
Keesokan harinya, Yola diberitahu oleh Jeni tentang janji temunya dengan kakaknya dokter Aseli yang ada di Indonesia yang mau memberikan hadiah untuk si kembar hari ini, namanya Akbar.
Yola agak aneh mendengar nama itu, tapi dia tidak berpikir macam-macam dan langsung membawa si kembar ke tempat janjian mereka. Si kembar antusias banget mau ketemu kak Akbar. Sepertinya mereka sayang banget sama kak Akbar walaupun mereka cuma pernah ngobrol sebentar sama Akbar sampai-sampai mereka memuji-muji Akbar sepanjang jalan.
Tapi sesampainya di sana, Yola malah mendapati bahwa Akbar kakaknya dokter Aseli itu ternyata Akbar iya Akbar, ayahnya si kembar. Untungnya Akbar belum melihatnya, Yola sontak menyembunyikan diri.
Yola bingung harus bagaimana. Tapi kemudian dia melihat Jeni dan seketika itu pula dia punya ide bagus. Tak lama kemudian, kedua wanita itu sudah bertukar baju.
Jadi idenya Yola adalah Jeni harus pura-pura jadi dirinya. Dia beralasan bahwa dia melakukan ini bahwa dulu Akbar pernah salah paham sama dia. Akbar kira kalau dia suka sama Akbar, padahal tidak.
Jeni dengan polosnya percaya dan dengan senang hati menawarkan diri untuk menangani cowok itu. Tentang si kembar, Yola dengan mudahnya mengajak mereka untuk memainkan game yang pernah mereka mainkan. Game ganti nama, ganti orang.
"Hari ini kita akan main game itu. Kak Yola akan menjadi kak Jeni, dan kak jeni akan menjadi kak Yola."
__ADS_1
Si kembar langsung paham dan dengan polosnya memanggil Jeni sebagai kak Yola. Jadilah Jeni yang menghadapi Akbar, sementara Yola mengawasi dari kejauhan.
Si kembar langsung akrab sama Akbar. Jeni bersikap sok angkuh, tapi begitu Akbar menyapanya, refleks dia menyapa balik dengan sopan. Wkwkwk! Tapi sedetik kemudian dia baru sadar dan mendadak berubah angkuh lagi. Akbar sampai bingung sendiri melihat perubahan sikapnya.
Saat Akbar ingin mentraktir si kembar makan es krim, Jeni menolak dengan alasan tidak mau di sini lama-lama. Tapi Putri pingin makan es krim dan langsung membujuk kak Yola. Jeni mendadak luluh, satu gelas saja yah.
Bahkan begitu es krim-nya disajikan, Jeni mendadak lupa sama sikap angkuhnya saking fokusnya memakan es krimnya dengan rakus, benar-benar tidak kelihatan kayak cewek kelas atas.
Baru sadar, Jeni langsung menurunkan gelasnya dan mengusap bibirnya pakai tangan padahal ada tisu. Akbar menawarinya tisu dan Jeni langsung mengucap terima kasih dengan sopan.
Bahkan saat Akbar memberikan hadiah yang ternyata bukan cuma buat si kembar, tapi juga buat Yola, Jeni sontak mengucap terima kasih dengan penuh semangat.
Yola benar-benar terpesona dan terharu melihat keakraban Akbar dengan si kembar. Tapi dengan cepat dia menguasa diri dan menepis perasaannya.
__ADS_1
Saat mereka hendak berpisah, Akbar janji sama si kembar bahwa dia akan membawa mereka makan es krim lagi di sini lain kali. Jeni mendadak sok angkuh lagi sambil menatap Akbar dengan sinis saat dia berkata...
"Orang sepertimu... bukan tipeku." Ketus Jeni lalu pergi.
Malam harinya, Yola tidak bisa tidur memikirkan keakraban si kembar dengan ayahnya tadi. "Maafin mamah, nak."
****
Ana benar-benar heran setelah mendengar cerita Yola bahwa kakaknya dokter Aseli ternyata Akbar, saingan bisnisnya Yola. Dunia ini begitu kecil atau ini takdir?
Kalau begitu, Yola harus ekstra hati-hati mulai sekarang. Ana punya feeling kalau Yola dan Akbar akan sering bertemu. Yola ragu, dia yakin mereka tidak akan saling bertemu lagi.
》Bersambung....
__ADS_1