
"Huek, huek," Anggia hanya muntah-muntah dan tak bisa makan sedikit pun hingga membuat badannya terlihat lemas dengan wajah yang begitu pucat.
"Nggi, badan lu panas," Veli yang memeriksa Anggia juga merasa sangat khawatir sebab Anggia sangat jarang makan beberapa hari ini.
"Aku pusing Vel," Anggia hanya memijat kepala dengan kedua tangan.
"Iya kayaknya lu masuk angin deh, makanya paksa in makan ya, sikit aja," kata Veli yang memegang piring di tangannya berniat ingin menyuapi Anggia.
"Aku lagi males makan nasi Vel," kata Anggia sambil menutup mulut.
"Terus lu maunya makan apa?" tanya Veli.
"Nggak tau, aku minum susu aja lah ya," kata Anggia sambil mengambil susu yang terletak di atas nakas buatan Veli barusan.
"Yaudah, tapi nanti lu harus makan kasihan yang di dalam."
Sementara Bilmar kini sudah sampai di tanah air, pikirannya tidak pernah tenang tentang mimpi saat Anggia bunuh diri, bahkan ia meminta supir untuk mengemudi dengan kecepatan tinggi karena ingin segera melihat Anggia.
Kini Bilmar sampai di rumah, ia mulai masuk dan melihat Ratih duduk santai di sofa ruang tamu.
"Assalamualaikum Mi," Bilmar mendekat pada Ratih dan mencium punggung tangan sang Mami.
"Eh, anak Mami. Walaikuksallam," jawab Ratih bahagia tapi juga terkejut dengan kepulangan anaknya yang tiba-tiba.
"Mami sehat?"
"Alhamdulilah, kamu udah pulang aja Bil?" tanya Ratih.
"Kerjaan Bilmar di gantiin Aran Mi," jawab Bilmar terkekeh, Ratih mengangguk mengerti ia tau Bilmar pasti merindukan Anggia.
"Anggia di atas tu, dia sakit badannya panas, semenjak kamu pergi dia murung terus," kata Ratih.
"Mi, Bilmar temuin Anggia dulu ya," pamit Ratih.
"Bilmar kamu udah kayak suami pulang kerja langsung nemuin istri, nikahin Bil biar nggak dosa," kata Ratih.
"Ya Mi, doa in ya malaikat tercinta ku," Bilmar mencium pipi Ratih lalu setengah berlari menuju kamar Anggia, Ratih tersenyum melihat tingkah sang anak.
Bilmar memegang gagang pintu dan membukanya, ia melihat Anggia di sana.
"Adik manis," kata Bilmar sambil berjalan mendekati ranjang.
Anggia yang tadinya membelakangi Bilmar, tidak percaya jika itu Bilmar yang masuk kekamarnya, tapi karena penasaran Anggia perlahan berbalik dan melihat Bilmar berdiri di dekat daun pintu. Mata Anggia berbinar dan terkejut ternya benar Bilmar di sana, Anggia dengan gerakan cepat turun dari ranjang dan menghambur kepelukan Bilmar.
"Abang," teriak Anggia bahagia tanpa melepas pelukannya.
Bilmar sejenak diam dan terkejut dengan reaksi Anggia yang jauh dari prediksi Bilmar.
"Kamu demam?" tanya Bilmar memegang dahi Anggia.
__ADS_1
"Hehehe, sedikit," jawab Anggia dan ia kembali memeluk Bilmar.
"Kamu ada ketemu Brian nggak selama aku pergi?" tanya Bilmar.
"Anggi di rumah aja, nggak di bolehin keluar Abang jadi gimana caranya Anggi ketemu Brian," jawab Anggia kesal sebab selama Bilmar pergi ia hanya terkurung di dalam rumah.
"Sukurlah berarti cuman mimpi," kata Bilmar sambil mencubit gemas pipi wanita yang ia rindukan.
"Abang mimpi apa emangnya?" tanya Anggia yang ikut penasaran.
"Abang mimpi Anggi nangis terus Anggi keluar rumah beli eskrim di minimarmet yang di depan rumah kita, abis itu Anggia pergi sama Brian dan Abang mimpi Anggi bunuh diri di bathtub, karena kesal Anggi lihat Abang di peluk cewek," jelas Bilmar pada Anggia tentang mimpinya.
"Ahahahahaa," Anggia malah tertawa terbahak-bahak.
"Anggi kok ketawain Abang?" tanya Bilmar bingung.
"Anggi nggak akan bunuh diri cuman karena Abang di peluk cewek," Anggia terkekeh mendenga cerita mimpi Bilmar.
"Anggia Tiffani, Abang khawatir sama kamu, tapi sampai sini kamu mengejek saya, saya kembali saja kembali bekerja," Bilmar kesal dan berbalik hendak melangkah keluar, tapi Anggia dengan cepat mengejar dan memeluk Bilmar dari belakang.
"Abang jangan pergi ya," kata Anggia sedikit panik takut Bilmar benar-benar pergi lagi.
Bilmar tersenyum samar dan berbalik, "Kenapa Anggi juga nggak suka sama Abang," kata Bilmar.
"Siapa bilang," kata Anggia.
"Jadi Anggi suka sama Abang," Bilmar mendekatkan wajahnya pada Anggia dan menaik turunkan kedua alus matanya.
"Terus?" Bilmar menunduk dan semakin bersemangat menggoda Anggia.
"Ya, maksud Anggi, kalau Abang pergi Anggi kesepian," kata Anggia mencari jawaban yang aman.
"Oh, jadi Anggi kesepian nggak ada Abang?" tanya Bilmar lagi.
"Hiks, hiks," Anggia tidak tau lagi harus bicara apa, sebab sepertinya ia terjebak sendiri dalam kata-kata yang ia ucapkan.
"Uluh, uluh, kesayangan Abang nangis," Bilmar menarik gemas hidung Anggia, sudah beberapa hari ini ia tidak menjaili Anggia dan itu sangat di rindukan Bilmar saat ini.
"Ish," Anggia menepis tangan Bilmar, lalu tangannya mengarah pada Bilmar meminta sesuatu.
"Apa?" Bilmar bingung apa yang di minta Anggia.
"Oleh-oleh mana?" kata Anggia.
Bilmar menggaruk kepala saat mendengar Anggia meminta oleh-oleh, Bilmar tidak ada memikirkan oleh-oleh saat itu, ia pulang dengan rasa panik karena bermimpi Anggia bunuh diri dan bertemu Brian.
"Hehehe," Bilmar menggeleng.
"Ish," Anggia membelakangi Bilmar dengan rasa kesal, "Udah pergi enggak ingat sama Anggi," gerutu Anggia.
__ADS_1
"Siapa bilang;" Bilmar mendekati Anggia.
"Terus hadiahnya mana?"
"Anggi, Abang enggak beliin Anggi hadiah karena pengen cepet-cepet ketemu sama Anggi, tapi tadi Abang beiin bunga di lampu merah buat Anggi," Bilmar ingat sewatu mobilnya berhenti di lampu merah ia melihat seorang anak yang menjual bunga dan ia membelinya untuk Anggia. Dan Bilmar menyimpannya di saku bagian dalam jas yang ia kenakan.
"Bunga? Dari luar negeri tapi beli bunga di lampu merah buat oleh Anggia," tanya Anggia terkekeh.
"Hehehe," Bilmar mengaruk kepala yang tidak gatal.
"Tapi nggak papa, makasih Abang," Anggia mengambil bunga itu dan memeluk Bilmar dengan rasa bahagia.
"Ehem-ehem," terdengar suara Veli yang sedari tadi menjadi penonton di sudut ruangan.
"Veli sejak kapan kau di sana?" tanya Bilmar dengan suara bariton seolah ia tak pandai bercanda.
"Sejak, tuan Bilmar masuk," jawab Veli.
"Tapi aku tak melihat mu dari tadi," kata Bilmar.
"Jelas lah, yang anda lihat itu hanya Anggia, saya dari tadi di sini cuma pigura yang di pajang di sudut ini," kata Veli kesal.
"Anggia apa dia dari tadi di sini?" tanya Bmar.
"Hehehe, iya, aku lupa," Anggia juga lupa dengan keberadaan Veli yang sedang bersamanya saat Bilmar datang pikiran Anggia terlalu bahagia hingga ia melupakan Veli yang masih bersamanya.
"Iya lah lu lupa, semenjak tuan Bilmar pergi kan makan tak enam tidur tak nyenyak," goda Veli sambil berlalu keluar dari kamar.
"Anggia apa kau merindukan ku?" tanya Bilmar penasaran.
"Enggak?" ketus Anggia.
"Aku satu jam lagi masih harus pergi ke luar negeri lagi, jadi sampai jumpa minggu depan," kata Bilmar lagi.
"Abang, jangan pergi boleh nggak," Anggia dengan cepat memeluk Bilmar.
"Kamu nggak mau saya pergi?" tanya Bilmar.
"Em," Anggia bingung.
"Saya pergi."
"Jangan!"
"Kamu nyaman ya makanya suka banget meluk saya," Bilmar mengarahkan matanya pada Anggia yang meluknya.
DEEG.
Jantung Anggia kembali menjadi tidak karuan.
__ADS_1
*****
Jangan lupa VOTE dan LIKE.