
Sudah hampir 3 hari ini Sinan merasa jika Anya benar-benar menghindarinya. Sejak pulang dari Bali, mereka sangat jarang bertemu selain di kantor. Anya sibuk dengan urusan promosi produknya sedangkan Sinan mengatasi pemberitaan miring tentang plagiat dan sebagainya. Bahkan saat malah hari mencoba untuk menelfon, Anya selalu tak menjawabnya dan hanya memberikan pesan jika tidak bisa mengangkat telfon karena Arum yang sudah tidur, atau Arum yang lagi sakit jika Sinan menelfon sebelum jam 20.00. Namun saat Sinan berniat untuk datang menjenguk Arum, Anya selalu menolaknya karena Arum selalu akan nangis jika bertemu dengan orang asing.
Jika terus seperti ini, kapan Arum bisa mengenalnya dan bisa dekat dengan dirinya sebelum menikahi ibunya?.
Sinan kembali mendengus kesal saat mendapat balasan pesan dari Anya yang menolak makan siang bersama dengan alasan Ali mentraktir makan siang seluruh departemen marketing karena kelahiran putra ke tiganya itu.
Cih. Bosnya nggak ditraktir juga.
Sinan kembali mengetikkan pesan untuk Anya.
Sinan: Pulang bareng aku ya An. Pengin ketemu Arum sama ibu juga.
Sinan mengetuk-ngetuk meja menunggu balasan dari Anya. Status Wa Anya online, seharusnya Sinan bisa mendapatkan balasan cepat dari Anya.
Cukup lama Sinan menunggu, sebelum akhirnya umpatan keluar dari mulut saat status WA Anya berubah menjadi terakhir dilihat. "Sial! Jangan bikin gue bingung An" pekik Sinan sambil memukul meja.
Radit yang duduk di sofa tersedak seketika karena terkejut. "Makan! Jangan ngedumel mulu" ucapnya tak kalah keras dari ucapan Sinan barusan.
"Jam istirahat. Kasihan noh sekretaris baru nggak bisa istirahat kalau lo nggak istirahat." lanjut Radit. Merujuk pada Vanya—sekretaris baru Sinan yang terlihat sedang memoles wajahnya dari balik kaca yang tirai nya terbuka.
Sinan mendelik seketika. Emosinya semakin meluap lalu menunjuk Vanya yang berada di luar ruangannya dengan jari telunjuk "Gue mau lo ganti dia. Cari sekretaris lain"
"Lah kenapa?"
"Gue butuh sekretaris yang pakai otak, bukan cuman nebelin make up!"
"Ya kan dia baru lulus Nan. Jadi perlu adaptasi dulu"
"Terus lo pikir gue Trainer yang perlu ngajarin orang baru?. Gue butuh yang cekatan"
Sejak ditemukannya alat pelacak dan diketahui siapa dalangnya. Navel memang langsung mengundurkan diri dengan meletakkan surat di meja Sinan. Karena butuh sekretaris dadakan, Radit menerima Vanya yang baru lulus, yang malah bukannya membantu kerjaan Sinan namun malah nyaris mengacaukan segalanya.
"Lo lagi berantem sama Anya ya?" tebak Radit. Jelas-jelas dulu, Sinan berkata tak masalah jika baru lulus, selagi Radit mendapatkan sekretaris yang sesuai dengan kriteria yang Sinan butuhkan.
Sinan mendengus kesal. "Keluar gih. Jangan nambahin beban hidup gue"
Radit menganggukkan kepalanya berulang kali "Oh. Beneran lagi berantem. Kenapa?"
"Mas, bisa keluar kan? Atau gue lempar sepatu dari sini"
__ADS_1
"Oh. Lo nggak tahu alasannya ternyata. Udah coba hubungin Anya?"
"Pengin gue timpuk beneran ini!" Sinan mengambil sepatunya dan sudah ancang-ancang untuk di lemparkan ke sepupunya itu.
"Oh. Nggak dibalas ya?."
Sepatu Sinan benar-benar melayang dan nyaris terkena kepala Radit jika saja pria itu tidak langsung menunduk. Sepatunya mendarat di sisi kanan sofa sedangkan Radit dengan santainya kembali melanjutkan makan. Semoga saja tak ada butiran-butiran tanah yang ikut terbang bersama dengan sepatu Sinan dan mendarat di mangkuk baksonya.
"Kalau nggak dibalas ya ditelfon Nan. Kreatif dikit" tambah Radit.
"Nggak diangkat juga. Puas lo?" geram Sinan.
"Ya disamperin. Peka dikit" jawab Radit tak kalah menyolot. Masalah hatinya yang juga suka dengan Anya, Radit akan mengurusnya sendiri setelah ini. Mengikhlaskan orang yang kita cintai agar bisa bahagia dengan orang lain adalah sikap paling hebat untuk masalah hati di dunia ini.
Sinan bangkit dari kursi kerjanya dan duduk di samping Radit. "Dia nggak mau kalau gue samperin ke rumahnya mas. Gue harus gimana?"
"Tetep datangi Nan. Masalah di usir atau bahkan sampai di siram air, itu urusan belakangan"
"Kalau dia minta putus mas?" suara Sinan kini terdengar lirih. Nyaris tak terdengar. Syukur jarak duduk Sinan tak jauh dari Radit hingga sepupunya itu bisa mendengarnya.
"Lo tahu permasalahannya? Bukanya lo bilang kemarin pas di Bali Anya udah ketemu sama om dan tante?"
"Anya bukan tipe orang yang langsung mundur hanya karena 1 halangan Nan. Dia pantang menyerah, terlebih ayah juga setuju. Dia punya peluang yang lebih besar"
"Tapi kalau minta putus beneran?"
Radit menggelengkan kepalanya. Cinta memang kadang bisa membuat orang yang kuat menjadi lemah seketika dan orang yang pintar menjadi bodoh hanya dalam hitungan detik "Ya jangan diterima. Lo harus dapat alasan yang masuk akal dulu. Lagian Nan. Gue heran. Anya itu bukan anak ABG labil yang baperan. Jadi nggak usah takut"
"Tapi gue takut kehilangan dia mas. Takut nggak bisa ngeliat dia lagi kalau hubungan gue berakhir"
"Masih bisa kok"
Sinan mengerutkan dahinya "Gimana caranya? Di kantor? Jelas rasanya bakal beda"
Radit menggeleng " Nggak. Di acara keluarga"
"Maksudnya?"
"Kalau putus dari lo ya Anya bakal jadi istri gue. Jadi lo masih bisa liat"
__ADS_1
"Asem!!" Sinan mencelupkan sepatunya ke dalam mangkuk baksonya Radit.
"Yak!! Mana tinggal baksonya doang. Gue kan sengaja makan mie nya dulu" Radit menggeplak kepala Sinan.
Dan keduanya berakhir dengan saling memukul satu sama lain.
***
Cukup lama Anya hanya memandangi pesan terakhir yang Sinan kirim. Setelah selesai dengan makan siangnya. Mereka kembali ke kantor dan duduk di kubikel masing-masing, hanya tinggal Anya yang duduk di pantry dengan ponsel yang diletakan di atas meja.
Jika kalian tanya apakah ucapan Anggi mempengaruhi hubungan mereka? Maka jawabannya iya.
Hati Anya jelas sakit mendengar sederet ucapan wanita itu. Meski di hari itu juga, pesan dari nomor tak dikenal yang meminta maaf atas ucapan istrinya masuk ke ponsel Anya. Siapa lagi jika bukan ayah Sinan yang mengiriminya pesan.
Anya tak ingin membalasnya namun juga tak ingin hubungan ini mejadi abu-abu tak jelas. Pilihannya hanya dua. Melanjutkannya atau mengakhirinya.
"Udah hampir 10 menit gue ngeliatin mbak duduk aja begitu sambil ngetuk-ngetuk ponsel"
Anya menolehkan kepalanya dan menemukan Jini yang baru saja masuk ke pantry. Wanita itu mengambil sebotol air mineral dan berdiri sambil bersandar pada pintu kulkas.
"Kelamaan gue di sini ya? Maaf. Gue balik kerja kalau gitu" jawab Anya.
"Nggak usah dari pada kerjaan mbak kacau karena pikiran yang nggak fokus"
Anya yang hendak berdiri kembali duduk di kursi. "Sorry"
"Sorry juga"
Meski suara Jini lirih, Anya tersenyum mendengar ucapan Jini barusan. Tak perlu tanya, apa alasan wanita itu minta maaf, Anya hanya mengangguk lalu berdiri menepuk pundak Jini sebelum akhirnya berjalan keluar dari pantry.
Anya mengetikkan jarinya di ponsel. Mengirim balasan ke Sinan yang sudah hampir 1 jam hanya Anya baca saja.
Anya : Oke.
Anya menemukan jawaban kemana hubungan dirinya dan Sinan akan berjalan kearah mana. Melanjutkannya atau memutuskannya, Anya akan mengatakannya langsung di depan Sinan.
***
Yang inget sama Gema temannya Sinan. bisa intip ceritanya di sini ya. jangan lupa masukin ke favorit. mau aku lanjutin kayanya, soalnya dapat cover dari Novel toon
__ADS_1