
Keren, up dari jam ½9 malam, sampai jam 9 pagi masih di review aja 😭
*
"Gila sih ini mereka. Kok bisa sih konsepnya sama persis sama punya lo An"
"Bukan cuman konsepnya doang yang sama, kandungannya juga sama persis"
"Gue denger target pasarnya juga buat anak-anak sekolah"
"Mereka rilis 1 minggu sebelum kita. Tamat kita sudah"
Anya yang juga berada di ruang rapat dengan layar proyektor yang menampilkan prodak baru milik salah satu perusahaan kompetitor Miracle yang baru saja rilis hanya diam dengan tangan yang mengepal erat. Bukan hanya mirip dalam kandungan, design awal hingga harga yang sama persis dengan harga yang telah ia perkirakan membuat emosi Anya naik seketika. Ini jelas bukan kebetulan saja, melainkan pasti ada orang dalam yang membocorkannya kepada mereka. 1 minggu lagi, produk yang sudah ia rancang 1 bulan penuh akan dianggap plagiat dari produk perusahaan orang lain.
"Seburuk ini ternyata kalian bekerja?" Sinan yang baru saja masuk langsung menggebrak meja. Matanya menatap nyalang satu persatu anak buahnya yang kini hanya bisa menundukkan kepala.
"Bagaimana bisa terjadi, padahal hanya tinggal 1 bulan lagi perilisan?. Mau diapakan semua produk yang sudah dibuat?!" pekik Sinan lagi.
"Kita langsung ke pointnya saja!" Sinan duduk di kursi. Radit dinas keluar kota tadi pagi. Masalah di kantor kini langsung berada di tangannya. "Siapa yang membocorkannya?!"
"Tidak ada yang membocorkannya di tim 1 pak." jawab Jini.
Ali melotot seketika " Maksud lo tim gue yang ngebocorin?"
"Gue nggak bilang ya. Mas yang ngomong sendiri"
"Nyari ribut ini orang, Lo—" ucapan Ali terhenti saat Navel yang berdiri di belakangnya memegang pundaknya.
Anya hanya diam memperhatikan lekat-lekat tampilan produk itu. Semakin lama dilihat, semakin pula Anya yakin jika mereka memang benar-benar mengambil ide produk mereka, tak ada variasi sedikitpun yang bisa membedakan dengan produk Miracle.
"Say—, mbak Anya" ralat Sinan cepat. Hampir saja dirinya keceplosan memanggil Anya dengan sebutan Sayang. Semingguan ini Sinan memang sering memanggil Anya dengan sebutan sayang jika dirinya ingin menggoda wanita itu.
"Saya mau tanya pendapat kamu. Bagaimana pendapatmu tentang hal ini?"
Anya melirik sebentar ke arah Sinan sebelum pandangannya kembali menatap layar proyektor " Dari hal bahan, kadar kandungan bahkan hingga design yang pernah saya ajukan ke bapak. Semuanya sama persis"
"Jadi maksud kamu ini benar-benar kebocoran ide?"
Anya menganggukkan kepala "Ini adalah design pertama yang saya ajukan kepada bapak. Detailnya bukan hanya mirip, tapi sama persis."
Sinan memandangi layar proyektor dengan pandangan tajam. Benar, semua detail design ini memang sama persis. Hanya logo perusahaan saja yang berbeda. "Itu berarti salah satu orang dalam ada yang membocorkannya"
__ADS_1
"Saya tidak pernah lihat design ini sebelumnya" timpal Jini.
"Saya dan tim saya juga tidak pernah melihatnya" tambah Ali.
Anya menganggukkan kepalanya. Design ini memang belum pernah ia tunjukkan kepada tim nya. Selain Sinan dan Navel hanya Alun dan tim design yang pernah melihat sebelumnya.
"Serius mbak. Bukan aku" ucap Alun tiba-tiba, wajah wanita itu terlihat begitu ketakutan. Alun bahkan sampai menggenggam tangan Anya yang memang duduk di sampingnya.
"Iya. Mbak tahu" jawab Anya berusaha untuk menenangkannya. Mengenal bagaimana sifat Alun sejak lama, mustahil jika Alun yang membocorkannya.
"Gimana cara kamu buktiin itu Lun?"
Alun yang ditanya semakin meremas tangan Anya gugup. Meski mengenal sosok Sinan sejak anak itu masih SMA, saat pria itu sudah bicara dengan nada datar, pasti selalu berhasil membuat Alun ketakutan.
"Sungguh pak bukan saya"
Sinan mengangguk "Oke buktikan kepada saya. Kita akhiri saja rapat ini. Anya ikut saya ke ruang. Dan Navel, buat jadwal rapat dengan tim design" ucap Sinan lalu melenggang pergi ke luar ruangan.
"Mbak. Demi Tuhan, bukan aku"
Anya mengangguk "Iya, mbak percaya. Tenang. Mbak duluan ya" Anya menepuk punggung Alun lalu berjalan menyusul Sinan.
Anya terkejut saat seseorang membekap mulutnya tiba-tiba dari arah belakang begitu masuk ke ruangan Sinan.
Sinan duduk di sofa dengan tangan yang berada di bibir pria itu sebagai tanda agar Anya tetap diam dan tak mengatakan apapun.
Begitu Anya mengangguk, tangan yang membekap mulutnya turun seketika. Anya menoleh seketika dan terkejut saat bukan Navel yang berada di belakangnya melainkan Radit.
"Ba—"
Radit meletakkan telunjuknya di bibir menyuruh Anya agar tetap diam tak bicara. Pria itu menuntun Anya agar duduk bergabung dengan Sinan di sofa.
Sinan menuliskan sesuatu di kertas dan menunjukkannya kepada Anya.
Ada yang menyadap ruangan saya.
Radit meletakan 3 alat penyadap di atas meja. Radit menulis dikertas dan meletakkannya lagi di meja agar Sinan dan Anya bisa membacanya.
Kemungkinan ada penyadap lain. Jadi mari kita bahas yang lain.
Anya dan Sinan mengangguk bersamaan.
__ADS_1
"Saya melihat iklan produk kompetitor lain. Bukannya itu produk yang sama persis sama kita?" tanya Radit.
"Bukannya mas harusnya ada di Bandara sekarang? Ngapain balik lagi" ucap Sinan dengan nada yang dibuat menyolot.
"Karena gue nggak yakin lo bisa ngatasi ini semua"
"Asem!"
"Anya" panggil Radit.
Anya yang dipanggil namanya sudah bersiap-siap untuk ikut berpura-pura "Iya pak"
"Ini produk kamu, jadi kamu yang harus tanggung jawab"
Anya yang sudah bersiap-siap mengatur suaranya agar terdengar bersalah mengatupkan mulutnya kembali saat Sinan yang malah menjawabnya.
"Gue udah rapat sama yang lainnya. Dan ini design pertama yang hanya gue, Anya, Alun dan tim design yang tau, kemungkinan diantara mereka yang membocorkannya"
"Navel?" tanya Radit.
Kali ini Anya bisa menebak jika ucapan Radit barusan bukan hanya berpura-pura, namun memang berniat untuk mengajak Sinan adu tonjok lagi seperti 1 minggu yang lalu.
"Lo nggak bosen kayanya deh ya mas, nyari ribut mulu sama gue!"
"Lo bilang designnya juga di bahas di ruangan lo kan?. Jadi ada kemungkinan Navel yang membocorkannya. Dia juga hampir tahu semua berkas yang ada di meja lo"
"Jadi maksud lo mas, sekretaris gue yang udah kerja bahkan sejak kakek masih disini yang ngebocorin?. Lo kalau mau ngajk ribut gue, nggak usah bawa-bawa orang lain!!!" saat melihat Sinan hendak berdiri. Anya langsung menuliskan sesuatu di kertas dan menunjukkannya pada dua pria yang tak bosan-bosannya adu mulut.
Kenapa jadi pada ribut?!
Radit menghembuskan napasnya "Jangan kaya anak kecil!. Lalu langkah apa yang bakal lo ambil setelahnya?! Gimana produk yang udah jadi?"
"Kita akan adakan acar di bali nanti dengan mengundang artis. Produk kita akan menjadi sovenirnya." jawab Sinan.
"Untuk masalah ini?"
"Lo yang bertugas cari tahu siapa yang membocorkannya, kalau udah ketemu, pecat langsung " jawab Sinan lagi.
**
Mohon dukungannya ya. Tinggalkan Like dan Komentar kalian ya.
__ADS_1