
“Ya terserah lah. Mbak cabut dulu ya, mau ambil sempel” Anya memasukkan semua barangnya kedalam tas, lalu berjalan keluar dari ruangan tim pemasaran 2.
Disisi lain Radit juga keluar dari ruangan tim pemasaran 1. Pria itu melambaikkan tangannya kearah Anya. Jika sejak tadi Radit ada di ruangan tim pesaran 1, maka ada kemungkinan pria itu juga melihat semua hal yang terjadi.
“Bareng ya? daripada naik bus. Penuh” lanjut Radit.
Anya tak peduli, toh disini bukan dirinya yang salah, semua orang juga pasti tahu akan hal itu. lagi pula jika dirinya kali ini memikirkan perasaan Jini dan menolak tugas dari Sinan, belum tentu kelak wanita itu akan melakukan hal yang sama.
“Mau ambil sempel ya?”
Anya mengangguk. Masuk kedalam lift yang diikuti oleh Radit.
“Lantai 12 ya pak?” tanya Anya memastikan tujuan pria ini. ruangan Radit bersebelahan dengan ruangan Sinan, maka lainta 12 lah yang kemungkinan besar di tuju oleh pria ini.
“Bukan. Lobi"
Anya kembali meangangguk. Menekan tombol yang sesuai dengan tujuan mereka sekarang.
“Naik apa ke pabrik?” tanya Radit. Pria yang berdiri disebelahnya ini, seolah tengah menebak-nebak bagaimana kondisi mood Anya sekarang.
Anya yang dilihat dengan mata penuh selidik itu hanya bisa tertawa. Dari dulu, Radit memang lebih memilih untuk tak banyak bicara jika merasa kondisi emosi Anya sedang tidak baik.
“Tenang pak. Saya oke.”
“Alhamdulillah” ucap Radit sambil mengelus dadanya sendiri. “Jadi mau naik apa ke pabrik?”
“Naik bus kayanya pak”
“Oh.. sama saya aja ya. saya kebetulan mau ke pabrik juga. Mau ketemu pak Johar”
Anya mengerutkan dahinya bingung. Setahu dirinya, Sinan tadi juga bicara ingin menemui pak Johar di pabrik, jadi kenapa sekarang malah Radit yang ingin ketemu pak Johar?.
“Bareng ya, daripada naik bus. Penuh” lanjut Radit.
Berbeda dengan Sinan yang mengajaknya tadi dan langsung ditolak karena Anya tak ingin menjadi manikin selama 3 jam didalam mobil, ajakan Radit langusng Anya setujui dengan anggukkan kepala. Daripada naik bus yang kemungkinan akan membuatnya berdiri mengingat banyaknya staf persediaan, Anya jelas memilih untuk nebeng Radit. Lagi pula pria ini juga tak akan memintanya untuk menyetir seperti permintaan bosnya barusan.
“Oke. Tunggu di depan aja ya, aku ambil mobil dulu” begitu lift terbuka Radit mempersilahkan Anya keluar dan dirinya kembali menekan tombol B yang membawanya ke basement tempat memarkirkan mobilnya.
Satu pesan masuk kedalam ponselnya. Sambil menunggu Radit, Anya menggeser layar kunci ponselnya dan nama mamah tertera di sana.
Mamah: Mbak, mamah hari ini jalan ke Jakarta ya mba. kamu bisa jemput di bandara nggak mba? sekitar jam 20.00 mamah sampai.
Setelah mendapatkan pekerjaan yang cukup layak, Anya memang meminta mamahnya agar kembali ke Jakarta dan tinggal bersama. Awalanya mamah menolak dan meminta Arum saja yang dibawa ke kampung halaman, namun Anya jelas menolaknya. Dirinya bisa bertahan hidup hingga sekarang adalah karena ada Arum yang menyambutnya dengan dengkuran halus setiap pulang kerja. Namun, begitu tahu jika Arum dititipkan di rumah Wine setiap hari, membuat mamah mau tak mau mengalah dan setuju untuk tinggal di Jakarta.
Anya tersenyum lebar. Jari-jarinya menari dengan lincah di atas ponsel.
Anya: Siap ndoro ratu. Jam 19.30 mbak ke bandara.
Bip Bip.
Anya mengangguk kearah Radit, kemudian langsung masuk kedalam mobil pria itu.
“Siapa?” tanya Radit.
Anya menggaruk telingannya yang tiba-tiba terasa gatal. “Mamah pak. Beliau akhirnya setuju tinggal bareng di sini”
__ADS_1
“Oh iya. Mamah kamu sendirian ya di sebrang?”
Anya mengangguk sambil tersenyum. Tangan kanannya kembali menggaruk telingannya yang kini terasa semakin gatal.
Disisi lain, begitu mobil Radit melaju menjauhi area kantor bersama Anya didalamnya. Sinan yang baru saja keluar dari kantor berdecak sebal. Anya jelas-jelas menolaknya tadi dan kekeh ingin naik bus, tapi kini malah satu mobil sama Radit?.
Sambil berkacak pinggang. Sinan menatap garang ke arah mobil Radit yang semakin tak terlihat.
Apa gara-gara dirinya tadi bilang butuh sopir, makanya Anya nggak mau?.
Itukan cuman bercanda. Gengsi dong kalau bilang karena pengin satu mobil.
Lagi pula itu perempuan kenapa nggak pernah bahas masalah kemarin malam sih?.
“Kenapa mas?”
Sinan yang sedang menggerutu dalam hati menoleh kesamping, kearah wanita yang tengah berdiri disampingnya dengan dahi yang berkerut bingung. Anggita Ayu, putri pertama keluarga Alverro yang terkenal dengan ibu sosialita.
“Ngak kenapa-kenapa mah. Ada tikus barusan lewat” jawab Sinan asal kemudian langsung masuk kedalam kantor.
Anggi menatap sebentar kearah yang putranya liat tadi sebelum akhirnya mengekor Sinan masuk kedalam kantor.
“Mana tikus mas? Ih, jijik banget mas”
Sinan mengalungkan tangannya di lengan Anggi. “Nggak ada tikus mamahku yang cantik”
Kedatangan sang mamah ke kantor ini sebenarnya sudah bisa Sinan tebak tanpa lagi bertanya. Maka dari itu dia hanya menggadeng mamahnya masuk kedalam lift yang membawa mereka ke ruangan kerja tempat Sinan berada.
“Mas. Mamah punya—“
Anggi langsung menoleh ke belakang, dan benar saja ada 3 staf perempuan juga yang ada didalam lift. Sejenak Anggi menatap mereka bertiga dari atas hingga bawah, pandangan menilai amat kentara dari cara Anggi menatap mereka, yang ditatap menarik senyumannya paksa. Di kantor ini tidak ada yang tak tahu jika ibu dari bos tampanya itu sangat suka menilai orang dari penampilannya saja.
Tidak seperti hari ini yang datang tanpa ada kabar. Biasanya jika sang bu bos berencana datang ke esokan harinya, salah satu staf keuangan akan menyebarkan info di group khusus karyawan agar semuanya menggunakan baju terbaik yang mereka miliki.
“Permisi pak, bu” ucap ketiga wanita itu begitu sampai di lantai 8, mereka langsung keluar dari lift tanpa menoleh sama sekali.
“Jangan ngeliatin staf mas kaya tadi lagi bu. bikin mereka nggak nyaman” nasehat Sinan.
Anggi melepaskan kaca mata hitamnya “Kenapa harus nggak nyaman?. Kalau mereka merasa nggak nyaman makanya mereka jangan menggunakan baju kaya tadi. Contoh nih kaya baju mamah. Ini namanya perempuan”
Sinan memindai mamahnya dari atas hingga bawah. Blush berwarna merah yang dipadukan dengan rok hitam panjang dengan belahan hingga 2 cm diatas lutut, sepatu hak tinggi berwarna merah, kaca mata hitam dan tas merek terkenal yang juga berawarna merah terang. Sinan hanya menggelengkan kepalanya melihat penampilan sang mamah dan langsung keluar begitu lift berada di lantai 12.
Saat keluar dari lift, biasanya Sinan akan melihat staf keuangan yang bekerja di kubikelnya masing-masing, tapi kali ini kosong. Sinan menoleh kearah ruang rapat, dan semua orang berada disana bahkan ada yang bersedia untuk berdiri berpura-pura tengah rapat. Meski Sinan tahu, semuanya pasti menghindar dari penilaian sang mamah.
“Pagi bu” sapa Navel ramah.
“Pagi nak Navel. Aduh itu dasi kamu miring, coba dibenerin”
Sinan hanya tersenyum melihat Navel yang kini menjadi korban sang mamah. Tak peduli dengan raut wajah sekretarisnya yang meminta bantuan. Sinan langsung masuk kedalam ruangan, dan mengetikkan pesan untuk Radit.
Sinan:
Dimana?.
Sinan menekan tombol send. Berbasa-basi terlebih dahulu. Cukup lama tak segera mendapat balasan, Sinan kini memilih untuk menelfon Radit, kali saja ia bisa mendengar suara Anya dan berpura-pura terkejut karena Anya tidak naik bus malah menebeng mobil Radit.
__ADS_1
“Hallo Nan?”
Sinan melirik kearah mamahnya yang kini baru saja masuk dan langsung duduk di sofa. Melihat mamahnya yang mengkode mempersilahkan melanjutkan telfon, Sinan langsung berjalan menuju meja kerjanya. Berharap agar obrolan mereka tak sampai didengar sang mamah.
“Hallo. Dimana?”
“Lagi di jalan ke pabrik. Kenapa?”
Tak langsung menjawab, Sinan menajamkan telingannya berharap ada suara Anya yang terdengar.
“Oh, udah jalan. Ya udah, kalau udah ketemu pak Johar dan dapat info, tolong langsung balik lagi ke kantor ya. Nggak usah lama-lama disana”
Ya. nggak usah lama-lama, biar Anya pulang cari alternative lain.
“Nggak bisa. Gue bareng Anya. Jadi nunggu urusan dia selesai baru balik lagi, biar bareng”
Sinan tersenyum kecut. Anya beraninya menolak dirinya dan kini malah jalan bareng Radit?. Waktu untuk menyindir dimulai.
“Oh ada mbak Anya juga?. Saya kira naik bis loh mbak.”
Ada sedikit suara keributan yang Sinan dengar, sebelum akhirnya suara Anya terdengar dari balik telfon.
“Iya pak.”
“Tadi saya tanya katanya mau naik bis mbak. Tapi nggak apa-apa sih, kebetulan saya juga minta Pak Radit ke pabrik. Jadi bisa nebeng ya mbak” sindir Sinan halus.
“Iya pak.”
“Kalalu mbaknya naik kendaraan umum pas pulangnnya nggak kenapa-kenapa kan mbak? Saya butuh pak Radit di kantor soalnya”
“Lo kenapa sih Nan? Aneh banget” bukan Anya yang menjawab, melainkan Radit yang menjawab.
“Nggak apa-apa kan mbak?” tanya Sinan lagi.
“Iya pak tidak apa-apa. Kebetulan saya pulangnya juga mau naik taxi pak, jadi langsung pulang. Lumayan bisa tidur dijalan”
Sinan terdiam seketika. Ucapan Anya barusan jelas ditunjukkan untuk balik menyindirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Double up nggak ya?
Jreng
Jreng
Jreng.
Yups bakal double up sesuai janji kemarin. Jangan lupa tinggalin jejak disini dulu ya.
jangan lupa Jempolnya tekan tombol LIKE dulu. dan komentar.
bab selanjutnya akan up besok jam 15.00
Upss salah. bakal di up hari ini jam 15.15 ya.
__ADS_1
udah di setting waktunya soalnya.