
"Sayang, kamu kenapa belum tidur," tanya Bilmar pada istrinya terus saja kasak-kusuk tak jelas.
Anggia menatap Bilmar dan mendudukan tubuhnya, begitu juga Bilmar ikut duduk di samping Anggia.
"Anggi kasihan sama Veli, Aran kok tega banget ya....padahal Anggi tau gimana Aran sama Veli. Jadi nggak mungkinkan mereka begituan," kata Anggia, Bilmar tersenyum dan menarik Anggia agar bersandar di pundaknya, dengan tangan Bilmar mengelus kepala sang istri dan sesekali mengecupnya.
"Sayang, itu urusan mereka kamu nggak usah pikirin," tutur Bilmar, Anggia kesal dengan ucapan Bilmar. Ia bangun dan menjauh.
"Abang juga nggak ngijinin Anggi buat ngomong tadi," Anggia malah kesal pada Bilmar karena tadibia ingin berbicara untuk membela sahabatnya namun Bilmar melarangnya.
"Kamu tau kan istri ku, di sana ada Papi. Kita harus menghargai mereka sebagai orang tua kita," jawab Bilmar memberikan alasan.
"Veli sampek pingsan loh....Abang tau kan kalau pernikahan itu bukan mainan? Terus gimana jadinya kalau mereka menikah? Apa ia nanti mereka bakalan cerai?" tanya Anggia pada Bilmar dengan sanhat kesal bahkan Anggia rasanya ingin meremas wajah Bilmar saat ini juga.
"Sayang.....Aran itu Ceo, pendidikannya itu sudah S3, dia sudah menghadapi banyak hal. Memikirkan banyak hal, apa kamu yakin dia tidak ada perasaan pada Veli? Kalau nggak ada perasaan nggak mungkin dia ngambil jalan pintas buat dapetin Veli. Farhan mau melamar Veli dan mengajaknya menikah sehabis lebaran ini, Aran sudah menyelidiki itu semua. Jadi kamu nggak usah pikirin apa-apa, kalau pun Aran nggak ngaku cinta sama Veli paling tidak saat ini Abang yakin dia nggak bisa sehari nggak liat Veli," kata Bilmar meyakinkan Anggia, agar wanitanya itu tau keadaannya, sebenarnya Bilmar sangat malas membahas itu semua karena itu adalah urusan pribadi seseorang dan mereka tidak berhak ikut campur.
"Abang tau dari mana kalau dokter Farhan mau melamar Veli? Apa lagi masalah perasaan Aran sama Veli," tanya Anggia lagi dengan antusias.
"Sayang ku, cinta ku, istri ku, nggak ada yang bisa di tutupi Aran dari Abang. Bibirnya aja yang ngomong enggak, tapi kamu tau dia di kantor? manggil sekretaris aja dia nyebut nama Veli, Abang inget pas ada meeiting kemaren itu juga dia melamun, abis itu di depan rekan bisnis tiba-tiba dia tersentak nyebut Veli....itu namanya benci apa cinta?" ucap Bilmar lagi menangkup wajah Anggia, sambil membayangkan bertapa bodohnya Aran saat itu.
"Tapi tetap aja caranya salah Abang, Anggi nggak suka. Cara Aran yang curang, dokter Farhan juga berhak karena Veli itu kekasinya, apa lagi Veli sayang banget sama dokter Farhan," Anggia masih saja tak terima dengan apa yang di katakan Bilmar mengenai Aran.
"Kicot," Bilmar menarik hidung Anggia.
"Abang......hiks.....hiks," Anggia menepis tangan Bilmar dan mengelus hidungnya.
"Mungkin Aran berusaha menyelamatkan Veli dari Farhan yang......" Bilmar menghentikan ucapannya tanpa melanjutkannya lagi, sementara Anggia masih menunggu dengan penasaran.
"Dan?" tanya Anggia.
"Sayang, itu urusan mereka. Kita doakan saja semoga ini memang jalan terbaik untuk mereka berdua," kata Bilmar.
"Ck.....Anggi, penasaran tadi Abang mau bilang apa?" Anggia mengacak rambut panjangnya, sebab ia masih saja penasaran.
"Nanti juga kamu tau, Abang juga nggak begitu tau. Jadi doakan saja mereka langgeng dan bisa saling cinta," Bilmar tersenyum pada Anggia.
__ADS_1
"Amin.....tapi kapan dua orang itu bisa saling cinta, Veli susah jatuh cinta cuman kalau udah cinta dia bisa lupa segalanya," jawab Anggia sambil bersandar di dada bidang suami tercintanya.
"Udah nggak usah pikirin mereka, kita pikirin tentang kita aja," Bilmar berulangka mengecup tangan Anggia.
"Kalau ngomongin kita paling otak Abang negati mulu," ketus Anggia yang sangat hapal dengan tingkah suaminya.
"Ternyata kamu udah ngerti banyak ya tentang Abang?" Bilmar bangga walau pun Anggia tau tentang negatif saja, paling tidak dalam ingatan Anggia ada tentang dirinya.
"Iya lah, Anggi kan sayang sama Abang, apa lagi kalau di kasih uang, di jamin Anggi makin sayang," seloroh Anggia.
"Sejak kapan istri Abang jadi matre?" jawab Bilmar tak mau kalah.
"Ck.....Abang ini udah mau lebaran, tinggal tiga minggu lagi. Kalau Anggi terlambat beli....entar baju di jual di toko-toko keburu abis loh...."jawab Anggia sambil terkekeh.
"Kalau abis berarti Anggi nggak bisa beli baju lebaran, gitu kan?" tanya Bilmar.
"Iya lah."
"Nggak usah beli baju lebaran lah, enakan juga nggak pakek baju," Bilmar tersenyum bahagia bisa membayangkan hal itu.
Anggi memukul kepala Bilmar dengan bantal.
"Au, sayang kenapa di pukul?" tanya Bilmar.
"Otak Abang konsel biar jadi bener," kesal Anggia.
"Hehehehe, Anggi, kamu setelah selesai nifas ikut program kb ya, Abang udah cukup sama Alif dan Alma, soalnya Abang takut kalau terjadi sesuatu yang buruk sama Anggi kalau seminsalnya hamil lagi," Bilmar meletakan telapak tangan Anggia di pipinya.
"Yaudah kalau Abang maunya gitu," jawab Anggia, ia tak mau protes apapun yang di katakan Bilmar selama itu membuat keduanya bahagia ia ikut saja.
"Sayang kamu berasa makin cantik aja deh?" kata Bilmar berusaha mendekati Anggia.
"Ish," Anggi menahan wajah suaminya yang suka khilaf itu dengan telapak tangan, "Sadar.....sebelum khilaf," kata Anggia sambil menjauh dari Bilmar.
"Ck.....apa ujungnya juga nggak boleh? Dikit doang," kesal Bilmar mengeratkan giginya.
__ADS_1
"Ujung apanya nggak jelas, bicara sama Abang berasa bicara sama anak kecil nggak pernah jelas. Yang ada Anggi pusing sama semua omongan Abang," Anggia kembali berbaring dengan tangan menarik selimut untuk menghangatkan tubuhnya.
"Yaudahlah tidur yuk, udah malam begini juga," Bilmar melihat jam dinding sudah menunjukan pukul dua tengah malam.
"He'um," kata Anggia sambil masuk ke pelukan Bilmar seperti bisanya.
"Yang," panggil Bilmar pada Anggia.
"Hem," jawab Anggia yang sudah menutup mata.
"Ngomong-ngomong, Aran sama Veli ngapain ya? Apa ranjangnya kuat buat nahan mereka?" tanya Birmar dengan konyolnya.
Anggia tersenyum dan memicingkan matanya menatap Bilmar.
"Kalau ranjang nggak kuat, mereka tidurnya di lantai aja," jawab Anggia asal.
Bilmar memencet hidung Anggia dengan kencang, karena gemas dengan jawaban sang istri.
"Abang sakit......" kesal Anggia memukul Bilmar.
"Belum juga apa-apa udah sakit, kamu juga fikirannya kotor begitu?" Bilmar malah membalikan keadaan.
"Ahahahhahah, Anggi udah dewasa juga kan Abang, kalau teorinya mah.....Anggi udah belajar, tinggal peraktek aja. Sama juga dengan Veli teori dia jagonya, waktunya hasil penelitian dulu dia praktekin sekarang," jawqb Anggia.
"Asek.....selesai nifas berati Anggi juga bisa praktek sama Abang?"
"Bisalah asal ada bayarannya," jawab Anggia asal.
"Tau begini kenapa nggak dari dulu aja Anggi bilang, kan Abang bisa jadi bahan praktek Anggi," Bilmar kesal sangat kesal, andai saja hubungannya seperti ini sedari dulu ia pasti sudah sangat bahagia walau pun saat ini puasa.
"Udah ah Anggi mau tidur."
"Perlu Abang tidurin?"
"ABANGGGGGGGGG!" teriak Anggia.
__ADS_1
"Ahahahhahahah," Bilmarbmalah tertawa.