
Di pagi hari
Yola bangun lebih dulu daripada Akbar, ia melihat dirinya di pelukan Akbar. Perlahan Yola berbalik menatap Akbar, Yola tersenyum melihatnya. Rasanya nyaman sekali dan tubuhnya merasa tidak terasa sakit lagi di dekat Akbar.
"Kamu begitu tampan kalau di lihat dari dekat." kata Yola lalu tangan kirinya menyentuh pipi Akbar yang masih terlelap tidur.
"Apa aku harus menerimamu? Sampai kapan kita seperti ini? Lebih baik aku akhiri semua ini, dan aku membuka kembali lembaran baru denganmu dan anak-anak kita."
"Akbar, aku mencintaimu." Yola melepaskan tangannya di wajah Akbar lalu wajahnya sendiri di benamkan di dada bidang Akbar dan memeluk tubuh Akbar dengan hangatnya.
Dari tadi Akbar mendengarkan perkataan Yola, lebih baik mendengarkan dari pada membuka mata lebih dulu. Ia ingin tahu Yola bicara apa ketika dirinya masih terlelap tidur.
"Aku juga mencintaimu Yolanda." jawab Akbar lalu telapak tangannya menyentuh punggung Yola dengan sedikit diberikan gesekkan lembut dengan tangannya.
Yola menarik kepalanya dari benaman di dada Akbar dan menatap Akbar dengan lekatnya.
"Yola, kenapa kamu menangis?" Akbar terkejut melihat Yola nenangis
Akbar menghapus air mata Yola dan menyentuh pipi Yola dengan lembutnya.
"Katakanlah! Aku tidak tahu kalau kamu diam begini dan tidak menjawab pertanyaanku."
"Kamu dengar semua pembicaraanku tadi?"
"Iya."
"Kenapa kamu diam saja?"
"Aku ingin tahu, apa yang kamu katakan ketika aku masih tidur."
Yola memilih bangun dari tempat tidurnya, sebelum menyibak selimutnya Akbar lebih dulu menahan lengan Yola.
"Yola, aku sungguh mencintaimu. Aku menginginkan kamu dan anak-anak kita, aku janji aku akan menebus deritamu dengan kebahagiaan dariku dengan caraku sendiri."
"Aku tidak bisa hidup tanpamu Yola, kalaupun bisa dari dulu lebih baik aku menikahi wanita lain yang masih suci, tapi aku sadar aku salah aku sudah mengambil kesucianmu dan aku hanya menginginkanmu, bukan wanita lain."
Akbar menggeser tubuhnya kedepan menempel punggung Yola dan memeluk tubuh Yola dari belakang.
"Aku akan melakukan apapun yang kamu minta, asal kamu dan anak-anak harus menjadi milikku."
"Aku tidak akan lelah berjuang untuk mendapatkanmu. Sampai matipun aku tidak akan menikahi wanita manapun selain dirimu, kalau kamu menikah dengan pria lain lagi, ku pastikan aku akan gagalkan itu bagaimanapun caranya."
Tepat sekali Akbar memeluk Yola dan mengelus perut Yola dengan lembut. Yola menyadari itu, diperutnya ada malaikat kecil dari benihnya, saat ini Akbar belum tahu kalau Yola hamil. Ia masih merahasiakan, nanti waktu yang tepat dirinya ingin mengatakan sendiri kepada Akbar.
"Bagaimana dengan deddy mommyku dan papah mamahmu? Restu orang tua itu penting Akbar."
Akbar menghela nafasnya, terasa sekali di tengku Yola dengan hembusan nafas Akbar.
"kedua orang tuaku sudah bertemu dengan kedua orang tuamu. Aku rasa mereka sudah baikkan dan meluruskan kesalahan pahaman terdahulu."
"Kesalahpahaman terdahulu?" Yola mengerutkan dahinya kesalahpahaman apa yang menimpa kedua orang tuanya dulu. Yola hanya tahu deddy Jack tidak suka dengan cara licik dari keluarga papah Alez yang menipu perusahaan deddy Jack.
Akhirnya Akbar menyeritakan kembali, apa yang di jelaskan oleh papah Alez kepada Akbar tempo hari. Yola menganggukan kepalanya karena mengerti, memang orang dalam yang di percaya malah mengkhianati perusahaan sendiri dan menjatuhkan perusahaan deddy Jack.
"Apakah kemarin kamu menemui Mr.Kim?"
"Iya, dari mana kamu tahu?"
"Kemarin tante Jessie mengatakannya. Aku merasa janggal. Hm apakah Mr.Kim mengajakmu bekerja sama?"
__ADS_1
"Iya, tapi dengan menginvestasikan uang di perusahaannya."
"Apa maksudnya menginvestasikan? kemarin Mr.Kim bekerja sama dengan perusahaanku tapi hanya tanda tangan sepakatan bekerjasama."
"Apa maksudmu aku ditipu?"
"Aku rasa seperti itu, agar perusahaan deddymu bangkrut."
"Kenapa Mr.Kim tega melakukan itu? Aku rasa tidak mungkin Akbar!" Yola menautkan kedua alisnya dan menggelengkan kepala karena menyangkal perkataan Akbar.
"Dulu kejadian ini sama serupa dengan kesalahpahaman papahku dengan deddymu."
"Iya, harusnya hari ini aku bertemu lagi untuk memberikan investasiku kepada Mr.Kim."
"Jangan kamu lakukan, aku rasa dana yang kamu berikan sangatlah besar."
"Iya memang besar."
Tiba-tiba ponsel Akbar berdering lalu ia melepaskan pelukkannya di tubuh Yola dan menjawab panggilan teleponnya ternyata itu dari Jome yang menghubungi Akbar.
"Apa jadi benar, Mr.Kim akan menipu perusahaan om Jack?"
"Kenapa bisa begitu?"
"Apa?"
"Itu semua karena suruhan Subroto, ayahnya Silla?"
Yola hanya mendengarkan obrolan Akbar di balik teleponnya dengan Jome.
Setelah selesai ia pun mematikan teleponnya dan menatap kedua mata Yola, Yola pun sama menatap kedua mata Akbar.
"Yola, aku janji aku akan membantumu. Kita sama-sama lawan semua ini, kita sama-sama mengembangkan perusahaan kita dengan bekerja sama lagi."
Yola hanya menganggukan kepalanya saja, ia tidak tahu mau berbuat apa lagi selain mensetujui rencana Akbar selanjutnya.
"Apa salah keluargaku Akbar? Kenapa banyak sekali musuh di perusahaan deddy Jack?"
"Maafkan aku Yola."
"Kenapa?"
"Kalau ini mungkin kesalahanku."
"Kamu bicara apa aku tidak mengerti apa yang kamu katakan, kesalahan apa?"
"Subroto, ayahnya Silla. Ini semua gara-gara dia."
"Dia pasti lakukan ini demi Silla, anak semata wayangnya saja yang manja itu."
"Silla? Siapa dia? mantan pacarmu? iya?" Yola menduga-duga saja awalnya tapi malah tepat sasaran.
"Iya, kamu kok tahu kalau Sella mantan pacarku?"
"Berarti benar Silla mantan kekasihmu." Yola meninggikan suara bicaranya itu.
Akbar hanya memandang Yola dengan tatapan sendiri sepertinya Yola cemburu. Akbar hanya tersenyum tipis, lalu ia kembali menarik tubuh Yola untuk ia dekap.
"Sayang, itu masalaluku."
__ADS_1
"Masa lalumu sama saja kamu sudah menjadi bekasnya! Menyebalkan." Yola dengan raut wajah menggerutu bertubi-tubi.
"Aku tidak pernah melakukan apapun dengannya, bahkan menyium Silla tidak pernah."
"Hanya denganmu aku bisa sekacau ini, tubuhmu yang membuatku candu. Rasanya aku tidak menginginkan tubuh wanita lain selain kamu, dulu dengan Sella aku tidak merasakan apapun, aku menjalani hubungan dengannya karena dia wanita baik tapi sayang sifatnya yang manja dan kekanak-kanakan itu yang membuatku menjauh darinya, apapun masalahnya ia harus aduhkan ke ayahnya sendiri dan tidak mau ia selesaikan sendiri masalahnya."
"Kalau aku seperti Silla bagaimana?"
"Kamu dengan Silla berbeda, kamu yang sudah berhasil membuatku tergila-gila kepadamu. Kalau Silla seperti membuatku ingin menjauhinya, bertemu dengannya saja aku selalu menghindar."
"Kenapa?"
"Aku tidak cinta dengannya, aku memilihnya sebagai kekasihku dulu karena dia wanita baik. Semakin mengenal dirinya, Sella semakin menjadi-jadi sifatnya."
"Sudahlah sayang, jangan bahas Silla. Aku sudah tidak ingin mengingatnya lagi."
"Baiklah."
"Tapi kenapa kamu memanggilku dengan sebutan sayang? Aku belum mengizinkanmu."
"Aku tidak perduli." Akbar pun langsung menyium pipi Yola dengan spontan, Yola tercengah dengan kelakukan Akbar.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Maaf, aku sampai lupa. Bagaimana kamu masih merasakan tubuhmu sakit atau pusing? Kalau demam aku rasa panasmu sudah turun." kata Akbar mengalihkan obrolannya membahas kondisi Yola.
"Aku sudah baik-baik saja."
Tok... tok... tok...
(Terdengar suara pintu kamar Yola, ternyata ada ketukkan pintu dari luar.)
γBersambung......
.
.
.
.
Salam hangat dari author imah_nm untuk para pembaca semoga terhibur dan kalian semua suka. π€
JIKA TEMAN-TEMAN SUKA BERI AUTHOR DENGAN \=
VOTE ποΈ
LIKE π
KOMENTAR π¬
FAVORIT β€
TIPβ
RATE 5 BINTANG βββββ
Bantu dengan LIKE dan KOMENTAR kalian disetiap BAB, itu semua bentuk dukungan teman-teman untuk author agar semangat UPnyaπ!!!Terima kritik dan saran kalian agar lebih baik lagi dari sebelumnya. Terimakasih sebanyak-banyaknya. π
__ADS_1