
Setelah selesai makan malam bersama Anggia, Bilmar langsung masuk ke ruang kerjanya. Karena seharian ia meninggalkan perusahaan dan membuat pekerjaan itu kini sangat menumpuk, setelah selesai dengan pekerjaannya Bilmar kembali ke kamar untuk mengistirahatkan tubuh lelahnya. Namun saat memasuki kamar ia tak melihat Anggia ada di sana.
"Anggi?" Bilmar memeriksa seluruh ruangan di kamarnya termasuk juga kamar mandi, namun nihil Anggia tetap saja tidak berada di sana.
Akhirnya Bilmar pergi ke dapur sebab selain kamar tempat favorit Anggia adalah dapur, karena ia sangat mudah merasakan lapar apa lagi malam hari begini. Namun yang Bilmar lihat justru bukan Anggia tapi Veli yang sedang makan malam, sebab memang tadi Veli tak ikut bergabung dengannya makan.
"Veli," Bilmar memanggil Veli.
"Ya tuan Bilmar," Veli sejenak menghentikan menyendok nasi ke mulut dan kini beralih menatap Bilmar yang berdiri tak jauh darinya.
"Lihat istri saya?" tanya Bilmar.
"Tadikan di kamar," jawab Veli.
"Saya lihat di kamar tapi tidak ada," jawab Bilmar.
"Maksud saya....Anggia di kamar lamanya tuan, tadi katanya dia gerah dan mau nyari baju tidur yang adem katanya gitu," jawab Veli memberitahu pada Bilmar.
Sementara Anggia kini sibuk membuka lemari mencari pakaian tidur yang terasa dingin, hingga akhirnya ia menemukan apa yang ia cari. Dan tangannya terulur untuk mengambil gaun tidur itu.
"Pendek banget ya," gumam Anggia saat memegang pakaian itu.
"Ck....." Anggia tak perduli, kehamilannya yang sudah tujuh bulan itu membuatnya sedikit kesulitan dan kini ia sering merasa gerah. Sangat gerah.
"Ya ampun," Anggia mengetuk kepalanya saat melihat tubuh gemuknya di cermin, gaun tidur yang ia kenakan sangat tidak pantas di sebut pakaian. Sebab tak menutupi paha mulusnya justru yang ada setengah gundukannya menyembul keluar, sejenak Anggia berpikir pasti Bilmar menyangka ia menggoda suaminya dengan memakai gaun tidur itu.
"Ah......udahlah aku tidur di sini aja."
Anggia tak mau ambil pusing, matanya tak bisa lagi di ajak kompromi. Ia membaringkan tubuhnya di ranjang tanpa kembali ke kamarnya bersama Bilmar. Lagi pula Anggia yakin Bilmar pun tidak akan mungkin mencarinya, dan pasti Bilmar pun sudah tidur dengan lelap.
__ADS_1
Lama Anggia mencoba tidur namun tidak bisa, entah mengapa kini ia tak bisa terlelap bila tak tidur bersama sang suami. Anggia turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, setelah itu ia kembali keranjang lagi dengan rambut yang panjang hitam pekat sangat berantakan Anggia duduk di sisi ranjang sambil menagis seperti anak kecil, semejak hamil perasaan Anggia berubah-ubah kadang saat ia menyadari apa yang ia lakukan sebelumnya membuatnya malu sendiri.
"Pengen peluk, tapi gimana bilangnya....." kesal Anggia mengacak rambutnya. "Hiks......hiks......" tangis Anggia pecah dan ia mengusap air matanya beberapa kali.
CLEK.
Pintu terbuka dan Bilmar di sana.
"Anggi," kata Bilmar sambil melangkah masuk.
Anggia mengusap air matanya dengan cepat saat mendengar suara Bilmar, dan ia berbalik sesaat tadi ia memang memunggungi pintu dan Bilmar berada di pintu.
"Kamu kenapa di sini?" tanya Bilmar kemudian mendekati Anggia, tapi justru fokus Bilmar pada yang lain. Ya.....pada keindahan tubuh istrinya dengan gaun tidur yang di gunakan Anggia.Tapi dengan cepat Bilmar kembali menguasai dirinya, karena melihat mata Anggia yang sembab.
Caelah kan adek gw bangun.
"Kamu nangis?" tanya Bilmar yang ikut duduk di sisi ranjang saling berhadapan dengan Anggia.
Ya ampun nggak kuat, cobaannya sungguh berat.
"Ya terus kenapa?"
"Anggi malu, Abang juga pasti bilang kalau Anggi goda Abang," kata Anggia menundukan kepala sambil menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Emang Anggi punya malu?" seloroh Bilmar.
"Abang......." Anggia hampir menangis kembali, terlihat matanya sudah berkaca-kaca.
"Uh....kacian....." Bilmar memeluk Anggia, agar istri cengengnya tak menangis.
__ADS_1
"Abang pasti mikir Anggi godain Abang kan?"
"Emang," gumam Bilmar, "Ya terus masalahnya di mana?" tanya Bilmar bingung.
"Anggi pengen tidur di peluk Abang tapi malu, Anggi pakek begian," kata Anggia sambil menagis.
"Ya udah yuk sini, kalau perlu yang lain juga ok...." kata Bilmar naik keranjang dan menarik lengan Anggia.
"Anggi malu."
"Kenapa harus malu....sini," Bilmar tidur dan Anggia juga ikut tidur berbantalkan tangan Bilmar.
"Abang tangannya apasih," Anggia tak nyaman saat tangan Bilmar seperti menjelajah.
"Udah ayo tidur.....Abang ngantuk berat," kata Bilmar menutup matanya.
"Kita tidur di sini?" tanya Anggia.
"Iya.....sama saja kan?" kata Bilmar sambil menutup matanya.
Bilmar rasanya tak kuasa harus menahan sesak adiknya di bawah sana, sementara Anggia tidur dengan memeluk Bilmar dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami hingga terlelap. Bahkan hanya menunggu beberapa detik saja ia sudah berada di alam mimpi yang indahnya.
"Ya ampun tadinya gw ngantuk berat sekarang malah melek....." Bilmar menatap wajah Anggia dengan lekat.
Bilmar tersenyum memandang wajah Anggia yang terlelap dalam pelukannya, tangan Bilmar mengelus pipi cabi Anggia dengan ibu jarinya. Bulu mata lentik Anggia terlihat sangat indah dan meneduhkan hati, hal yang membuat Bilmar jatuh hati adalah rambut panjang Anggia. Sedari dulu ia memang ingin memiliki istri dengan rambut panjang tapi tak pernah ia temukan saat berpacaran dulu, dan tanpa bisa di sangka ternyata Anggia memilikinya.
Bilmar ingat saat dulu ia pertama kali melihat Anggia di rumah Sinta, tepat saat sarapan pagi Bilmar sudah sangat terpesona namun saat itu rambut Anggia terikat dan di gulung beberapa kali, Bilmar pun tak tau bila rambut Anggia sangat indah. Hingga saat di taman belakang saat itu Ziva meminta Anggia mengambil garam, saat Anggia terpeleset dan Bilmar dengan cepat menangkap Anggia agar tak terjatuh rambut panjang Anggia terlepas dari ikatanya. Saat itu lah Bilmar benar-benar tak bisa berpaling dari pesona Anggia Tiffani yang selalu menghiasi hari-harinya bayangan Anggia selalu menggodanya hingga ia hampir gila bila sehati tak melihat wanita itu.
Perlahan tangan Bilmar menyisir rambut Anggia dengan jari-jarinya, menghirup aroma rambut Anggia yang sungguh memabukannya itu. Setelah itu tangan Bilmar turun pada bibir Anggia yang terlihat begitu merah menggoda, ibu jari Bilmar mengelusnya dan beberapa kali mengecup bibir itu.
__ADS_1
"Mmm," Anggia menggeliat dan kembali menyembuyikan wajahnya, bahkan memeluk Bilmar dengan sangat erat.
Sesaat Anggia merasa tidurnya terusik saat Bilmar mengecup bibirnya, namun itu tak masalah saat ini Anggia terlalu lelah hingga ia sama sekali tak mengadari hal itu. Hingga Bilmar juga menutup mata dan memeluk istrinya membawanya dalam tidur yang lelap dan terasa hangat.