Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 162


__ADS_3

Pagi harinya.


Kini Ratih dan Anggia tengah sibuk dengan mempersiapkan sarapan pagi, keduanya terlihat begitu cekatan saat menata sarapan di meja makan. Selesai dengan menata makanan Ratih langsung menarik kursi dan mendaratkan pantatnya, sementara Anggia masih mengisi air di gelas.


"Selamat pagi semua," sapa Rianda yang baru saja ikut bergabung dan ia langsung duduk di kursinya.


"Pagi Pi," jawab Ratih tersenyum pada Rianda.


Tak lama berselang Bilmar juga datang, "Selamat pagi Mami, Papi," sapa Bilmar.


"Pagi sayang, ayo duduk," jawab Ratih tersenyum pada putranya.


"Pagi Mommy," Bilmar menaik turunkan kedua alis matanya, tak lupa tersenyum nakal pada Anggia.


"Abang," Anggia melebarkan matanya, karena ia tau suaminya itu tak tau tempat dan situasi bila sudah melihatnya.


Ratih langsung menyiapkan makanan untuk Rianda, sementara Anggia untuk Bilmar. Dan mereka duduk untuk sarapan pagi.


"Aran mana ya?" tanya Bilmar.


"Nggak tau Abang, Veli juga belum keluar kamar Anggi lihat," jawab Anggia.


Sementara Ratih tak tau sama sekali jika Aran datang bersama Veli, sebab ia semalam pergi menghadiri acara pernikahan anak dari salah satu rekan kerja Rianda.


"Aran di sini?" tanya Ratih.


"Ya, semalam mereka datang. Pas Mami datang mereka udah tidur," jelas Anggia.


"O," Ratih mengerti dan ia lansung menyuapi nasi goreng buatan Anggia dengan lahapnya.


Tak lama berselang Aran datang ikut bergabung di meja makan untuk sarapan.


"Pagi Mi, pagi Pi," kata Aran.


"Pagi," jawab Rianda tersenyum, "Istri kamu di mana?" tanya Rianda yang tak melihat Veli muncul bersama Aran.


"Veli lagi nggak enak badan Pi, sekarang lagi istirahat di kamar," kata Aran.


"O, yaudah Mami aja yang sajikan nasinya ya," Ratih mengisi piring Aran dengan nasi dan lauk, "Nanti sarapan buat Veli biar Mami yang antar, Mami juga mau lihat keadaanya," jelas Ratih.

__ADS_1


"Iya udah Mi," jawab Aran.


"Mi, Anggi juga ikut lihat Veli ya," kata Anggia.


"Yaudah, tapi kamu siapin dulu sarapannya. Terus kamu bawa ke kamar ya," kata Ratih.


"Iya Mi,"


Kini Rarih dan Anggia berjalan menuju kamar Veli, dengan tangan Anggia membawa sarapan untuk Veli.


TOK.......TOK........TOK........


Ratih nengetuk pintu.


"Veli, Mami masuk ya Nak," Ratih memutar gagang pintu dan melihat Veli tengah tidur dengan meringkuk seperti bayi, bahkan Veli menggulung selimut karena kedinginan.


"Veli kamu demam Nak?" tanya Ratih khawatir, kemudian ia memegang dahi Veli yang terasa sangat panas.


"Mi, dingin banget," jawab Veli dengan terlihat meriang, menahan dingin.


Sementara Anggia langsung meletakan napan yang ia bawa di atas meja nakas, kemudian ia ke kamarnya untuk mengambil tensimeter dan juga stetoskop. Lama kemudian ia kembali dan memeriksa Veli.


"Kandungan?" tanya Ratih yang masih bingung.


"Iya Mi, Veli hamil ini," kata Anggia yang kini mulai memegang perut Veli dan ia mulai memeriksanya.


"Veli kamu hamil?" tanya Ratih dengan bahagia.


"Iya Mi," jawab Veli.


"Ya ampun, Mami jadi Oma lagi," ucap Ratih dengan bahagia, ia sangat serharu karena Aran akan memberikannya seorang cucu, Ratih tersenyum dan mengingat wajah mendiang adiknya, "Nanti kita jiarah ke kuburan Mamanya Aran ya Nak, ibu mertua kamu. Dia pasti bahagia sekali karena sudah punya cucu, Mami saja sangat bahagia," ucap Ratih penuh haru.


"Iya Mi," jawab Veli sebab ia memang belum pernah berjiarah ke makam orang tua kandung Aran.


"Sebentar ya Vel, aku ke rumah dulu aku mau ambilin obat buat kamu," kata Anggia, lagi pula antara rumahnya dan rumah Ratih hanya berselang beberapa rumah saja, dan tak butuh waktu lama tentunya.


"Aku meriang banget Ngi, pala ku pusing, mual juga," kata Veli mengatakan apa yang kini tengah ia rasakan.


"Iya, aku ngerti. Sebentar ya," pamit Anggia.

__ADS_1


Sementara Ratih terus tersenyum bahagia, ia mengambil ponsel dan menghubungi Sinta untuk datang ke rumahnya. Setelah itu ia kembali melihat keadaan Veli.


"Veli, kamu makan ya Nak," Ratih membantu Veli untuk duduk, kemudian mengambil piring yang tadi di letakan Anggia di atas nakas.


"Iya Mi," jawab Veli yang masih menutup tubuhnya dengan selimut tebal karena kedinginan.


"Yaudah Mami suapin aja," kata Ratih yang kasihan saat melihat keadaan Veli, "Kondisi kamu ini sama seperti adik Mami, sewaktu hamil Aran. Dia sering demam dan meriang," ucap Ratih yang terus mengenang wajah mendiang sang adik.


"Mi, huueeek.....hueekkk....., Mi Veli nggak kuat sama bau daun seledrinya," kata Veli sambil menutup mulutnya.


"Ya ampun, Mami minta maaf ya Nak," ucap Ratih merasa semakin kasihan pada Veli yang terlihat semakin berkeringat dingin.


"Mi, Veli sarapannya sandwich aja boleh nggak?" tanya Veli tak enak karena harus menolak nasi goreng yang kini di suapi Ratih padanya.


"Boleh dong," jawab Ratih.


Tak lama berselang Anggia datang dengan membawa obat-obatan, dan Veli pun sudah selesai sarapan. Tak lupa Anggia sudah meminta Art untuk membuatkan susu untuk Veli, tadi Anggia juga membawa susu hamil dari rumahnya.


"Minum obatnya," Anggia memberikan butiran kapsul pada Veli dan segelas air juga.


"Iya," Veli langsung menelan obat tersebut.


"Ini susunya juga," kata Anggia lagi memberikan susu.


"Mami keluar sebentar ya, Mami mau ke toilet sambil nunggu Mama Sinta bentar lagi nyampek juga ke sini," pamit Ratih sebelum ia pergi.


"Iya Mi," jawab Anggia, kemudian Ratih pergi meninggalkan keduanya.


Anggia kini menatap wajah pucat Veli, "Tunda dulu lah yang enak itu, ini sampek jam berapa semalam begadangnya?" tanya Anggia yang tau Veli kelelahan akibat olah raga malam, hingga tak bisa istirahat dengan benar dan akhirnya ia sakit, "Ini kissmark ada di mana-mana," Anggia menunjuk leher Veli yang di penuhi tanda merah keunguan, "Pantes dari tadi selimutnya di tutupin pakek selimut," omel Anggia lagi. Ia ingat sedari tadi Veli terus menggulung selimut di tubuhnya hingga leher saat ada Ratih.


"Ah.....lu kayak nggak pernah aja. Gw juga tau gimana mesumnya laki lu, gw pernah lihat kalian saling berpanggutan di dapur," jelas Veli saat ia melihat Bilmar tengah melahap habis bibir Anggia, kebetulan saat itu ia tengah haus dan berniat mengambil air minum namun semua ia urungkan karena melihat Anggia dan Bilmar, "Tangan laki lu juga megang gunung kan," lanjut Veli.


"Lu cuman liat itu doang?" Anggia sangat takut Veli melihat yang lainnya.


"Itu doang lu bilang?" Veli menatap Anggia penuh selidik, "Jangan bilang lu juga di dapur yang begituan," tebak Veli menatap Anggia dengan merinding, "Untuk gw nggak liat sampai selesai, tapi bagus juga kalau gw lihat sampai selesai ya, paling nggak gw nonton live kan," kata Veli sambil tersenyum.


***


Jangan lupa like dan Vote nya teman-teman. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2