Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 137


__ADS_3

Waktu berbuka puasa tiba, keluarga Satria dan keluarga Rianda semua duduk di kursi meja makan menikmati hidangan berbuka dengan penuh kenyamanan.


"Kapan-kapan, jeng Laras yang berbuka puasa di rumah kami ya," kata Ratih yang sedari tadi terlibat perbincangan hangat dengan Laras, sementara Rinda berbincang dengan Satria.


"O....tentu," jawab Laras tersenyum.


Bilmar mendeguk kopi buatan Anggia, dan keduanya saling melempar senyuman. Aran diam dan ia pun mendeguk kopi buatan Veli, lama Aran diam dalam menikmati sensasi kopi luar biasa yang pernah ia rasakan.


"Gimana kopinya bro," tanya Bilmar.


Aran menatap Veli yang tengah menunggu jawabannya.


"Kopinya mantap, perdana minum kopi yang rasanya waw," jawab Aran sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Wah Veli kamu berhasil," kata Anggia tersenyum bangga.


"He'um, gw kan berguru dari lu," Veli tersenyum, ternyata kopi buatannya sangat enak, "Nanti Veli buatin lagi ya Mas," kata Veli tersenyum pada Aran.


"Em," jawab Aran dengan wajah datar sambil melihat Bilmar yang tersenyum padanya, "Mau nyoba bro?" tanya Aran memberikan cangkirnya pada Bilmar.


"Sorry bro, gw udah di buatin istri," Bilmar menunjuk cangkir miliknya, pada Aran.


"Coba dikitlah, ini perdana loh....kopi buatan adik ipar," Aran semakin mendekatkannya pada Bilmar.


"Benar, ayo tuan Bilmar di coba. Atau mau saya buatkan yang baru?" tanya Veli dengan antusias.


"Tidak perlu," jawab Bilmar dengan cepat, lalu ia menatap Aran yang masih menatapnya sambil menaik turunkan kedua alis matanya. Bilmar malah di buat begidik ngeri sambil beralih menatap cangkir yang di letakan Aran di hadapannya.


"Abang ayo di coba, Veli udah ngarep banget tuh," kata Anggia yang melihat wajah Veli yang mulai murung, padahal tadi ia sudah tersenyum karena Aran memujinya. Dan ia ingin mendapatkan pujian dari Bilmar juga.


"I...iya," Bilmar dengan ragu mulai mencicipi kopi buatan Veli, lalu ia menatap Aran.


"Mantap kan bro?" tanya Aran tersenyum.


"Gila.....mantap banget," jawab Bilmar sambil menggelengkan kepala sama seperti yang di lalukan Aran tadinya.

__ADS_1


Satria tau rasa kopi buatan putrinya seperti apa, ia dapat melihat kedua pria itu menutupi rasa kopi buatan Veli. Sambil Satria berpikir kalau kali ini Veli tidak salah membedakan mana gula dan mana garam.


"Yes, akhirnya ada dua orang yang muji kopi buatan Veli Pa," ucap Veli tersenyum bangga.


"Iya Nak, kamu hebat," tutur Satria mengacukan jempolnya.


"Wah Veli nanti sahur kamu buat kopi buat Papa sama suami kamu ya Nak," tutur Laras yang ikut menimpali.


"Uhuk....uhuk...." Aran mendadak tersedak mendengar ucapan Laras.


"Minum Mas," Veli memberi kopi buatannya pada Aran.


"Mas minum air putih aja ya," kata Aran secepat mungkin meminum air putih tersebut.


"Nanti sahur Papa tetep kopi buatan Mama, kalau Aran baru kopi buatan Veli," kata Satria lagi menatap Aran penuh kemenangan.


"Iya Pa beres," jawab Veli yang masih berbangga hati.


"Papi juga mau dong kopi buatan Veli," pinta Rianda yang penasaran dengan kopi buatan Veli, sebab semua orang begitu memujinya.


Anggia dan Bilmar saling tatap, mendengar permintaan Rianda. Aran mengusap wajahnya dengan kasar sambil mendeguk kembali air putih yang terletak di atas meja.


"Pi, berdoa dulu baru minum," kata Aran menatap Rianda berniat memberikan kode, namun Rianda tanpaknya tak mengerti ia malah dengan semangat mendeguk kopi buatan Veli. Setelah ia mendeguk kopi tersebut, Rianda menatap Aran lalu Bilmar.


"Enak kan Pi?" tanya Veli dengan semangat.


"E...enak, enak, enak. Waw....." kata Rianda menatap Satria yang ternyata sedang menertawainya.


"Yes, udah tiga orang bilang kopi buatan aku enak. Akhirnya," ucap Veli, "Mami mau juga?" tanya Veli pada Ratih.


"Mami nggak minum kopi," jawab Ratih dengan cepat sebab ia tahu ada yang tidak beres melihat ekpresi para pria yang barusan mendeguk kopi buatan Veli.


"Mami boong, kemari aja Mami minum kopi," kata Aran menatap Bilmar lalu menatap Ratih.


"Iya, Bilmar juga liat Mami sering minum kopi," timpal Bilmar.

__ADS_1


"Minum Mi, cobain. Ini buatan mantu kesayangan kita lo...." Rianda memberikan cangkir miliknya pada Ratih.


"Cobain Mi," ucap Veli lagi.


"Tapi...."


"Ayo Mi cobain."


"Iya."


Ratih mendeguk kopi buatan Veli, rasanya ia inging muntah karena Ratih merasa kopinya bukan bercampur gula. Melainkan garam.


"Gimana Mi?" tanya Aran tersenyum pada Ratih.


"Jos kam Mi?" tanya Bilmar lagi, sambil menyandarkan tubuhnya di kursi dan mendeguk kopi buatan sang istri yang tak ada duanya, apa lagi bila di bandingkan dengan kopi buatan Veli. Sungguh sangat tidak layak.


"Yang sabar jeng, itu mantu idaman jeng. Saya udah melarang keras malam itu karena ini. Jadi resiko di tanggung pemenang ya jeng," ucap Lasar tertawa terbahak-bahak melihat wajah Ratih.


"Mami kok diem, rasanya gimasih Mi?" Anggia juga ikut penasaran karena Ratih masih diam membisu. Sebab tidak mungkin Veli salah apa lagi Veli sudah bertanya terlebih dahulu. Dan Anggia pun tak menyadari jika sala menyebutkan warna toples yang berisi gula. Sebab Alma dan Alif tadi cukup rewel. Sebab keduanya sangat malas minum susu formula, kecuali mereka sudah sangat haus kalau tidak merekahanya mau asi saja.


"Mi," Veli menggerak kan tangannya ke kanan dan kekiri di depan wajah Ratih, sebab setelah ia mendeguk kopi tersebut mendadak menjadi patung.


"Eh....iya Nak?" tanya Ratih bingung.


"Mami kenapa? Gimana Mi kopinya, tadi Anggia bilang gulanya dua sendok terus kopinya satu sendok. Anggia, cuman bilang begitu aja terus Dia di panggil sama tuan Bilmar tadi sebelum sempat liatin Veli meracik kopi ini. Eh....ternyata kopi buatan Veli enak, banyak yang muji juga, tanpa di ajari siapa pun," jelas Veli membanggakan diri di hadapan semua keluarga.


"Kamu mau coba?" tanya Ratih sambil memberikan cangkir di tangannya pada Veli.


"Nggak ah....Mi, Veli udah kenyang," ucap Veli menolak lagi pula ia tak terlalu menyukai kopi.


"Sedikit saja, agar kamu semakin pintar dalam menyehdukan kopi untuk suami," ucap Ratih sambil tangannya kembali memberika kepada Veli secangkir kopi.


"Ok.....Veli coba ya Mi," tangan Veli terulur mengambil cangkir yang di berikan Rath dan mulai mendeguknya.


HUEKKK......

__ADS_1


Veli langsung memuntahkan kopi yang ia cicipi, setelah itu ia langsung menatap wajah Aran dengan rasa malu. Aran tersenyum padanya, kemudian Veli menatap wajah Ratih kembali.


"Mi, kopinya kok rasanya aneh rasa nya gitu?"


__ADS_2