
Satu Minggu kemudian.
TOK TOK TOK.
Anggia mengetuk pintu kamar Bilmar.
"Tuan....tuan....tuan gilaaa," teriak Anggia.
TOK TOK TOK.
"Tuan....tuan...gi..." Ucapan Anggia terputus karena ternyata pintu sudah di buka oleh Bilmar bahkan mulut Bilmar kena ketukan tangannya,
"Hehehe," Anggia tidak enak, "Maaf," kata Anggia dengan wajah menyesal.
Bilmar menyandarkan tubuhnya di sisi pintu, dengan melipat kedua tangan di dada sambil menatap Anggia, "Kamu tadi bilang saya apa?" tanya Bilmar, karena ia kalau tidak salah dengar Anggia memanggilnya tuan gila.
"Yang mana?" Anggia bukan menjawap, tapi malah balik bertanya pada Bilmar.
"Kamu bilang saya gila?" Bilmar menatap tajam Anggia.
"Yeee," Anggia berteriak di depan wajah Bilmar, "Ganteng-ganteng tuli," kata Anggia lagi.
Bilmar tersenyum mendengar perkataan Anggia kemarahannya seakan hilang, "Kamu bilang saya ganteng?" Bilmar tersenyum bangga sambil menyisir rambut, "Saya memang ganteng," tutur Bilmar lagi.
Anggia memutar bola matanya dengan malas, "Iya anda memang ganteng dan tampan seperti Bram," Anggia memberikan dua jempol pada Bilmar.
"Wah kamu memang benar," Bilmar semakin bangga, "Tapi Bram itu siapa, artis atau model, atau mungkin pengusaha?" tanya Bilmar penasaran.
"Bram itu monyet tetangga sebelah tuan, masa nggak tau," jawab Anggia santai.
"Monyet?" Bilmar malah melongo dan kehilangan senyum bahagia serta bangga, berganti kesal karena Anggia menghinanya.
"He'um, ganteng banget tuan, kalau tuan mau liat boleh yuk saya temani," Anggia menarik tangan Bilmar, tapi Bilmar dengan cepat melepaskannya.
"Nggak usah, apasih," Bilmar menghentikan langkahnya dengan kesal menatap wajah Anggia, "Kamu memuji atau menghina saya?" tanya Bilmar.
"Nggak dua-duanya," Anggia menggerakan jari telunjuk di hadapan Bilmar.
"Terus tujuan kamu kekamar saya apa? Minta saya keloni? Ayo sini," Bilmar menarik tangan Anggia kedalam kamar.
"Eh," Anggia menghempaskan tangan Bilmar, membuat Bilmar berbalik dan menatap Anggia, "Tuan jangan kurang ajar ya, kelon-kelon anak orang emang tuan pikir saya istri anda? Sembarangan," ketus Anggia.
"Ya udah ayo saya nikahin biar jadi istri saya," kata Bilmar.
"Nikah udah kayak beli gorengan, Ogah," ketus Anggia.
"Sebenarnya kamu ngapain nyariin saya?" tanya Bilmar
Bilmar mengerti ibu dari calon anak nya itu sepertinya sedang menginginkan sesuatu, Bilmar tidak pernah mempermasalahkan tingkah Anggia yang sekarang banyak bicara. Bilmar yakin kalau Anggia banyak bicara itu tandanya ia mulai nyaman, hingga tidak lagi menyimpan keinginannya, bahkan Bilmar sangat suka membuat Anggia marah-marah karena bisa menjadi hiburan saat ia lelah pulang bekerja.
"Saya mau di temani nonton televisi," kata Anggia mengutarakan keinginanya.
"Veli kemana?" tanya Bilmar.
Veli memang sudah kembali kerumah Bilmar sejak dua hari yang lalu, biasanya Anggia akan mengajak Veli.
__ADS_1
"Veli lagi keluar sebentar ada urusan," jawab Anggia karena Veli berpamitan padanya ingin membeli pembalut, jadi tidak mungkin Anggia mengatakan pada Bilmar tentang itu.
"Oh, ya udah ayo," Bilmar merangkul leher Anggia, Anggia ikut saja keduanya seperti sahabat sejati yang kadang ribut kadang baikan dalam waktu yang bersamaan, "Kita nonton di luar saja," kata Bilmar.
"Kalau di kamar ini juga kan boleh tuan, itu ada televisi," Anggia menunjuk televisi berukuran cukup besar di kamar Bilmar.
"Kalau di kamar bukan nonton," tutur Bilmar sambil berjalan bersama Anggia menuju ruang keluarga.
"Tidur," jawab Anggia.
"Bikin anak kicot," Bilmar menghimpit kepala Anggia di ketiaknya.
"Bau tuan gila," Anggia berusaha melepaskan diri.
"Ahahaha," hal yang sangat di sukai Bilmar adalah melihat Anggia yang marah-marah.
"Mami bingung sama kalian," Ratih yang sedang duduk di sofa sambil membaca majalah tiba-tiba bersuara melihat dua anak manusia yang melewatinya dengan pertengkaran yang sangat sering ia saksikan.
"Kenapa Mi?" tanya Bilmar.
"Kadang ribut kadang berteman," Ratih bahagia dengan kedekata Anggia dan Bilmar karena ia memang berencana dalam waktu dekat ini meminta Anggia mau menikah dengan Bilmar, sebab Anggia sudah sah bercerai dari Brian.
"Mi, Anggia nonton dulu ya," pamit Anggia.
"Iya Nak, nanti temani Mami masak ya," pinta Ratih karena ia tau Anggia sangat pintar memasak.
"Iya Mi," jawab Anggia.
"Kicot cepat," Bilmar menarik baju Anggia.
"Sakit tuan gila," teriak Anggia.
"Kita mau nonton apa?" tanya Bilmar sambil mengambil toples berisi kacang, tapi toplesnya di rebut Anggia.
"Nonton kateron," jawab Anggia dengan mulut penuh.
"Kartun Ngi," Bilmar membetulkan ucapan Anggia yang salah.
"Iya tau," jawab Anggia.
Lama keduanya nontong hingga Bilmar bersuara.
"Ngi," panggil Bilmar yang masih fokus menonton sambil mengunyah.
"Em," jawab Anggia tanpa melihat Bilmar.
"Main tebakan yuk," kata Bilmar menatap Anggia yang duduk di sampingnya.
"Ayo," Anggia tampak antusias dan balik menatap Bilmar.
"Kamu, atau saya yang duluan ngasih tebakan?" tanya Bilmar.
"Saya."
"Ya udah apa?" kata Bilmar menatap Anggia dengan serius.
__ADS_1
"Kalau saya menang nanti malam kita ke pasar malam ya," kata Anggia.
"Kalau kalah kamu saya cium ya!" kata Bilmar.
BUKK.
Anggia melempar bantal sofa pada Bilmar.
"Heheehe," Bilmar terkekeh, "Ayo apa tebakannya?" kata Bilmar.
"Ikan apa yang nggak suka berenang?" kata Anggia.
"Emang ada ikan yang nggak suka berenang?" Bilmar malah di buat bingung dengan pertanyaan Anggia, niat hati ingin mebuat Anggia pusing tapi justru ia yang di buat pusing.
"Ayo jawab?"
Lama Bilmar berpikir hingga akhirnya Bilmar menyerah, "Nggak tau saya nyerah," Bilmar menggaruk kepala karena merasa kalah.
"Ikan malas," jawab Anggia santai.
PELTAK.
Bilmar menyentil kepala Anggia.
"Sakitt," Anggia mengosok-gosok jidatnya.
"Tebakan paan? Ikan malas, nggak ada ikan malas."
"Ada tuan aja gila nggak tau!" kesal Anggia sebab Bilmar selalu suka sekali menyentil kepalanya.
"Kamu yang bodoh!" kesal Bilmar.
"Tuan bilang saya bodoh?" Anggia berapi-api mendengar ucapan Bilmar, sedangkan Bilmar sangat suka.
"Iya mana ada ikan malas dasar bodoh, yang ada kamu yang bodoh," kata Bilmar lagi memancing Anggia.
"Saya dokter, saya sarjana saya nggak bodoh!" kesal Anggia.
"Coba buktikan?" tantang Bilmar.
"Buktikan apa?" kata Anggia.
"I love you, artinya apa, mana tau bahasa inggris mu nol besar," kata Bilmar.
"Tuan tantang saya?"
"Jawab aja kicot, atau otak kamu memang sekecil kicot."
"Aku cinta pada mu!" teriak Anggia.
"Sayang....Abg juga cinta kamu," jawab Bilmar sambil mencolek dagu Anggia dan berlalu pergi sebelum Anggia menyadari.
"Tuan gilaaaaaa," teriak Anggia setelah menyadari ternyata ia di bodohi oleh Bilmar.
"Huuufp," Ratih hanya geleng-geleng lagi sambil tersenyum bahagia, di rumah itu seakan menjadi ramai setelah Anggia sembuh.
__ADS_1
****
Readers mohon Vote ya, kalau nggak saya up satu hari satu Episode udah nggak semangat.