
"Abang juga kenapa tadi mau di peluk?" tanya Anggia kesal, "Mau nasip Abang seperti bolol ini," Anggia menjatuhkan satu botol air mineral di lantai, kemudian ia memecakan bolol itu dengan memijaknya. Seketika bolot itu hancur.
"Anggi, Abang nggak mau yang," Bilmar bergidik ngeri melihat Anggia yang ternyata bisa menjadi seperti ini.
"Anggia udah biasa merobek perut orang di meja operasi, Anggi tau cara nenggunakan pisau, Abang mau coba?"
"Nggak yang ampun."
"Ayo pulang," Anggia menarik lengan Bilmar dan mereka keluar begitu saja dari Minimarket tersebut, tanpa membawa atau pun membayar apa pun.
"Sayang," Bilmar mengikuti Anggia hingga kini mereka masuk ke mobil, bahkan bembawa kedua bayinya.
*
RUMAH.
Sampai di rumah Anggia langsung masuk ke kamar, ia lansung mandi hingga kini ia hanya menggunakan handuk saja.
"Cuit....cuit....." Bilmar bersiul melihat sang istri dengan setengah dadanya menyembul ke luar.
"Apa!" kata Anggia setengah berteriak.
"Ish......wangi banget kicot Abang, wangi begini enaknya di kelonin," kata Bilmar dengan cepat memeluk Anggia.
"Ish......lepas," kata Anggia sambil berusaha melepaskan diri.
"Ok........" Bilmar langsung melepaskan Anggia, tapi bukan Anggia saja yang di lepas. Tapi handuknya juga ikut di lepas Bilmar.
"Abang........" kesal Anggia sambil menutup tubuhnya dengan tangan.
"Waw, kicot Abang sexy banget," kata Bilmar sambil berusaha mendekati Anggia, dengan cepat tangan Anggia menarik selimut dan menggulungkan di tubuhnya.
"Abang mau ngapain?" tanya Anggia sebab Bilmar semakin mendekat, "Mundur," pinta Anggia.
"Enak aja," Bilmar menarik Anggia dan Anggia tehuyung ke depan, dada Anggia membentur dada bidang Bilmar.
"Abang sakit......." kata Anggia merengek kesakitan.
"Mananya yang sakit, biar Abang pijiting," kata Bilmar menggoda Anggia.
__ADS_1
"Ish.....Abang lepasin, Anggi mau siap-siap. Anggi mau ikut Abang ke kantor," terang Anggia.
Bilmar tersenyum samar namun ia berpura-pura tidak tau, "Tumben kamu mau ikut Abang ke kantor?" tanya Bilmar tanpa melepas Anggia.
"O......jadi Abang nggak suka Anggi ikut, terus Abang mau berduaan dengan pelakor tadi?" tanya Anggia kesal.
"Ck, Anggi sayang, kicot kesayangan. Masalah Fika barusan nggak usah di ingat-ingat lah," kata Bilmar sebab ia sudah meminta Aran untuk membereskan Fika agar tak mengganggunya lagi, Bilmar yakin tangan kanan Aran sudah menemui Fika dan membuat Fika tak akan berani melakukan apa-apa.
"Kenapa? Tadi dia bilang kalian masih pacaran juga kan?" tanya Anggia lagi yang masih kesal dengan apa yang tadi terjadi.
"Orang nggak waras di dengerin, kamu tau kenapa Abang nikahin kamu bukan yang lain?" tanya Bilmar dengan memegang dagu Anggia.
"Karena Abang terpaksa nikah sama Anggia!" tebak Anggia.
"Suut," telunjuk Bilmar kini di bibir Anggia, agar diam dan mendengarkannya, "Bukan karena terpaksa, tapi karena kamu wanita yang buat Abang betah di sini. Dan karena ketemu kamu Abang nggak balik lagi LA buat ngurusi perusahaan di sana, kamu wanita satu-satunya yang bisa buat hati Abang bergetar tak karuan. Tidak seperti wanita lain yang mengoda Abang dengan tubuh sexy mereka, cuman kamu sayang nggak ada yang lain, jadi jangan dengarkan perkataan orang gila seperti tadi. Dia bicara begitu hanya untuk membuat kita bertengkar dan saat kita bertengkar dia akan tertawa, lalu masuk di antara kita memanpaatkan keadaan kita," jelas Bilmar ia mengecup kening Anggia dan memeluknya dengan erat.
"Beneran Abang sayang sama Anggi?" tanya Anggia dengan mata yang berkaca-kaca.
Bilmar tersenyum dan menyatukan dahinya dan dahi Anggia, "Nggak ada yang lain bidadari ku sayang, kita tempuh hidup ini sama-sama. Kita jalani semua sampai menua berdua, kita jaga cinta kita sampai maut memisahkan kita dan kita selalu berdoa. Semoga kita bertemu kembali di syurga," ucap Bilmar kembali meyakinkan Anggia.
Anggia dengan cepat memeluk Bilmar, "Janji ya, Abang selalu setia sama Anggi?" tanya Anggia lagi.
"Janji sayang," jawab Bilmar, "Tapi kamu jangan percaya sama bicara tak jelas seperti tadi ya, semakin kita berusaha untuk bahagia bersama semakin besar pula cobaan di antara kita. Jadi kita harus saling percaya agar tidak ada yang bisa membuat kita terpisah," tambah Bilmar lagi.
"Ye.......otak fiktor," Bilmar terkekeh melihat wajah Anggia.
PELTAK.
Bilmar menyentil Anggia.
"Auuuuu," Anggia menggosok jidadnya, "Abang sakit....." kesal Anggia.
"Otak kamu nggak bener, pakai pakaian sana. Biar ikut ke kantor, ngapain kamu pakek selimut doang begini? Mau goda Abang?" kata Bilmar yang kini mengerjai Anggia.
"Ha....." Anggia malah melongo mendengar apa yang di katakan Bilmar, "Tadi yang narik handuk Anggi siapa?"
"Nggak tau," jawab Bilmar enteng.
"Abang.........." teriak Anggia.
__ADS_1
"Ahahahahahaaaaaa," Bilmar malah tertawa lebar, lama sekali mereka tak bertengkar seperti ini. Dulu saat Anggia hamil keduanya sering kali terlibat pertengkaran kecil, dan kini Bilmar merindukan itu bertengkar dan tertawa dalam waktu bersamaan.
"Gila!" kesal Anggia.
"Abang kan memang gila, tapi pakek ter. Ter gila-gila sama Anggi kicot nya Abang," Bilmar semakin bersemangat menggoda Anggia, bahkan Bilmar benarik hidung mancung Anggia dengan gemas.
"Sakit......"
"Ahahahahaaa, sakit di tarik idung atau di....." ucapan Bilmar terhenti karena Anggia melempar bantal tepat di wajah Bilmar.
"Mesum," kata Anggia.
"Anggi udah pinter ya sekarang, tau aja tentang Abang," kata Bilmar sambil terkekeh.
Anggia tak perduli lagi dengan Bilmar, ia turun dari ranjang dan masuk ke ruang ganti.
"Kicot ku sayang, pintu nya nggak usah di tutup dong," kesal Bilmar.
Selesai Anggia berganti pakaian kini ia, keluar dari ruang ganti itu. Menuju meja rias, Bilmar memperhatikan penampilan Anggia dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Anggi, kamu kenapa berdandan begini?" tanya Bilmar panik.
"Kenapa?" tanya Anggia penasaran sambil memandang penampilannya di cermin.
"Sayang, kalau kamu dandan secantik ini. Nanti orang-orang bakalan mandang kamu dengan haus, Abang nggak rela," kata Bilmar mengatakan ketakutannya.
"Bukannya Abang suka cewek sexy," tanya Anggia sambil menarik kerah kemeja Bilmar.
"Sayang kau wangi sekali," Bilmar menghirup wangi rambut sang istri.
"Nggak papa dong, ya kan Abang," Anggia memainkan kancing kemeja Bilmar.
"I......iya," Bilmar mendadak menjadi bodoh, ia baru tau ternyata istrinya bisa bertingkah seperti itu. Bahkan Bilmar seperti terhipnotis karena Anggia mendadak menjadi centil.
"Ayo kita berangkat ke kantor sayang ku," Anggia mengambil dasi dari laci dan memakaikannya pada kerah kemeja Bilmar, "Ayo berangkat," Anggia memeluk lengan Bilmar.
"Sayang Abang nggak kuat," kata Bilmar sambil menunduk, Anggia juga ikut menunduk dan melihat pistol keramat Bilmar ternyata bangun, "Hehe....." Bilmar menunjukan dua baris gigi rapinya, sementara Anggia malah menepuk jidad.
***
__ADS_1
Jangan lupa LIKE, dan VOTE.
Terima kasih.