
Mulai hari Anggia sudah kembali bekerja di rumah sakit, Bilmar mengijinkan agar Anggia tidak merasa bosan selalu di rumah saja. Lagi pula Anggia hanya bekerja dua hari dalam satu minggu dan itu pun bila keadaannya kurang baik ia tidak akan pergi.
Anggia keluar dari kamar setelah selesai bersiap-siap karena ia akan berangkat bekerja. Namun saat ia keluar dari kamar, Anggia sudah melihat Bilmar menunggunya di depan pintu.
"Ada apa tuan?" Anggia bingung untuk apa Bilmar berdiri di depan kamarnya seperti itu.
"Kamu udah siap?" tanya Bilmar.
"Udah."
"Kamu saya antar ya?" kata Bilmar menawarkan diri.
"Tidak usah tuan saya pergi bersama Veli saja," kata Anggia menolak halus.
"Veli berangkat sama Aran," tiba-tiba terdengar suara Ratih yang baru datang. Anggia dan Bilmar langgsung menatap Ratih.
"Tapi Mi..." Anggia ingin menghindari Bilmar, entahlah semenjak pembicaraan mereka kemarin Anggia sudah tidak nyaman lagi berdekatan dengan Bilmar.
"Sudah sana pergi," kata Ratih memutar badan Anggia menuju pintu.
Dengan berat hati Anggia melangkahkan kakinya bersama Bilmar yang berjalan di belakang tubuh mungil dengan perutnya yang semakin membuncit. Kini keduanya duduk di dalam mobil dalam diam tanpa ada yang berbicara, Bilmar menyadari perubahan sikap Anggia setelah perkataannya kemarin kini Anggia seperti menghindarinya.
"Anggia," kata Bilmar sambil menepikan mobilnya, jujur saja Bilmar rindu dengan tingkah Anggia yang selama ini terlihat begitu ceria saat bersamanya.
"Ya tuan," Anggia menatap wajah Bilmar dengan penuh tanya, sebab ia bingung mengapa Bilmar sudah menepikan mobilnya padahal mereka masih beberapa meter saja dari rumah.
"Kamu kenapa?" tanya Bilmar.
"Saya," Anggia menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, kamu seperti menjahui saya sekarang dan kamu pun terlihat lebih banyak diam seperti dulu, saat kita pertama kali bertemu. Kamu dan aku bagai orang asing yang tak saling mengenal," kata Bilmar dengan menatap manik mata Anggia.
"Saya tidak apa tuan, mungkin itu perasaan anda saja," Anggia berusaha untuk tetap tenang dan biasa saja, ia berpura-pura nyaman padahal rasanya ia ingin turun dan pergi dari hidup Bilmar, Anggia ingin ketenangan hidup bersama anak-anaknya sampai ia yakin dengan satu orang pria yang berhasil membuatnya jatuh hati.
Anggia tidak ingin mengambil keputusan dengan cepat, sebab ia tidak siap untuk terluka lagi. Tidak ada jaminan jika ia bersama Bilmar akan bahagia, tapi tidak ada yang mengatakan ia pun akan menderita bersama Bilmar. Hanya saja hati belum siap jika harus menerima untuk menikah lagi, pikirkan anak mu? Semua ibu pasti memikirkan kebahagian anak-anaknya tapi apakah anak-anak itu akan bahagia saat ia tahu ibunya tidak bahagia? Tentu saja tidak. Dan Anggia tidak siap untuk mengulangi kesalahan yang sama saat dulu ia menikah demi pengobatan sang Ayah, kata kan lah Anggia saat ini menjadi wanita egois karena tidak memikirka anak-anaknya. Tapi bukankah kita harus berusaha untuk tidak jatuh pada lubang yang sama, menikah bukan untuk ajang coba-coba, ketika ada yang ingin menikahi kita lalu kita langsung menerima dan kalau tidak bahagia cerai lalu cari yang lain, sepertinya itu hanya untuk wanita murahan saja tapi tidak bagi wanita yang memiliki harga diri. ia hanya ingin jika ia menikah lagi tidak akan ada kata perceraian, dan juga kekecewaan.
"Anggia, bukan kah kau sudah berjanji untuk membuka hati mu untuk ku?" sepertinya Bilmar kembali mengingatkan hal itu pada Anggia.
__ADS_1
"Iya."
"Lalu kenapa kau seperti menghindari ku?" tanya Bilmar lagi.
"Aku tidak menjauhi anda tuan," jawab Anggia.
"Baiklah kalau kau tidak menjauhi ku, kenapa kau sekarang berubah?"
"Berubah?" Anggia sangat malas berbicara soal itu lagi.
"Kau sudah tidak seperti kemarin-kemarin, yang cerewet dan manja bahkan kini kau sudah sangat membatasi bila bersama ku, aku tidak ingin kau terbeban karena pembicaraan kita kemarin." Bilmar sepertinya mulai mengeluarkan kekesalannya yang tak ingin Anggia menghindarinya.
"Mungkin itu perasaan anda saja."
"Kau masih ingat perjanjian kita kemarin? Bahwa kau memberi ku waktu tiga bulan untuk membuat mu jatuh hati?" tanya Bilmar.
"Iya."
"Berarti kau tidak boleh lagi menghindari ku dan membatasi diri seperti ini pada ku, aku ingin kau kembali seperi dulu yang suka meminta segala sesuatu pada ku," tutur Bilmar lagi.
"Baiklah kalau kau terpaksa tidak usah, kita berteman saja tapi setelah anak-anak itu lahir kau harus memberikannya pada ku, dan kau boleh pergi!" kesal Bilmar.
"Tuan punya otak nggak? Saya nggak minta anda tanggung jawab! Tidak usah anda bertanggung jawab jadi jangan berbicara seenak anda saja," kesal Anggia.
"Baiklah kalau kau tidak mau, karena kau sudah memberi kesempatan pada ku selama tiga bulan. Berarti mulai hari ini kita pacaran!"
"Pacaran apanya?" Anggia malah di buat shock dengan perkataan Bilmar.
"Iya kalau kita nggak pacaran gimana caranya mau dekat, intinya kalau kamu mau pacaran dengan saya. Saya tidak akan merebut anak-anak dari kamu, kalau kamu tidak mau saya akan merebut mereka, ingat kamu sudah mengatakan tiga bulan waktu saya. Dan kalau saya berhasil kita menikah kalau tidak saya menyerah," Bilmar mencoba memberi penawaran pada Anggia, kalau pun mereka belum menikah paling tidak status mereka jelas pacaran dan Bilmar bisa melarang Anggia bila berdekatan dengan pria lain. Sepertinya otak mulus itu sedang bekerja.
Anggia diam dan memikirkan perkataan Bilmar, "Okey, kita pacaran," jawab Anggia setelah ia pertimbangkan.
"Yes," Bilmar memukul kemudi karena bahagia.
"Tapi tiga bulan," kata Anggia lagi.
"Tidak masalah," Bilmar memeluk Anggia, tapi Anggia mendorong Bilmar.
__ADS_1
"Baru pacaran tuan, belum nikah apaan main peluk-peluk," kesal Anggia memanyunkan bibirnya.
"Lupa," kata Bilmar sambil menarik hidung Anggia.
"Ish, sakit," gerutu Anggia sambil mengelus hidung.
"Dan berhenti memanggil ku tuan!"
"Kenapa?"
"Kau kekasih ku bukan pembantu ku!" jelas Bilmar dengan tegas.
"Terus saya panggil apa dong?" Anggia malah bingung sendiri.
"Panggil sayang," goda Bilmar sambil menaik turunkan kedua alis matanya.
"Ish, gila," Anggia malah gemas dan mencubil lengan Bilmar.
"Panggi Abang aja okeh," Bilmar tersenyum penuh kebahagian.
"Okey Abang tuan," seloroh Anggia.
"Okey Adek kicot," Bilmar mengacak rambut Anggia gemas karena status baru mereka kini adalah berpacaran.
"Ayo," kata Anggia sebab ia sudah telat bekerja karena pembicaraan mereka.
"Nikah dulu baru boleh lagi," jawab Bilmar.
"Apanya? Nggak nyambung banget sih, ayo jalan aku udah telat," Anggia menunjuk jam tanggannya.
"O, hehehe," Bilmar tersenyum kecut merutuki kebodohannya.
Caelah gue pikir dia ngakakin ke kamar buat debay lagi tenyata berangkat kerja. Kenapa otak gua kesana terus ya.
****
Jangan lupa Vote ya.
__ADS_1