Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Bab 31 : Pak Hamdan dan Bu Beti


__ADS_3

"Jadi maksud kamu gosip itu bisa benar dan bisa juga tidak?!" Hamdan yang kini duduk di sofa tunggal dengan Sinan dan Radit yang berada disebelahnya bertanya dengan raut wajah serius. Sejak lama dirinya tahu jika ke dua cucunya menyukai Anya, maka saat Anya mengajukan resign waktu itu, Hamdan menyetujuinya tanpa berpikir ulang lagi. Hanya saja bertahun-tahun sudah berlalu, maka saat Istrinya meminta izin agar Anya kembali bergabung dengan perusahaan, Hamdan juga menyetujuinya karena berpikir ke dua cucunya ini sudah melupakan Anya.


Sinan yang duduk di sisi kiri Hamdan menganggukkan kepalanya "Iya. Benar karena memang aku suka dan ngajak dia untuk nikah, dan bisa juga tidak kalau di tolak"


Tatapan Hamdan kini beralih pada Radit "Bagaimana pendapat kamu mas?"


Radit yang mendapatkan kesempatan ditanya menatap lurus ke arah Sinan. "Saya juga suka sama Anya. Lebih dulu dari Sinan"


Sandiwara mereka yang berpura-pura sakit langsung terbongkar oleh sang nenek. Beti yang duduk di kursi kerja Sinan menghela napasnya lelah. Jika tahu ke dua cucunya masih menyimpan perasaan lama, Beti mungkin akan lebih memilih mengajak Anya untuk bekerja di butiknya saja.


"Jika seperti ini terus kalian mau bagaimana? mau adu tinju lagi?"


Sinan dan Radit hanya bisa menundukkan kepalanya. Tak ada salah satu dari mereka yang berani menjawab ucapan Hamdan barusan. Lagi pula sudah kenyang juga setelah mendengar ocehan Beti sebelumnya.


"Siapa yang mau ngalah diantara kalian?" tanya Hamdan lagi.


Mengalah? jelas tidak ada. Ego Sinan terlalu besar terlebih setelah patah hati saat melihat Anya menikah dulu. Jadi setelah tahu Anya telah bercerai, Sinan jelas tak akan pernah mundur sama sekali.


Radit yang sebelumnya menunduk, mengangkat kepalanya seketika "Tidak ada karena Anya sudah menikah dan perasaan yang salah tak patut untuk di perjuangkan. Saya nggak seburuk itu untuk menghancurkan rumah tangga orang lain"


Tatapan Beti dan Hamdan seketika menatap ke arah Sinan dengan dahi berkerut. Yang tahu Anya bercerai hanyalah Sinan, Bu Beti dan Pak Hamdan, itu pun tahu karena berasal dari CV yang Anya kirimkan secara pribadi ke email bu Beti. Hanya saja cukup mengejutkan karena status Anya yang sudah bercerai tidak diketahui oleh orang lain. Sinan benar-benar menjaga informasi itu untuk dirinya sendiri.


"Dia sudah bercerai" ucap bu Beti.


Mata Radit langsung menatap tajam ke arah Sinan. Lagi dan lagi, karena jabatannya dirinya bahkan kalah start kali ini. Sinan jelas sengaja menyembunyikan identitas Anya sejak awal "Saya permisi Kek" ucap Radit kemudian langsung keluar dari ruangan setelah melempar tatapan tajam kearah Sinan.


Jika saja tidak ada Hamdan dan Beti, adu jotos itu mungkin akan terulang kembali.


Sebelum Radit benar-benar keluar dari ruangan, Hamdan kembali bicara "Jangan lupa untuk datang nanti malam. Kakek juga mengundang beberapa staf termasuk Anya"


***


"Jadi sekarang lo mau gimana?" ucap Ocha dari sebrang telfon.


"Nggak tahu" Anya menceritakan semua hal yang terjadi hari ini pada Ocha. Setidaknya jalan pikiran Ocha jauh lebih lurus ketimbang Wine.


"Lah kok nggak tahu. Kali aja Jini yang kata lo resenya minta ampun"


Anya menggeleng. Meski menyebalkan, Jini tak sepicik itu hingga menyebarkan gosip yang tak berdasar, lagi pula hari itu Jini juga tidak ada di kantor. Jadi sedikit mustahil jika Jini yang melakukan hal itu. "Kayanya nggak mungkin."


"Ya udah sekarang lo mau gimana?"


"Cariin loker disitu dong. Diadain gitu"


"Wine lagi cari baby sister noh"


"Di daycare, gue mau. Di Wine ogah"


Anya berdecak saat terdengar tawa Ocha dari sebrang telfon. Menjaga 2 anak kembar Wine rasanya seperti jungkir balik setiap hari, tingkah ke dua makhluk kecil itu luar biasa.

__ADS_1


Mata Anya melirik sebentar ke arah Jini yang kini meletakan 1 undangan di meja. Undangan acara makan malam di rumah Ibu Beti yang memang selalu diadakan saat ulang tahun pernikahan. Anya bahkan ingat setelah resign dirinya masih mendapat undangan untuk menghadiri makan malam. Hanya saja Anya tidak datang karena merasa bukan lagi bagian dari perusahaan, terlebih yang di undangan adalah para manager dan wakil manager di setiap divisi.


"Dateng" ucap Jini kemudian langsung pergi dengan tatapan penuh cibiran. Melihat itu rasanya Anya ingin menguncir bibir yang maju beberapa senti dari tempatnya itu.


"Lo tidur di rumah gue nanti malam ya. Nemenin ibu"


"Lo mau ada acara?"


"Iya"


"Tapi balik dulu kan? bisa ngamuk Arum kalau lo nggak izin dulu"


"Iya gue balik dulu ganti baju"


"Oke. Terus—"


"Cha udahan dulu ya. Gue tutup"


Begitu melihat pak Hamdan dan bu Beti keluar dari lift, semua orang langsung berdiri dan menyapa keduanya dengan senyuman ramah. Begitupula dengan Jini, Anya, dan Ali.


Anya yang mendapat lirikan penuh godaan dari bu Beti hanya bisa tersenyum tipis. Sudah ditebak jika bu Beti juga mengetahui akan gosip itu.


"Undangannya sudah kalian terima kan?" tanya bu Beti.


Anya, Ali dan Jini mengangguk bersamaan.


"Siap pak" jawab Ali. Jini dan Anya hanya kembali menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Bagus. Kalian bisa kembali bekerja. Kecuali Anya. Bisa kita bicara sebentar?"


Anya tahu tatapan ketidak sukaan Jini kini terarah padanya sebelum wanita itu kembali menuju meja kerjanya. Bukan hanya Jini saja, beberapa staf lain terutama dari tim pemasaran 1 juga tak luput dari pandangan Anya.


"Bisa bicara sebentar kan ya Nya? di pantry aja" tanya pak Hamdan lagi.


Anya menganggukkan kepalanya. Lalu mengekor pak Hamdan dan bu Beti berjalan menuju pantry. Entah kenapa rasanya seperti karyawan baru yang belum genap 1 bulan bahkan belum menerima gaji sama sekali malah sudah membuat ulah yang menghebohkan perusahaan dan sekarang Anya merasa akan diintrogasi langsung oleh dua orang pemilik perusahaan. Begitu sampai di pantry, Anya duduk didepan pak Hamdan yang kini tersenyum ramah, sedangkan bu Beti memilih untuk membuka kulkas dan mencari apapun yang bisa dia makan.


"Gimana kabarmu Nya?" tanya Pak Hamdan.


"Baik pak" jawab Anya.


Bu Beti meletakan satu botol air mineral didepan suaminya lalu duduk di samping Anya. "Noh bapak dari kemarin ribut pengin ketemu kamu. Cuman ibu larang karena kasihan sama kamu yang dianggap jilat kita berdua"


Anya hanya menjawabnya dengan senyuman.


"Jadi bagaimana kebenaran gosip itu An?" tanya pak Hamdan lagi. Tatapan pria itu menatap lurus kearah Anya.


Yang ditanya kini melirik sebentar ke arah Bu Beti. Dari awal Anya sudah menebak akan ditanya demikian, namun saat ditanya kini jantungnya berdetak lebih kencang seperti tengah menemui calon mertua.


"Kalau bener juga tidak apa-apa An. Cuman kamu tahu kan bukan hanya Sinan yang suka sama kamu, tapi Radit juga" lanjut pak Hamdan.

__ADS_1


Anya mengenal pak Hamdan sebagi sosok yang bicara apa adanya, tidak berbelit belit dan langsung mengatakan apa yang ingin dia katakan. Maka dari itu seharusnya Anya tak perlu terkejut dengan ucapan pak Hamdan barusan, tapi nyatanya semuanya kebalikannya.


Bu Beti tersenyum ramah " Kalau ibu nggak masalah kamu pacaran sama salah satu diantara mereka"


Anya mengerutkan dahinya bingung. Ini kenapa malah begini sih pembahasannya?. Jika ada Ocha dan Wine keduanya pasti sudah bersorak gembira sambil meledek Anya yang mendapat lampu hijau.


"Seperti yang bapak bilang sebelumnya. Itu hanyalah gosip yang tidak berdasar" jawab Anya akhirnya.


"Lah kata Sinan bener gosipnya?" bu Beti menyenggol lengan Anya.


"Nggak bu"


"Yakin? Terus jadiannya sama Radit?"


"Nggak juga bu"


"Terus sama siapa?"


"Nggak sama siapa-siapa"


Pak Hamdan menegakkan posisi duduknya "Yakin? lah nggak seru dong kalau begitu"


*I*ni orang lagi pada kenapa sih?.


Mana pak Hamdan juga ikut-ikutan lagi.


Satu pesan yang masuk membuat Anya merogoh ponselnya dari celana. Sedangkan pak Hamdan dan Bu Beti kini tengah menenggak air minumnya dengan ekspresi kesalnya.


Sinan* :


Saya jemput nanti malam.


Anya menggelengkan kepalanya. Namun belum juga selesai mengetik balasan pesan penolakan pada Sinan. Satu notifikasi tanda pesan masuk tiba-tiba muncul.


Radit:


Mas jemput kamu nanti malam ya An. Kita ke rumah pak Hamdan bareng***.


Rasanya Anya ingin tenggelam saja ke dasar lautan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sepi bener itu kolom komentar (nyindir ceritanya 🤭)


Jangan lupa tekan LIKE nya ya. ❤️


Sambil nunggu ini up, yuk mampir ke sebelah. Cerita Wine udah tamat + aku up extra part kemarin.


__ADS_1


__ADS_2