apa yang di katakan istri ku! Pergi dari sini!" kata Aran tersenyum penuh kemenangan pada Farhan.


"Veli, Mas yakin kamu masih cintakan sama Mas?" Farhan masih mencoba mendekati Veli.


"Cukup Mas, aku sudah menikah, dan kau pun sudah memiliki istri. Kita sudah tidak ada hubungan papa lagi, kita sudah putus!" ucap Veli dengan nada pelan namun penuh penekanan dalam setiap kata yang ia ucapkan.


"Mas akan ceraikan dia demi kamu setelah anak itu lahir, Mas cuman cinta sama kamu!" ucap Farhan lagi.

__ADS_1


"Ayo Mas," Veli tak perduli dengan Farhan, ia menarik lengan Aran untuk memasuki lift bahkan tidak perduli dengan Farhan yang masih memanggil namanya.


"Veli...."


"Veli...."


"Veli...."


Terdengar suara Farhan, namun sayang Veli sama sekali tak perduli sedikit pun.


Sementara Veli yang kini berada di dalam lift menangis, dengan sejuta rasa sakit, kesal dan merasa terhianati dengan Farhan yang ternyata hanya menjadikannya yang kedua.


"Hiks....hiks....hiks...." Veli menunduk karena ia benar-benar tak kuasa menahan tangis.


Dengan cepat Aran memeluk Veli, mengusap punggung Veli. Ia sama sekali tak marah dengan Veli yang menangisi keadaan hubungannya dengan Farhan, sebab ia yakin Veli sudah tak mungkin kembali pada Farhan.


"Kamu pengen balikan sama dia?" tanya Aran.


"Nggak, Veli kesel aja. Nggak nyangka aja, kan awalnya Dia bilang pacaran terus mau nikah, tapi ternyata Dia udah nikah duluan," ucap Veli memeluk Aran dengan erat, namun ada rasa syukur yang kini di rasakan Veli. Sebab ia tau siapa Farhan sebelum mereka menikah, dan beruntung Veli tak tau setelah mereka menikah. Jika sudah menikah menangis darah pun sudah tak ada artinya lagi, dan pasti ia akan semakin membuat kedua orang tuanya kecewa.


"Kan kamu juga udah nikah, jadi impaskan," kata Aran berusaha menghibur Veli, seiringan keduanya keluar dari lift.


"Iya sih, tapi sama aja Mas juga nikahin Veli dengan cara gila. Mas udah fitnah Veli tau Mas, keluarga Veli kesel sama Veli. Veli pengen tau Mas nikah di lamar terus ada pesta. Ini nikah apaan," kesal Veli sambil menghapus air matanya dan keduanya berjalan menuju mobil.


Aran diam saja mendengar curahan hati Veli, yang juga masih kesal padanya.


"Yaudah nanti kita bikin pesta," jawab Aran yang kini sudah berada di dalam mobil bersama Veli yang duduk di sampingnya, "Pesta ulang tahun Bram, monyet tengga di rumah Anggia," kata Aran lagi sambil mulai mengemudikan mobilnya.


"Wahahahahaaa," Veli malah tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Aran, "Emangnya Mas nikahin Bram?" ucap Veli di selingi tawa.


"Cieee....Khumairah ketawa," Aran mencoleh dagu Veli.


"Ish....genit banget sih," Veli menepis tangan Aran, sebab keduanya memang belum bernah sedekat itu dan untuk hal mesra sangat jauh sekali. Namun kini hubungan mereka jauh lebih baik dari pada sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2