
Tiga hari kemudian.
Hari ini Anggia sudah di bawa pulang, ya Anggia pulang tapi tidak bersama dengan dua bayinya karena keduanya belum di perbolehkan pulang. Kini Anggia membaringkan tubuhnya di ranjang mencari rasa nyaman sebab selama berada di rumah sakit Anggia kurang merasa nyaman, senyaman di rumah ini.
"Anggi," terdengar suara Bilmar yang baru saja masuk saat Anggia akan terlelap, namun ia kembali membuka mata dengan lebar karena suara Bilmar.
"Ya," Anggia menatap Bilmar yang kini duduk di samping ranjang.
"Kamu belum makan, makan dulu," Bilmar membantu Anggia bangun, sesaat kemudian Art datang membawa makanan dan meletakannya di atas nakas.
"Iya," jawab Anggia sambil mencoba mengambil makanan, ia pun tak mau terlambat makan agar asinya tetap baik untuk kedua bayinya.
"Abang yang suapin ya," Bilmar terlebih dahulu menjangkau piring itu dan mengambilnya, "Buka mulut," kata Bilmar yang kini mulai menyuapi Anggia.
"Anggi sendiri aja, Anggi kan punya tangan yang bisa di gunain, lagian Anggi lagi pengen makan sediri, dari kemarin-kemarin di suapin terus," kata Anggia mengambil sendok dan piring yang ada di tangan Bilmar.
"Anggia kamu kenapa sih?" tanya Bilmar yang kini berdiri di sisi ranjang dan menatap Anggia, "Kamu kenapa? Kenapa kamu semenjak lahiran malah berubah!" kesal Bilmar.
KRANG.
Anggia melempar piring di tangannya pada lantai, pertama kalinya Bilmar melihat Anggia seperti ini.
"Nggak usah bentak-bentak, saya memang udah lahiran dan anda tidak perlu lagi bertanggung jawab atas saya. Bukan kah perjanjiannya hanya sampai anak kita lahir, oh....tidak dia anak ku bukan anak mu. Karena aku tau kau ragu akan anak itu, aku tidak akan merepotkan mu lagi.....aku akan pergi dengan membawa anak-anak ku! Terima kasih sudah merawat kami selama ini!" tandas Anggia.
Anggia bangun dari ranjang dan keluar dari kamar itu, Bilmar masih berada dalam kebingungan ia masih belum mengenali Anggia saat ini. Sejenak ia menyadari apakah ada yang salah dari setiap ucapannya.
__ADS_1
"Anggia kamu mau kemana Nak?" Ratih yang duduk di ruang tamu terkejut melihat Anggia yang baru pulang dari rumah sakit dan kini melangkah keluar lagi.
"Anggi mau pergi Mi," jawab Anggia kini ia berdiri tidak jauh dari Ratih.
"Pergi?" Ratih meletakan majalah di tangannya dan berdiri dengan cepat karena shock mendengar perkataan Anggia.
"Ya Mi, Anggi pamit ya Mi," kata Anggia hampir berbalik, namun dengan cepat Ratih memegang tangan Anggia hingga ia urung melangkah karena Ratih.
"Anggi, tunggu Nak," Ratih masih bingung namun ia tak mau melepaskan tangan Anggia, hingga Anggia tak bisa bergerak, "Kamu mau ke mana, kamu baru selesai operasi?" tanya Ratih lagi.
"Anggi, mau cari tempat tinggal sendiri Mi," jawab Anggia menatap wajah Ratih.
"Anggia, kamu bicara apa Nak? Kamu itu istri Bilmar dan rumah kamu di sini. Kamu tinggal di sini," kata Ratih berusaha menahan Anggia agar tak pergi, "Anggia kamu kenapa?" tanya Ratih saat melihat wajah Anggia pucat dan tangannya memegang luka jahitannya.
"Duduk dulu, kamu baru lahiran dan belum boleh banyak gerak," Ratih menuntun Anggia duduk di sofa, "Minum dulu," Ratih memberikan gelas berisi air pada Anggia, memang tadi Anggia berlari saat keluar dari kamarnya.
"Anggia," terdengar suara Bilmar yang baru saja datang, sesaat kesadaran menghampirinya.
"Selesaikan masalah kalian, jangan seperti anak-anak. Kalian sudah menjadi orang tua!" kesal Ratih, lalu ia pergi meninggalkan keduanya di ruang tamu.
"Anggi?" Bilmar duduk di samping Anggia, dan mencoba memegang wajah pucat sang istri, namun dengan cepat di tepis.
"Ck.....nggak usah pegang-pegang," ketus Anggia.
"Kamu kenapa?" tanya Bilmar dengan nada lembut, ia benar-benar tak memyadari apa kesalahannya
__ADS_1
"Aku nggak papa!" ketus Anggia sambil menitihkan air mata.
"Anggia kamu nangis?" Bilmar panik dan berusaha memeluk Anggia tapi di tolak, sebab perasaan kesal yang masih ia rasakan.
Anggia hanya diam saja tanpa menjawab hingga tiba-tiba Veli datang dan melihat Anggia dan Bilmar yang sedang duduk di sofa.
"Anggi lu kenapa?" tanya Veli berjalan mendekati Anggia, "Muka kamu pucet banget, bekas operasi kamu belum kering loh Ngi jangan macan-macam ya," kata Veli dengan panik, ia membuka sedikit piama Anggia untuk melihat dan ternyata baik-baik saja perlahan Veli merasa tenang, namun wajah Anggia pucat, "Kamu demam," kata Veli lagi.
"Veli, kita tinggal di apartement kamu aja ya, sambil aku sembuh nanti aku beli apartement baru," kata Anggia.
"Anggia, kenapa begini?" tanya Bilmar panik ia sangat takut Anggia pergi.
"Kenapa masih bertanya, bukankah pernikahan kita hanya sampai di sini? Bukankah anda ragu akan anak itu," tutur Anggia dengan jelas.
"Tuan anda meragukan anak itu adalah anak anda?" tanya Veli yang kini juga ikut menatap Bilmar, "Kalau anda ragu mari kita lakukan tes DNA, dan bila anak itu benar-benar anak anda maka anda tidak boleh lagi mengakuinya sebagi anak anda, ini hanya untuk membuktikan saja. Namun bila itu bukan anak anda, anda boleh menuntut kami karena sudah menipu anda!" jelas Veli dengan tegas.
Sejenak Bilmar terdiam, ia ingat apa yang ia ucapkan waktu itu tentang gurauannya. Kini ia tau mungkin Anggia berpikir bila ia meragukan anak itu, tapi itu hanya gurauan saja. Apakah wanita sesensitif itu? Bilmar benar-benar tak mengerti.
"Veli, saya tidak pernah meragukan kalau itu anak saya. Dan saya minta masalah ini di lupakan saja itu hanya gurauan saya dan saya tidak tau kalau ternyata itu melukai hati Anggia," kata Bilmar mengutarakan isi hatinya.
"Anggia, kau dengarkan tuan Bilmar bilang apa? Dia tidak ragu sama sekali akan anak itu," kata Veli meyakinkan Anggia.
"Aku ke kamar dulu," pamit Anggia, perasaannya masih saja ragu dan tidak menentu. Bukan itu jawaban yang di inginkan Anggia, bukankah Anggia tadi sudah mengatakan tentang pernikahan mereka? tapi Bilmar sama sekali tak membahasnya.
Entahlah yang jelas naluri tak bisa lagi di ajak berkompromi saat hati di landa kecemasan, kini yang ada hanya perasaan takut saja akan kehancuran pernikahannya. Anggia kembali masuk ke kamar membawa perasaan itu, mempersiapkan hati bila akan terluka lagi. Anggia tau Bilmar memang pernah mengatakan pernikah mereka tak main-main, tapi Bilmar tak pernah berbicara serius itu hanya sebatas gurauan saat mereka bercanda bersama, apakah itu bisa di jadikan alasan untuk Bilmar tak melepaskannya? Sedangkan mertuanya pun mengatakan pernikahan mereka hanya sampai anak itu lahir? Mungkin saja Bilmar pun tak ingin melepas Anggia, namun apakah Anggia tau bila Bilmar hanya berkata dalam hatinya tanpa memberi tahu Anggia.
__ADS_1