
Veli terlihat begitu bahagia dengan kedatangan kedua orang tuanya, ia lansung menghambur ke pelukan Laras.
"Veli kangen Ma," kata Veli tersenyum bahagia.
"Veli Papa mau bicara," ucap Satria dengan tegas tanpa basa basi.
"Bicara apa Pa?" tanya Veli kini duduk di samping Laras, ia dapat melihat raut wajah serius dari Satria. Hingga membuatnya bingung dan beberapa saat kemudian Aran juga datang ikut bergabung duduk di sofa.
"Kenapa kamu di hotel bersama seorang pria, padahal kamu sudah bersuami?" tanya Satria tanpa ragu.
DEEG!.......
Veli menatap penuh tanya pada Satria, tentang dari mana Satria tau mengenai ia di kamar hotel bersama Farhan. Bukankah Aran sudah berjanji tidak akan mengatakannya pada siapapun, dan Veli pun tidak yakin jika Bilmar yang mengatakannya.
"Papa tau dari mana?" tanya Veli dengan ragu-ragu dan menunduk.
"Kamu bodoh atau tolol," tegas Satria dengan emosi yang memuncak.
"Pa, sabar......." Laras mengelus punggung Satria, "Kita bicara baik-baik," tambah Laras lagi.
"Apa kau tidak melihat koran, tidak melihat berita di televisi, tidak melihat berita di ponsel mu," terang Satria.
Veli diam ia mengambil ponsel Laras, dan membuka berita yang menjadi trending topik di pagi ini. 'Aran Rianda pengusaha sukses menikahi Velisya Khumairah, putri dari Satria Putraga, rekan bisnis Aran Rianda sendiri. Namun di perkirakan dua hari setelah menikah Velisya Khumairah seorang dokter kandungan itu tertangkap rekaman cctv di salah satu hotel milik Aran Rianda sedang bersama seorang pria,' Begitulah isi berita itu, Veli melongo banyak fhoto dan vidio rekaman di mana ia dan Farhan masuk bersama kedalam kamar. Belum lagi dengan komentar para orang-orang tak bertanggung jawab yang terlihat sangat tajam.
__ADS_1
"Dasar anak tak tau di untung! Kau sudah sangat mempermalukan orang tua mu. Bukan hanya orang tua mu saja, tapi suami mu. Papa malu Veli, Papa sangat malu sekali. Kau seperti wanita yang tak berharga diri," ucap Satria dengan suara penuh amarah, "Karena perbuatan mu ini, nama prusahaan Papa juga ikut rusak!" tambah Satria lagi.
"Maaf Pa.....hiks.....hiks......" Veli hanya bisa menangis sambil mengatakan maaf, ia tak mau berdebat dengan Satria. Sebab ia takut Satria kembali terkena serangan jantung.
"Pa ini hanya salah paham," Aran langsung menimpali pembicaraan Satria dan Veli, sebab ia tau sebentar lagi Satria bisa saja di larikan kerumah sakit. Aran sangat tau tentang Satria yang tak bisa melihat anak-anaknya di hujat di luar saja, di tambah lagi banyak komentar miring yang minim ahklak.
"Salah paham bagaimana? Bukankan sudah jelas dalam rekaman itu Veli sedang bersama seorang pria. Dan kau pasti sudah melakukan perbuatan hina kan!" tegas Satria lagi dengan menggepalkan tangannya, rasanya tangan itu ingin segera melayang di pipi putrinya itu.
Veli menggeleng, wajah pucatnya semakin terlihat jelas. Kedua tangannya kini meremas perutnya yang mulai terasa sakit. Dada Veli terasa sesak, ia ingat mengapa Aran mengambil ponselnya dan Aran tak mengijinkannya menonton televisi, ternyata Aran ingin menutupi semua itu.
"Pa ini salah paham, itu hotel milik Aran. Jadi wajar Veli kesana karena ingin menemui Aran," bohong Aran, karena ia tak mau terjadi sesuatu pada Veli. Bagi Aran Veli adalah napasnya, jika napasnya hilang maka ia pun tidak akan bisa hidup lagi.
"Maksud mu apa?" Satria kini menatap Aran penuh tanya, sejujurnya ia sangat malu pada Aran atas perbuatan Veli. Namun apa mau di kata semua sudah terjadi dan Satria tidak akan membela Veli kalau memang Veli bersalah.
"Malam itu Aran ada di sana, dan Veli mau menemui Aran. Rekaman itu sebahagian sudah di potong, karena Aran juga ada di sana," jelas Aran, sebab memang vidio mau pun fhoto itu hanya menampakan Farhan dan Veli saja. Sementara malam itu ia dan Bilmar juga ada di sana.
"Malam itu Veli khilaf Pa, Veli memang ke hotel bersama manta pacar Veli," jelas Veli, ia tak ingin membuat Aran berbohong hanya untuk melindungi dirinya.
"Memalukan!"
PLAK......
Tangan Satria langsung mendarat di wajah sang putri, semua terasa begitu saja. Satria sangat merasa terluka karena sudah melayangkan tangannya pada wajah sang anak, tapi apa yang di lakukan Veli sudah sangat mencoreng nama baik keluarganya dan keluarga Rianda. Belum lagi malu yang harus di tanggung Satria pada Rianda besannya.
__ADS_1
"Papa," Laras dengan cepat memegang Veli, ia tak mau apa yang Satria lakukan malah memperparah keadaan Veli.
"Katakan kamu sekarang mengandung anak siapa?" tanya Satria tanpa perduli dengan apa yang di katakan Laras.
DEEG!.....
Jantung Veli berdegup kencang, mungkin karena paktor kehamilan yang masih berusia muda hingga membuat kondisi Veli seakan tak menentu dan mudah tersinggung. Rasanya Veli begitu terluka mendengar pertanyaan Satria, walau pun Satria juga terluka dengan pertanyaannya. Namun kin Veli hanya diam sambil meremas perutnya yang semakin terasa sakit.
"Pa cukup, kita belum mendengar penjelasan anak kita. Mama tau anak kita tidak serendah itu," tegas Laras membela sang anak, "Papa seharusnya mendengar apa yang ingin Veli katakan, lagi pula kenapa vidio dan fhoto itu bisa tersebar? Kita tidak tau apa motif nya," tambah Laras lagi.
"Pa, anak yang di kandung Veli adalah anak Aran," jawab Aran.
Satria menatap Aran, "Apa kau yakin?" tanya Satria, "Apa kau tidak sedang berusaha kembali melindungi Veli?" Satria lagi-lagi bertanya sebab ia tak mau Aran menutupi apa yang sudah Veli lakukan.
"Iya, itu memang anak Aran. Aran suaminya dan Aran sangat tau seperti apa Veli dan bagaimana Veli," jawab Aran, ia tak mungkin mengatakan pada Satria dengan jelas, bahwa Veli memang masih suci saat malam pertama kali Aran dan Veli menyatu sebagai pasangan suami istri pada umumnya.
Satria mengangguk ia bersukur, dengan begitu ia lebih tenang sebab. Paling tidak ia tidak terlalu malu bila berjumpa dengan Rianda.
"Ma Veli udah nggak kuat," rintih Veli dengan keringat dingin, sakit yang sedari tadi ia tahan kini tak dapat lagi ia sembunyikan, "Ma, sakit....." kata Veli.
"Veli," dengan cepat Aran langsung memeluk Veli, ia tak perduli lagi dengan adanya mertua di sana. Yang ia tau istrinya tengah menangis merintih kesakitan.
"Sakit......Mas," kata Veli terus memegang perutnya.
__ADS_1
Perlahan mata Veli tertutup karena kesadarannya mulai menghilang, rasa sakit itu membuatnya seakan tak bisa lagi membuka mata. Dalam sekejap Veli kehilangan kesadarannya.
"Veli.....Veli.....Veli......" teriak Laras sambil menangis.