Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 46


__ADS_3

Anggia diam saja sambil duduk lesehan di karpet bulu balkon kamarnya, kepalanya ia letakan di atas meja dan tangannya memain-mainkan bunga mawar yang menghiasi meja itu.


Perasaan sedih, kesal dan ingin marah menyatu menjadi satu. Ia hanya diam dan diam dalam lamunannya yang mengingat mendiang orang tua yang telah tiada, kadang air matanya tumpah dan menetes di atas meja itu mengingat canda tawa saat bersama dengan kedua orang tuanya.


Aku ingin menjadi anak kecil lagi, hidup bahagia ceria tanpa ada masalah. Masa kecil yang penuh canda yang di pikirkan hanya bermain dan bermain saja, kalau bisa sebentar saja aku ingin. Rasanya hidup menjadi dewasa terlalu menyakitkan bahkan tanpa pilihan, lagi-lagi aku hanya bisa menerima dan menerima.


"Anggia," terdengar suara Ratih yang menghampiri Anggia, yang tengah sibuk dalam lamunannya.


"Mami," dengan cepat Anggia menghapus jejak air mata sebelum sinta melihat.


"Kamu kok nangis," Ratih memperhatikan mata Anggia yang sembap.


"Nggak kok Mi, lagi kangen Veli aja biasanya kan ada dia."


"O, maaf Mami tadi ngurusin keperluan Papi soalnya Papi harus berangkat keluar kota untuk beberapa hari. Jadi Mami tadi siapin pakaian Papi."


Ratih merasa tidak enak setelah sarapan pagi tadi ia langsung pulang tanpa pamit pada Anggia, sebab Rianda harus segera berangkat keluar kota. Biasanya Ratih juga ikut, tapi kali ini Ratih menolak karena ia kasihan pada Anggia dan Rianda juga memaklumi, Ratih ingin menjaga Anggia sampai sembuh setelah itu baru ia akan kembali seperti dulu yang selalu ikut kemana pun sang suami pergi.


"Nggak papa Mi."


"Gimana bakso bakarnya, enak dong?" tanya Ratih yang ia pikir Bilmar sudah membuatkannya, karena Anggia sudah meminta pagi tadi sementara ini hari sudah siang.


"Em," jawab Anggia mengangguk dengan senyum kecut, bahkan matanya berkaca-kaca.


"Anggia kamu kok mau nangis?" Ratih menyadari mata wanita itu mulai berembun, dan dalam sekejap cairan bening membasahi pipi Anggia.


"Mi," Anggi reflek memeluk Ratih, sambil terisak ia sangat merindukan pelukan ibunya dan juga kesal karena keinginannya belum terpenuhi.


"Kok nangis," tanya Ratih yang memeluk Anggia dengan erat sambil mengelus punggung Anggia.


"Tadi pagi tuan Bilmar bilang satu jam saja setelah ia selesai rapat dia pulang dan bikin baksonya, tapi ini sudah siang, udah lima jam tapi dia belum juga pulang. Hiks hiks hiks," tangis Anggia benar-benar pecah rasa lapar sudah tidak bisa lagi ia tahan, sejak pagi ia belum makan apa-apa.


"Berarti dari pagi kamu belum makan apa-apa?" tanya Ratih dengan kesal dan menatap Anggia, yang menangis dan menggelengkan kepalanya.


"Mi, Anggia cari kos aja ya, biar sekalian Anggia ngurus cafe lagi biar nggak ngerepotin terus di sini," kata Anggia yang justru benci bila melihat wajah Bilmar, ia ingin pergi dan tidak usah lagi bertemu dengan Bilmar.


"Nggak, kamu tetap disini sama Mami," Ratih kembali memeluk Anggia, namun ia juga kesal pada Bilmar.


"Nggak papa Mi, lagian Anggia di sini cuman nyusahin ajah," kata Anggia lagi.

__ADS_1


"Kamu tunggu di sini, dan kamu harus tinggal di sini sama Mami."


Ratih keluar dari kamar Anggia dan berjalan menuju kamarnya bila ia menginap di rumah Bilmar, ya letaknya bersebelahan dengan kamar Anggia. Ratih mengambil ponsel dan menghubungi Bilmar dengan rasa kesal, berkali-kali Ratih menghubungi Bilmar hingga panggilan yang kesepuluh kali akhirnya Bilmar menjawab panggilannya.


"Mi, bentar Bilmar lagi meeiting," kata Bilmar yang memang sedang memimpin rapat.


"Kamu pulang sekarang, Anggia nunggu dari tadi pagi boksonya tapi kamu malah bilang tunggu satu jam lagi. Dan ini sudah lewat dari satu jam pun kamu juga belum pulang." Ratih marah tanpa perduli ucapan Bilmar.


"Mi, Bilmar lagi ada rapat mendadak dan sangat penting."


"Oh, cari uang sana kamu makan sendiri uangnya biar kamu kenyang, Anggia minta balik kerumah Brian dia mau rujuk sama Brian, sekarang Brian udah berubah udah mau terima bayinya. Kamu cari uang saja ya!"


BIIP.


Ratih mematikan sambungan poselnya sepihak, perasan sekal pada Bilmar membuatnya ingin kembali menelah tubuh anak kesayangannya itu.


"Anak nggak pekak, bodohnya pakek banget. Kebanyakan minum susu formula kayaknya dulu harusnya aku kasih aja minuman bersoda dari bayi, mana tau otaknya lebih encer."


Tiga puluh menit kemudia.


"Mi," terdengar suara Bilmar yang baru saja masuk dan berdiri di hadapan Ratih.


"Mami," kesal Bilmar mengulangi ucapannya.


"Apa?"


"Mami ngomong apa tadi?"


"Emang Mami ngomong apa?"


"Anggia nggak pergi kan Mi?"


"Memangnya kenapa, toh kamu juga ngga perduli sama dia," jawab Ratih dengan entengnya.


"Siapa bingang?" kesal Bilmar.


Ratih berdiri dan melepar majalah yang ia pegang pada dada Bilmar. Ratih yang lebih rendah dari sang anak mulai mendongkak dan menatap tajam Bilmar, di tambah lagi Ratih berkacak pinggang.


"Mami kan tadi!" jawab Bilmar.

__ADS_1


"Kamu tau nggak Bil, Anggia minta kamu bikinin makanan karena kamu Ayah dari anaknya. Tapi kamu malah abai dengan keinginannya, nanti-nanti itu jawaban mu tadi, satu jam lagi, sampai sekarang juga nggak ada. Kamu mau nggak nurutin. Anggia udah nggak mau lagi tinggal di sini, dia kesal sama kamu!" teriak Ratih.


"Mi, Bilmar ada urusan penting."


"Mana lebih penting urusan kamu atau anak kamu?"


"Mi, Bilmar mau cuti satu minggu selama Veli pergi Bilmar mau temani Anggia, tapi Bilmar harus beresin pekerjaan Bilmar dulu."


Bilmar memang ingin mengambil hati Anggia, dan baginya ini adalah kesempatan yang bagus. saat Veli tidak ada dan Bilmar tidam mau Anggia pergi dari rumahnya. Bilmar ingin meyakinkan Anggia bahwa tidak semua laki-laki seperti Brian yang brengsek itu.


"Kamu mau cuti?" Ratih luluh mendengar jawaban Bilmar.


"Iya, Nyonyah." Kesal Bilmar.


Bilmar meninggalkan Ratih yang masih bengong, ia ingin minta maaf pada Anggia dan ia tidak akan mengulagi lagi.


"Anggia," Bilmar melangkah masuk dan melihat Anggia masih duduk termenung, lesehan.


"Ya tuan," jawab Anggia tanpa melihat Bilmar.


HUUFP.


Bilmar menari nafas panjang dan berjalan mendekati Anggia, pantatnya mendarat juga di karpet bulu. Bersampingan dengan Anggia.


"Maaf ya," kata Bilmar penuh penyesalan.


"Buat apa tuan?" tanya Anggia.


"Buat baksonya!"


"Em, nggak papa." jawab Anggia, mau marah gimana dia nya orang lain, nggak marah rasanya kesal karena kepengen. Hal hasil Anggia kembali lagi seperti dulu menyimpan perasaan apa yang ia rasakan.


"Anggia, saya nggak tau kalau kamu mintanya harus saya buat saat itu juga, saya janji saya nggak akan ulangi lagi. Sekarang saya ngerti. Kita bikin sama-sama atau kamu tunggu di sini dan saya yang bikin?" tanya Bilmar berharap Anggia mau memaafkannya.


"Saya udah kenyang tuan!" bohong Anggia.


"Jangan bohong, muka kamu aja pucat begitu. Pasti kamu belum makan apa-apa, saya minta maaf sumpah nggak ngulangin lagi." kata Bilmar menarik kedua telinganya di hadapan Anggia.


***

__ADS_1


Entah kemana readers yang biasa suka kasih VOTE. Buat readers murah hati kasih VOTE ya biar saya semangat, makasih buat yang udah kasih hadiah juga.😁 Saya up lagi kalu kalian VOTE kalau nggak kita jumpa besok hati ya😍.


__ADS_2