
"Ayo apa lagi, kenapa diam saja. Belum mencintai mu saja aku sudah kau buat terhina dan terluka Mas, apa lagi kalau aku benar-benar jatuh cinta pada mu!" tutur Veli lagi sambil menangis.
Aran bangun dari atas tubuh Veli, ia menarik nafas dengan dalam saat mendengar fakta yang ternyata Veli tau niat awalnya yang buruk itu.
"Veli, saya minta maaf atas apa yang sudah saya lakukan dulu. Tapi sekarang saya sudah tak ingin lagi berniat menyakiti mu, aku mohon maafkan aku," tutur Aran dengan penuh penyesalan.
Veli bangun dari ranjang, ia rasanya tak percaya mendengar apa yang di katakan Aran barusan. Malahan Veli berpikir itu hanya bagian dari ide busuknya untuk menutupi apa yang ia ketahui tentang Aran.
"Ck.....aku nggak percaya! Bilang saja Mas cuman acting, nggak mempan...." ucap Veli sambil membuang pandangannya ke arah lain.
"Tapi saya serius, saya tidak berbohong," Aran masih berusaha untuk membujuk Veli agar percaya padanya, "Kamu percaya ya, saya benar-benar sudah melupakan niat awal saya itu," Aran mencoba memegang lengan Veli tapi malah Veli menjauh ia tak ingin di pegang Aran.
"Aku nggak percaya, lagian Mas ngotot pengen pisahkan? Yaudah....apa lagi sekarang, aku udah nggak perduli mau Papa aku marah atau bagaimana, aku nggak perduli!" jelas nya lagi agar Aran tau bahwa ia sangat kecewa karena tak pernah di hargai oleh Aran.
"Nggak! Kita nggak akan pernah pisah, saya tidak akan pernah menceraikan mu!" ucap Aran tak kalah tegas.
"Kenapa?"
"Karena kita sudah menikah, aku tak mau menjadi duda!" kata Aran.
"Kalau begitu Mas menikah saja sekarang, setelah itu baru ceraikan aku. Jadi Mas nggak akan jadi duda!" Veli tak perduli mau di madu atau tidak, yang jelas berpisah lebah baik dari pada tak pernah di hargai.
"Sudah saya katakan kita tidak akan pernah bercerai!"
"Kenapa?" tanya Veli lagi, ia masih ingin mendengar alasan Aran mungkin saja ada pikiran rencana jahat padanya lagi, "Kenapa Mas nggak mau cerai, bukannya Mas jijik sama aku?" kata Veli menujuk tubuhnya.
Dia nggak tau apa? Kalau di dekat dia jantung aku suka berdebar nggak karuan.
"Apa saya harus katakan alasannya?" Aran pun tak tau apa yang ia rasakan, yang jelas ia hanya tak ingin Veli jauh darinya.
"Iya!"
"Ayolah Veli, saya sudah minta maafkan, lagi pula saya akan berjanji menjadi lebih baik dan tidak akan berbuat semau saya lagi," Aran melangkah mendekati Veli dan menatap dengan serius, berharap kali ini Veli tak lagi meminta berpisah.
__ADS_1
"Nggak!"
"Veli maaf ya.....saya benar-benar menyesal."
"Apasih lebay."
"Ck.....kalau kamu mau memaafkan saya, saya akan mengabulkan semua permintaan mu," kata Aran.
Veli tersenyum dan menatap Aran, "Beneran?" tanya Veli dengan bahagia.
"Iya," Aran tak takut bila permitaan Veli adalah uang atau barang mahal, yang ia takutkan permintaan Veli malah memita berpisah. Ia menunggu apa yang di ucapkan Veli dengan was-was.
"Baikalah sekarang aku mau maafin Mas, kalau Mas mau cerain aku," tandas Veli.
Aran membuang nafas dengan kasar ternyata ketakutannya menjadi kenyataan, dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk tidak melakukan kesalahan lagi seperti sebelumnya agar Veli tak terus-terusan meminta cerai.
"Veli, aku mohon aku tidak bisa hidup tanpa mu," ucap Aran dengan suara pelan dan susah payah.
"Veli!" Aran merasa malu karena Veli malah mengejeknya.
"Ini bagian dari rencana mu Mas? Nggak mempan Mas Aran Rianda, Velisya Khumairah sudah tidak percaya dengan cinta, Mas Aran dan Mas Farhan bagi ku sama saja. Sama-sama tukang paksa!" rasanya Veli sama sekali tak merasa yakin dengan perkataan Aran, apa lagi ia baru saja tersakiti oleh Farhan lelaki yang di cintainya itu sudah sangat membuatnnya terluka.
"Saya akan buktikan kalau saya......." Aran menghentikan ucapannya dan menatap Veli.
"Kalau saya...?" tanya Veli yang masih menunggu apa yang akan di katakan Aran.
"Veli, sepertinya saya sudah jatuh hati pada mu," kata Aran lagi, demi Veli tak pergi darinya.
"Ck.....nggak usah acting Mas."
"Aku akan buktikan kalau kau tak percaya, ingat satu hal, kita tak akan pernah bercerai. Dan kalau kau berani selingkuh, selingkuhan mu itu akan aku buat tak bernyawa di hadapan mu!"
"Pemaksaan!" Veli memutar bola matanya dengan jenuh, lagi-lagi Aran kembali menjadi yang Veli benci.
__ADS_1
"Terserah kau mau bilang apa, yang jelas saya akan buktikan kalau saya tak berniat untuk main-main lagi dengan pernikahan ini!"
TING TONG.
Terdengar suara bell berbunyi.
"Serah lah, aku nggak ngerti mau mu apa Mas? Yang jalas sekaran aku membenci mu!" kata Veli setelah itu ia meninggalkan Aran di kamar dan membuka pintu melihat siapa yang datang.
CLEK.
"Mami," kata Veli saat melihat Ratih ada di sana bersama dengan Anggia.
"Sayang," dengan cepat Ratih memeluk Veli dan menangis dengan kencang, "Maaf ya Nak, apa karena ucapan Mami barusan kamu pergi dari rumah Anggia dan Bilmar?" Tadinya Ratih memang sudah pulang, namun ia kembali lagi ke rumah Bilmar sebab ia belum mendengarkan penjelasan Veli. Namun sampai di sana seorang Art mengatakan jika ia melihat Veli membawa koper besar, bahkan Anggia juga shock saat mengetahui ternyata Veli sudah pergi bahkan tanpa pamit padanya. Anggia menebak jika Veli pulang ke apartemen yang ia tinggali dulu, dan sepanjang perjalan ia menceritakan tentang Veli yang saat itu berada di hotel. Hingga Ratih semakin merasa bersalah sebab pergi tanpa mendengar penjelasan Veli.
"Mami kenapa nangis?" tanya Veli yang kini melepaskan pelukan Ratih.
"Mami minta maaf, Mami nggak ada niat apa-apa beneran. Tadi Mami shock banget sampek Mami nggak mendengar penjelasan kamu dulu," kata Ratih lagi dengan perasaan menyesal.
"Iya Mi, Veli ngerti kok. Veli tinggal di sini aja Mi. Nggak enak sama Mas Aran kalau tinggal di sana, karena Mas Aran juga mau cerain Veli," ucap Veli pada Ratih.
Aran yang mendengar ucapan Veli dengan cepat membantah.
"Nggak, kita nggak akan pernah cerai. Jangan ngomong asal!" tegas Aran.
"Kenapa?" tanya Veli ketus.
"Karena dia cinta sama kamu, di kamarnya penuh dengan fhoto kamu," jelas Ratih.
Veli menatap Aran penuh tanya, sementara Aran membuang pandangannya ke lain arah karena kesal pada Ratih. Ia juga malu karena Ratih membuka rahasianya.
***
AUTHOR lagi nggak semangat nulis, jangan lupa VOTE ya semua biar saya semangat UP. Makasih kakak semua yang baik hati :).
__ADS_1