
Setelah Bilmar memastikan Brian mendekam di balik jerujibesi kini ia memutuskan untuk pulang dan membersihkan tubuhnya setelah itu ia akan pergi lagi kerumah sakit melihat keadaan Anggia.
Dan saat ini Bilmar sudah mandi dan memakai pakaian bersihnya, seperti biasanya bila tidak jam kerja ia akan memakai kaos oblong dan jaket saja dipadu dengan celana jeans kesayangannya.
"Bil," kata Ratih yang juga sedang melintas di sana.
"Ya Mi," Bilmar menatap Ratih yang kini berdiri di hadapannya.
"Kamu baru pulang, kenapa pergi lagi," tanya Ratih tidak biasanya Bilmar begitu.
"Bilmar mau ke rumah sakit Mi," jujur Bilmar.
"Rumah sakit?" Ratih terlihat melongo dan juga sedikit takut kalau-kalau Bilmar yang sedang sakit.
"Iya Mi."
"Kamu sakit Bil."
Ratih dengan hebohnya mulai memegang dahi Bilmar, dengan susah payah Ratih berusaha bisa memegang dahi Bilmar, tubuhnya yang kecil itu bahkan sampai menjinjit agar menjangkau dahi sang anak.
"Mami apa sih," Bilmar menyingkirkan tangan Ratih yang memegang dahinya.
"Kamu nggak panas Bil, wajah kamu juga nggak pucat, Mami dokter loh Bil. Walau pun Mami udah lama berhenti bekerja tapi Mami masih bisa periksa kamu, sebentar ya tunggu di sini Mami ambil....."
Sebelum Ratih menyelesaikan ucapannya Bilmar sudah pergi meninggalkan sang Mami yang terus berbicara tanpa hentinya.
"Bilmar."
Sinta mengejar Bilmar yang sudah membuka pintu mobilnya dan akan segera masuk. Namun karena sang Mami masih memanggilnya sejenak Bilmar mengurungkan niatnya, ia memang sedang buru-buru namun mau bagaimana pun Ratih adalah wanita yang sudah melahirkannya dan membesarkannya, jadi Bilmar akan selalu menghargai Ratih.
"Apa lagi Mi?" tanya Bilmar sambil menutup kembali pintu mobilnya.
"Kamu mau kemana?" Ratih berjalan mendekat pada Bilmar.
"Ke rumah sakit Mi, Anggia di rawat di rumah sakit."
Ratih masih diam dan mencerna ucapan Bilmar, seperti biasanya Ratih yang tergolong lambat dalam berpikir tapi seorang dokter dan Bilmar tidak mau menunggu lama, ia mulai masuk kedalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya.
TOK TOK TOK.
Ratih malah menggedor kaca mobil Bilmar, mungkin saja otaknya sudah meresapi ucapan Bilmar.
__ADS_1
"Apa Mi?"
"Mami ikut."
Ratih masuk kedalam rumah mengambil tas tangan dan ponsel, setelah itu ia dengan cepat kembali keluar dan masuk kedalam mobil sang anak kesayangannya itu.
"Bil, Anggia sakit apa?"
Ratih yang duduk di samping Bilmar mulai bertanya, jujur saja Ratih sangat penasaran namun dari tadi Bilmar hanya fokus mengemudi tanpa bercerita apa-apa perihal Anggia yang di rawat di rumah sakit.
"Anggia hamil Mi," kata Bilmar, seperti biasanya Bilmar tidak akan menyimpan rahasia pada malaikat tanpa sayapnya itu.
"Mami kok sedih ya Bil, dengar Anggia hamil."
"Kenapa bisa Mami sedih?" tanya Bilmar sekilas melirik Ratih yang duduk di sampingnnya.
"Mami berharap Anggia jadi mantu Mami, tapi kalau dia sudah hamil dengan suaminya itu tidak akan mungkin lagi kan Bil.Tapi tidak apa itu berarti Anggia dan Suaminya sudah bahagia Mami seneng dengernya Bil."
Walau pun Ratih kecewa namun ia juga bahagia bila Anggia bahagia, Ratih sangat menyayangi Anggia, menurut Ratih mau Anggia dengan siapapun asalkan ia bahagia tidak mengapa.
"Anggia hamil anak Bilmar Mi."
"A-anak kamu Bil? Coba-Co-coba ulangi Bil apa telinga Mami yang sudah rusak?"
"Ya Mi, Anggia hamil anak Bilmar." Bilmar kembali mengulangi perkataannya barusan, agar Sinta lebih jelas mendengarnya.
"Bil, Anggia punya suami kan?"
"Iya Mi."
"Kamu yakin itu anak kamu?"
"Iya Mi, Bilmar yakin."
"Bilmar Mami nggak ngerti, kenapa bisa-bisanya kamu hamilin istri orang."
Ratih mulai menatap Bilmar yang masih fokus mengemudi menuju rumah sakit.
"Khilaf Mi."
Terlihat ada penyesalan di wajah Bilmar, namun nasi sudah menjadi bubur, dan semua sudah terlanjur. Kalau pun semua tidak bisa di ubah paling tidak masih bisa di perbaiki agar bisa menjadi lebih baik lagi.
__ADS_1
"Bilmar.....terus gimana dengan suami Anggia, apa dia tahu, Anggia hamil anak kamu."
"Tahu Mi, dan Brian udah coba gugurin janin itu Mi."
"Ya ampun Bil, Mami tau kamu salah. Tapikan janin yang di kandung Anggia tidak salah. Itu anugrah Tuhan untuk di jaga, kalau pun Brian nggak mau ngurus baby itu Mami mau Bil, asal jangan bunuh dia. Sudah cukup dosa saat kamu melakukan zina Bil jangan lagi menghilangkan nyawa janin yang tidak berdosa."
Ratih menitihkan air matanya, mengingat bertapa bejatnya sang anak. Dengan menghamili istri orang lain.
"Mami nangis?"
Bilmar memarkirkan mobilnya saat mereka sudah sampai di rumah sakit, lalu melihat Ratih tengah tertunduk sambil meneteskan air mata.
"Bil, Mami malu sama diri Mami yang gagal mendidik kamu, rasanya hati Mami sakit Bil, kamu bebas bermain wanita Bil tapi tidak dengan istri orang, bahkan sampai hamil."
Ratih terus saja menangis sesekali tangannya menghapus kasar jejak air mata yang terus mengalir di pipinya.
"Mi, Bilmar minta maaf."
Bilmar memeluk Ratih yang masih sesegukan berusaha menenangkan Ratih, melihat sang Mami yang menangis karena ulahnya Bilmar merasa bersalah karena tidak bisa membuat Maminya bangga namun ia hanya memberi kesedihan saja.
"Mi maaf, Bimar beneran khilap."
Bilmar mulai menjauhkan Ratih dari pelukannya dan memegang erat dua tangan yang terlihat terkepal, Bilmar hanya bisa meminta maaf dan mencium tangan Ratih. Saat ini ia benar-benar menyesal tanpa ia sadari ternyata ia menyakiti hati wanita yang sudah melahirkannya dengan antara hidup dan mati.
"Terus gimana bisa Anggia di sini Bil."
"Brian mencoba mengugurkan kandungan Anggia Mi, terus pas Bilmar pulang dari rumah Vano, tanpa sengaja Anggia lari kejalanan saat Bilmar melintas Mi."
"Ya ampun Bil, tega sekali Brian, itu cucu Mami darah daging kamu, kalau memang Brian nggak bisa terima anak itu. Mami mau Bil yang penting Anggia tidak ikut membunuhnya, jangan di bunuh Bil dosa."
"Mami tenang, anak Bilmar baik-baik saja dan sekarang Anggia sedang di rawat di dalam, ayo Mami lihat juga keadaan Anggia."
"Iya Bil ayo."
Ratih dan Bilmar bergegas turun, keduannya mulai berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit, hingga akhirnya keduanya berdiri di depan daun pintu kamar super VVIP di mana itu adalah ruang rawat inap Anggia.
Dengan perasaan gundah Bilmar mulai memegang gagang pintun, dengan perlahan pintu terbuka. Tampak lah Anggia duduk sambil memeluk lututnya, Anggia hanya diam dengan pandangan yang kosong.
Perlahan Ratih mulai melangkah masuk, Ratih bingung dan bertanya-tanya melihat Anggia yang biasanya ramah kini terlihat diam saja.
"Anggia," Ratih yang sudah berdiri di sisi ranjang mulai memanggil dan tangannya melambai-lambai di depan mata Anggia. Namun tidak ada respon sedikit pun dari Anggia.
__ADS_1
****
Author up dua bab kalau readers yang sangat murah hati Vote, makasih😍👐.