Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 91


__ADS_3

Sore harinya.


"Anggi sayang," Bilmar yang baru saja datang setelah tadi ia kembali ke kantor karena ada rapat penting kini kembali lagi ke rumah sakit untuk menjemput sang istri di sore hari ini.


"Abang apasih," Anggia masih tak suka di panggil sayang oleh Bilmar.


Bilmar berjalan masuk dan mendekati sang istri yang sedang duduk manis menunggu jemputannya.


"Pulang yuk," Bilmar menarik tangan Anggia hingga wanitanya itu berdiri, tidak lupa Anggia mengambil tas tangan miliknya lalu pergi berjalan beriringan.


"Abang.....apa Anggi gemuk banget ya?" tanya Anggia saat keduanya kini tengah berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit.


Bilmar tersenyum dan menatap sang istri, tangan Bilmar melepas tangan Anggia dan kini Bilmar merangkul pundak sang istri dari samping.


"Kenapa? Kamu capek?" tanya Bilmar yang melihat Anggia seperti ngos-ngosan sebab memang Anggia hari ini cukup lelah apa lagi usia kandungannya sudah memasuki bulang ke tujuh (author ksip nggak papa ya).


"Capek dikit sih," jawab Anggi sambil melingkarkan tangannya di pinggang Bilmar.


"Sini tasnya Abang bawa in," Bilmar mengambil tas Anggia dan membawanya, Anggia merasa tak enak dan malu sekali ia tak berniat mempermalukan suaminya. Apa lagi Bilmar bukanlah orang sembarang dan Anggia tak mau nama suaminya jelek hanya karena niat baik Bilmar padanya.


"Abang, tasnya Anggi bawa sendiri aja," Anggia ingin mengambil tasnya tapi dengan cepat Bilmar malah menjaukannya alhasil gagal.


"Nggak papa, biar Anggi sayangnya Abang nggak capek," tutur Bilmar tersenyum tulus pada sang istri.


"Abang....nggak usah pakek sayang!" kata Anggia dengan tegas.


"Ya pakek cinta aja kalau gitu, berarti kalau Anggi panggil Abang," Bilmar berhenti melangkah membuat Anggia jug berhenti melangkah, tapi Anggia menatap bingung pada Bilmar, "Abang jawab....ya cinta ku...." seloroh Bilmar.


"Ish," Anggia mencubit perut Bilmar sebab perutnya yang besar penyebab tanyannya hanya sampai memegan perut Bilmar dan sangat gampang kalau mencubit sang suami.

__ADS_1


"Abang nggak malu apa," mata Anggia menatap orang-orang yang melihat mereka, "Abang lihat deh mereka pasti mikir Anggi suka bodoh-bodohin Abang," tutur Anggia dengan suara pelang.


"Sayang.....hidup jangan kata orang, kita cari makan sendiri, tinggal di rumah sendiri, anggap aja mereka semua angin yang hanya numpang lewat," tutur Bilmar pada Anggia, agar sang istri tak lagi terlihat risih dengan pandangan orang-orang yang menatap mereka.


"Tuan Bilmar," Sasa yang lewat juga melihat aneh, dan ia malah merasa lucu menatap Bilmar yang membawa tas Anggia.


"Kenapa!" tanya Bilmar dengan raut wajah tak bersahabat sedikit pun, sangat berbeda bila sedang bersama Anggia. Bilmar seperti anak-anak yang selalu suka berbuat kekonyolan.


"Anggia, kamu kok bodoh-bodohin suami sih," Sasa ingin membuat Bilmar agar sadar kalau Anggia hanya akan membuat Bilmar menjadi orang bodoh.


"Aku," Anggia menunjuk dirinya sendiri dengan penuh tanya dan bingung.


"Iya kamu," telunjuk Sasa menunjuk Anggia membenarkan perkataannyan, "Tuan Bilmar anda kan orang sukses, dengan wibawa tinggi, tapi apa nggak ada wanita lain apa yang lebih baik dari dia ini, yang cuman bisa-bisanya membodohi anda seperti ini," tutur Sasa tersenyum miring menatap Anggia.


"Siapa yang ngebodohin suami sendiri?" Anggia yang tak pernah kesal pada Sasa bahkan ketika Sasa berkata kasar sekalipun padanya, kini mulai tersulut emosi. Lama-lama berhadapan dengan Sasa bisa membuatnya jadi semakin kesal juga lepas kendali.


"Kamu lah," jelas Sasa lagi.


"Tuh, kan apa yang saya bilang benar," Sasa merasa senang kali ini Bilmar membelanya hingga ia sangat bangga akan hal itu.


"Kamu juga berpendidikan, punya fropesi bagus begini, sungguh pekerjaan yang mulia. Tapi mulut kamu itu tidak mencerminkan kamu itu wanita berpendidikan, justru kamu terlihat seperti wanita yang tak pernah berpendidikan," Bilmar menarik sang istri pergi begitu saja meninggalkan Sasa yang masih kesal.


Niat hati ingin membuat Bilmar menjauhi Anggia dan ia bisa mengambil kesempatan untuk berdekatan dengan Bilmar tapi justru yang ia dapat kekesalan saja. Dan lebih parahnya Bilmar menyemburnya mentah-mentah di hadapan Anggia, dan itu membuat Sasa semakin kesal bercampur malu yang tak bisa di ucapkan atau pun di gambarkan lagi.


Sementara Bilmar dan Anggia kini sudah berada di dalam mobil.


"Abang mau apa?" Anggia mendeguk saliva saat Bilmar semakin mendekat padanya, Anggia hanya bisa menutup mata.


"Selesai," tutur Bilmar dan kembali membenarkan duduknya.

__ADS_1


"Eh," Anggia menetralkan diri berusaha kembali tenang, karena ia pikir Bilmar mau apa ternyata Bilmar hanya memasang sabuk pengaman saja.


"Kamu kenapa?" tanya Bilmar melihat keanehan pada sang istri, "Masih kesal sama Sasa?" Bilmar bertanya sambil mulai mengemudikan mobilnya dan keluar dari area rumah sakit.


"Anggi nggak papa," Anggia juga bingung kenapa ia pikir tadi Bilmar akan menciumnya, jadi Anggia menutup mata ternyata Anggia salah Bilmar hanya memasang sabuk pengaman.


"Anggi....." Bilmar beberapa kali memanggil Anggia, namun yang kesekian kalinya baru Anggia menyadarinya.


"Eh," Anggia masih dalam keadaan lingling, ia hanya bisa menggaruk tengkuknya seperti orang bodoh.


"Ck," Bilmar hanya geleng-geleng melihat tinggkah istri Limited editions nya itu, "Sebelum pulang apa ada yang mau di beli? Atau Anggi mau makan apa?" tanya Bilmar yang sibuk menyetir karena jalanan sangat padat, ia sangat mengerti pada sang istri yang sangat suka makan.


"Abang kita jalan-jalan ke pasar yuk, Anggi pengen gitu, Anggi ingat dulu pas sama Ibu setiap paginya ke pasar jadi Anggi juga pengen sekarang," Anggia menutup mata mengenang bertapa indahnya saat dulu ia pergi bersama mendiang sang Ibu menjalani hari-hari dengan bahagia walau pun hidup seadannya.


"Okey kita kepasar ya, tapi ada syaratnya loh," Bilmar menatap Anggia dengan senyuman penuh misteri, hingga Anggi merasa akan ada syarat yang sangat aneh karena ia merasa suasana mendadak horor.


"Apa?" tanya Anggia cepat, "Abang mau syarat udah kaya persugihan aja pakek syarat," seloroh Anggia.


"Bibir kamu aja jadi bayarannya, gampangkan," jawab Bilmar enteng.


"Bibir Anggi cuman ini," Anggia malah mengeluarkan kebodohan dan kepolosannya, hilang sudah kepintarannya bila sudah bersama Bilmar.


"Abang tau cuman itu, dan itu juga punya Abang," Bilmar mencolek dagu Anggia dan menaikan sebelah alisnya.


"Siapa bilang enak aja," kesal Anggia.


"Sampai," Bilmar memarkirkan mobilnya karena kini mereka sampai di pasar.


"Senangnya," Anggia bersemangat ingin turun tapi Bilmar memegang tangan sang istri, dengan tatapan yang terasa menyeramkan.

__ADS_1


"Sebelum turun Abang mau terima bayaran."


__ADS_2