Dokter Cantik Milik Ceo

Dokter Cantik Milik Ceo
Episode 56


__ADS_3

"Capek nggak?" tanya Bilmar pada Anggia yang duduk di sampingnya.


"Em," jawab Anggia dengan rasa kantuk yang menyerangnya.


"Sebelum sampek di rumah ada yang mau di beli nggak?" kata Bilmar lagi.


"Martabak," jawab Anggia.


"Jadi beli martabak dulu?" lama Bilmar menunggu jawaban pertanyaannya, hingga akhirnya mata Bilmar melirik Anggia ternyata sudah terlelap.


Bilmar yang fokus menyetir tersenyum dan sejenak tangannya mengelus kepala Anggia, bibir Bilmar tersenyum mengingat bertapa lucunya tingkah Anggia. Bahkan di kepala wanita itu isinya hanya makanan dan makanan saja, Bilmar juga bahagia mengingat hari-hari bersama Anggia kini penuh canda tawa, yang menghiasi hari-harinya.


Bilmar menepikan mobilnya dan membeli martabak terlebih dahulu sesuai permintaan Anggia sebelum terlelap tadi. Tidak lama kemudian Bilmar masuk kembali kedalam mobil dan tersenyum melihat Anggia yang masih tertidur pulas, terdengar ada dengkuran halus yang keluar dari mulutnya dan juga dengan mulut yang sedikit terbuka.


Setelah sampai di rumah Bilmar tidak membangunkan Anggia, karena kasihan Bilmar memilih mengangkat tubuh Anggia yang semakin berisi. Dengan hati-hati dan pelan Bilmar mengantarkan Anggia kekamarnya dan membaringkannya di ranjang.


"Tuan martabak saya," kata Anggia di sela-sela tidur nyenyaknya, Bilmar pikir Anggia terbangun ternyata hanya mengigau saya.


"Makanan terus, apa anak aku nanti punya hoby makan terus ya?" tutur Bilmar sambil menggaruk lepala.


"Mending anak lu hoby makan!" tiba-tiba terdengar suara Aran yang ternyata berdiri di ambang pintu.


"Maksud lu apa?" kesal Bilmar, padahal ia ingin keluar dengan tenang tapi malah ada Aran yang suka sekali mengejeknya.


"Sukur-sukur anak lu suka makan dari pada macam lu dulu, sukanya ke club sama main perempuan!"


"Brengsek lu," kesal Bilmar mendorong Aran yang berdiri di pintu, karena ia akan menutup pintu agar Anggia tidak terbangun karena keributan pembicaraan mereka yang tidak jelas arah dan tujuan.


"Yakan emang, lu kan playboy insyaf."


"Sialan lu!," kesal Bilmar menjitak Aran.


"Sakit oon!" Aran menatap tajam Bilmar.


"Lu ngapain sih pulang, bukannya lu kerja di kantor. Lu sekarang masa ujian ya buat mimpin perusahaan dan kalau lu gagal Papi nggak jadi ngasih lu perusahaan, lu bakal jadi asisten gue sampek beejamur," kesal Bilmar.

__ADS_1


Aran memang mendapat bagian di perusahaan karena warisan dari keluarga, dan Rianda yang mengelolanya hingga kini maju pesat. Perusahaan itu akan di berikan pada Aran jika Aran sudah mampu, usia Aran lebih muda dari Bilmar tapi Aran juga anak pintar. Hanya saja Rianda memang orang yang tegas termasuk saat dulu Bilmar akan memimpin perusahaan, Bilmar pun dulu harus belajar bahkan Bilmar pernah sebagai OB di perusahaannya dan menutupi identitasnya karena kesalahan yang ia lakukan.


"Iya gue butuh tanda tangan lu buat berkas ini bos dari tadi gue nunggu lu di rumah, tau-tau lu pulang gendong-gendong cewek," Aran memang sudah menunggu sejak satu jam lalu.


"Kenapa nggak telpon?"


"Lihah henphon lu, berapa kali gue telpon!" kesal Aran melempar bolpoin pada dada Bilmar untuk menandatangani berkas yang ia bawa.


"ini proyek dengan perusahaan Brian kan?" tanya Bilmar setelah ia menandatangani berkas yang di minta Aran.


"Iye, udah gue batalin semua, rugi-rugi dah tuh orang. Tapi kita juga rugi." kata Aran.


"Rugi sedikit atau banyak, nggak masalah asal kita nggak usah kerja sama dengan perusahaan itu lagi," Bilmar memang membatalkan sepihak proyek yeng telah mereka sepakati karena rasa benci, padahal Bilmar juga rugi sampai miliyan, tapi ia tidak perduli.


"Gue balik ke kantor dulu," pamit Aran setelah mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Balik ke ke akhirat skalian."


"Sialan lu," kesal Aran.


"Tuan Bilmar, huuuam," mata Anggia tertutup sambil berjalan kearah sofa, dan mendaratkan pantatnya, "Sofanya aneh ya," gumam Anggia yang menutup mata tanpa melihat ia kini duduk di pangkuan Bilmar.


Bilmar seperti orang bodoh, memdadak pikiran kotornya hadir bahkan tubuhnya mulai berkeringat, hingga akhirnya Anggia membuka mata dan ia cukup terkejut ternyata ia duduk di pangkuan Bilmar.


"Aaaa, tuan sengaja ya," kesal Anggia yang kini berdiri di hadapannya.


"Siapa yang sengaja, orang kamu yang tiba-tiba keluar kamar, terus duduk di pangkuan saya," Bilmar membela diri.


"Apa iya?" Anggia memegang dahinya, ia ingat taidi ia masih menutup mata saat keluar kamar, "Ah, tapi kenapa tuan diam aja? Kan ngomong. Pasti tuan mencari kesempatan saat ada peluang?" Anggia menujuk wajah Bilmar.


"Apa sih peribahasa kamu aja ngaur," Bilmar menjatuhkan tangan Anggia yang menunjuk wajahnya.


"Aaa," Anggia berteriak saat tubuhnya terasa melayang karena Bilmar menjatuhkan tangannya cukup kuat, sementara saat itu Anggia berdiri dengan sebelah kaki, sebelahnya lagi menggaruk kaki sebelahnya.


BRRUK.

__ADS_1


Anggia jatuh ke belakang, namun dengan gerakan cepat Bilmar menarik pinggang Anggia, hingga wajah keduanya hanya berjarak beberapa senti saja. Sebab tubuh Bilmar condong pada tubuh Anggia, lama pandangan keduanya bertemu hingga tiba-tiba terdengar suara Ratih dari kejauhan.


"Wah, wah, wah romantis sekali," kata Ratih dengan hati yang bahagia.


Mendengar suara Ratih, sontak saja keduanya sadar dan berdiri dengan cepat.


"Kenapa malah pelukannya di lepas ayo lanjutkan, Mami kekamar dulu, aduh anak jaman sekarang suka romantisan gitu bikin Mami juga keinget Papi terus-terusan," kata Ratih sambil berlalu pergi meninggalkan Anggia dan Bilmar dalam kebingungan.


"Maaf tuan, saya nggak sengaja," Anggia merasa canggung karena tadi ia sangat takut terjatuh dan dengan reflek ia malah memeluk leher Bilmar.


"Iya nggak papa," Bilmar rasanya ingin berteriak, pertama Anggia mendudukinya, lalu saat tadi Anggia hampir terjatuh ia malah memeluk pinggang Anggia dan Anggia memeluk lehernya.


Ya ampun cobaan hari ini terasa lebih berat.


"Ayo makan martanaknya," kata Bilmar lagi, agar tidak ada kecanggungan, Anggia tersenyum dan melupakan kejadian tadi begitu mendengar kata martabak. Memang ia tadi keluar dari kamar untuk mencari martabak.


"Ia tuan," dengan mata yang berbinar Anggia memulai makam martabak, "Tuan sini?" Anggia menepuk sofa di sebelah yang ia duduki.


"Iya," Bilmar dengan pelan duduk di samping Anggia.


"Ayo makan tuan enak banget cobain deh," tanpa sadar Anggia malah menyuapi Bilmar, lalu menyuapi dirinya. Begitu sapai martabaknya habis, "Enak kan tuan?" tanya Anggia setelah mertabaknya tandas.


Enaknya karena di suapin kamu, oh adik manis kenapa suapinnya pakek tangan? Coba pakai mulut kamu pasti lebih enak martabaknya.


"Saya kekamar dulu," pamit Bilmar.


"Tuan!" Anggia setengah berteriak karena Bilmar sudah hampir menggapai gagang pintu.


"Apa?"


"Nanti beli eskrim ya."


"Ya," jawab Bilmar sambil masuk dan menutup pintu, "Eskrim, ngapain di beli buang-buang duit di saya juga ada," gumam Bilmar sambil masuk ke kamar mandi.


****

__ADS_1


Jangan lupa VOTE YA.


__ADS_2