
TING......TONG....
Terdengar suara bunyi bell, Veli tersenyum dan ia langsung membuka pintu.
"Ada apa Mas?" tanya Veli menatap seorang pria yang kini tengah berdiri di depan pintu rumah ya.
"Saya mengantarkan pesanan makanan atas nama tuan Aran Rianda nyonya," kata pria tersebut.
"Makanan?" Veli ingat tadi pagi ia memang meminta Aran untuk membawakannya makanan, apa saja. Asal Aran yang membawanya, namun mungkin karena Aran terlalu sibuk hingga kini ia mengirim banyak makanan kerumah.
Setelah Veli menerimanya, ia langsung membawanya masuk dan mendudukan pantatnya di kursi meja makan. Ternyata isinya rujak, dan banyak makanan lainnya, namun makanan yang saat ini di inginkan Veli adalah rujak. Hingga ia langsung memakannya, selesai memakan rujak Veli merasa mengantuk dan ia memutuskan untuk tidur.
Beberapa saat kemudian Veli terbangun, "Huekkk......huekkk," Veli memuntahkan isi perutnya tanpa bisa di tahan, padahal ia mau berlari dengan cepat ke kamar mandi. Namun ternyata belum juga bangun ia sudah muntah di atas kasur, perlahan Veli bangun dan berjalan menuju kamar mandi untuk kembali muntah lagi.
"Hueekkk.....hueeekkk........"
Setelah beberapa lama di kamar mandi kini Veli kembali ke ranjang, dengan menjadikan dinding sebagai tumpuan agar tak terjatuh. Kepalanya terasa pusing, ia pun di rumah hanya sendiri tanpa ada siapa pun. Sebab Aran sudah pergi bekerja sedari tadi pagi, karena ada pekerjaan penting yang harus ia selesaikan. Dan Aran pun berjanji cepat pulang karena mereka akan melihat-lihat rumah baru yang akan mereka beli, sebab Veli tak mau lagi tinggal di apartement.
"Hueekk....." mual masih saja di rasakan Veli hingga akhirnya ia menghubungi Aran, karena sudah tak sanggup menahan pusing dan tubuhnya semakin terasa dingin.
Berberapa kali Veli menghubungi Aran, namun tak satu pun yang di jawab. Hingga akhirnya Veli jatuh pingsan tergeletak di lantai, karena sudah tak kuat berdiri lagi. Tak lama berselang Aran sampai di rumah dengan perasaan bahagia dan membawa banyak makanan ia menekan pasword apartement itu lalu masuk.
"Sayang, Assalamualaiku," ucap Aran dengan bahagia, karena tak juga mendapat jawaban Aran penasaran ia meletakan makanan yang ia bawa di meja. Kakinya melangkah menuju kamar.
"Khumairah sayang," Aran membuka pintu kamar, mata Aran melebar saat melihat Veli tergeletak di lantai sudah tak sadarkan diri. "Sayang bangun," Aran panik ia memangku kepala Veli, dan mencoba menepuk-nepuk pipi Veli berharap Veli segera sadarkan diri.
__ADS_1
Karena Veli tak juga sadarkan diri, Bilmar memutuskan untuk membawanya kerumah sakit. Aran semakin panik melihat wajah pucat Veli, bahkan ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Aran juga memeriksa saku celana dan jasnya. Namun ia tak menemukan apa yang ia cari, yaitu ponsel.
"Apa ketinggalan di ruang meeting," gumam Aran, padahal ia ingin menghubungi Anggia, dan juga Ratih.
Tak berselang lama kini Veli sampai di rumah sakit dan langsung di tangani, Aran meminta kepada seorang perawat untuk menghubungi Anggia memintanya agar memberitahu keluarga bahwa Veli kini di larikan di rumah sakit, setelah itu Aran duduk di kursi tunggu tepat di depan ruang di mana Veli tengah di tangani dokter.
"Tuan Aran," kata seorang dokter yang keluar dari ruangan di mana Veli tengah di tangani.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" Aran bergegas berdiri dan bertanya dengan cepat.
"Janin dokter Veli bermasalah tuan, dan kami harus segera mengangkatnya. Atau kalau di biarkan kami takut nyawa dokter Veli terancam tuan," kata Dokter tersebut.
Aran diam ia meremas rambutnya dan kembali mendudukan tubuhnya, ia tak tau harus melakukan apa. Sementara keluarganya pun belum juga sampai dan Aran butuh seseorang yang bisa menguatkan dirinya, Aran benar-benar tak tau harus bagaimana.
"Bisakah menunggu beberapa saat lagi, tiga puluh menit lagi saja," ucap Aran.
Sang dokter mengangguk dan pergi meninggalkan Aran, sementara Aran lansung merasa lututnya lemas. Ia merosot dan terduduk di lantai sambil beberapa kali air matanya terjatuh, tak ada yang bisa di lakukan Aran selain meminta kekuatan. Hingga tak berselang lama Ratih datang bersamaan dengan Laras, dan melihat keadaan Aran yang sudah tak karuan.
"Aran," Ratih berjongkok dan melihat putra kesayangannya tengah menangis, "Veli di mana Nak?" tanya Ratih.
"Bagaimana keadaan Veli sekarang Aran, dan di mana Veli?" tanya Laras dengan panik, ia tak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu pada putri kesayangannya.
"Veli di dalam Ma," kata Aran dan kemudian ia menatap Ratih, "Mi janin Veli harus di angkat," kata Aran sambil meneteskan air matanya.
"Di angkat?" Ratih tak percaya dengan apa yang di katakan Aran, raanya ia sangat terkejut. Begitu juga dengan Laras yang merasa sangat terpukul dengan keadaan sang putri.
__ADS_1
Laras terdiam dan menangis mendengar keadaan putrinya, bagaimana bisa Veli merasakan cobaan seberat ini. Harus kehilangan janin yang baru saja berusia saru bulan, padahal Veli sekarang tidak bekerja karena Aran sudah melarangnnya sebab takut Veli terlalu lelah karena masih hamil muda. Veli mengajukan syarat dengan meminta Aran membeli rumah dengan segera, dan Aran pun menyanggupi bahkan ia sudah beencana mengajak Veli milihat beberapa rumah untuk mereka tempati. Namun sayang semuanya terjadi Veli kini harus kehilangan janinnya.
"Ma, Aran harus apa? Kalau nanti Veli sadar terus nanyak janinnya Aran harus jawab apa?" tanya Aran menatap Laras.
"Mama serahkan sama kamu Nak, Mama yakin kamu tau yang terbaik untuk istri mu. Mama pun sangat terpukul, tapi Mama hanya bisa berdoa. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk anak Mama," jalab Laras sambil menangis.
Tak lama berselang Anggia dan Bilmar sampai, keduanya panik melihat Ratih dan Laras yang menangis. Di tambah lagi kondisi Aran yang sangat kacau, Anggia tadi tak bisa langsung menuju rumah sakit saat seorang suster menghubunginya memberi tahu tentang keadaan Veli. Karena anak-anaknya yang tengah di beri asi, hingga dengan cepat ia menghubungi Ratih, lalu menghubungi Laras juga. Dan kini Anggia sudah sampai juga.
"Mi, Veli kenapa?" tanya Anggia dengan perasaan takut.
Ratih dan Laras menatap Anggia, "Veli Ngi," kata Ratih yang rasanya berat sekali mengatakan apa yang di katakan Aran tadi.
"Veli kenapa Mi," Anggia sangat takut terjadi sesuatu pada Veli, ia tak sabar mendengar jawaban Ratih dengan cepat ia masuk keruangan itu. Terlihat Veli tengah berbaring di ranjang dengan wajah pucatnya.
"Dokter Anggia," tanya seorang dokter yang terlihat terkejut melihat Anggia yang datang tiba-tiba.
"Em," jawab Anggia dan melihat keadaan Veli.
"Dokter, bukankah anda sedang cuti?" tanya dokter tersebut.
Anggia tak perduli, dan tak ada yang berani meminta Anggia berhenti memeriksa Veli.
***
Jangan lupa LIKE dan VOTE.
__ADS_1