Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Salto Dunia Anya : Kalah Tender. Gagal Nikah.


__ADS_3

"Oke ini acara pasti gagal dan berubah jadi pesta ulang tahun" ujar Wine dengan raut wajah sedihnya. Seharian penuh dirinya menyiapkan acara ini, namun belum juga 30 menit, suara tawa Aaras menandakan jika semuanya menjadi berantakan.


Anya tersenyum lebar melihat Wine menghela napasnya dengan mata menatap tajam ke arah bang Arka. Pria yang kini sudah memakai kaos hitam dengan kunci mobil ditangan berdiri diambang pintu dengan raut wajah bersalahnya.


"Maaf ya dek. Abang harus ke skadron soalnya" ucap Arka.


Hanya mengamati kondisi, Anya tahu jika Arka dititipi kembar oleh Wine agar istrinya itu bisa merayakan bridal shower, namun berakhir dengan panggilan negara yang membuat pria itu mau tak mau harus membawa kembar dibawah pengawasan istrinya. Tidak mungkin juga dititipkan ke ibu yang sepertinya sudah tidur lelap di rumah Wine tanpa tahu jika Arum dibawa Arka kembali ke mamahnya.


Duarr


"Hahahaha. Abang yang itu" tunjuk Arsya meminta saudara kembarnya itu kembali memecahkan balon yang ada.


"Berisik tau" Arum mengomel sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Tapi selu" Aaras menjulurkan lidahnya ke Arum yang langsung dihadiahi dengan lemparan sendal rumah berbentuk doraemon berbulu.


Banyak orang yang berkata, semakin besar Arum semakin tak mirip dengan Anya. Hanya wajahnya saja, tapi sifatnya mirip dengan Ocha padahal lebih sering dititipkan ke Wine dulu. Cantik namun dingin, itu lah yang tercetak jelas di wajah Arum sekarang.


"Mas pergi ya dek" pamit Arka.


"Terserah!" jawab Wine ketus.


Anya hanya menggelengkan kepalanya. Arka yang memang sepertinya sudah buru-buru lebih memilih langsung pergi setelah mencium bibir Wine singkat yang jelas langsung dapat sorakan dari Jini, Alun, dan Ocha. Para jomlo setia diantara mereka.


"Arum nggak boleh lempar sendal begitu ya. Nggak baik" Anya mengelus rambut panjang Arum. Putrinya itu meliriknya sekilas dengan wajah datarnya sebelum mengangguk dan merentangkan tangannya meminta agar digendong oleh Anya.


"Si cantiknya anak mamah. Senyum dong" Anya mencium pipi merah Arum.


"Aaras berisik. Aku nggak suka!"


"Kalau sama aunty suka kan?" Ocha mengambil alih Arum dari gendongan Anya. Saat Arum sudah ada digendongnnya, Ocha memeluk Anya dengan satu tangannya kemudian menepuk punggung sahabatnya itu "Selamat ya Nya. Doanya yang baik selalu buat lo dan selamanya. Semoga dilancarkan sampai hari H. Dan langgeng terus sampai akhirat"


Anya mengangguk. Ah, ucapan Ocha barusan seakan menyadarkan Anya jika memang sebentar lagi dirinya akan menikah. Berdampingan dengan sosok Sinan dalam hidupnya yang akan menemaninya menghabiskan waktu bersama. Semoga saja sampai ajal menjemput mereka.


"Gue juga mau dipeluk" ucap Wine.


Anya merentangkan satu tangan yang bebas kemudian membawa Wine ikut bergabung berpelukan dengan mereka. Jini dan Alun juga ikut memeluk Anya dari belakang.


"Selamat ya mbak. Semoga setelah hari H. Nggak ada drama pak Sinan yang ngomel-ngomel nggak jelas di kantor" kata Jini.

__ADS_1


Karena dipingit. Anya mengurangi interaksi dirinya dan Sinan diluar kerjaan. Karena segala laporan Jini yang membawanya langsung ke ruangan Sinan, wanita ini jelas sering kali mendapat omelan karena lagi-lagi bukan Anya yang menyerahkan laporannya.


Itu memang tugas Jini selaku manager pemasaran 1. Maka tak ada alasan Anya yang membawanya ke Sinan. Sedangkan di rumah, Anya juga tak menjawab sama sekali telfon dan pesan Sinan yang meborbadir ponselnya dengan alasan rindu.


"Aminn. Semoga juga kedepannya pak Sinan kalau marah nggak lama-lama ya mbak. Soalnya pawangnya ada di dekatnya terus" kali ini Alun yang bicara, doa sekaligus meluapkan unek-uneknya selama ini.


"Lo nggak ngasih pesan-pesan ke gue Win?" tanya Anya saat Wine yang berada di pelukannya tak kunjung bicara.


"Ada. Semoga lo sama Sinan cepat dapat momongan. Jadinya hak Arum bisa gue ambil alih"


Jika saja tak ada anak-anak. Anya pasti sudah melayangkan satu jitakkan di kepala Wine sekarang. Masalah adopsi Arum masih saja dibahas padahal sudah jelas tak akan di terima oleh Anya.


***


"Wah gila emang nih dua orang. Besok nikah masih aja pada masuk!" Radit yang baru saja memasuki ruang rapat menggeleng saat melihat calon pengantin masih saja hadir dan duduk di ruangan ini. Besok adalah hari dimana ijab qobul dibacakan, namun dua makhluk itu dengan santainya duduk sambil membaca berkas dimeja masing-masing.


Melihat raut wajah kesal Sinan. Radit tahu itu terjadi karena posisi duduk Anya yang begitu jauh dari Sinan.


Selama masa dipingit yang memiliki aturan longgar dibuat sendiri karena mau bagaimanapun tetap bertemu di kantor. Radit menjadi tampungan keluh kesal telfon Sinan setiap malam. Jika sudah terlalu lelah, Radit akan meninggalkan Sinan yang curhat panjang lebar dan memilih tidur lelap dengan ponsel yang masih menyala.


Tender dengan salah satu perusahaan kosmetik ternama baru saja diluncurkan. Mau tak mau mereka harus tetap datang guna membahas pekerjaan agar bisa memenangkan tender tersebut yang jelas akan membuat perusahaan semakin maju.


Bagaimana tidak gila, Anya benar-benar menghindarinya dengan tidak menjawab telfonnya sama sekali. Di kantor pun terkadang Sinan tak bisa menemukan wanita itu karena beberapa hari Ini Anya sering mengunjungi pabrik. Entah apa yang dilakukan Anya disana. Sinan bahkan kadang curiga jika Anya pergi ke pabrik hanya untuk menghindarinya.


"Jadi bagaimana pak Sinan?"


Sinan menoleh saat namanya dipanggil oleh Radit.


Kampret emang itu orang. Mana gue nggak memperhatiin.


"Lanjutkan" jawab Sinan seadanya. Pandangannya kini kembali menatap ke arah Anya yang sama sekali tak melirik ke arahnya sejak tadi.


Kenapa sih jadi nambah cantik banget mau nikah. Kan gue gemes. Batin Sinan.


"Lanjutkan bagian mananya ya pak?"


Pandangan memuja ke arah Anya kini berubah menjadi pandangan maut yang diarahkan perlahan ke Radit.


Lo tuh maunya apa sih mas!.

__ADS_1


Radit yang mendapat tatapan kesal Sinan, tersenyum tipis lalu kembali melanjutkan presentasinya. Menggoda Sinan benar-benar menyenangkan.


Sinan mengetikan sesuatu di ponselnya. Lebih tepatnya mengirimkan pesan kepada Anya yang duduk tanpa meliriknya sama sekali. Apa hanya dirinya yang rindu sampai kayang?!.


To Anya : ngelirik ke sini dong An. Lirikan matamu menarik hati.


Satu decakan keluar saat Sinan mendapati Anya hanya melirik ponselnya sekilas yang berada diatas meja saat layarnya menyala karena pesan Sinan yang masuk.


To Anya: Dari pop up kamu pasti udah baca kan? Nengok ke aku dong. Kangen.


Lagi. Satu decakan keluar dari mulut Sinan saat Anya kembali melirik ponsel wanita itu yang menyala. Bahkan ekspresi wanita itu sama sekali tak berubah. Jika saja Sinan melihat senyuman yang terbit, kekecewaan ini tak akan terlalu terasa menyakitkan.


To Anya : Kok kamu cantik banget sih. Ngelirik dong"


Sinan menggelengkan kepala saat hal yang sama kembali terjadi.


To Anya : Kalau nggak setidaknya dibalas pesan ku An. Eh nggak usah. Senyum aja deh. Sumpah kangen banget. Pake acara dipingit segala sih.


To Anya : Anya.


To Anya : Ibunya Arum.


To Anya : Cantikku manisku.


To Anya : Sumpah ngenes banget aku An. Rinduku hampir meledak nih.


To Anya : Ya Tuhan. Calon istriku yang cantik sekali.


Pupil Sinan melebar saat melihat Anya meraih ponsel wanita itu. Senyuman Sinan terbit tatkala jari-jari lentik Anya bergerak mengetikkan sesuatu. Calon istriku. Itu adalah kata paling mujarab yang mampu untuk membuat Anya membalas pesannya.


Satu notif masuk. Buru-buru Sinan mengecek pesan Anya dengan senyuman yang mengembang. Namun raut wajah tersenyum itu perlahan menghilang saat matanya membaca sederet kalimat calon istrinya itu. Sinan langsung meletakakan ponselnya dan kembali fokus dengan apa yang tengah disampaikan oleh Radit disana.


To Sinan : Kalah Tender. Gagal nikah.


Skakmat.


***


***Pagi dihari libur. Mari up cepat. hehe sebenernya karena ada acara makanya up cepat. takut lupa.

__ADS_1


tinggalkan Komentar dan Like nya ya***.


__ADS_2