Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 72


__ADS_3

Kini Anggia dan Bilmar sudah sampai di cafe milik Anggia, cukup lama Anggia tak pernah melihatnya. Bahkan sudah beberapa bulan lamanya rasanya Anggia melihat banyak perbedaan yang terlihat jelas, cafe itu sekarang jauh lebih besar dan bangunannya pun seperti baru di bangun. Bahkan Anggia ragu apakah itu cafe miliknya atau bukan.


"Kicot diem aja, napa?" tanya Bilmar.


"Abang ini," Anggia menatap Bilmar penuh tanya, "Ini masih cafe punya Anggi?" tanya Anggia.


"Iya, masuk yuk," Bilmar merangkul pundak Anggia dan keduanya berjalan masuk beriringan dengan Anggia memandang penuh tanya.


"Abang ini cafenya Anggia kan sewa ruko, apa rukonya baru di renopasi sama yang punya?"


"Abang udah beli ruko ini dan Abang bangun yang baru," jawab Bilmar.


"Berarti ini bukan cafe Anggi lagi dong?" Anggia berhenti melangkah begitu juga dengan Bilmar.


"Ini cafe kamu, kan Abang belinya buat Anggi," Jawab Bilmar dengan tangan memegang lengan bagian atas Anggia.


"Buat Anggi?" Anggia masih bingung.


"Iya."


"Ck, Abang nggak usah bercada, nggak lucu," jawab Anggia lalu berjalan melihat-lihat dekor gedung itu.


"Kicot betina, saya serius," Bilmar mendekati Anggia yang sedang melihat pajangan-pajanga yang di tata sangat rapi di beberapa sudut.


"Waw," Anggia berjinjit dan menarik pipi Bilmar, "Gemes-gemes, cafenya keren," tutur Anggia.


"Anggi sakit," Bilmar berusaha melepas kedua tangan Anggia yang mencubit pipinya, tapi naas malah Anggia terpeleset.


"Aaaa," teriak Anggia, dengan cepat Bilmar memegang pinggang Anggia dan dengan reflek Anggia memeluk leher Bilmar, hingga Bilmar condong ke samping bersama Anggia yang setengah badan hampir terjatuh, lama keduanya terdiam hingga tanpa sadar Bilmar mengecup bibir Anggia.


CUP.


"Abang...." Teriak Anggia, dan membuatnya sadar atas apa yang baru saja ia lakukan, dengan cepat Bilmar menarik tubuh Anggia agar berdiri.


Ya ampun belom sah Bil, tolong hati mohon di kondisikan.


"Maaf, tadi saya hampir terjatuh dan tiba-tiba itu terjadi," elak Bilmar.


"Apanya? Emang ada orang hampir jatuh yang jatuh bibir nya aja," kesal Anggia.


"Ada!"

__ADS_1


"Mana?" Anggi berkacak pinggang dan setengah berteriak di wajah Bilmar.


"Tadi buktinya," kata Bilmar dengan perasaan tak karuan, karena sang dokter cantik memakai kemeja merah yang terlihat menggoda di mata Bilmar.


"Ck," Anggia kesal dan mengibaskan tangan di wajah Bilmar.


"Kicot nggak usah marah-marah kalau kurang bilang, biar Abang kasih lagi," Bilmar menarik Anggia, hingga Anggia terkejut dalam pelukan Bilmar.


"Mau apa," tanya Anggia mendongkak, sementara Bilmar menunduk.


"Mau nambahin, biar nggak kurang jadi kamu nggak marah-marah," seloroh Bilmar.


Wajah Anggia kembali memerah dan ia rasa ingin pingsan saja saat ini, entah mengapa perasaan tidak karuan itu kembali hadir padanya.


"Ish," Anggia melepaskan diri dari Bilmar dengan berasaan kesal dan canggung namun ia tetap menutupi dengan pura-pura tenang.


"Udah nggak usah marah-marah, Adik manis duduk di sini," Bilmar menarik kursi untuk Anggia duduk dan ia berniat pergi.


"Abang mau kemana," Dengan cepat Anggia memegang lengan Bilmar.


"Sabar sayang belom sah," Bilmar menatap tangan Anggia yang memegang erat pergelangan tangannya.


"Ish," dengan cepat Anggia melepaskan tangan Bilmar, sebab berbicara dengan Bilmar hanya bisa membuatnya kesal dan menahan malu.


Anggia menggeleng dengan cepat, sebab Bilmar berbicara sambil menaikturunkan sebelah alis matanya, mungkin saja otak Bilmar saat ini sedang berpikir hal jorok.


"Apasih, sana!" ketus Anggia, Bilmar pergi sambil terkekeh melihat wajah galak Anggia yang seakan kini kembali menjadi hiburan baginya.


Setelah kepergian Bilmar tiba-tiba Anggia di kejutkan dengan kedatangan Putri, orang kepercayaan Anggia yang mengelola Cafenya.


"Mbak Anggi," teriak Putri.


"Putri!" kata Anggia dan keduanya berpelukan ala-ala wanita yang lama tak pernah bertemu.


"Mbak Anggia lagi hamil?" tanya Putri bingung sebab ia tak pernah tahu Anggia pernah menikah atau pun sudah bercerai.


"Iya," jawab Anggia bingung kalau Putri bertanya lebih dalam lagi Anggia benar-benar tak punya jawaban.


"Ini ada bunga buat Mbak," Putri memberikan seikat bunga mawar putih pada Anggia.


"Bunga?" tanya Anggia bingung namun ia tetap menerimanya.

__ADS_1


"Saya kerja dulu," Putri pergi begitu saja tanpa peduli Anggia yang memanggil.


"Mbak Anggia ya?" tanya seorang pelayan yang sepertinya pelayan baru hingga Anggia tak mengenali.


"Iya," jawab Anggia bingung sebab lagi-lagi pria itu memberi mawar, tapi berwarna merah.


Anggia sudah tidak mampu lagi memegang bunga sebab banyak sekali yang memberinya bunga. Anggia di buat semakin bingung hingga tiba-tiba Bilmar mendotong kue ulang tahun berwarna pink ke dekat Anggia.


"Selamat hari menetas Kicot, semoga makin tua makin banyak mencari pahala sebab malaikat maut semakin dekat dengan berkurangnya usia," tutur Bilmar.


Anggia diam dan ia baru ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya, Anggia terharu dan menghambur memeluk Bilmar, selama hidup tidak ada yang memberiknya kejutan selain kedua orang tuanya. Dan Bilmar adalah orang pertama yang memberikan kejutan yang membuat Anggia terharu pilu sebab ia wajah sang mendiang orang tuanya, tiba-tiba membayanginya.


"Makasih Abang," tutur Bilmar.


"Sama-sama sayang," jawab Bilmar.


"Apasih," Anggia dengan cepat melepaskan diri dari Bilmar, kadang ia terlalu senang hingga ia dengan cepat menghambur memeluk Bilmar, namun kadang ia kesal Bilmar memanggilnya sayang, sebab itu hanya membuat hati Anggia terporak poranda, karena merasa gelagat aneh dan perasaan yang tak menentu.


"Ayo potong kuenya," Bilmar memberikan pisau pada Anggia.


"Iya."


"Berdoa dulu Kicot," kata Bilmar.


"Ya Tuhan aku ingin bahagia," teriak Anggia dan tangannya memotong kue, dan meletakannya pada piring, Anggia merasa berterimakasih hingga ia menyuapi Bilmar potongan kue itu.


Bilmar diam tanpa membuka mulut, padahal Anggia sudah menyuapinya, mata keduanya bertemu entah apa yang tengah mereka pikirkan.


"Ehem-ehem," kata karyawan yang menyaksikan mereka yang saling pandang Bilmar dan Anggia tersadar.


"Abang buka mulutnya," kata Anggia dengan pelan dan malu.


"Setelah saya buka mulut kamu juga harus buka hati untuk saya," kata Bilmar sambil memakan kue yang di suapi Anggia.


DEEG.


Anggia meletakan piring yang ia pegang di meja, semua karyawan mengucap selamat padanya, dan juga para karyawan baru memperkenalkan diri. Setelah itu Anggia langsung berpamitan pulang tanpa mengajak Bilmar.


"Mau kemana?" tanya Bilmar saat melihat Anggia hendak pergi.


"Pulang," jawab Anggia cepat.

__ADS_1


"Ayo," Bilmar membuka pintu mobil dan Anggia masuk.


Anggia hanya diam bahkan bila Bilmar bertanya ia hanya menjawab sekedarnya saja, Anggia ingin berteriak dan berlari dengan perasan yang tak bisa ia jelaskan. Setiap perkataan Bilmar seakan hanya membuat sesuatu yang tak jelas seperti apa atau pun ada apa dengan hatinya.


__ADS_2