Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 108


__ADS_3

Setelah kepergian Anggia Bilmar juga ikut menyusul, ia tak mau terus bermasalah dengan Anggia.


"Anggi," Bilmar ikut masuk ke kamar dan melihat Anggia sedang duduk di sisi ranjang, "Anggi," Bilmar mendekat dan merapikan rambut Anggia yang berantakan, "Kamu kenapa? Jangan begini ya, kita udah punya anak. Kita harus merawat mereka kan," Bilmar menangkup wajah Anggia dan keduanya saling menatap.


"He'um," kata Anggia langsung memeluk Bilmar.


"Anggi sebenarnya kenapa? Kenapa marah-marah?" tanya Bilmar lagi sesekali ia mengecup pucuk kepala Anggia.


"Anggi........" Anggia melepas pelukannya dan kembali menatap Bilmar, bagaimana cara mengatakannya pada Bilmar ia pun bingung.


"Em.....ya udah, kamu makan apa? Nggak usah inget yang udah-udah.....sekarang semua kita mulai dari awal ya," kata Bilmar meyakinkan Anggia.


Satu minggu kemudian.


Setelah kejadian hari itu Bilmar berusaha mendekati Anggia kembali, perlahan Anggia mulai dekat lagi seperti dulunya. Bilmar juga banyak mencari tahu tentang Anggia pada Veli apalagi perubahan sikap Anggia yang seperti ini, Veli banyak menjelaskan tentang wanita setelah melahirkan seperti apa dan Veli pun meminta Bilmar untuk memperbanyak stok kesabaran, itu pun jika Bilmar memang masih ingin bersama Anggia. Namun setelah Bilmar mengikuti apa yang di katakan Veli bahkan ia punya banyak waktu bersama Anggia. Dan benar saja kini hubungannya dengan sang istri sudah perlahan membaik.


"Abang apasih, Anggi malu tau....di mandiin sama Abang terus," kesal Anggia, sebab kemarin pun begitu juga Bilmar yang membantunya.


"Apanya yang malu Anggi? Udah kayak masih perawan aja, udah di per*wanin juga," jawab Bilmar kesal.


"Abang nggak usah ngomong gitu juga kan," wajah Anggia memerah mendengar perkataan Bilmar, rasanya Anggia tak mau mengingat malam itu sungguh sangat memalukan.


"Ya udah nggak usah bawel, sini Abang batuin," Bilmar memegang lengan Anggia dan membawanya ke kamar mandi.


"Abang mau ngapain?" tanya Anggia mendorong tangan Bilmar, dan menyilangkannya di dada.


"Otak kotor...." Bilmar menjitak kepala Anggia.


"Au," Anggia menggosok kepala dan menatap Bilmar dengan tajam, dan kesal.


"Piamanya di buka, kalau nggak gimana mandinya," kata Bilmar menggeleng-gelengkan kepala menatap keamehan Anggia.


"Hehehehe," Anggia cengengesan saat merutuki kebodohannya, "Lupa," tutur Anggia tersenyum, "Anggi ambil sarung sebentar," kata Anggia hendak keluar dari kamar mandi.


"Apasih.....nggak pakek papa juga nggak ada yang salah," kata Bilmar.


"Kalau Abang nggak mau, Anggi mandi sendiri aja," jawab Anggia kesal, karena ia memang mandi selalu menggunakan kain yang melilit di tubuhnya, ia tak terbiasa mandi dengan dalaman saja.


"Abang aja, Anggi duduk," Bilmar keluar dari kamar mandi dan mengambil sebuah sarung di lemari untuk membalutan sang istri, ia tak mau banyak protes ia lebih memilih menurut saja dari pada melihat Anggia uring-uringan tak jelas.

__ADS_1


Setelah selesai memandikan Anggia, kini Bilmar mengeringkan rambut panjang sang istri. Bagian yang paling di sukai Bilmar adalah memegang rambut panjang itu, Anggia duduk di kursi meja hias sedangkan Bilmar berdiri.


"Abang......Anggi bisa sendiri, berasa kayak bayi deh," gerutu Anggia.


"Kan kamu belum sembuh total, nanti kalau udah sembuh baru kamu yang rawat Abang," jawab Bilmar.


"Kok mengharap balasan?" tanya Anggia menatap wajah Bilmar dari cermin.


"Nggak ada yang gratis Adik sayang," jawab Bilmar memegang dagu Anggia.


"Ehem......" Anggia tetap berusaha tenang mendengar ucapan manis Bilmar.


"Mukanya merah banget," tanya Bilmar.


"Apasih," Anggia mengusap wajahnya, dan tak ingin membahas itu, "Anggi rencana mau potong rambut, ribet soalnya," kata Anggia sambil mengambil sisir di tangan Bilmar, lalu ia mulai mengikat rambutnya karena Bilmar tak pernah benar dalam hal mengikat rambut.


"Siapa yang ijinin?" tanya Bilmar kesal.


"Emang Anggi butuh ijin?" tanya Anggia bingung, dan ia berdiri berhadapan dengan Bilmar yang kini juga menatapnya, "Ribet, banget rambutnya panjang begini, lagian nanti baby twins juga sebentar lagi udah di bawa pulang," Anggia tersenyum membayangkan wajah dua bayi mungilnya.


"Kamu nggak boleh potong rambut, kalau nggak ada ijin," jawab Bilmar dengan tangannya memainkan rambut Anggia yang di kuncir kuda.


"Anggi, harus ijin ke siapa emang?"


"Eh," Anggia binging dan sedikit tersentak dengan ucapan Bilmar dan ia pun tak mengerti, "Bukan gitu, tapi kenapa Anggi nggak boleh potong rambut?" tanya Anggia sambil memeluk lengan Bilmar, biasanya itu cara ampuh untuk membuat emosi sang suami mereda.


"Nggak, Abang nggak ijinin," kata Bilmar dengan tegas.


"Ribet, banget. Anggi juga pengen punya rambut pendek kayak Seli," kata Anggia sambil membayangkan rambut Seli yang pendek.


"Nggak, kecuali kamu mau Abang pergi," kesal Bilmar.


"Iya udah iya..." kata Anggia sedikit kesal.


"Iya apanya?"


"Iya, nggak jadi, asal Abang mau setiap hari ikat terus sisirin rambut Anggi," jawab Anggia santai.


"Iya, gampang asal ada bayaran," kata Bilmar mendekati Anggia.

__ADS_1


"Hey.....mau ngapain," Anggia menjauhkan diri dari Bilmar.


"Dekat kamu lah," kata Bilmar kembali menarik Anggia dan melingkarkan tangan di pinggang wanita itu.


"Abang, jangan begini Anggi belum sembuh bener," Anggia mengingatkan perutnya masih belum sembuh total.


Ya ampun bini gw baru lahiran, hampir khilaf kan gw.


"Anggi," Bilmar menaikan dagu Anggia agar menatapnya, "Kita rawat anak kita sampai tua ya, jangan pernah berpikir untuk pergi dari hidup Abang," jelas Bilmar sambil mengelus pipi sang istri.


Anggia terdiam, bola mata hitam pekat itu seakan berkaca-kaca dan sebentar lagi akan menetes, terharu akan apa yang di katakan sang suami.


"Kita menikah untuk selamanya, bukan hanya sampai bayi kita lahir," jelas Bilmar lagi, " Abang mohon jangan pernah berpikir untuk pergi," Bilmar berjongkok dan memeluk lutut Anggia mengatakan jika ia tak ingin Anggia pergi, "Abang mohon belajar untuk mencitai Abang," tutur Bilmar.


"Tapi Anggi nggak bisa," kata Anggia melepaskan diri dari Bilmar yang memeluknya, dan menuntun Bilmar agar berdiri.


"Kenapa?" tanya Bilmar dengan mata berkaca-kaca, "Apa Abang nggak pantas untuk kamu cintai?" Bilmar tertunduk dan putus asa mendengar jawaban Anggia.


"Maaf, Anggia nggak bisa belajar buat cinta sama Abang."


"Kenapa?"


"Maaf, tapi Anggi udah jatuh cinta sama Abang."


Jawaban Anggia seakan membuat Bilmar tak percaya, bahkan mulutnya sampai menganga, mendengar pernyataan Anggia.


"Sejak kapan?" tanya Bilmar.


"Sejak kapan Anggi juga nggak tau, tapi yang Anggi tau Anggi takut Abang tinggalin, Anggi mohon pertahankan Anggi, Anggi sayang sama Abang," kata Anggi dengan cepat memeluk Bilmar.


"Anggi cinta sama Abang, coba bilang lagi, Abang mau dengar?"


"Anggia sayang sama Abang," kata Anggia.


"Lagi."


"Anggi cinta sama Abang."


Drngan cepat Bilmar mengangkat Anggia keranjang dan membaringkannya, dan melahap habis bibir Anggia.

__ADS_1


"Abang Anggi masih belum bisa," Anggia mendorong tubuh Bilmar agar tak menindihnya, lagi pula Bilmar melupakan untuk tidak menindih bagian perut Anggia.


"Hehehe.....Khilaf yang," Bilmar bangun dan menggaruk kepalanya yang tak gatal merutuki kebodohannya, hampir saja kelepasan.


__ADS_2