
Kini Bilmar dan Anggia sudah sampai di mall dan Bilmar pun sudah memarkirkan mobilnya.
"Yuk turun," Tutur Bilmar dan ia melihat kesamping, Bilmar tersenyum ternyata Anggia sudah terlelap akhirnya Bilmar kembali menyalakan mesin mobilnya dan membawa Anggia pulang.
Dalam tiga puluh menit kemudian Bilmar sampai di rumah, Bilmar terlebih dahulu turun dan selanjutnya mengangkat tubuh Anggia yang masih sangat lelap dalam tidurnya. Perlahan Bilmar membaringkan tubuh Anggia di ranjang, tangan Bilmar melepas rambut Anggia yang di kuncir. Hal yang lain yang sangat di sukai Bilmar adalah Anggia memiliki rambut panjang dan lebat, bahkan rambut Anggia melewati pingganya.
Bilmar membuka jasnya, lalu ia mulai membersihkan diri selesai dengan mandinya Bilmar keluar hanya dengan melilitkan handuk di pinggangnya. Bisa di bayangkan tubuh froposionalnya bukan, lengan berototnya serasa membuat kerongkongan kering, belum lagi perut kotak-kotak yang terasa keras. Jangan lupakan rambut Bilmar yang basah dan kini sedang ia keringkan dengan handuk kecil, lalu alis Bilmar telihat ada bekas luka jahitan sebab terlalu nakal semasa dulu, jambangbtipis pria itu seakan menambah kesan lain bagi wanita yang melihatnya saat ini.
Anggia yang sudah terbangun malah di buat seperti orang bodoh ia hanya diam menatap Bilmar, sepertinya Bilmar belum menyadari itu sama sekali namun beberapa saat berselang Bilmar melihat Anggia yang sudah terbangun, bahkan sudah duduk di ranjang dan masih menatapnya. Bilmar menyadari tatapan kagum Anggia, Bilmar mendekati Anggia dan berdiri di samping ranjang.
"Adik mau pegang boleh," Kata Bilmar, wajah Anggia memucat ternyata Bilmar menyadari jikalau ia sedari tadi menatap Bilmar dengan kagum.
"Apasih," Anggia kembali membaringkan tubuhnya dan menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya, bahkan kepala Anggia pun berada dalam selimut. Anggia di dalam sana merutuki kebodohannya yang tertangkap basah menatap penuh kagum.
Bilmar yang jail juga ikut naik ke ranjang, ia juga ikut masuk ke dalam selimut, wajah Bilmar berhadapan dengan wajah Anggia.
"Hai apa kabar," Seloroh Bilmar.
"Abang!" Teriak Anggia kesal.
"Apa sayang," Jawab Bilmar cepat seketika membuat pipi Anggia kembali memerah, mendengar kalimat sederhana namun sangat bermakna.
"Nggak usah pakek sayang!" Anggia protes sebab jantungnya sudah tidak karuan.
Bilmar membuka selimut, dan menarik Anggia mendekat padanya menjadikan tangan Bilmar sebagai bantal. Anggia berulang kali menolak tapi Bilmar memaksa hingga Anggia terpaksa mau menjadikan tangan Bilmar sebagai bantal, sambil melawan perasaan yang semakin tak karuan.
"Kalau nggak pakek sayang pakek cinta aja," Bilmar tau istrinya sedang menahan malu dan Bilmar sangat suka sekali menggoda sang istri tercintanya.
"Abang......" Teriak Anggia lagi.
__ADS_1
"Iya cinta!" Jawab Bilmar mencolek dagu Anggia dengan cepat Anggia menepis tangan Bilmar.
"Sana jauh-jauh," Anggia mendorong tubuh Bilmar, namun usahanya tak membuahkan hasil sedikit pun, Bilmar bahkan tak perpindah dari tempatnya walau satu senti pun.
"Abang maunya deket Anggi," Bilmar memeluk Anggia dengan erat.
"Abang...." Teriak Anggia kesal.
"Mau lebih dekat?"
"Aaaaaaa," Teriak Anggia hingga sampai keluar sebab pintu tak tertutup rapat.
Ratih yang baru saja sampai di rumah panik mendengar teriakan Anggia, mungkin Anggia tertepeleset atau bagaimana begitulah pikiran buruk Ratih yang sangat ketakutan. Apa lagi Anggia sedang mengandung.
"Anggia kamu kenapa Nak?" Ratih langsung menerobos masuk dan melihat Bilmar sedang memeluk erat Anggia bahkan Bilmar belum mengenakan baju, dan setengah tubuhnya tertutup selimut membuat pikiran Ratih menjalar entah kemana.
"Mami," Anggia sangat malu ia yakin Ratih saat ini berpikir yang bukan-bukan di tambah lagi kancing dress Anggia setengah terbuka karena terlalu banyak bergerak.
"Mami mau keluar sekarang atau jadi penonton di situ?" Tanya Bilmar yang semakin mengeratkan pelukannya pada Anggia.
"Abang sakit," Kata Anggia.
"Bil, pelan-pelan kasiab Anggianya," Ratih malah seperti orang bodoh.
"Mami keluar," Kata Bilmar.
"Iya Mami keluaaaaaaar....." Teriak Ratih masih seperti orang bodoh, tidak lupa Ratih menutup pintu dengan rapat, Bilmar bingung mengapa Maminya sangat lucu.
"Mami nggak mikir apa-apa Pi," Kata Ratih sampai di luar bertemu Rianda, sang suami hanya menggeleng-geleng melihat istrinya yang konyol, Rianda juga tidak lucu dengan tingkah konyol Bilmar sebab itu warisan dari Ratih.
__ADS_1
Sementara Bilmar dan Anggia masih setia di atas ranjang.
"Abang lepasin Anggi," Anggia masih ingin di lepas Bilmar, tapi tidak ada niat sedikit pun di hati Bilmar melepaskan Anggia yang ada ia semakin mendekat dan mendekat membuat Anggia merinding.
Dalam sekejap Bilmar melahap bibir Anggia, mengexspos seluruh bagian mulut sang istri dengan penuh damba, Anggia hanya diam dan masih shock dengan apa yang di lakukan Bilmar saat ini. Otak nya masih belum mampu berpikir jernih bahkan Anggia seakan bodoh di buat Bilmar.
"Mmmffp," dengan bodohnya Anggia yang tidak siap malah menahan napas, sesaat Bilmar menyadari kebodohan sang istri hingga ia melepas pagutannya dan menatap Anggia.
"Mau cari mati," Tanya Bilmar.
"Nggak," Jawab Anggia menggelengkan kepala.
"Nafas!"
"Iya!" Jawab Anggia kesal bahkan setengah berteriak di wajah Bilmat.
Bilmar kembali mengulangi dan melanjutkan yang tadi sempat terhenti, perlahan-lahan semua biasa hingga akhirnya semakin lama semakin menuntut.
"Ssstt," Anggia mendesah tak kala tangan Bilmar memainkan gundukan miliknya, Anggia menutup mata melupakan rasa malu karena kenikmatan kali ini yang di tawarkan Bilmar lagi sepertinya terasa begitu indah.
Bilmar beliuk-liuk seperti ular, kadang juga ia seperti bayi yang kehausan dalam meminum asi sang ibu, Bilmar meraup semua bagian tubuh Anggia bahkan semua tak ada yang tertinggal. Hingga akhirnya mulut Bilmar menyentuh bagian utama tubuh Anggia.
"Abang," Anggia meremas rambut Bilmar dan menenggelamkannya semakin dalam, Anggia lupa entah kapan pakaian di tubuhnya terlepas yang jelas kini ia tanpa sehelai benang pun.
"Ah...ah....ah..." Desah Anggia tak kala milik Bilmar menusuk bagian utamanya, walau pun terasa susah sebab Anggia baru sekali melakukan itu sebelumnya, tapi tetap saja keduanya sangat menikmati sesuatu yang indah di sore yang tak terduga ini.
"Sayang!" Bilmar bergumam tak jelas, sesuatu yang ia tahan selama ini kini akhirnya bisa terlepaskan, hasrat yang membuncah tak bisa mengalahkan segalanya, yang jelas hanya ada suara erangan yang bersahut-sahutan di kamar Bilmar yang kedap suara itu. Hingga beberapa saat kemudian Bilmar mendapatkan puncaknya, sementara Anggia sudah tidak bisa lagi walau hanya membuka mata saja sebab sudah berkali-kali ia mendapatkan puncaknya.
***
__ADS_1
VOTE jangan lupa.