Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 160


__ADS_3

Veli masih saja menangis mengingat perkataan Aran barusan, tapi Aran terus mencoba meminta maaf. Sebab ia bertanya hanya karena mengingat perjanjian mereka berdua waktu itu saja, dan ia pun sebenarnya tak ingin berpisah.


"Maaf ya Khumaira sayang, kalau pertanyaan Mas tadi bikin kamu tersinggung. Tapi Mas nggak ada niatan buat pisah sama kamu, beneran......." jelas Aran lagi mengelus pundak Veli.


Veli hanya diam saja, ia hanya memeluk Aran tanpa menjawab apa yang Aran katakan.


"Sayang kamu hamilnya udah berapa minggu? Terus, kapan kita ke dokter?" tanya Aran dengan bahagia.


"Mungkin tiga minggu Mas, Veli juga belum ke rumah sakit buat minta Anggia periksa Veli," jawab Veli.


"Yaudah kita ke rumah Mami yuk, kita kasih tau kabar ini. Besok kita kerumah Mama juga. Sambil nginep di sana," pinta Aran, "Tapi kalau nginep di rumah Mama kamu tidurnya harus sama Mas," terang Aran sebab ia ingat saat itu Veli tak tidur dengannya.


"Mas Veli pengen punya rumah, Veli malas tinggal di apartement," pinta Veli pada Aran penuh harap.


"Iya nanti kita cari rumah baru, kalau kamu malas tinggal di sini. Kamu juga harus punya Art yang selalu ada selama 24 jam. Mas nggak mau kamu capek, biar ada yang bantuin kamu beres-beres juga dan kamu kalau capek nggak usah masak," terang Aran sambil menyisir rambut sang istri.


"Janji ya Mas."


"Iya."


"Veli beneran pengen tinggal di rumah sendiri."


"Iya, kita ke rumah Mami yuk."


*


Kediaman Rianda.


"Assalamualaikum," ucap Aran dan Veli bersamaan.

__ADS_1


"Walaikum salam," jawab Bilmar yang ternyata juga berada di rumah Ratih.


"Ngapain lu di sini?" tanya Aran, sementara Veli langsung masuk untuk mencari Ratih dan Anggia. Ia tak mau mendengarkan pembicaraan dua orang lelaki itu, yang selalu bercanda tanpa perduli ada orang lain di sana juga.


"Lu yang ngapain ke sini?" Bilmar bukan menjawab pertanyaan Aran tapi ia malah balik bertanya.


"Gw kesini buat ketemu, Mami sama Papi lah. Nggak mungkin kan gw mau ketemu elu!" kesal Aran, kedua pria itu masih berdebat tak jelas di ruang tamu.


"Sombong banget lu!" Bilmar menatap kesal Aran.


"Iya dong, kan gw bentar lagi jadi Papa buat anak gw."


"Jadi Papa?" tanya Bilmar bingung.


"Iya, bini gw dah bunting bro. Bentar lagi gw juga sama seperti lu rumah bakalan rame," terang Aran.


"Gw lupa bro, yang inget gw jebol gawangnnya waktu itu di lantai. Karena ranjang dah terlanjur ambruk, jadi nanggungkan ujungnya udah masuk, kalau harus beli ranjang dulu kasiahlah sobat gw," jawab Aran yang tak kalah gila dari Bilmar.


"Ahahahahaaaaaa," keduanya tertawa lepas padahal omongan mereka tak ada yang benar, namun kebahagian tetaplah kebahagiaan tak bisa di tutupi.


"Mantap, gw pikir setelah nikah kalian cuman bisanya perang seperti dulu. Gw shock nih......taunya kalian bisa juga romantis-romantisan sampek jadi hasilnya," ungkap Bilmar yang dulu tak pernah membayangkan Aran dan Veli bisa bersama dalam ikatan pernikahan, namun ternyata ia salah. Veli dan Aran kini justru bertahan dalam rumah tangganya, sampai kini dengan Veli tengah mengadung anak Aran.


"Lu salah, kami sekarang masih tetap perang. Cuman setrateginya di ubah. Soalnya sekarang kami perangnya di atas ranjang," ucap Aran yang membuat Bilmar semakin penasaran saja.


"Omong-omong, gimana bisa lu tahlukin macan jadi kucing nurut begitu?" Bilmar benar-benar penasaran, namun saat ia bertanya tanpa ia sadari Veli tengah berdiri di belakangnya.


"Dia itu bukan macan," Aran tau Veli berada di belakang Bilmar, jadi ia tak mau melanjutkan cerita itu sebab takut nanti sebelum tidur tak dapat jatah, "Dia itu istri soleha ku sayang," Aran terus memuji Veli namun ia seolah tak menyadari Veli juga, agar Veli nanti luluh dan ia akan dapat keinginannya.


"Istri soleha ku sayang?" tanya Bilmar bingung, "Bukannya dia itu macan, gimana bisa lu tidur sama macan? Sampek bunting lagi, dulu aja kalian ribut teruskan aneh kalau sekarang dia bisa bunting. Makanya aku nanya, gimana caranya kamu bisa jinakin macan?" Bilmar masih tak mendapat jawaban yang jelas dari Aran. Dan itu membuat jiwa keponya meronta-ronta, dan yang anehnya lagi Aran yang biasanya berbicara asal kini mendadak terus memuji Veli. Bilmar sedikit bingung dan curiga mungkin Veli ada di sekitar mereka, mata Bilmar mulai mengedarkan pandangannya dan benar saja ternyata selain mereka berdua ada macan yang ia maksud juga.

__ADS_1


"Mas Bilmar bilang apa barusan?" Veli menatap Bilmar dengan tajam, bahkan ia berkacak pinggang di hadapan Bilmar, "Saya macan?" tanya Veli mengulangi perkataan Bilmar barusan.


"Mampus lu, gw aja sekarang nggak berani berurusan sama wanita satu itu. Takut jatah gw di pending sampe minggu depan, dari pada jatah di pending mending gw diem dan nurut," bisik Aran di telinga Bilmar.


"Bukan, maksut saya......" Bilmar menggaruk kepala karena tak tau harus beralasan apa.


"Maksud anda?" tanya Veli.


"Selamat berjuang bro, gw doa in lu selamat," kata Aran lalu ia berniat melangkah pergi meninggalkan Bilmar yang akan mendapat pukulan dari istrinya, namun langkah Aran terhenti karena Bilmar memegang kedua lengan bagian atasnya. Lalu Bilmar menjadikan Aran untuk melindungi diri.


"Heh......gila, lu ngapain? Jangan bilang lu sekarang seleranya pisang. Enakan kacang bego!" tegas Aran.


"Brisik!" kesal Bilmar yang masih berusaha bersembunyi.


"Mas Bilmar bilang saya apa tadi? Macan. Mas Bilmar udah tau rasanya di pukul sama macan?" tanya Veli kesal sambil memegang raket nyamuk di tangannya.


"Sayang, istri soleha ku. Nanti kalau raketnya kenak ke Mas gimana?" tanya Aran panik. Sebab Veli mulai mencari cela untuk membuat Bilmar terkena raket di tangannya, sementara Bilmar menjadikan dirinya sebagai tempat untuk melindungi diri.


"Mas pindah, biar Veli buat Mas Bilmar bernasip sama seperti nyamuk-nyamuk yang kesetrum itu," kesal Veli.


"Sayang ku, tapi ini kemumgkinan besar Mas yang malah kena," kata Aran dengan ketakutan.


"Nggak Mas tenang aja, makanya Mas minggir," kesal Veli karena Aran tak berpidah dari sana, bukan tak mau tapi Bilmar memang menahanya.


"Ish......" Veli kesal dan dengan cepat ia mengarahkan raket nyamuk tersebut pada Bilmar, namun naas yang terkena malah Aran, bahkan di bagian utamanya.


***


Jangan lupa, LIKE dan VOTE. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2