
Di Indonesia
Akbar sudah sampai di rumahnya, sedangkan Asela tetap di Inggris sampai masa kontrak kerjanya habis. Mendengar Akbar pulang, mamah Sonya datang ke rumah Akbar.
"Akbar, putraku? Kamu pulang sendiri, Asela tidak ikut?" kata mamah Sonya kepada Akbar
"Tidak mah, Akbar buru-buru pulang, lagian Asela masa kontraknya habis beberapa minggu lagi."
"Lalu untuk apa kamu ke sana? Kamu masih marah sama papah Alez?"
"Tidak, Akbar cuma kecewa sama papah Alez." dengus Akbar
"Mamah tahu putraku, kamu sendiri kan yang tidak mau dengar penjelasan papahmu lebih dulu."
"Sudahlah mah, percuma saja. Pasti papah tidak merestui Akbar dengan Yola. Akbar cinta dengan Yola mah."
"Akbar, mamah akan coba bantu untuk bicara sama papah!" mamah Sonya hanya mengelus punggung Akbar dengan lembut.
"Kalau begitu Akbar mau istirahat terlebih dahulu. Akbar lelah mah!"
"Istirahatlah sayang, mamah juga ada acara penting ibu-ibu arisan. Kalau begitu mamah pergi ya Akbar." kata mamah Sonya memeluk Akbar sesaat lalu pergi keluar dari dalam rumah Akbar.
...******...
Di Taman Aglomaresiden
Papah Alez tidak sengaja lewat taman tersebut, lalu ia berhenti melihat dua bocah yang asik bermain di sana. Ia teringat dengan cucunya yang bernama Shana anak dari Alif dan istrinya.
Beliau berhenti melihat dua bocah itu bermain di temani seorang pengasuh yaitu Jeni. Entah papah Alez merasakan seperti dekat dengan anak-anak itu, ada senyum tipis di wajahnya.
Ketika papah Alez asyik melihat, ponselnya pun berdering ternyata seketarisnya meminta papah Alez ke perusahaan segera. Langsung saja papah Alez berlalu meninggalkan taman tersebut.
"Kenapa dua bocah itu membuatku senang melihatnya?" kata papah Alez sendiri di dalam mobil
"Ah mungkin aku yang kangen sama cucuku Shanna." Papah Alez entah kenapa merasakan bahagia melihat dua bocah itu hampir mirip wajah mereka dengan Akbar.
...*****...
"Ada apa Jome?"
"Kemana aja kau Akbar, tolonglah jangan seperti anak kecil. Ini ada klien yang harus kau temui di cafe dekat perusahaan."
"Sekarang juga?"
"Sekarang! Ayolah Akbar sekali ini saja bantu papah Alez, lagian perusahaan ini nanti jadi milikmu. Papah Alez pasti ada alasannya kenapa berbuat seperti itu."
"Untuk apa Jome?"
"Sekarang juga Akbar, jangan banyak tanya. Kebetulan kamu sudah di Indonesia. Papah Alez juga sedang dalam masalah tolonglah!"
Tuttttt
panggilan teleponpun mati, Akbar pun harus mengalah untuk saat ini. Benar kata mamah dan Jome, apa yang terjadi sebenarnya Akbar tidak tahu, dia sendiri yang tidak mau mendengar penjelasan dari Papahnya.
Di Cafe
"Kita mulai saja tuan dengan projek ini apakah tuan akan bersedia dengan kerja samanya?"
__ADS_1
"Dengan hasil penjelasan tuan Akbar cukup menggiurkan, saya rasa akan menerima kerja samanya dengan perusahaan tuan Akbar."
"Dengan senang hati saya akan menunggu feedback dari anda setelah ini."
Tiba-tiba klien yang akan mau bergabung di perusahaannya mengalami asma kambuh.
"Tuan, anda baik-baik saja?" kata Akbar khawatir melihat kliennya menyentuh dadanya sendiri.
Suara mengi pun keluar, rasanya sesak sekali di dadanya tiba-tiba klien tersebut pingsan dan di bawa ke rumah sakit untuk sakit asmanya yang kumat itu. Akbar mendampingi klien itu sampai di rumah sakit.
Di Rumah Sakit
Tubuh Yola sebelumnya merasakan tidak enak badan di tambah mual kalau dekat-dekat pria lain alias pria yang akan menjadi suaminya nanti. Ia takut waktu itu akan terulang kembali seperti di masa lalunya.
Dengan berat hati Yola melangkahkan kakinya untuk memeriksakan dirinya, dan berharap itu hanya masuk angin.
Tapi dengan pengarahan dari suster ke ruang UGD, dengan apa yang di jelaskan gejala Yola terhadap dokter tersebut menyuruh Yola ke ruangan bersalin di sana untuk memeriksa kandungannya sesuai keluhan gejala yang di rasakannya. Di ruang bersalin ada alat USG jadi rujukkan dari ruang UGD ke ruang pemeriksaan ibu hamil atau di sebut ruang bersalin.
Kaki Yola benar-benar gemetar, ia dapat giliiran dari antrian lama sekali tapi baginya cepat dan masuk ke dalam ruangan tersebut.
Sang ibu bidan memeriksa perut Yola dengan alat USG, untuk menggecek isi di dalam perut Yola. Seperti dugaan sebelumnya ada gumpalan darah yang menandakan ada janin di sana.
Yola pun mulai duduk kembali setelah pemeriksaan sebelumnya, duduknya saling berhadapan dengan bidan tersebut.
"Dari hasil pemeriksaan sebelumnya, selamat nyonya Yola anda hamil."
Dengan tangan beratnya Yola menerima hasil pemeriksaannya sebelumnya dari bidan tersebut. Yola mencoba tersenyum di hadapan bidan tersebut, ia tidak ingin berlama-lama langsung keluar dari ruangan tersebut dengan langkah kaki yang lunglai, sambil menyentuh perutnya yang masih rata itu.
Akbar yang baru masuk ke dalam rumah sakit sambil mendorong brankar bersama perawat-perawat yang membantu klien tersebut ke ruang UGD, tanpa sengaja Akbar melihat Yola di sana dengan tubuh Yola yang berguntai tak beraturan. Sampai pinggir tembok Yola hampir jatuh, dengan sigapnya Akbar menangkap tubuh Yola. Yola merasa tubuhnya di sentuh seseorang dari belakang lalu berbalik.
"Yola?" panggil Akbar
"Akbar, lepaskan aku." Yola menepiskan tangan Akbar dari tubuhnya yang sudah berdiri dengan benar, dan Yola sudah berhadapan dengan Akbar
"Yola, kenapa kamu berada di sini? Kamu sakit?"
"Bukan urusan kamu Akbar." sinis Yola yang menahan kakinya yang lemas lalu mengabaikan Akbar
Akbar yang merindukan Yola dengan reflek langsung memeluk Yola kembali tanpa persetujuan dari Yola.
"Akbar apa-apaan lepaskan aku."
"Tidak!"
"Kalau tidak kamu lepas, aku akan berteriak keras Akbar di sini." Ancam Yola kepada Akbar
Akhrinya Akbar mau melepaskan pelukkannya itu.
"Yola, tunggu! Aku ingin berbicara kepadamu penting."
"Tidak ada yang di bicarakan lagi. Aku akan segera bertunangan Akbar!"
"Oh apa kamu cinta dengannya Yola. Aku rasa kamu tidak mencintainya."
"Bukan urusan anda tuan Akbar terhormat."
Dalam keramaian Yola pun pergi meninggalkan Akbar begitu saja.
__ADS_1
...*****...
Di Cafe Ana
"Yola, kenapa wajahmu pucat sekali?"
"Hikss... hikss... aku... hikss.." Yola menangis di pelukkan Ana
"Tenanglah Yola, ada apa? Kenapa kamu menangis."
"Aku.... aku.... hikss.. "
Tiba-tiba ponsel Yola berdering ternyata dari tante Jessie, ternyata tante Jessie sudah sampai di Indonesia tepatnya sekarang di rumahnya dan mencari Yola. Kenapa Putra dan Putri sendirian? Di perusahaan malah deddy Jack yang mengurus, akhir-akhir ini Yola sangat berbeda sikapnya.
"Baik tante Jessie, Yola akan segera pulang."
"Yola? kamu menangis??" tanya tante Jessie di balik teleponnya
"Tidak tante, tidak apa! Kalau begitu aku pulang sekarang!"
Tuttt....
"Yola?"
"Sudah Ana, tidak apa. Aku pulang dulu, aku pasti bisa menghadapi semua ini."
Ana merasa ada Yola yang ingin katakan tetapi apa, mungkin Yola belum ingin mengatakannya sekarang.
γBersambung.....
___________________________________________
Hayukkk dong dukungannya melalui VOTE kenceng buat author π€ LIKEnya jangan lupa, ninggal jejak dengan KOMENTAR kalian semua. π
___________________________________________
.
.
.
.
Salam hangat dari author imah_nm untuk para pembaca semoga terhibur dan kalian semua suka. π€
JIKA TEMAN-TEMAN SUKA BERI AUTHOR DENGAN \=
VOTE ποΈ
LIKE π
KOMENTAR π¬
FAVORIT β€
TIPβ
__ADS_1
RATE 5 BINTANG βββββ
Bantu dengan LIKE dan KOMENTAR kalian disetiap BAB, itu semua bentuk dukungan teman-teman untuk author agar semangat UPnyaπ!!!Terima kritik dan saran kalian agar lebih baik lagi dari sebelumnya. Terimakasih sebanyak-banyaknya. π