Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Bab 32 : Pilih Sinan


__ADS_3

“Mbak serius, mau jalan jam berapa ini?” tanya Alun sambil berjalan keluar dari gedung kantor.


“Jam 6” jawab Anya.


“Jam 6? Serius? Acara jam 8 mbak, mau ngapain kita 2 jam di rumah pak Hamdan? Mana gue doang yang cuman karyawan biasa tapi diundang”


“Nggak langsung ke pak Hamdan. Nyalon dulu” bohong, Anya jelas tengah berbohong sekarang. tujuan dirinya berangkat lebih cepat adalah agar tidak bertemu dengan Sinan dan Radit yang datang menjemputnya. Meski Anya sudah memberikan balasan penolakan tadi, Sinan dan Radit malah sama-sama membalas jam berapa mereka menjemput Anya. Jam 19.00 dan itu berarti, jika Anya jalan jam 1 jam lebih awal, dirinya tak akan bertemu dengan dua makhluk itu.


“Nggak ah. Bokek gue”


“Mbak yang bayar”


“Serius?”


“Cicilan 2 bulan gaji”


“Yahhh”


Anya tertawa saat melihat Alun menghela napasnya. Wanita itu kini berpamitan dan berjalan menuju parkiran motor sedangkan Anya berjalan menuju halte yang tak jauh dari kantor. Tadi pagi, karena Arum ngambek tidak mau dititipkan di rumah dengan ibu saja dan meminta untuk bersama dengan Ocha, mau tak mau Anya mengantarkan Arum ke tempat daycare dimana Ocha bekerja. Motor Anya tinggal di dayacare dan memilih menggunakan ojek online ke kantor.


Namun baru juga berniat untuk duduk, suara klakson mobil disertai dengan mendekatnya mobil itu membuat Anya cepat-cepat membalikkan badanya. Dari jauh pun Anya tahu jika itu adalah mobil Sinan.


“Ayo naik”


Anya berpura-pura tak dengar. Tubuhnya masih menghadap kearah pamflet digital yang mengiklankan produk miracle, membelakangi mobil Sinan yang kini kembali membunyikan klason.


“Mau naik atau saya teriak kalau kamu pacar saya? Atau saya perlu membenarkan gosip itu di blog dengan akun saya sendiri?”


Anya memejamkan matanya kesal. Tak perlu lagi mendengar ancaman, Anya memilih membalikan badanya lalu segera masuk kedalam mobil Sinan. Semakin mengenal bosnya ini, semakin pula Anya paham betul dengan sifat Sinan. Begitu dirinya masuk, mobil Sinan langsung melaju membelah jalanan kota Jakarta.


“Karena saya tahu mas Radit pasti nawarin jemput kamu, makanya saya datang duluan” ucap Sinan.


“Terus kita mau kemana pak?”


“Ke mall beli gaun buat kamu”


“Ya?!”


“Jangan pulang. Habiskan waktu sama saya aja sampai acara. Jika kamu masih merasa tidak nyaman, maka saya akan mundur perlahan”


Anya berdecak mendengarnya. “Mundur? Setelah saya tanya bagaimana cara saya menggoda bapak?”


Mendengar itu, Sinan langsung membanting setirnya ke kiri hingga membuat mobil dibelakangnya mengklaksonya kecang. Begitu mobilnya terparkir dibahu jalan, tatapan Sinan langsung tertuju kepada Anya.

__ADS_1


“Maksud kamu?” tanya Sinan.


Anya kini balik menatap ke arah Sinan. Pertanyaan pak Hamdan di pantry tadi tentang memilih antara Sinan atau Radit mengganggu pikirannya seharian penuh, hal itu seakan menyadarkan Anya jika jawaban yang ia berikan pada pak Hamdan barusan tidaklah sesuai dengan isi hatinya. Hingga ucapan Sinan yang barusan berkata jika ingin mundur menyadarkan Anya seketika.


Karena masa lalu, Anya bukanlah orang yang cepat dekat dengan pria, ada rasa trauma yang membuatnya takut untuk memulai hal yang baru. Tapi kenyataannya dengan Sinan, Anya bahkan menerima ciuman Sinan di restoran kemarin dan menikmatinya, tak ada rasa takut sedikitpun pada sosok bosnya ini.


“Ayo kita berkencan” ajak Anya tiba-tiba.


“Serius? Kamu tahu kamu nggak bakal bisa mundur lagi kan An?”


“Jika saya mundur, maka bapak harus tarik saya lagi agar kembali”


“Serius?” tanya Sinan lagi.


Anya memutar bola matanya “Bapak nggak mau? Kalau nggak mau saya bisa ngajak Mas Radit pacaran sama saya”


“Enak aja” Sinan langsung menarik Anya dan mendekapnya erat. Senyuman merekah muncul di wajah menunjukkan seberapa bahagianya pria ini sekarang. Anya harap ia juga akan merasakan rasa bahagia yang sama selagi berjalannya waktu.


“Boleh cium kamu nggak?” tanya Sinan tanpa melepaskan pelukkannya.


Anya memukul punggung Sinan kencang “Nggak boleh. Sekarang ayo jalan, anterin saya pulang”


“Nggak mau”


“Nanti kalau ada mas Radit gimana? Nanti pas saya pulang, dia malah dateng”


“Kalau gitu bapak nggak usah pulang. Tunggu aja dirumah saya sampai jam 7”


“Oke”


Anya membulatkan matanya tak percaya jika Sinan langsung menyetujui ucapannya barsuan. Niatnya dia hanya ingin membujuk Sinan saja agar pria itu bersedia untuk mengangtarnya. Bukan seperti ini. Jika Sinan datang ke rumahnya maka akan ada kemungkinan bosnya ini bertemu dengan Ocha dan Wine. Ocha selalu pulang jam 5, sedangkan Wine dapat shift malam di rumah sakit hari ini.


“Bapak serius mau ke rumah saya?” tanya Anya balik. Dirinya yang menawakan, namun dirinya juga yang gelagapan.


“Serius” Sinan mulai kembali menjalankan mobilnya membuat Anya semakin panik sendiri.


“Ada ibu saya pak”


“Ya nggak apa-apa, kan udah pernah ketemu juga”


Jika ibu mungkin memang tak masalah, tapi jika ada Wine dan Ocha maka bsia menjadi sumber masalah.


“Temen saya juga ada dirumah pak”

__ADS_1


Sinan melirik sebentar kearah Anya kemudian kembali fokus menatap lurus ke jalan “ Dua temen perempuan kamu itu?”


Anya mengangguk semangat. Berharap jika Sinan akan malu dan memilih memutar arah.


“Nggak masalah” jawab Sinan singkat.


“Teman saya yang satu punya tenaga dalam dan yang satunya lagi kaya mayat hidup pak” oke, ini adalah jawaban yang amat memalukan. Mana mungkin Sinan mempan dengan ucapannya barusan.


“Nggak masalah. Saya bisa belajar bareng sama temen kamu yang punya tenaga dalam, dan saya juga bisa nyuruh temen kamu pakai produk make up saya agar tidak terlihat seperti mayat hidup” jawab Sinan lagi sambil terawa dengan ucapannya sendiri barusan.


Alih-alih kesal karena ucapannya barusan tak mempan. Tawa renyah Sinan bagaikan mantra yang membuat Anya ikut tertawa. Arka pasti akan geleng-geleng kepala karena ada tipe orang seperti Wine.


***


“Siapa An?” tanya ibu begitu Anya masuk kedalam rumah.


“Pak Sinan bu” jawab Anya.


Aisyah langsung mengenakan kaca matanya guna mengenali wajah pria yang mengekor di belakang putrinya ini. dan saat pandangannya yakin jika itu memang Sinan, Aisyah langsung tersenyum lebar dan mendekat kearah Sinan. Ibunya itu pasti tengah merasa dikunjungi oleh calon mantu.


Membiarkan Sina bicara dengan ibu, Anya langsung berjalan menuju kamarnya guna untuk mandi dan mengganti pakainya. Sebelum Radit datang, Anya berniat untuk pergi terlebih dahulu dengan Sinan. Setidaknya tak membuat pria itu kecewa jika melihat secara langsung Anya lebih memilih pergi dengan bosnya itu.


Begitu sampai di kamarnya, Anya membuka pintu dan terkejut bukan main saat kamarnya sudah ramai dengan 3 anak kecil dan dua orang wanita dewasa yang kini menatapnya sambil menggerakkan alisnya bergantian. Siapa lagi jika bukan Wine dan Ocha yang duduk diatas ranjang. Arum, Arsya dan Aaras tiduran diatas karpet sambil asyik mewarnai.


“Cielah, tadi bilangnya bingung sama gue. Eh pulang-pulang bawa gebetan” ledek Ocha.


“Kok lo udah pulang?. Masih jam segini” Anya menutup pintu kamar agar tak terdengar hingga ruang tamu.


“Daycare udah sepi. Jadi gimaa tuh statusnya?” tanya Ocha lagi.


“Masih pak bos atau udah jadi calon ayah Arum?” tambah Wine.


Tak berniat untuk menjawab, Anya mencium puncak kepala Arum kemudian langsung berjalan menuju lemari pakaiian.


Ocha kini berdiri disebelah kirinya sambi bersandar di lemari”Wah kalau udah sampai antar jemput mah udah jadi pacar ini” tebak Ocha.


Wine berdiri disisi satunya “Lo jadian beneran”


“Berisik. Iya. Udah gih sana pada pulang” usir Anya.


Ocha dan Wine mengangguk bersamaan. Keduanya adu tos kemudian langsung keluar dari kamar Anya. Hembusan napas lega keluar dari mulut Anya sekarang, baguslah jika mereka mengerti dan segera angkat kaki dari rumahnya. Setidaknya dirinya tak akan di intograsi oleh dua makhluk itu.


Mengambil **********, Anya kini berjalan menuju kamar mandi. Namun tinggal 2 langkah lagi masuk ke dalam kamar mandi, Anya melangkah mundur saat melihat 2 benda persegi yang ada diatas nakas. Ponsel Wine dan Ocha.

__ADS_1


“Si—“umpatan Anya berhenti saat menyadari ada tiga bocah kecil di kamarnya ini. meletakan pakaiannya di atas ranjang, Anya langsung berlari keluar dari kamar menuju ruang tamu. Anya yakin kedua sahabatnya itu tidak pulang dan malah mengintograsi Sinan disana.


__ADS_2