Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Bab 61 : Malunya Sampai Ubun-ubun


__ADS_3

"Jadi, jadi kapan nih jadi ayah sambung Arum beneran?" tanya Wine.


Ingin rasanya Anya meremas bibir yang bicara di sampingnya ini. Di remas seperti jeruk peras sepertinya akan membuatnya jera.


Sinan yang tengah mengunyah daging yang di sodorkan Wine langsung tersedak tiba-tiba. Anya memberikan Sinan minum yang langsung mendapat cengiran tipis dari si wajah mayat hidup itu.


"Uhuk, uhuk. Romantis bener sih." ledek Wine.


Anya mencubit pinggang Wine keras. Beberapa minggu yang lalu jelas ada yang menolak setuju dengan hubungan ini karena alasan Arum, tapi lihatlah sekarang, Anya benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya ini. Mau dikasih cubitan beberapa kali pun sepertinya tak mempan sama sekali oleh Wine sekarang. Terbukti dengan Wine yang kini mendorong Anya agar menyingkir dan bertukar duduk dengan Wine.


"Dengerin aja ini dua orang ya pak. Jawab aja seadanya" ucap Anya akhirnya kepada Sinan.


Arka yang melihat lambaian bendera warna putih Anya hanya bisa tertawa. Jika menyangkut hal seperti ini, tak ada yang bisa menghentikan Wine sekarang.


Bosan duduk di antara mereka, Anya memilih untuk berdiri dan meninggalkan Sinan bersama ke dua sahabatnya. Biarkan saja, Sinan training terlebih dahulu karena setelah mereka nikah kehidupan Sinan tak akan jauh dari kerusuhan sahabatnya itu.


"Biarin aja An. Ditraining dulu biar Nggak jantungan nanti kalau udah nikah sama kamu" ucap bang Arka begitu Anya sampai di samping pria itu.


Anya hanya mengangguk. Membuka mulutnya dan menerima suapan daging yang di sodorkan oleh Kais.


"Udah mateng mbak?" tanya Kais.


"Udah. Enak" jawab Anya.


"Hedeh. Abang udah nggak sabar ngeliat kamu nikah sama orang yang memang kamu cintai dengan tulus. Bukan karena paksaan keadaan"


Ucapan Arka membuat Anya bergelayut manja ditangan pria ini. Kedatangan Arka saat masa-masa SMA jelas memberikan warna yang berbeda pada diri Ocha, Wine dan Anya. Bagi Wine, Arka datang sebagai seorang pacar idaman meski umurnya terpaut cukup jauh. Sedangkan bagi Ocha dan Anya, kedatangan Arka seakan membuat mereka memiliki sosok kakak laki-laki yang siap kapanpun datang untuk melindungi diri mereka.


"Iya. Soalnya beban yang harus abang jaga berkurang satu" canda Anya.


Arka tertawa lalu mengacak rambut Anya gemas. Diliriknya sebentar Kais yang kini masih fokus memanggang daging sambil tersenyum mendengar ucapan Anya barusan.


"Coba kalau Ocha ada yang ngelamar juga. Abang cuman tinggal jagain Wine doang" sindirnya pada Kais yang mengaku menyukai Ocha namun tak ada tanda-tanda mendekati wanita itu sama sekali. Datar seperti jalan tol.

__ADS_1


Kais yang jelas sadar disindir oleh kakaknya sendiri hanya tersenyum sambil mengedikkan bahunya.


Disisi lain, interaksi Anya dan Arka tak lepas dari pengamatan Sinan sekarang. Sinan bahkan terkejut bukan main saat Anya bergelayut manja di lengan kekar komandan angkatan udara itu. Jika saja dirinya tak berada di antara sahabat Anya, ia pasti sudah menarik Anya agar menjauh dari Arka.


Mari jaga image agar tak terlihat seperti pasangan yang posesif.


"Kenapa? Cemburu?"


Ucapan Wine membuat Sinan menoleh seketika. Selain mengaku memliki tenaga dalam dan jago masak, sepertinya tingkat kepekaan Wine di atas rata-rata orang normal.


Sinan tak menjawab. Mencomot satu daging lalu kembali mengunyahnya dalam diam. Arka—pria itu selain bisa dekat dengan Arum, juga sepertinya handal untuk menggaet hati Anya.


Dua tepukan tangan Wine mendarat di pundak Sinan "Tenang. Itu cowok punya mbak. Lagi pula mas Arka itu udah bucin keterlaluan sama gue, jadi nggak usah takut Anya diembat sama dia"


Sinan hanya tersenyum tipis. Padahal tahu jika Arka adalah suami Wine, tapi entah kenapa melihat Anya yang bersikap manja pada laki-laki itu padahal selalu terlihat tegar jika bersamanya, membuat emosi Sinan naik seketika.


Mata Sinan kembali melotot saat satu pria yang lain malah menyuapi Anya dengan potongan daging.


Sinan menoleh ke sebelah kirinya dimana sosok Ocha duduk sambil memutar bola matanya jengah mendengar ucapan Wine.


"Jadi, kapan ubah status jadi ayah Arum?"


Sinan tersenyum saat pertanyaan awal Wine kembali terlontar. Matanya melirik ke arah Anya sekilas sebelum kembali memandang ke arah Wine "Penginnya mah secepatnya mbak. Cuman yang mau dihalalin lama banget setujunya"


"Anya nggak mau nikah sama lo?" kali ini bukan Wine yang beratnya, melainkan Ocha yang mulai ikut masuk dalam obrolan.


"Iya mbak. Mana ada syaratnya juga, harus deket dulu sama Arum baru bisa nikah dalam waktu dekat. Tenggatnya sampai 2 minggu. Kalau gagal yang tahun depan baru mau dijakin nikah"


"Buset dah dikira skripsi ada waktu tenggatnya segala" ucap Wine.


"Bu dosen. Gimana sih, dilulusin apa" tambah Ocha yang tertuju kepada Wine.


"Aduh bu Rektor, makanya standar kelulusannya Jangan tinggi-tinggi" jawab Wine.

__ADS_1


Lagi Sinan hanya tersenyum mendengar dua makhluk absurd ini. Sepertinya bermain peran dosen dan rektor sudah kembali lagi setelah peran menjadi ibu mertua.


"Mbak-mbak semuanya. Aku boleh tanya sesuatu?" tanya Sinan. Kali saja dirinya mendapat cara ampuh untuk cepat dekat dengan Arum.


Ocha dan Wine mengangguk bersamaan.


"Gimana cara deket sama Arum?" tanya Sinan lanjut.


Namun alih-alih menjawab. Keduanya sama-sama menunjuk ke arah Arka seolah pria itu memiliki jawaban yang paling ampuh.


Sinan mengerutkan keningnya "Bang Arka?"


Ocha menganggukkan kepala " Iya. Dia pawangnya Arum"


Oke. Selain bisa membuat Anya bersikap manja, pria itu juga bisa menaklukan Arum. Sepertinya Sinan perlu membuat rencana untuk bisa dekat dengan pria itu guna mencari tips-tips akurat.


Maka dari itu. Tak usah menunggu esok lagi, Sinan langsung berdiri dan berjalan mendekati Arka. Namun beberapa detik berdiri di samping Arka, pria itu hanya meliriknya sekilas lalu berjalan menuju meja dan duduk di samping Wine, begitu pula dengan laki-laki bernama Kais yang tersenyum ramah sebelum akhirnya ikut duduk di samping Arka.


"Ngapain kamu ke sini? Manggangnya udah selesai. Ayok duduk lagi, aku laper" ajak Anya lalu berjalan terlebih dahulu menuju meja.


Sinan hanya tersenyum masam. Rasanya begitu memalukan jika dirinya berbalik sekarang dan ikut bergabung duduk bersama mereka kembali setelah tadi terlihat semangat 45 mendekati Arka.


Mbak Ocha dan mbak Wine pasti tengah menertawakannya sekarang. Dan benar saja, begitu membalikan badannya dan berjalan mendekat ke arah mereka— meski ditahan —Sinan bisa melihat keduanya menahan tawa sebisa mungkin.


Sungguh malunya itu sampai ubun-ubun.


***


Yang belun tahu cerita Wine, ada di sini ya.



__ADS_1


__ADS_2