Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 120


__ADS_3

Mentari berganti rembulan, dengan siang menghilang malam pun menjelma. Namun Veli belum juga kembali kerumah, satu jam yang lalu Aran pergi ke rumah sakit menjemput Veli namun Veli tak ada di sana. Ia memang cukup sibuk di hari ini hingga tak bisa menjemput Veli, Sesekali Aran melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, yang sudah menunjukan pukuk sepuluh malam.


"Caelah.......yang pusing mikirin bini kagak pulang-pulang," Bilmar menggoda Aran yang duduk di teras menunggu Veli.


Anggia yang ingin menemui Bilmar di teras mendengar apa yang di katakan Bilmar.


"Apa? Veli belum pulang?" tanya Anggia.


Aran dan Bilmar dengan cepat menatap Anggia yang baru saja datang menghampiri mereka, Bilmar dengan cepat menarik agar duduk di pangkuannya.


"Ngi kamu tau nggak kira-kira tempat yang biasa di datangi Veli?" tanya Aran yang kini menatap Anggia duduk di pangkuan Bilmar.


"Ish......Abang apasih," Anggia berusaha melepaskan diri dari Bilmar, namun tetap saja tak bisa. Yang ada justru tangan suaminya itu melingkar di pinggangnya semakin kuat.


"Yang, ini udah malem loh, udah nggak puasa," tutur Bimar.


"Ya tapikan nggak gini juga," Anggia kesal dan merasa malu, ia tak terbiasa melakukan hal mesra di depan orang lain itu sungguh tidak sopan bagi dirinya. Di tambah lagi ia belum terbiasa dengan bermesraan dengan Bilmar.


"Kenapa?" Bilmar tak perduli sedikit pun, yang ada kini ia menyembunyikan wajah nya di tengkuk Anggia.


"Abang.....Anggi masih nifas juga," kata Anggia lagi.


"Terus apa hubungannya?" tanya Bilmar.


"Ya....Anggi belum boleh," Anggia menatap Aran yang kini menatap keduanya.


"Belum boleh apa?" Bilmar semakin bersemangat saja menggoda istri tercintanya, "Kamu pasti mikir macem-macem ya," tebak Bilmar menaik turunkan alis matanya.

__ADS_1


"Apa sih....." wajah Anggia memerah tak kala tebakan Bilmar benar.


"Otak kamu ternyata udah tercemar ya, udah nggak beres," seloroh Bilmar lagi memegang kepala Anggia.


"Heh, kalau mau romantis-romantisan di kamar sono.....jangan di depan gw," kesal Aran yang sedari tadi menjadi penonton saja.


"Nggak usah marah-marah juga kale....." jawab Bilmar sambil melihat Aran yang duduk tidak jauh darinya.


"Aran tadi beneran yang di bilang Abang, kalau Veli belum pulang?" Anggia menatap Aran dengan serius, ia mengacuhkan Bilmar yang memeluk dan memangkunya.


"Iya.....kira-kira dia biasa pergi kemana? Kamu pasti tau kan?" Aran sangat berharap info yang di berikan Anggia bisa menjadi petunjuk.


"Kamu udah hubungi Mama Laras belum? Kan Veli bisa di apartement yang di deket rumah sakit, atau pulang ke rumah Mama Laras kan?" tanya Anggia.


"Udah, tapi Veli nggak ada di sana, bahkan sekarang aku nugasin pengawal buat jaga di apartemen nya. Mungkin dia pulang ke sana, tapi pengawal bilang sampai sekarang dia belum pulang," Aran menunduk dan menggaruk rambut dengan cukup kuat, memikirkan keberadaan Veli membuat otaknya terasa pusing.


Bilmar menepuk pundak Anggia, seolah menunjukan ekpresi Aran yang cukup berlebihan pada Veli.


"Veli itu udah gw nikahin, berarti udah jadi tanggung jawab gw. Terus kalau orang tuanya tanya gw harus jawab apa?" Aran rasanya ingin mencongkel mata Bilmar, karena pertanyaan konyol itu.


"Yakin?" kata Bilmar lagi ingin tau jawaban Aran.


"Heh majsud lu apa?" Aran bangun dari duduknya menatap Bilmar.


"Gw kan nannya, itu khawatirnya berlebihan amat," Bilmar ingin menjebak Aran dalam setiap pertanyaannya.


"Ada khawatir yang berlebihan suami terhadap istri? Ada?" tanya Aran semakin kesal.

__ADS_1


"Caelah.....suami bro, kawatir sama istri. Makanya kalau ketemu jangan ribut mulu, biar Veli betah sama lu. Ini apanya yang betah coba? Tiap jumpa ribut terus," kata Bilmar mengingat bertapa konyolnya Aran dan Veli bila sudah berjumpa, bahkan tak pernah ada ke kompakan sedikit pun.


"Kasih solusi, jangan saran. Saran lu simpen dulu tar sampek otak gw tenang," jawab Aran.


"Eh.....tapi nggak biasanya Veli pergi nggak pamitan, apa dia kabur. Karena nggak terima udah nikah sama kamu?" Anggia mengutarakan perasaan takutnya, "Abang yang Anggi bilang apa terlalu mengada-ngada ya?" Anggia menatap Bilmar takut bila pertanyaannya salah, atau ia yang salah bicara.


"Nggak tau juga sih," Bilmar diam dan memikirkan perkataan Anggia, "Aran lu coba suruh orang kita, buat mencari Veli di setiap yang lu rasa ada dia. Mungkin bandara atau.....semuanya lah, mungkin aja dia melarikan diri," Bilmar berkata demikian karena merasa tak ada salahnya mencoba, dari pada pusing berdiam diri tidak jelas.


"Iya sih lu bener," kata Aran mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang untuk mencari Veli, "Anggi kamu telpon sesama teman kerja kalian, mungkin Veli bersama mereka kan," pinta Aran.


"Iya deh....." Anggia mengambil ponselnya fan menghubungi seorang perawat yang biasa bersama dengan Veli.


Setelah panggilan selesai Anggia menatap Aran dan Bilmar.


"Anggia, apa ada yang tau di mana Veli?" Aran sudah sangat penasaran apa yang akan di katakan Anggia.


"Sarah bilang, dia liahat Veli keluar dari rumah sakit bersama Farhan," jaeab Anggia dengan hati-hati, sebenarnya ia tak ingin mengatakan apa-apa pada Aran. Agar tak ada pertengkaran antara keduanya, namun saat ini kondisinya berbeda. Veli menghilang entah kemana mungkin saja dengan Anggia mengatakan hal itu bisa jadi petunjuk.


"Farhan?" Aran mengepalkan tangannya saat nama Farhan di sebutkan, le khawatiran Aran berganti dengan perasaan emosi yang membuncah.


"Iya, tapi kemana, Sarah juga nggak tau," kata Anggia sedikit panik sebab ia pun melihat Aran yang mulai berkabut emosi.


"Aran kamu suruh orang kita lebih banyak turun mencari Veli, jangan sampai mereka berhasil pergi. Aku taku mereka pergi ke luar negeri itu akan semakin sulit mencari mereka," Bilmar kembali memberi solusi pada Aran.


"Tapi apa mungkin Veli keluar negeri bersama dengan Farhan, mungkin saja mereka bertemu seperti biasanya di rumah sakit dan setelah itu mereka pergi terpisah-pisah," kata Anggia tak ingin berprasangka yang tidak-tidak, Anggia bahkan berpikir Veli jalan-jalan sebab itu adalah kesukaan Veli melepas rasa lelahnya.


"Kalau yang kamu katakan benar, maka kita sangat bersyukur tentunya. Namun bila semuanya tak benar bagaimana?" Aran sangat pusing saat ini, ia tak bisa berdiam diri di rumah setelah tau Veli terakhir kalinya bersama Farhan.

__ADS_1


"Eh, mau kemana?" tanya Bilmar sebab Aran pergi begitu saja.


"Gw cari Veli dulu," jawab Aran lalu masuk ke dalam mobilnya, ia melajukan mobil membelah jalanan tanpa arah mencari Veli sebab malam semakin larut namun Veli tak juga kembali.


__ADS_2