Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Bab 63 : Hanya 3 Jalan


__ADS_3

"Bukannya hari ini kamu menikah? Untuk apa datang ke sini?."


Anya menoleh ke sumber suara. Semua orang terkejut saat menemukan Aisyah berdiri diambang pintu rumah Wine dengan ekspresi yang sulit untuk ditebak.


"Lepasin bang" ucap Aisyah lagi saat Arka masih mencengkram erat kerat baju Danu.


"Bu" langkah Anya terhenti saat sang ibu menggerakan tangan memintanya untuk berhenti dan tidak memperkeruh suasana. Aisyah kini mengambil posisi duduk di sebelah Wine yang entah sejak kapan sudah meneteskan air matanya karena emosi. Aisyah juga meminta Anya untuk duduk di sisinya yang kosong.


"Bang duduk. Dan Danu, kamu juga duduk. Jangan seperti itu"


Arka melepaskan cengkramannya di baju Danu, duduk di sisi kanan Wine sedangkan Danu duduk di sofa yang berhadapan tepat di depan mereka. Ocha sudah naik ke lantai atas karena suara tangis Aaras yang terdengar semakin keras.


"Jadi kenapa kamu datang sendiri? Di mana istri kamu?" Aisyah kembali bertanya pada Danu.


"Saya gagal nikah bu"


Anya langsung menoleh ke arah Danu yang baru saja bicara. Pria itu menunduk dalam dengan tangan yang mengepal erat.


Jika gagal menikah. Untuk apa dia di sini sekarang?


"Saya gagal nikah karena Amber hamil anak mantan suaminya" lanjut Danu.


"Itu karma namanya!" Wine menjawab.


Anya tak mengatakan apapun. Beginilah akhirnya ketika dua orang yang sudah memiliki pasangan bermain api dibelakang. Ini alasan kenapa tadi dirinya mendengar kata-kata karma dari mulut Wine.


"Terus buat apa kamu ngasih tahu hal itu?" Anya mengepalkan tangannya erat. Bagus, karena jika Danu batal menikah, pria ini juga pasti akan batal untuk mengambil alih hak asuh Arum.


"Aku ingin kembali sama kamu. Demi Arum"


Brakk.


Suara gebrakan meja terdengar. Mungkin bagi Ocha yang berada di atas, berpikir jika Arka yang baru saja memukul meja. Namun bagi semua orang yang berada di ruang tamu, terkejut saat orang yang memukul meja adalah Aisyah—ibu yang terkenal dengan kesabarannya itu.


Anya langsung menggenggam erat tangan Aisyah, takut jika emosi ibunya ini akan membuat darah tingginya naik hingga sakit kepala. Mata merah ibu yang menunjukkan semarah apa wanita ini membuat Anya begitu takut.


"Bu" ucap Anya menenangkan ibu. Padahal detik ini juga dirinya ingin mengumpat atau jika tidak melayangkan satu tamparan pada laki-laki di depannya ini.


"Kamu mau apa?! Setelah apa yang terjadi, kamu masih berani mengatakannya?!!" pekik Aisyah.

__ADS_1


"Aku tahu aku salah bu. Aku tahu kesalahanku sebesar itu. Tapi aku sadar sekarang, jika Arum begitu berarti untuk saya. Namun Anya begitu berarti bagi Arum. Maka dari itu—"


"Lo harusnya ke rumah sakit Nu. Bukan datang kesini." potong Anya cepat. Telinganya tak sudah untuk mendengar niatan pria itu lagi.


Kembali padanya? Setelah apa yang terjadi?.


Orang yang begitu putus asa dengan duniapun akan lebih memilih untuk bunuh diri ketimbang kembali dan membangun rumah tangga yang penuh dengan duri itu.


Lagi pula. Sinan berada di atas rata-rata dibandingkan Danu. Sosok ayah bisa Arum dapatkan dari Sinan.


"Demi Arum Nya"


Anya tertawa sarkas. Demi Arum katanya?. Kenapa baru sekarang? Bukan dari saat pertama kali Anya meminta pria itu untuk meninggalkan Amber dulu?.


Berhubungan dengan pria dalam hidupnya ini, memang tidak ada yang beres. Ayah seperti itu, dan mantan suaminya seperti ini.


"Demi Arum? Gue nggak salah denger?"


"Ya demi Arum. Agar Arum tumbuh dengan kasih sayang lengkap dan kebutuhannya tercukupi dengan baik. Dan ju—"


"Tanpa lo, gue sanggup untuk memenuhi kebutuhan Arum. Bahkan sampai dia kuliah" Arka memotong ucapan Danu. Jika tidak ada ibu, Danu pasti sudah di seret oleh Arka keluar dari rumahnya.


"Bapak hanya karena sedarah. Dalam kenyataannya Arum bahkan lebih dekat dengan Arka dari pada kamu" Aisyah kembali bicara "Lagi pula ibu lebih rela jika putri ibu jadi janda ketimbang kembali lagi bersama kamu"


"Tidak ada yang akan menjada bu. Karena Anya akan menjadi istri saya"


Semua orang menoleh ke sumber suara tak terkecuali dengan Anya. Sinan berdiri di ambang pintu dengan Arum yang berada di gendongan pria itu. Dilihat dari lingkaran hitam di bawah mata Sinan, Anya tahu pria ini pasti langsung datang ke rumahnya dari bandara. Sesuai dengan ucapan Sinan, laki-laki ini benar-benar menyelesaikan pekerjaannya lebih awal satu hari dari jumlah hari semestinya.


"Dia akan menikah dengan saya. Jadi jangan coba-coba untuk mengajak nikah calon istri orang" Sinan berjalan mendekat ke arah mereka.


"Dan untuk masalah biaya atau hidup kecukupan Arum. Tidak usah di khawatirkan lagi, karena saya bisa menjamin Arum tak akan hidup kekurangan. Bahkan Anya tak bekerja pun saya sanggup untuk membiayainya. Tidak seperti dulu lagi yang bekerja serabutan hingga sampai supir bayaran. Anya hanya tinggal menerima uang dari saya. Jadi lo nggak perlu khawatir lagi."


Danu tak menjawab lagi. Sama-sama terjun di dunia bisnis, Danu pasti tahu dan mengenal Sinan.


***


"Kerenkan aku tadi An?"


Mereka kini sudah berada di rumah Anya setelah Danu berakhir diusir paksa oleh Arka. Duduk berdua di ruang makan setelah ibu memilih tidur di kamar menemani Arum. Meninggalkan Anya yang duduk diam menatap Sinan dengan kalimat-kalimat yang menyombongkan diri sendiri.

__ADS_1


"Kalah telak sudah dia" ucap Sinan lagi. Pria itu membusungkan dadanya sambil tersenyum. Berusaha untuk memperbaiki suasana hati Anya.


"Aku tadi ketemu Arum di jalan sama ibu-ibu. Aku kira Arum mau di culik, eh ternyata itu mbak Laksmi. Dan ajaibnya Arum langsung mau aku gendong An."


Tapi yang dihibur tak mengubah ekspresinya sama sekali. Anya masih diam, meski wanita itu kini meletakan secangkir kopi dihadapan Sinan.


"Are you okay?" tanya Sinan ragu.


"Apa aku terlihat serendah itu?"


Sinan mengerutkan dahinya tak mengerti. Sejak tadi tidak ada obrolan yang merendahkannya, dan itu tidak mungkin karena Sinan bukanlah tipe orang yang merendahkan orang lain.


"Maksudnya?" Sinan terpaku saat kedua mata Anya balik menatapnya.


"Kenapa aku terlihat begitu rendah di hadapan kalian semua?"


"An"


"Aku memang bukan ibu yang baik ya Nan. Aku bahkan tidak sanggup menjanjikan apapun untuk masa depan Arum. Tak ada yang bisa ku banggakan di depan putri ku sendiri. Aku hanya punya pilihan, menyerahkan Arum pada bang Arka, atau kembali pada Danu demi Arum, atau juga menikah dengan kamu."


"Jelas nikah sama aku An"


"Nggak ada satupun jalan yang bisa buat aku berdiri sendiri"


Sinan tak lagi menjawab, ia memilih berdiri, memutari meja dan berakhir menarik Anya ke dalam pelukannya.


"Jangan berusaha untuk berdiri sendiri tanpa aku An. Karena aku nggak sanggup menerima konsekuensinya jika kamu begitu"


***


**Ini beneran tinggal 1 bab lagi ya. Karena udah nggak ada masalah lagi dan nggak mau nambah masalah lagi 🤭. Paling nanti setelah tamat akan ada Extrapart seperti biasa.


pengin tamat, biar fokus sama cerita PERNIKAHAN (TAK) SEINDAH BERLIAN.


Akan ada cerita rada-rada sengklek lagi. Tapi kayanya up pas awal bulan depan ya. masih kayanya tapi 🤭


Ayo mohon Like dan komentarnya ya.


kasih BUNGA, HATI atau KOPI juga boleh nih ❤️🥰**

__ADS_1


__ADS_2