
Hai semua Othor balik ni. Heheheeee. Semoga ada yang kangen Othor. Ngarep;).
"Veli bangun!!!" seru Aran yang terus menepuk pipi Veli. Sesaat kemudian Anggia datang dengan panik, melihat keadaan Veli.
"Veli," Anggia berjongkok dan ia langsung memeriksa keadaan sang sahabat, "Aran tolong bawa Veli kekamar saja," pinta Anggia.
Dengan gerakan cepat Aran membawa Veli kekamar, setelah Veli berbaring di ranjang Anggia memasang selang infus dan memastikan jika Veli baik-baik saja.
"Anggia, apa Veli baik-baik saja?" tanya Aran yang sedari tadi menantikan Anggia mengatakan tentang keadaan Veli, "Apa kita bawa kerumah sakit saja?" tanya Aran lagi, sebab Anggia masih belum menjawab pertanyaannya.
"Veli masih hamil muda, dan ini pengaruh hormon. Jadi dia jangan sampai stres," terang Anggia.
Aran mengangguk dan bersyukur sebab tak ada yang harus di khawatirkan dengan Veli, sesaat kemudian Veli membuka mata ia terbangun dan menatap Aran.
"Mas, maaf pin Veli ya. Veli udah buat Mas sama keluarga Mas malu," tutur Veli menatap Aran penuh penyesalan.
"Udah nggak usah bahas itu, semua baik-baik aja. Kamu harus jaga anak kita," terang Aran menyisir rambut Veli.
Veli mengangguk setelah itu ia menatap Satria, yang menunduk sambil menitihkan air mata, "Pa, maaf.....hiks....hiks....." Veli menangis menatap Satria, ia tau Satria sangat terluka dengan apa yang ia lakukan.
Satria mendekati Veli dan memeluknya, "Maaf ya Nak, Papa cuman malu sama tuan Rianda. Dia orang baik, dia juga mertua kamu. Papa merasa gagal mendidik mu," kata Satria kembali terisak.
"Papa nggak salah, yang salah itu Veli Pa. Veli udah buat Papa sama Papi Rianda malu. Veli janji Veli nggak akan ulangi lagi....hiks....hiks," Veli menangis meluapkan bertapa ia sangat menyesali atas semua yang telah ia lakukan.
"Iya, kamu pasti bisa menjadi yang lebih baik lagi. Kamu anak Papa, putri kesayangannya Papa," tutur Rianda menangkup wajah Veli.
"Tapi Veli hamil anak Mas Aran Pa, bukan anak Mas Farhan. Veli nggak ngapa-ngapain sama Mas Farhan," terang Veli lagi agar Satria tak meragukan kehamilannya.
"Iya Papa percaya," kata Satria, "Kamu anak Papa yang kuat jadi harus semangat ya," Satria tersenyum lega menatap wajah sang putri.
"Mama juga ikut dong," Laras memeluk Veli yang kini tengah di peluk oleh Satria.
__ADS_1
Kemudian Satria menatap Aran yang berdiri tak jauh dari mereka, "Aran, Papa minta maaf. Papa malu sekali karena sudah gagal mendidik anak Papa, sehingga semua ini terjadi," tutur Satria.
"Dulu dan sekarang sudah berbeda Pa, bukan hanya Veli yang melakukan kesalahan. Tapi Aran juga awalnya hanya memaksa Veli menikah dengan Aran, dan Aran pun tidak menyangka jika teryata kami memang di takdirkan bersama tanpa bisa di pisahkan lagi," terang Aran, jika bukan hanya Veli yang melakukan kesalahan. Melainkan ia juga awalnya salah dengan pernikahan itu.
"Ya," Satria mengangguk ia bersyukur karena Aran terlihat sangat menyayangi Veli, tak ada kata yang bisa di ucapkan Satria selain terima kasih.
"Ya sudah, Papa pamit pulang dulu. Papa harus menyelesaikan masalah di perusahaan," pamit Satria sebab kini nama perusahaannya tengah memburuk.
"Pa, maaf ya," tutur Veli lagi-lagi dengan penyesalan.
Satria tersenyum menatap Veli, "Semua akan baik-baik saja, asal kamu juga baik-baik saja," jawab Satria yang tak ingin Veli khawatir, sebab ia takut terjadi hal buruk lagi pada putri kesayangannya.
"Iya Pa, Veli nggak papa," Veli mengangguk dan tersenyum.
"Mama pulang ya Nak, nanti Mama kesini lagi," pamit Laras.
"Bawain rendang jengkol ya Ma," kata Veli.
Setelah kepergian Laras kini hanya ada Anggia dan Aran juga Veli di sana.
"Veli kamu harus minum vitamin nya ya, kasian yang di dalam. Kamu jangan stres. Yang nggak perlu di pikirin nggak usah di pikirin," kata Anggia memberikan pesan pada sahabatnya.
"Tapi aku pusing Ngi," kata Veli menatap Anggia penuh kesal.
"Pusing? Napa?" tanya Anggia bingung.
"Mama sama Papa udah keluar dari kamar ini, kamu kok belum sih?" tanya Veli seolah kini ia tengah kesal pada Anggia, padahal ia hanya ingin menggoda Anggia saja. Menunjukan pada Anggia bahwa ia baik-baik saja, karena Veli tau Anggia mengkhawatirkan dirinya saat ini.
"Emangnya kenapa?" tanya Anggia bingung.
Veli menatap Aran yang kini duduk di sisi ranjang, "Mas, buruan dong beli rumah. Numpang gini kan susah, lihat yang punya rumah nggak keluar-keluar dari kamar ini. Mentang-mentang dia yang punya rumah," jelas Veli menunjukan raut wajah sedih pada Aran.
__ADS_1
"Sialan lu!" kesal Anggia, karena ternyata Veli menjadikannya alasan agar Aran membeli rumah.
"Lihat Mas, dia marah-marah. Untung ini rumahnya kalau nggak udah Veli kucek-kucek," kata Veli lagi.
"Lu bener-bener ya, udah numpang. Dapat perawatan gratis pula. Tapi masih ngatain aku terang-terangan begini," kata Anggia seolah kini ia sangat kesal pada Veli, padahal ia bahagia melihat Veli yang kembali ceria.
"Mas dia ngatain Veli," Veli dengan cepat memeluk Aran.
"Sayang, hati-hati ini ada selang infus," Aran panik melihat Veli yang banyak bergerak.
"Mas Veli pengen peluk," Veli tak perduli dengan apa yang di katakan Aran, yang ada ia semakin mengeratkan pelukannya pada Aran.
"Lu nggak sopan ya, gw masih di sini woy," kesal Anggia.
"Ngapain lu di sini, keluar sino!" kata Veli.
"Lu ngusir gw, ini rumah gw bego!" jawab Anggia yang tak mau kalah, keduanya memang sering terlibat cekcok. Namun itu bukan lah hal yang serius, dan keduanya sangat lama tak pernah seperti ini. Apalagi saat Anggia sakit, rasanya Veli sudah sangat merindukan kedekatan dan kekompakan mereka yang dulu.
"Emang gw pikirin, keluar sono!" kata Veli lagi.
"Ngelunjak lu ya,!" Anggia keluar dari kamar itu dan ia menutup pintu dengan cepat.
Sementara kini Veli dan Aran hanya berdua saja, "Perutnya masih sakit nggak?" tanya Aran yang masih khawatir.
"Nggak kok Mas, Mas Veli minta maaf ya. Gara-gara Veli Mas sama keluar jadi malu," tutur Veli dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya sayang," Aran menyisir rambut Veli dan menangkupnya, "Kita mulai semuanya dari awal, semua cerita kita dan tentang anak-anak kita nanti dengan judul novel yang baru. Dokter Cantik Milik Ceo 2," terang Aran.
"Kenapa nggak di lanjut di sini Mas?" tanya Veli penasaran.
"Mas juga nggak tau, tapi di season dua akan ada banyak kisah lucu. tentang anak-anak jail juga gesrek dari keluarga Zavano dan Rianda."
__ADS_1