
Begitu kembali ke kamarnya, Yola berusaha keras untuk menenangkan dirinya, mengingatkan dirinya sendiri bahwa dia tidak boleh goyah oleh pria itu. Pria jahat yang telah menghancurkan hidupnya.
"Sekaranglah saatnya, hidupnya juga harus hancur!"
Selama beberapa hari berikutnya, mereka berdua berkencan dengan penuh kebahagiaan bak sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Err... lebih tepatnya, Akbar-lah yang berpikir begitu.
Dia bahkan langsung percaya 100% pada Yola dan menceritakan segala hal tentang proyeknya Tuan Joni pada Yola. Bahkan saat Yola tanya ini-itu dengan alasan belajar bisnis sama dia, Akbar tidak curiga sedikitpun. Dia malah bangga saat Yola cepat tanggap terhadap segala informasi yang diberikannya.
"Yah, siapa tahu aku tidak punya pekerjaan, jadi aku bisa minta pekerjaan padamu. Banyak hal yang harus ku pelajari."
"Sungguh? Aku akan sangat senang jika kau benar-benar bekerja untukku."
Yola canggung mendengarnya. "Biarkan aku menggunakan kemampuanku dulu untuk mendapatkan pekerjaan. Jika tidak bisa, baru aku akan memikirkanmu."
*****
Tak lama kemudian, Akbar mengantarkan Yola ke kamar hotelnya. Tapi Yola tidak mengundangnya masuk, membuat Akbar jadi berpikir kalau Yola takut padanya. Yola canggung menyangkal.
"Aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu lagi jika kau tidak bersedia." (Yang dulu juga dia tidak bersedia, Bambank!)
Lagi-lagi dia mendekat untuk menciumnya. Tapi kali ini Yola tidak menghindar dan langsung menutup mata. Tapi ternyata Akbar tidak melakukannya dan hanya berbisik mengucap selama malam. Yola jadi canggung.
*****
Yola langsung menelepon Taro dan menyuruhnya untuk merevisi proposalnya. Dalam revisi itu, mereka akan memberikan hak pada Tuan Joni sebagai pemilik untuk meyakinkan Tuan Joni bahwa mereka hanya ingin membantu dan bukannya mengambil alih hotelnya.
Jelas dia melakukan revisi itu berkat informasi dari Akbar tadi. Dalam flashback, dia memberitahu Yola bahwa isi proposalnya untuk Tuan Joni adalah memberi Tuan Joni hak manajemen dan kebebasan padanya untuk mengubah apa-apa yang beliau inginkan.
__ADS_1
Keesokan harinya saat Akbar baru mendatangi kamarnya Yola, dia malah mendapati Yola sudah check-out.
Yola sedang dalam perjalanan pulang sambil menelepon Ana dengan hati riang gembira padahal Ana sangat mencemaskannya. Yola meyakinkan tidak terjadi apapun... dan tidak akan terjadi apapun lagi. Dia hanya akan menunggu dan melihat bencana yang akan terjadi pada pria itu. Dia dan pria itu tidak akan pernah bertemu lagi.
"Kuharap begitu. Aku tidak ingin kau mengambil resiko seperti ini lagi."
Begitu Yola sampai di rumah, deddy langsung memujinya. Ia sudah dengar dari Taro. Deddy bangga padanya.
"Deddy membangun perusahaan deddy dengan tangan deddy sendiri. Tidak akan kubiarkan siapapun menyingkirkan deddy seperti ini. Dan aku juga percaya kalau aku bisa melakukannya."
Tapi deddy masih pesimis. Papah Alez tidak mungkin melepaskan proyek ini semudah itu, apalagi orang bernama Akbar itu. Apa Akbar bertemu dengannya? Yola berbohong menyangkal, pura-pura tak kenal.
Di Alez Grup, Akbar meyakinkan bahwa Tuan Joni tampak tertarik dengan proposal mereka. Jome senang mendengarnya, lalu kapan Tuan Joni akan memberi jawaban?
"Dia sudah memberi jawaban." Jawab papah Alez. "Tuan Joni sudah memutuskan untuk membuat kesepakatan... tapi dia tidak akan melakukannya dengan kita. Dia melakukannya dengan Jack Grup."
Akbar sangat kaget. "Kurasa kemampuanmu sudah menurun." Sindir Jome
Di Jack Grup, Yola dan Taro saling memuji satu sama lain akan peran masing-masing dalam mendapatkan kemenangan mereka ini. Para dewan direksi puas dan akhirnya setuju untuk membiarkan deddy Jack tetap di posisinya.
Usai rapat, Yola langsung pergi... tanpa menyadari dia berselisih jalan dengan Akbar. Dia datang mencari Lala, tapi malah diberitahu tidak ada pegawai bernama Lala di sini.
Akbar tak percaya dan langsung mau menerobos masuk. Taro keluar saat itu, Akbar sontak mengonfrontasi cara kotor mereka dalam melakukan bisnis. Taro tidak mengerti apa maksudnya.
"Kau menggunakan wanita sebagai pemikat untuk mengalahkan pihak lawan. Itu adalah strategy paling menjijikkan yang pernah kutemui. Tapi aku mengerti, saat kau menemui jalan buntu dan sama sekali tidak punya cara untuk melawan balik, kau mungkin akan menghalalkan segala cara."
"Maksudmu, kau menuduh kami mengirim orang untuk mengetahui rahasiamu?"
__ADS_1
"Apapun yang kau lakukan, seharusnya kau mengetahuinya dalam hatimu. Aku hanya akan kalah padamu dalam satu pekerjaan ini saja."
*****
Ana kagum mendengar cerita Yola. Sungguh tak disangka kalau Yola bisa melakukan hal itu. Dia hebat!
"Ini tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang dia lakukan padaku. Aku ingin sekali melihat bagaimana mukanya saat dia tahu dia sudah kalah."
"Apa Akbar tidak curiga kalau kau menipunya?"
Yola yakin belum. Dia yakin ini saja cukup untuk membutakan si cowok semacam itu. Cowok yang memandang cewek hanya sebagai mainan dan menipu cewek dengan cinta palsu.
Tapi Ana tetap cemas. Sebaiknya Yola tetap berhati-hati. Akbar itu sama seperti api, dan Yola sekarang sedang mempermainkan api. Suatu hari api itu akan membakar dirinya sendiri dan Yola juga.
"Aku memperingatkanmu dengan niat baik, Yola."
Yola jadi cemas. Apalagi keesokan harinya saat Taro membawakan beberapa dokumen yang dia minta, Taro melapor bahwa kemarin Akbar datang kemari untuk memprotes masalah proyeknya Tuan Joni. Dia benar-benar marah.
"Dia datang menanyakan seorang wanita bernama Lala." Singgung Taro.
Hmm... Taro nih lama-lama kayaknya jahat juga. Dia jelas bisa menduga Lala yang dimaksud Akbar adalah Yola dan terang-terangan menyindirnya. Sekarang dia mengerti, Yola rela menghalalkan segala cara demi perusahaan.
"Baguslah kalau kau mengerti. Karena pencapaian perusahaan ini sebelumnya, sangat buruk. Kemenanganku, bagaimanapun aku mendapatkannya, seharusnya kau senang. Karena ini bisa membuatmu bisa bekerja lebih lama di sini." Balas Yola.
Canggung, Taro langsung berubah haluan menawarkan kerja sama demi membuat perusahaan mereka ini menjadi lebih besar. Yola setuju, tapi dia menolak jabatan tangannya.
*****
__ADS_1
Dokter Aseli ingin membelikan mainan untuk Putra dan Putri. Karena itulah, Aseli minta Akbar untuk mewakili sebagai adiknya yang masih di Inggris dan Akbar ada di Indonesia di mana Yola tinggal tidak jauh dari kotanya dan Akbar bisa memberikan mainan itu pada mereka. (Ow, apakah mereka akan bertemu lagi?)
》Bersambung....