Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Bab 10 : Bibil


__ADS_3

Anya mendengus sebal setelah melirik kearah Sinan yang alih-alih kembali ke lantai dimana kantornya berada kini malah duduk di sofa tunggal yang berada tak jauh dari mereka. bosnya ini sepertinya tahu jika dirinya tampan dan bisa memikat setiap karyawan perempuan di kantor ini dilihat dari cara duduk pria itu yang kini menyilangkan kaki dengan tangan bersedekap di depan dada.


Beuh, Anya akui ketampanan Sinan bertambah berkali-kali lipat. Tapi percayalah Anya juga tak terlalu peduli dengan apa yang Sinan lakukan, dirinya kini tengah bekerja untuk diangkat menjadi karyawan tetap dalam 2 bulan kedepan sesuai dengan janji bu Beti.


“Liat kan you? kaku bener gayanya”


Bisikan Bibil membuat kembali menoleh dan manatap fokus kearah layar komputer yang menampilkan hasil foto artis wanita yang kini juga ketahuan melirik-lirik kearah Sinan dari suara asisten Bibil yang terus berteriak agar fokus.


Dilihat dari posenya memang telihat sangat kaku dan tidak memiliki daya tarik sebagai iklan kosmetik. Beberapa kali tangan artis itu sedikit menutupi wajahnya dengan produk, ada pula yang produknya miring hingga nama produknya tak terlihat jelas.


Akil sang asisten Bibil yang bertugas mengambil foto berteriak untuk istirahat sebentar. Wajah kecutnya kini membuat Bibil menepuk pundak pria itu beberapa kali.


“Tenang, ada pakarnya yang dateng ini” kali ini Bibil menepuk pundak Anya.


“Ini asisten lo aja kali yang ngarahinnya ngga bener, harusnyakan pas foto keliatan” ucap Anya santai meski sang asisten Bibil juga berada didekatnya.


“Lah mbak nyalahin saya?” tanya Akil sewot.


“Ya gimana ya? kalau foto jelek itu juga bukan salah modelnya doang, bisa juga fotografer salah mengambil angel”


“Wah mbaknya ngajak ribut saya kayanya ya!” Akil meletakan kamera ditangannya dan sudah mengambil ancang-ancang untuk adu jotos dengan Anya.


“Gue nggak nyalahin lo sepenuhnya, dan gue juga nggak bisa nyalahin model sepenuhnya juga. Jadi sama-sama salah”


Akil melipat lengan bajunya tinggi-tinggi “ Atas dasar apa mbak ngomong begitu?”


“Mau di buktiin? Gue bakal ambil pose yang sama. Lo dan lo Bil, ambil foto gue.”


“Ekke dulu apa Akil dulu nih yang ngambil foto you?” tanya Bibil.


“Akil dulu lah, nanti dia nyontek lagi” jawab Anya, ia mengambil satu produk dari atas meja kemudian berjalan ke spot untuk foto.


“Wah ngajak ribut beneran nih orang. Gue nggak suka sama lo mbak” sewot Akil.

__ADS_1


“Siapa juga yang suka sama lo. Yang dikritik nggak mau”


Dibalik adu mulut Anya dan Akil jangan lupa ada Sinan yang kini masih duduk santai di sofa sambil mengamati ke tiga orang itu. Saat stafnya ribut mengenai pekerjaan, Sinan memang terkadang membiarkannya begitu saja, karena dengan itu banyak masukan dan ide baru yang bisa membuat produk perusahaannya semakin baik kualitasnya.


Dari tempatnya duduk, Sinan memperhatikan Anya yang kini berada di spot foto. Baju kantoran, wajah yang dirias tipis layaknya seperti orang kantoran biasanya dan rambut yang hanya sebatas di kuncir ekor kuda itu nyatanya berhasil membuat Sina terpaku melihatnya, terlebih saat Anya tersenyum membuat dua lesung pipi wanita itu terlihat, udara disekitar Sinan terasa panas seketika, jatungnya kini berdetak kencang dan Sinan tahu untuk kesekian kalianya ia kembali terpikat pada wanita yang umurnya 2 tahun diatasnya itu.


Lampu kamera yang berkedip menandakan Akil sudah mengambil foto membuat Sinan langsung berdiri dan berjalan menuju layar komputer. Cantik, satu kata yang ada di kepala Sinan sekarang.


Pose setengah badan Anya yang bertopang dengan lengan tangan kanan diatas balok putih, sedangkan tangan kirinya yang memegang produk ia posisikan miring agar berada di sisi kanan pipi membuat produk itu sama menonjol dan menariknya dengan wajah Anya. Professional dan pendatang baru itu memang berbeda.


Satu kali lagi lampu berkedip yang berasal dari kamera yang digunakan Bibil membuat siapa saja yang melihat kearah layar komputer terpukau seketika. Meski dalam pose yang sama, namun angel pengambilannya yang berbeda membuat foto milik Bibil jauh lebih menarik.


Akil yang kini melihatnya pun bertepuk tangan. Untuk semakin berkembang pria ini sepertinya tahu jika dirinya harus menerima masukan meski tak mengenakan.


“Lo liatkan hasilnya?” tanya Anya pada Akil.


Posisi Anya kini berdiri tepat disampingnya. Sinan yang merasa jika jantungnya bisa saja berdetak lebih kencang lagi karena berada didekat Anya memilih untuk mundur dan melangkah pergi kembali ke kantornya.


***


“Lo dapat tugas dari bos buat garap produk lama An?” tanya Ali begitu mereka sampai di pantry.


Anya mengangguk. Sepertinya kabar mengenai dirinya yang diminta Sinan untuk menggarap ulang produk yang pernah dipegang oleh Jini namun gagal di pasaran sudah mulai menyebar. Tugasnya baru ia dapat kemarin, maka dari itu Anya berniat untuk membahas hal ini pada Jini hari ini juga. Namun siapa yang tahu jika hal itu sudah tersebar bahkan sebelum Anya membahasnya.


“Mbak tahu itu produk pernah di pegang sama mbak Jini?” tanya Alun


“Lo juga tahu itu produk pas dipegang Jini pernah gagal?” tambah Ali.


Anya kembali mengangguk. Jika melihat sifat Jini, inilah masalah terbesarnya. Wanita yang paling ingin menang sendiri di kantor jelas akan tersinggung jika produk yang pernah dipegang kini diserahkan kepada orang lain, terlebih produknya pernah gagal sebelumnya. Jika Anya mengambil alih dan berhasil di pasaran, maka Anya yakin wanita itu akan semakin membencinya.


“Gue tahu. Pak Sinan juga udah ngasih tahu”


Mata Alun membulats seketika “Dan mbak masih gitu diambil padahal udah tahu?!”

__ADS_1


Dengan gerakan santai, Anya mengambil satu botol air mineral dari dalam kulkas dan meneguknya hingga habis seperempat. Dibawah tenaganya sudah habis karena Akil mengajaknya ribut, jangan sampai Jin juga mengajaknya ribut nanti “ Ya mau bagaimana lagi. mbak di sini niatnya mau kerja, bukan mau cari komplotan”


Ali mengangguk setuju, matanya melirik sebentar kearah meja Jini yang memang segaris lurus dengan pintu pantry. “Mukanya dia masih ditekuk dari pagi”


Alun ikut melirik sekilas kemudian langsung mepet ke tubuh Anya “ Mbak kalo dia ngajak ribut gimana mbak?”


“Jini maksud kamu?” tanya Anya. Jika Jini mempermasalahkan hal ini, maka Anya hanya perlu meladeninya saja. Kembalinya dia kekantor adalah untuk bekerja, maka rintangan apapun akan Anya ladeni sesuka hati. “Gampang, tinggal mbak ladeni aja”


Ali mangcungkan jempolnya “Mantull” ucapnya girang.


Saat melihat Jini kini berjalan kearah mereka, Ali langsung berjalan keluar pantry, sedangkan Alun langsung membuka kulkas dan mengambil satu botol air mineral.


“Air mbak?” tawar Alun begitu Jini berdiri tepat di belakangnya.


Anya hanya tersenyum melihat tingkah canggung Alun. Sejak dulu gadis itu selalu takut dengan Jini, katanya jika saja gajinya disini tak naik cepat, Alun pasti sudah cari tempat kerja lain.


“Aku kayanya baru liat mbak hari ini? mbak baru dateng?” Jini mengatakannya sambil melirik kearah jam yang menempel di dinding, seolah tengah menyindir Anya yang baru saja datang padahal jam sudah menunjukkan hampir pukul 9 pagi.


“Enak aja baru dateng. Sama you juga cepetan Anya kali” dari arah pintu, Bibil muncul lengkap dengan mulut pedasnya. Semua orang kantor juga tahu jika musuh bubuyutan Bibil adalah Jini.


“Aduh Jini Oh Jini. Anya tadi bantu ekke di studio. Belum ada jam 7 dia udah dateng. Nggak kaya lo yang demen dateng jam 07.30” lanjut Bibil.


“Itu namanya tepat waktu” Jawab Jini tak kalah sewot.


Anya hanya diam dan memperhatikan dua makhluk beda jenis ini yang tengah ribut. Alun langsung kembali ke kubikelnya, sedangkan Anya kini merogoh kantong celanannya saat satu notif masuk ke dalam ponsel.


Pak Sinan :


Datang ke ruangan saya sekarang ya An.


Cukup lama Anya hanya mengamati sederet tulisan di ponsel.


Mereka sudah bertemu di studio tadi, untuk apa Sinan memanggilnya ke kantor pria itu?.

__ADS_1


Jangan-jangan dia ingin membahas perihal kejadian semalam?.


__ADS_2